
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/52453-hukum-adopsi-anak-dalam-islam-bag-1.html" data-darkreader-inline-color=""> Hukum Adopsi Anak dalam Islam (Bag. 1)</a></span></strong></p>

<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Haram Adopsi Anak Ala Jahiliyyah</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sahabat ‘Ali bin Abi Thalib </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَمَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ، أَوِ انْتَمَى إِلَى غَيْرِ مَوَالِيهِ، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَرْفًا، وَلَا عَدْلًا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Siapa saja yang mengaku sebagai anak kepada selain bapaknya atau menisbatkan dirinya kepada yang bukan walinya, maka baginya laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Pada hari kiamat nanti, Allah tidak akan menerima darinya ibadah yang wajib maupun yang sunnah.” </span><b>(HR Muslim no. 3314 dan 3373)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan dari sahabat Sa’ad bin Abu Waqqash, beliau berkata, “Kedua telingaku mendengar dari Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam, </span></i><span style="font-weight: 400;">bahwa beliau bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>مَنِ ادَّعَى أَبًا فِي الْإِسْلَامِ غَيْرَ أَبِيهِ، يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيهِ، فَالْجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa dalam Islam mengklaim orang lain sebagai bapaknya, padahal dia bukan bapaknya, dan dia juga mengetahui bahwa dia bukan bapaknya, maka surga menjadi haram baginya.” </span><b>(HR. Bukhari no. 6766 dan Muslim no. 63. Lafadz hadits ini milik Muslim.)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/44335-pulang-lah-nak-berbakti-pada-ibu-mu.html" data-darkreader-inline-color="">Pulang Lah Nak, Berbakti pada Ibu-mu</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Juga terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Dzarr </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>لَيْسَ مِنْ رَجُلٍ ادَّعَى لِغَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُهُ إِلَّا كَفَرَ، وَمَنِ ادَّعَى مَا ليْسَ لَهُ فَلَيْسَ مِنَّا، وَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidaklah seorang laki-laki yang mengklaim orang lain sebagai bapaknya, padahal ia telah mengetahuinya (bahwa dia bukan bapaknya), maka ia telah kafir. Barangsiapa mengaku sesuatu yang bukan miliknya, maka ia bukan dari golongan kami, dan hendaklah dia menempati tempat duduknya dari neraka.” </span><b>(HR. Muslim no. 61)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berkaitan dengan lafadz hadits di atas </span><i><span style="font-weight: 400;">“maka dia telah kafir”, </span></i><span style="font-weight: 400;">maka terdapat dua penjelasan ulama berkaitan dengan masalah ini. Hal ini mengingat bahwa mengklaim orang lain sebagai bapaknya adalah perbuatan maksiat, bukan perbuatan kekafiran. </span></p>
<p><b>Penjelasan pertama, </b><span style="font-weight: 400;">maksud dari </span><i><span style="font-weight: 400;">“dia telah kafir” </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah benar-benar kafir, namun ini khusus bagi mereka yang menganggap halal perbuatan tersebut. Kaidah umum dalam masalah ini adalah perbuatan maksiat, akan tetap bernilai maksiat, selama pelakunya meyakini bahwa itu maksiat atau perbuatan dosa. Hal itu ditandai dengan adanya perasaan bersalah dari diri pelakunya. Adapun jika seseorang menganggap bahwa sah-sah saja melakukan perbuatan maksiat, atau meyakini bahwa itu adalah bagian dari hak asasi manusia (sehingga boleh-boleh saja melakukannya), maksiat tersebut berubah menjadi perbuatan kekafiran.</span></p>
<p><b>Penjelasan ke dua, </b><span style="font-weight: 400;">yang dimaksud </span><i><span style="font-weight: 400;">“dia telah kafir” </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah kufur nikmat, bukan kafir yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Hal ini karena dia telah menutupi jasa dan kebaikan ayah kandungnya sendiri yang memiliki peran lahirnya dia ke dunia, bukan ayah angkatnya tersebut. Karena anak tersebut tidak mengakui ayahnya sendiri. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kalau kita memaknai hadits di atas dengan penjelasan ke dua (yaitu kufur nikmat), maka ini sebagaimana sabda Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">kepada para perempuan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhuma, </span></i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَأُرِيتُ النَّارَ، فَلَمْ أَرَ مَنْظَرًا كَاليَوْمِ قَطُّ أَفْظَعَ، وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Diperlihatkan kepadaku neraka, dan aku tidaklah melihat pemandangan yang lebih mengerikan pada hari itu. Aku melihat mayoritas penghuninya adalah para wanita.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Para sahabat mengatakan, “Wahai Rasulullah, apa sebabnya?”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>بِكُفْرِهِنَّ</b></span></p>
<p><b>“Dengan sebab kekafirannya.”</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Para sahabat bertanya lagi, “Karena kekafiran mereka terhadap Allah?”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">menjawab,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>يَكْفُرْنَ العَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ كُلَّهُ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ</b></span></p>
