
<p><strong>HUKUM BERDOA DI KUBURAN</strong></p>
<p>Oleh:<br>
Ustadz Abdullah Zaen, Lc, MA</p>
<p>Sebagaimana telah maklum bahwa doa merupakan salah satu ibadah yang amat agung dalam agama Islam. Allâh telah memotivasi umat manusia untuk memohon pada-Nya dan berjanji untuk mengabulkan permohonan mereka. Namun di lain sisi Dia telah mensyariatkan berbagai adab dalam berdoa. Di antaranya: menentukan tempat dan waktu pilihan, yang lebih mustajab.</p>
<p>Namun, setan berusaha menyesatkan para hamba dengan mengiming-imingi mereka tempat dan waktu yang diklaim mustajab, padahal tak ada petunjuk agama tentangnya. Tidak sedikit manusia yang terjerat ranjau tersebut. Sehingga mereka lebih memilih berdoa di kuburan dan tempat-tempat keramat, dibanding berdoa di masjid. Lebih parah lagi, ada yang begitu khusyu’ menghiba dan memohon kepada sahibul kubur! Alih-alih mendoakan si mayit, malah berdoa kepadanya! Padahal mestinya peziarah mendo’akan si mayit bukan memohon kepada si mayit.</p>
<p><strong>S</strong><strong>engaja Berdoa Untuk Diri Sendiri di Kuburan Adalah Bid’ah </strong><br>
Diantara dalil yang menunjukkan akan hal itu adalah :</p>
<p><strong> </strong><strong>Pertama: </strong>Doa merupakan salah satu ibadah mulia, dan sebagaimana telah diketahui bersama bahwa ibadah apapun tidak akan diterima Allâh Azza wa Jalla kecuali jika memenuhi dua syarat; ikhlas dan mengikuti tuntunan Nabi S<em>hallallahu’alaihi wa sallam.</em></p>
<p>Andaikan berdoa di kuburan merupakan ibadah, mengapa Nabi S<em>hallallahu’alaihi wa sallam </em>tidak mengajarkannya kepada umat? Kenapa pula para assalafus salih tidak mempraktekkannya? Tidak ada dalil dari al-Qur’an maupun hadits sahih yang menunjukkan bahwa kuburan merupakan tempat favorit untuk berdoa. Ditambah dengan begitu banyaknya kitab yang ditulis para ulama guna menjelaskan adab berdoa, tidak ada satupun di antara assalafus salih dan ulama yang mu’tabar yang mengatakan disyariatkannya berdoa di kuburan.</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa praktek tersebut adalah bid’ah. Andaikan itu baik, niscaya mereka ada di garda terdepan dalam mempraktekkannya.</p>
<p><strong>Kedua: </strong>Usaha para sahabat untuk melarang praktek doa di kuburan dan segala sesuatu yang bisa mengantarkan ke sana. Berikut fakta nyatanya:</p>
<ul>
<li>Para Sahabat Radhiyallahu anhum “ketika menaklukkan negeri Syam, Irak dan yang lainnya, jika menemukan kuburan yang sengaja diziarahi oleh orang-orang untuk berdoa di situ, mereka akan menutupnya”.<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a>
</li>
<li>Para Sahabat Radhiyallahu anhum ketika menaklukkan Baitul Maqdis, mereka tidak bergegas untuk menuju makam Nabi Ibrahim <em>‘Alaihissalam</em> atau nabi lainnya, guna berdoa atau shalat di situ. Begitu pula para ulama salaf sesudah mereka berbuat. Imam Ibn Waddhah (w. 286 H) menerangkan, “Sufyan ats-Tsaury (w. 161 H) jika masuk masjid Baitul Maqdis, beliau shalat di dalamnya. Dan beliau tidak menuju situs-situs itu ataupun shalat di sana. Begitu pula praktek para imam panutan selain beliau rahimahullah. Waki’ (w. 197 H) juga pernah mendatangi masjid Baitul Maqdis, dan yang dilakukannya tidak lebih dari apa yang dilakukan Sufyan. Hendaklah kalian mengikuti para imam yang telah diketahui (kebaikannya). Orang terdahulu bertutur, “Betapa banyak praktek yang hari ini dianggap biasa, padahal dahulu dinilai mungkar. (Sekarang) disukai padahal dulu dibenci. (Sekarang) dianggap taqarrub (ibadah yang bisa mendekatkan kepada Allah Azza wa Jalla) padahal justru sejatinya menjauhkan (pelakunya dari Allâh). Setiap bid’ah selalu ada yang menghiasinya”.<a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a>
