
<p>Terdapat dua permasalahan yang perlu diperhatikan dalam hal ini.</p>
<p><strong>Pertama: Mengucapkan basmalah di kamar mandi karena menurut sebagian ulama syarat sah wudu adalah mengucapkan basmalah.</strong></p>
<p>Terkait hukum mengucapkan basmalah di kamar mandi ada dua pendapat ulama:</p>
<p>Pertama, makruh. Berdasarkan pendapat ini, maka diperbolehkan mengucapkan <em>basmalah</em> di kamar mandi. Hal ini karena hal yang makruh itu menjadi boleh jika ada <em>hajat </em>(kebutuhan).</p>
<p>Kedua, haram. Berdasarkan pendapat ini, maka mengucapkan <em>basmalah</em> dilakukan di luar kamar mandi, yaitu sebelum masuk untuk berwudu.</p>
<p><strong>Kedua: Bersih dari terkena najis selama di kamar mandi</strong></p>
<p>Berikut ini pembahasannya secara singkat (ringkas):</p>
<h3><strong>Pertama: hukum mengucapkan basmalah di kamar mandi</strong></h3>
<p><span style="font-size: 11pt;">Terkait hukum mengucapkan basmalah di kamar mandi, terdapat dua pendapat ulama:</span></p>
<h4>Pertama, makruh.</h4>
<p>Berdasarkan pendapat ini, maka diperbolehkan mengucapkan <em>basmalah</em> di kamar mandi. Hal ini karena hal yang makruh itu menjadi diperbolehkan jika ada <em>hajat </em>(kebutuhan), meskipun tidak mendesak.</p>
<p>An-Nawawi Asy-Syafi’i <em>rahimahullah </em>menjelaskan bahwa berzikir dan berdoa di kamar mandi hukumnya makruh. Beliau <em>rahimahullah </em>berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 24pt;">يكره الذكر والكلام حال قضاء الحاجة، سواء كان في الصحراء أو في البنيان، وسواء في ذلك جميع الأذكار والكلام إلا كلام الضرورة</span></p>
<p>“<em>Dimakruhkan berzikir dan berbicara ketika menunaikan hajat (buang air), baik itu di tanah lapang atau di dalam ruangan, sama saja hukumnya pada semua jenis zikir ataupun pembicaraan, kecuali darurat.</em>” (<em>Al-Azkar</em>, hal. 28)</p>
<p>Suatu hal yang hukum asalnya makruh itu bisa menjadi mubah hukumnya apabila ada <em>hajat</em> (kebutuhan). Sebagaimana kaidah,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 24pt;">الكَرَاهَةُ تَزُوْلُ بِالحَاجَةِ</span></p>
<p>“<em>Suatu hal yang hukumnya makruh itu bisa menjadi hilang hukumnya karena ada hajat.</em>”</p>
<p>Syekh Abdul Aziz Bin Baz <em>rahimahullah </em>juga menjelaskan demikian. Beliau <em>rahimahullah </em>berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 24pt;">لا بأس أن يتوضأ داخل الحمام، إذا دعت الحاجة إلى ذلك، ويسمي عند أول الوضوء، يقول: (بسم الله)؛ لأن التسمية واجبة عند بعض أهل العلم، ومتأكدة عند الأكثر</span></p>
<p>“<em>Tidak mengapa Engkau berwudu di dalam kamar mandi apabila ada hajat dan diucapkan di awal wudu. Lafaz basmalah hukumnya wajib menurut sebagian ulama dan sebagian lain lagi berpendapat hukumnya sunah muakkadah (ditekankan).</em>” (<em>Majmu’ Fatawa wa Maqalat,</em> 10: 28)</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong><a href="https://muslim.or.id/66464-orang-sakit-yang-tidak-bisa-ke-tempat-wudhu-bagaimana-wudhunya.html">Orang Sakit Yang Tidak Bisa Ke Tempat Wudhu, Bagaimana Wudhunya?</a></strong></p>
<h4>Kedua, haram.</h4>
<p>Berdasarkan pendapat ini, maka mengucapkan <em>basmalah</em> dilakukan di luar kamar mandi, sebelum masuk untuk berwudu. Berdasarkan pendapat ini juga, sebagian ulama membolehkan ucapan <em>basmalah,</em> akan tetapi hanya di dalam hati saja tanpa menggerakkan lisan dan bibir.</p>
<p>Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin <em>rahimahullah </em>menjelaskan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 24pt;">فإنه لا يذكر الله تعالى بلسانه فيها -في هذا الموضع وما أشرنا إليه أولاً- ولكن ذكر الله بقلبه لا حرج عليه فيه.</span></p>
<p>“<em>Tidak perlu mengucapkan nama Allah dengan lisannya pada tempat yang kami isyaratkan (kamar mandi dan semisalnya). Akan tetapi, disebut di dalam hati. Hal ini tidak mengapa.</em>” (<em>Nurun ‘Alad Darb,</em> kaset no.7)</p>
<p>Kami lebih memegang pendapat ulama yang menyatakan makruh hukumnya mengucapkan <em>basmalah</em> di kamar mandi, sehingga diperbolehkan apabila ada hajat. Demikian juga, karena ketika zikir itu lisan dan bibir harus bergerak. Sehingga solusi dengan mengucapkan <em>basmalah</em> dalam hati itu kurang tepat. <em>Wallahu Ta’ala a’lam.</em></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong><a href="https://muslim.or.id/59687-hukum-menyentuh-mushaf-tanpa-berwudhu.html">Hukum Menyentuh Mushaf Tanpa Berwudhu</a></strong></p>
<h3>Kedua: Bersih dari terkena najis selama di kamar mandi</h3>
<p>Pastikan  bersih dari najis dengan membersihkan dahulu lantainya jika yakin ada  najis dan bau. Dikhawatirkan terpercik air ketika berwudu dan terkena kena kaki atau celana kita. Dijelaskan dalam <em>Fatwa Lajnah Ad-Daimah,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 24pt;">“نعم ، يجوز له ذلك مع التحفظ من رشاش البول ، ويشرع له أن يصب عليه ماء ليذهب مباشرة إن أراد أن يتوضأ بذلك المكان ” انتهى .</span></p>
<p><em>“Iya, diperbolehkan berwudu di kamar mandi dengan menjaga dari percikan air kencing. Hendaknya menuangkan air secara langsung agar najis bersih apabila ingin berwudu di kamar mandi.”</em> (<em>Fatwa Al-Lajnah,</em> 5: 238)</p>
<p>Demikian penjelasan ini, semoga bermanfaat.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li class="jeg_post_title"><strong><a href="https://muslim.or.id/58557-makan-dan-minum-bukanlah-pembatal-wudhu.html">Makan dan Minum Bukanlah Pembatal Wudhu</a></strong></li>
<li class="jeg_post_title"><strong><a href="https://muslim.or.id/40461-apakah-microsleep-membatalkan-wudhu.html">Apakah Microsleep Membatalkan Wudhu?</a></strong></li>
</ul>
<p>***</p>
<p>@Bandara Soetta, Perjalanan Lombok – Yogyakarta</p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color="">Raehanul Bahraen</span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color="">www.muslim.or.id</span></strong></p>
 