
<p>Para ulama pakar fikih berselisih pendapat mengenai hukum jual beli <em>mushaf</em> Alquran. Ada tiga pendapat dalam masalah ini.</p>
<p><strong>Pertama</strong>,  para ulama bermazhab Hanbali berpendapat bahwa jual beli <em>mushaf</em> Alquran  itu tidak diperbolehkan. Bahkan, transaksinya tidak sah.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>عن بن عمر قال وددت أني قد رأيت الأيدي تقطع في بيع المصاحف</strong></p>
<p>Dari  Ibnu Umar, beliau mengatakan, “Aku berharap aku bisa menyaksikan  tangan-tangan yang dipotong karena memperjualbelikan <em>mushaf</em> Alquran.”  (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, no. 20209; sanadnya <strong>lemah</strong> karena adanya perawi yang bernama Laits bin Salim)</p>
<p>Angan-angan Ibnu Umar di atas menunjukkan bahwa menurut beliau, jual beli <em>mushaf </em>Alquran itu haram.</p>
<p><strong>Kedua</strong>,  Syafi’iyyah dan salah satu pendapat Imam Ahmad mengatakan sahnya jual  beli <em>mushaf</em> Alquran, namun hukum melakukan transaksinya adalah makruh.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>عن  مجاهد ، عن ابن عباس رضي الله عنهما ، قال : كنا لا نرى بأسا أن يبيع  المصحف ويشتري بثمنه مصحفا هو أفضل منه ، ولا بأس أن يبادل المصحف بالمصحف ،  فرخص في شراء المصحف</strong></p>
<p>Dari Mujahid, dari Ibnu Abbas,  beliau mengatakan, “Tidaklah mengapa menjual mushaf lalu hasil  penjualannya dipergunakan untuk membeli mushaf yang lebih baik. Tidak  mengapa membarter mushaf dengan <em>mushaf</em>.” Jadi, Ibnu Abbas memperbolehkan  jual beli <em>mushaf</em> Alquran. (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam <em>Khalq Af’alil ‘Ibad</em>, no. 234; sanadnya <strong>dhaif</strong> karena ada perawi yang bernama Laits bin Abi Salim Al-Laitsi)</p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><strong>عن  زياد مولى لسعد : أنه سأل عبد الله بن عباس ومروان بن الحكم عن بيع  المصاحف لتجارة فيها فقالا لا نرى أن نجعله متجرا ولكن ما عملت بيديك فلا  بأس به</strong></p>
<p>Dari Ziyad, bekas budak Sa’ad, beliau bercerita  bahwa beliau bertanya kepada Ibnu Abbas dan Marwan bin Al-Hakam mengenai  jual beli <em>mushaf</em> Alquran dengan tujuan bisnis. Jawaban keduanya, “Kami  tidak memperbolehkan menjadikan <em>mushaf </em>Alquran sebagai komoditi  perdagangan, namun mushaf yang engkau hasilkan dengan kedua tanganmu  tidaklah mengapa jika engkau jual.” (Diriwayatkan oleh Baihaqi, dalam <em>Sunan Kubra</em>, no. 10847; <strong>dhaif</strong>)</p>
<p>Dari  dua riwayat di atas bisa disimpulkan bahwa Ibnu Abbas tidaklah  memperbolehkan jual beli <em>mushaf</em> secara mutlak, namun bersyarat, yaitu  tidak boleh menjadikannya sebagai komoditi perdagangan. Hal ini  menunjukkan bolehnya memperjualbelikan mushaf, namun sebaiknya jangan  diperjualbelikan (baca: makruh).</p>
<p><strong>Ketiga</strong>,  Malikiyyah, sebagian Syafi’iyyah, dan salah satu pendapat Imam Ahmad  mengatakan sah dan tidak makruhnya transaksi jual beli mushaf.</p>
<p>Pendapat  ketiga inilah yang merupakan pendapat yang paling kuat dan inilah  pendapat yang dipilih oleh Ibnu Utsaimin. Alasan yang menguatkan  pendapat ini adalah <strong>hukum asal transaksi jual beli adalah halal dan tidak dijumpai dalil sahih yang tegas mengharamkannya</strong>.  Adapun riwayat dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas di atas, maka itu adalah  riwayat yang lemah, sehingga tidak layak dijadikan sebagai dalil.</p>
<p>Di  samping itu, mengharamkan jual beli <em>mushaf</em> itu akan menyebabkan orang  tidak bisa membaca Alquran atau kesulitan untuk mendapatkannya karena  mayoritas orang tentu saja berat hati untuk memberikan <em>mushaf </em>yang  dimilikinya kepada orang lain dengan cuma-cuma. (Diringkas dan diolah  dari <em>Ighatsah Al-Jumu’</em>, hlm. 46–50)</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.pengusahamuslim.com">www.PengusahaMuslim.com</a></strong></p>
 