</li>
<li>Para Sahabat Radhiyallahu anhum ketika menaklukkan kota Tustur dan mendapatkan jasad Nabi Danial <em>‘Alaihissalam, </em>mereka menggali tiga belas liang kubur di berbagai tempat, lalu memakamkan Danial ‘Alaihissallam di salah satunya di malam hari. Setelah itu seluruh kuburan tersebut disamakan, agar orang-orang tidak tahu manakah makam beliau.<a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a>
</li>
</ul>
<p><strong>Ketiga: </strong>Para ulama salaf membenci tindak menyengaja berdoa di kuburan dan menilainya sebagai bentuk bid’ah. Berikut buktinya:</p>
<ul>
<li>Diriwayatkan bahwa suatu hari Zainal Abidin (w. 93 H) melihat seseorang masuk ke salah satu pojok di makam Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berdoa di situ. Zainal Abidin rahimahullah pun memanggilnya seraya berkata, “Maukah kuberitahukan padamu suatu hadits yang aku dengar dari bapakku,  dari kakekku, dari Rasulullah S<em>hallallahu’alaihi wa sallam? </em>Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, <em>“Janganlah kalian jadikan kuburanku ‘ied (tempat yang dikunjungi rutin secara berkala) dan rumah kalian kuburan. Bershalawatlah untukku, sesungguhnya shalawat dan salam kalian akan sampai padaku di manapun kalian berada”.</em><a href="#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</a>
</li>
<li>Suhail bercerita bahwa di suatu kesempatan ia datang ke makam Rasulullah S<em>hallallahu’alaihi wa sallam</em> untuk mengucapkan salam pada beliau. Saat itu al-Hasan bin al-Hasan (w. 97 H) sedang makan di salah satu rumah Nabi S<em>hallallahu ‘alaihiwasallam. </em>Beliau memanggilku dan menawariku makan. Namun aku tidak makan. Beliau bertanya, “Mengapa aku tadi melihatmu berdiri?”. “Aku berdiri untuk mengucapkan salam kepada Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>” jawabku. Beliau menimpali, “Jika engkau masuk masjid, ucapkanlah salam kepada Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em>Sesungguhnya beliau telah bersabda, <em>“Shalatlah di rumah dan jangan kalian jadikan rumah seperti kuburan. Allâh melaknat kaum Yahudi, lantaran mereka menjadikan kuburan para nabi mereka menjadi masjid. Bershalawatlah kepadaku, sesungguhnya shalawat kalian akan sampai padaku di manapun kalian berada”.</em><a href="#_ftn5" name="_ftnref5">[5]</a>
</li>
</ul>
<p style="padding-left: 40px;">Dua <em>atsar </em>di atas menunjukkan bahwa menyengaja memilih makam Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>sebagai tempat berdoa, termasuk perwujudan dari menjadikannya sebagai ‘ied. Dan ini terlarang. Cermatilah bagaimana tabi’in paling afdhal dari kalangan Ahlul Bait; Zainal Abidin rahimahullah, melarang orang yang menyengaja berdoa di makam Rasul <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam, </em>dan berdalil dengan hadits yang ia dengar dari bapaknya dari kakeknya. Beliau rahimahullah tentu lebih paham akan makna hadits tersebut, dibanding orang lain. Begitu pula keponakannya; al-Hasan bin al-Hasan; salah satu pemuka Ahlul Bait memahami hal serupa.</p>
<p style="padding-left: 40px;">Keterangan di atas bersumber dari Ahlul Bait dan penduduk kota Madinah. Nasab dan tempat tinggal mereka lebih dekat dengan Rasulullah <em>shallallahu’alaihi wasallam. </em>Mereka jelas lebih cermat dalam memahami permasalahan ini, karena mereka lebih membutuhkan ilmu tentang itu dibanding yang lainnya.<a href="#_ftn6" name="_ftnref6">[6]</a></p>
