
<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin</strong></span></h2>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Pertanyaan:</strong></span></h3>
<p>Apakah hukum azan dan ikamah untuk orang yang salat sendirian?</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Jawaban:</strong></span></h3>
<p>Azan dan ikamah untuk orang yang salat sendirian itu hukumnya sunah, bukan wajib. Karena tidak ada orang di sekitarnya yang diseru dengan azan tersebut. Akan tetapi, hal ini mempertimbangkan status azan sebagai bentuk zikir dan pengagungan kepada Allah <em>Ta’ala</em>, juga seruan kepada dirinya untuk (mendirikan) salat dan (mendapatkan) keberuntungan. Demikian pula ikamah yang hukumnya sunah.</p>
<p>Dalil yang menunjukkan dianjurkannya azan adalah hadis riwayat ‘Uqbah bin Amir <em>Radhiyallahu ‘anhu, </em>beliau berkata, “Aku mendengar Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">يَعْجَبُ رَبُّكُمْ مِنْ رَاعِي غَنَمٍ فِي رَأْسِ شَظِيَّةٍ بِجَبَلٍ يُؤَذِّنُ بِالصَّلَاةِ وَيُصَلِّي فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ انْظُرُوا إِلَى عَبْدِي هَذَا يُؤَذِّنُ وَيُقِيمُ الصَّلَاةَ يَخَافُ مِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي وَأَدْخَلْتُهُ الْجَنَّةَ</span></p>
<p>“Rabb kalian kagum terhadap seseorang penggembala kambing yang mengumandangkan panggilan salat di atas bukit, kemudian dia salat, maka Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> berfirman, “Lihatlah kepada hamba-Ku ini, dia mengumandangkan azan, lalu salat karena takut kepada-Ku. Aku telah mengampuni dosa hamba-Ku dan memasukkannya ke dalam surga” (HR. Ahmad 4: 145, 157; Abu Dawud no. 1203; dan An-Nasa’i no. 666).</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/57401-berdoa-antara-adzan-dan-iqamah.html" data-darkreader-inline-color="">Berdoa Antara Adzan dan Iqamah</a></strong></p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Pertanyaan:</strong></span></h3>
<p>Jika seseorang menjamak salat Zuhur dan Asar, apakah setiap salat tersebut ada ikamah tersendiri? Dan apakah ada ikamah untuk salat sunah?</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Jawaban:</strong></span></h3>
<p>Untuk setiap salat (yang dijamak tersebut) ada ikamah tersendiri. Sebagaimana dalam hadis Jabir <em>Radhiyallahu ‘anhu </em>tentang tata cara haji Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam, </em>ketika menyebutkan salat jamak Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam </em>di Muzdalifah. Beliau <em>Radhiyallahu ‘anhu </em>berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أَقَامَ فَصَلَّى الْمَغْرِبَ ثم أَقَامَ فَصَلَّى الْعِشَاءَ وَلَمْ يُسَبِّحْ بَيْنَهُمَا</span></p>
<p>“Kemudian beliau berdiri untuk salat Magrib, kemudian berdiri untuk salat Isya, tanpa mendirikan salat sunah di antara keduanya” (HR. Muslim no. 1218) [1].</p>
<p>Adapun salat sunah, maka tidak ada ikamah.</p>
<p>***</p>
<p>@Rumah Kasongan, 28 Rabi’ul awwal 1442/ 4 November 2021</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/52129-keluar-masjid-setelah-adzan.html" data-darkreader-inline-color="">Larangan Keluar dari Masjid setelah Adzan Dikumandangkan</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/38819-adzan-merupakan-syiar-agama-islam.html" data-darkreader-inline-color="">Adzan Merupakan Syiar Agama Islam</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>Penerjemah<a href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim"><span style="color: #ff0000;"><span style="color: #000000;">:</span> M. Saifudin Hakim</span></a></strong></p>
<p><strong>Artikel: <a href="https://muslim.or.id/"><span style="color: #ff0000;">Muslim.or.id</span></a> </strong></p>
<p><strong>Catatan kaki:</strong></p>
[1] Lafaz yang terdapat dalam <em>Shahih Muslim</em> adalah sebagai berikut,
<p style="text-align: left;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">حَتَّى أَتَى الْمُزْدَلِفَةَ، فَصَلَّى بِهَا الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ بِأَذَانٍ وَاحِدٍ وَإِقَامَتَيْنِ، وَلَمْ يُسَبِّحْ بَيْنَهُمَا شَيْئًا</span></p>
<p>“Sampai di Muzdalifah beliau salat Magrib dan Isya dengan satu kali azan dan dua ikamah tanpa salat sunah antara keduanya” (HR. Muslim no. 1218).</p>
[2] Diterjemahkan dari kitab <em>Fataawa Arkaanil Islaam, </em>hal. 341-342, pertanyaan no. 195-196.
 