<p><b>“Karena mereka mengingkari (kebaikan) suami,</b><span style="font-weight: 400;"> mereka mengingkari kebaikan (orang lain). Jika Engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka bertahun-tahun lamanya, kemudian mereka melihat darimu sesuatu (satu kesalahan), maka mereka mengatakan, ‘Tidaklah aku melihat satu kebaikan pun darimu sama sekali.’” </span><b>(HR. Bukhari no. 1052 dan Muslim no. 907)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits di atas, maksud dari perempuan melakukan kekafiran adalah karena mengingkari atau menutupi kebaikan suaminya.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<p> </p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Menisbatkan pada Kakek atau Buyutnya</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Diperbolehkan bagi seseorang untuk menisbatkan diri kepada kakek atau buyutnya tanpa ada maksud mengingkari ayah kandungnya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimîn </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika seseorang menasabkan dirinya kepada kakeknya, buyutnya, dan seterusnya ke atas yang terkenal, tanpa mengingkari ayah kandungnya sendiri, maka hal ini tidak mengapa. Hal ini sebagaimana perkataan Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>أنا ابن عبد المطلب أنا النبي ولا كذب</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Aku adalah anak ‘Abdul Muththalib, aku adalah seorang nabi, dan itu bukan suatu kedustaan.” </span><b>[1]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Padahal nama beliau adalah Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Abdil-Muththalib. Beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan hal ini pada perang Hunain, karena kakeknya (yaitu ‘Abdul Muththalib, pen.) lebih dikenal oleh kaum Quraisy dan lebih berpengaruh di hadapan mereka daripada ayahnya (yaitu ‘Abdullah, pen.).” </span><b>(</b><b><i>Syarh Riyadhus Shalihin, </i></b><b>1: 2173)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/12017-tinjauan-bayi-prematur-dalam-islam.html" data-darkreader-inline-color="">Tinjauan Bayi Prematur dalam Islam</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Kesimpulan dan Penutup</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Kesimpulan, hadits-hadits di atas menunjukkan haramnya adopsi anak, bahkan adopsi anak termasuk perbuatan dosa besar. Karena anak yang diadopsi, dan dia tahu bahwa ayahnya itu sekedar ayah angkat, namun dia berkeyakinan bahwa dia betul-betul sebagai ayahnya, karena diperkuat pengadilan manusia (baca: akte lahir) bahwa anak ini adalah anaknya dan orang itu adalah ayahnya, maka anak tersebut telah terjerumus ke dalam maksiat. Demikian pula bagi sang ayah angkat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, kami nasihatkan kepada diri sendiri dan juga kepada para pembaca untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala dalam masalah ini. Bisa jadi, ketika Allah Ta’ala tidak mengkaruniakan anak kepada sebagian kita, hal itu karena Allah Ta’ala hendak menjauhkan kita dari keburukan. Di sisi lain, Allah Ta’ala hendak menguji kita untuk tetap menerima takdir dan hikmah Allah Ta’ala. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, perlu dicatat bahwa haramnya adopsi bukan berarti kita bersikap acuh dan cuek dengan anak-anak yatim atau anak terlantar. Kewajiban kita dan juga pemerintah kaum muslimin adalah memelihara, mendidik, dan mengurusi mereka agar tidak terlantar, sehingga pada akhirnya akan mendorong anak-anak tersebut untuk berbuat tidak baik atau bahkan berbuat kriminal. Juga mendidik anak-anak yatim dan terlantar tersebut dengan pendidikan Islam yang benar, sehingga mereka mengenal agamanya. Bahkan, amal ini adalah amal yang mulia. Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>أَنَا وَكَافِلُ اليَتِيمِ فِي الجَنَّةِ هَكَذَا وَقَالَ بِإِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالوُسْطَى</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Aku dan orang yang menanggung anak yatim berada di surga seperti ini.” Beliau mengisyaratkan dengan kedua jarinya yaitu telunjuk dan jari tengah.” </span><b>(HR. Bukhari no. 6005)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akan tetapi, hal itu (mengurus anak yatim) tidak boleh sampai melampaui batas sehingga terjatuh dalam hal-hal yang Allah Ta’ala dan Rasul-Nya </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">haramkan. </span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/45903-peringatan-dari-rambut-uban.html" data-darkreader-inline-color="">Peringatan dari Rambut Uban</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/43795-hukum-menyimpan-dan-membekukan-sperma-dan-ovum.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Menyimpan dan Membekukan Sperma dan Ovum</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Kantor YPIA, 15 Shafar 1440/14 Oktober 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><b>Catatan Kaki</b></span></h2>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">HR. Bukhari no. 2874, 2930 dan Muslim no. 1776.</span></p>
 