<ul>
<li>Di antara fakta yang menunjukkan bahwa ulama salaf menilai perbuatan menyengaja berdoa di kuburan termasuk bid’ah, mereka telah menyatakan bahwa jika seseorang telah mengucapkan salam kepada Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>di makamnya lalu ingin berdoa untuk dirinya sendiri, hendaklah ia berpaling dan menghadap kiblat serta tidak menghadap makam beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ini merupakan pendapat empat imam mazhab dan ulama Islam lainnya.<a href="#_ftn7" name="_ftnref7">[7]</a> Padahal Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>merupakan manusia yang paling mulia. Bagaimana halnya dengan makam selain beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kemuliaannya jauh di bawah beliau??!</li>
</ul>
<p style="padding-left: 40px;">Abul Hasan az-Za’farany (w. 517 H) menerangkan, “Barangsiapa bermaksud mengucapkan salam kepada mayit, hendaklah ia mengucapkannya sambil menghadap ke kuburan. Jika ia ingin berdoa hedaklah berpindah dari tempatnya dan menghadap kiblat”.<a href="#_ftn8" name="_ftnref8">[8]</a></p>
<p><strong>Keempat : </strong>Sebagaimana telah dijelaskan di depan bahwa Nabi Muhammad <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>melarang shalat di kuburan atau menghadap ke arahnya. Hikmahnya agar orang tidak terfitnah dengan kuburan. Doa di kuburan lebih pantas untuk dilarang, sebab peluang untuk menimbulkan fitnahnya lebih besar.</p>
<p>Orang yang berdoa di kuburan dalam keadaan terpepet karena dililit masalah besar dan begitu berharap untuk dikabulkan, lebih besar peluangnya untuk terfitnah kuburan, dibanding orang yang shalat di situ dalam keadaan sehat wal afiat. Karena itu harus lebih dilarang agar orang tidak terjerumus ke dalam penyimpangan.<a href="#_ftn9" name="_ftnref9">[9]</a></p>
<p><strong>Kelima:</strong> Di antara kaidah syariat yang telah disepakati para ulama; kaidah <em>saddu adz-dzarâ’i’ </em>(mencegah timbulnya kerusakan dengan menutup pintu yang menghantarkan kepadanya). Dan berdoa di kuburan sebagaimana telah maklum bisa mengantarkan kepada tindak memohon kepada sahibul kubur, dan ini merupakan kesyirikan. Jadi pintu yang menghantarkan ke sana harus ditutup rapat-rapat.<a href="#_ftn10" name="_ftnref10">[10]</a></p>
<p><strong>B</strong><strong>erbagai Jenis Orang yang Berdoa di Kuburan dan Hukum Masing-masing</strong><strong>:</strong><br>
Doa di kuburan ada beberapa jenis:</p>
<p><strong>Pertama : </strong>Doa untuk meminta hajat kepada penghuni kubur, baik dia seorang nabi, wali atau yang lainnya. Ini jelas syirik akbar. Allâh <em>Azza wa Jalla </em>memerintahkan,</p>
<p><strong>“وَاسْأَلُواْ اللّهَ مِن فَضْلِهِ”.</strong></p>
<p><em>“Mohonlah pada Allâh sebagian dari karunia-Nya”. [</em>An-Nisa’/4: 32]</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mewanti-wanti,</p>
<p><strong>“إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه”.</strong></p>
<p><em>“Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allâh. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allâh”. [</em>HR. Tirmidzi hal. 566 no. 2514 dan beliau berkomentar, “<em>Hasan sahih</em>“]</p>
<p>Imam Ibn Abdil Hadi rahimahullah (w. 744 H) menerangkan bahwa berdoa memohon kepada selain Allâh hukumnya adalah haram dan dikategorikan syirik, berdasarkan ijma’ para ulama.<a href="#_ftn11" name="_ftnref11">[11]</a></p>
<p><strong>Kedua : </strong>Menyengaja datang ke kuburan hanya untuk berdoa di situ, atau untuk ziarah kubur plus berdoa, dengan keyakinan bahwa doa di situ lebih mustajab, karena keistimewaan yang dimiliki tempat tersebut. Berdoa di situ lebih afdal dibanding berdoa di masjid atau rumah.</p>
<p>Potret ini mengandung unsur kesengajaan memilih kuburan sebagai tempat untuk berdoa. Dan ini tidak akan dilakukan melainkan karena dorongan keyakinan akan keistimewaan tempat tersebut dan keyakinan bahwa tempat itu memiliki peran dalam menjadikan doa lebih mustajab. Karena itulah jenis kedua ini menjadi terlarang dan dikategorikan bid’ah.</p>
<p>Tatkala berbicara tentang hukum shalat di kuburan, Imam as-Suyuthy rahimahullah menjelaskan, “Jika seorang insan menyengaja shalat di kuburan atau berdoa untuk dirinya sendiri dalam kepentingan dan urusannya, dengan tujuan mendapat berkah dengannya serta mengharapkan terkabulnya doa di situ; maka ini merupakan inti penentangan terhadap Allâh dan Rasul-Nya <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em>Menyimpang dari agama dan syariatnya. Juga dianggap bid’ah dalam agama yang tidak dizinkan Allâh, Rasul-Nya S<em>hallallahu ‘alaihi wa sallam </em>maupun para imam kaum muslimin yang setia mengikuti ajaran dan Sunnah beliau”.<a href="#_ftn12" name="_ftnref12">[12]</a></p>
<p><strong>Ketiga: </strong>Berdoa di kuburan karena kebetulan, tanpa menyengaja. Seperti orang yang berdoa kepada Allâh di perjalanannya dan kebetulan melewati kuburan. Atau orang yang berziarah kubur terus mengucapkan salam kepada sahibul kubur, meminta keselamatan untuk dirinya dan para penghuni kubur, sebagaimana disebutkan dalam hadits.</p>
<p>Jenis doa seperti ini diperbolehkan. Hadits yang memotivasi untuk mengucapkan salam kepada penghuni kubur menunjukkan bolehnya hal itu. Dalam hadits Buraidah bin al-Hushaib R<em>adhiyallahu’anhu </em>disebutkan,</p>
<p><strong>“أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ</strong><strong>“.</strong></p>
<p><em>“Aku memohon pada Allâh keselamatan untuk kami dan kalian”. [</em>HR. Muslim (II/671 no. 975)].</p>
<p>Dalam hadits Aisyah R<em>adhiyallahu’anhuma </em>disebutkan,</p>
<p><strong>“وَيَرْحَمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ”.</strong></p>
<p><em>“Semoga Allâh merahmati orang-orang terdahulu kami dan yang akan datang”. [</em>HR. Muslim (II/671 no. 974)]</p>
<p>Doa yang tidak ada unsur kesengajaan biasanya pendek, sebagaimana disebutkan dalam dua hadits di atas. Jika ada yang ingin mempraktekkan doa jenis ketiga ini, sebaiknya ia mencukupkan diri dengan doa dan salam yang diajarkan dalam sunnah dan tidak menambah-nambahinya. Karena para ulama salaf membenci berdiam lama di kuburan.</p>
<p>Imam Malik (w. 179 H) berkata, “Aku memandang tidak boleh berdiri untuk berdoa di kuburan Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em>Namun cukup mengucapkan salam lalu berlalu”.<a href="#_ftn13" name="_ftnref13">[13]</a></p>
<p><em>Wallahu ta’ala a’lam</em></p>
<p><em>@</em><em> Pesantren “Tunas Ilmu” Purbalingga, Rabu, 25 Mei 2011</em></p>
<p>(Diangkat dari tesis kami yang berjudul <strong>Mazhâhirul Inhirâf fî Tauhîdil ’Ibâdah ladâ Ba’dh Muslimî Indonesia wa Mauqif al-Islam minhâ</strong> hlm. 974-990)</p>
<p>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XV/Syaban 1432/2011M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]<br>
_______<br>
Footnote<br>
<a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> <em>Minhâj as-Sunnah </em>karya Ibn Taimiyyah (II/438). Lihat: <em>Ibid </em>(I/480-481).<br>
<a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> <em>Al-Bida’ wa an-Nahy ‘anhâ </em>(hal. 50).<br>
<a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> Kisah tersebut disebutkan oleh Ishaq dalam <em>Sirah</em>nya riwayat Yunus bin Bukair (hal. 49). Juga disebutkan Ibn Katsir dalam <em>al-Bidayah wa an-Nihayah </em>dan beliau menyatakan bahwa <em>sanad</em>nya hingga Abu al-‘Aliyah sahih. Lalu beliau menyebutkan jalur-jalur periwayatan lain yang mengindikasikan bahwa kejadian tersebut benar adanya. Periksa: <em>Al-Bidâyah wa an-Nihâyah </em>(II/376-379), <em>Iqtidhâ’ ash-Shirâth al-Mustaqîm </em>(II/199-200) dan <em>Ighâtsah al-Lahfân </em>(I/377).<br>
<a href="#_ftnref4" name="_ftn4">[4]</a> Diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah dalam <em>al-Mushannaf </em>(V/177-178 no. 7624) dan ini adalah redaksi beliau. Juga diriwayatkan oleh Isma’il al-Qadhy dalam <em>Fadhl ash-Shalat </em>(hal. 35 no. 20) dan Abu Ya’la dalam <em>Musnad</em>nya (I/361 no. 469). Ibn Abdil Hadi dalam <em>ash-Shârim al-Munky </em>(hal. 468) berkata, “Kisah tersebut diriwayatkan Abu Ya’la dan al-Hafizh Abu Abdillah al-Maqdisy dalam <em>al-Ahadîts al-Mukhtârah. </em>Ini merupakan hadits yang <em>mahfûzh </em>dari Ali bin al-Husain Zainal Abidin dan memilik banyak <em>syawâhid </em>(riwayat penguat)”. Syaikh al-Albany menilainya sahih. Lihat: <em>Fadhl ash-Shalat </em>(hal. 36).<br>
<a href="#_ftnref5" name="_ftn5">[5]</a> Diriwayatkan oleh Isma’il al-Qadhy dalam <em>Fadhl ash-Shalat </em>(hal. 40 no. 30) dan ini adalah redaksi beliau. Diriwayatkan pula oleh Abdurrazzaq dalam <em>Mushannaf</em>nya (III/577 no. 6726) dan Ibn Abi Syaibah <em>al-Mushannaf</em> (V/178 no. 7625). Dua <em>atsar </em>di atas memiliki <em>syâhid</em> dari hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan Abu Dawud (II/366 no. 2042) dan Ahmad (XIV/403 no. 8804). Dalam <em>al-Adzkâr </em>(hal. 173) Imam Nawawy menilai <em>sanad </em>hadits Abu Hurairah sahih dan diamini as-Sakhawy dalam <em>al-Qaul al-Badî’ </em>(hal. 312). Ibn Taimiyyah dalam <em>ar-Radd ‘alâ al-Akhnâ’iy </em>(hal. 92) dan Ibn Hajar sebagaimana dalam <em>al-Futûhât ar-Rabbâniyyah </em>(III/313) menyatakannya <em>hasan. </em>Adapun Ibn Abdil Hadi dan al-Albany menilainya sahih. Lihat: <em>Ash-Shârim al-Munky </em>(hal. 490) dan <em>Shahîh al-Jâmi’ </em>(II/706 no. 3785).<br>
<a href="#_ftnref6" name="_ftn6">[6]</a> Periksa: <em>Iqtidhâ’ ash-Shirâth al-Mustaqîm </em>(II/245) dan <em>Ighâtsah al-Lahfân </em>(I/362).<br>
<a href="#_ftnref7" name="_ftn7">[7]</a> Cermati: <em>Al-Majmû’ </em>(V/286), <em>Iqtidhâ’ ash-Shirâth al-Mustaqîm </em>(II/239), <em>Ighâtsah al-Lahfân </em>(I/374) dan <em>ad-Du’â’ wa Manzilatuh min al-‘Aqîdah al-Islâmiyyah </em>karya Jailan al-‘Arusy (II/614-616).<br>
<a href="#_ftnref8" name="_ftn8">[8]</a> Sebagaimana dinukil an-Nawawy dalam <em>al-Majmû’ </em>(V/286).<br>
<a href="#_ftnref9" name="_ftn9">[9]</a> Lihat: <em>Iqtidhâ’ ash-Shirâth al-Mustaqîm </em>(II/196-197).<br>
<a href="#_ftnref10" name="_ftn10">[10]</a> Baca: <em>Minhâj as-Sunnah </em>(II/439-440), <em>Ighâtsah al-Lahfân </em>(I/396, 398) dan <em>ad-Du’â’ wa Manzilatuh</em> (II/483-484).<br>
<a href="#_ftnref11" name="_ftn11">[11]</a> Cermati: <em>Ash-Shârim al-Munky </em>(hal. 543) dan <em>Shiyânah al-Insân </em>karya as-Sahsawany (hal. 234).<br>
<a href="#_ftnref12" name="_ftn12">[12]</a> <em>Al-Amr bi al-Ittibâ’ </em>(hal. 139). Lihat pula: <em>Iqtidhâ’ ash-Shirâth al-Mustaqîm </em>(II/193).<br>
<a href="#_ftnref13" name="_ftn13">[13]</a> <em>Asy-Syifâ’ </em>karya al-Qadhi ‘Iyadh (II/85).</p>
 