
<p>Terdapat perbedaan pendapat ulama tentang hukum memakamkan jenazah di malam hari. Sebagian ulama menegaskan hal tersebut sebagai perkara yang terlarang seperti pendapat Ibnu Hazm Az-Zahiri <em>rahimahullah. </em>Sebagian ulama menilai makruh seperti pendapat Sa’id bin Musayyib. Mereka menjawab bahwa jika ada yang dimakamkan di malam hari, maka hal itu  diperbolehkan karena kondisi darurat. (Lihat <em>Al-Muhalla, </em>5: 114)</p>
<p>Adapun mayoritas <em>(jumhur) </em>ulama berpendapat bolehnya memakamkan jenazah di malam hari dan tidak makruh. Pendapat jumhur ulama ini didasarkan atas hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma </em>yang menceritakan seseorang yang dimakamkan di malam hari. Beliau <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَجُلٍ بَعْدَ مَا دُفِنَ بِلَيْلَةٍ قَامَ هُوَ وَأَصْحَابُهُ وَكَانَ سَأَلَ عَنْهُ فَقَالَ مَنْ هَذَا فَقَالُوا فُلَانٌ دُفِنَ الْبَارِحَةَ فَصَلَّوْا عَلَيْهِ</span></p>
<p>“<em>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengerjakan salat jenazah untuk seorang laki-laki yang telah dikebumikan pada malam hari. Beliau mengerjakannya bersama dengan para sahabatnya. Saat itu beliau bertanya tentang jenazah tersebut, “Siapakah orang ini?” Mereka menjawab, “Si fulan, yang telah dimakamkan kemarin.” Maka, mereka pun menyalatkannya.</em>” (HR. Bukhari no. 1340)</p>
<p>Dalam riwayat Muslim, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَفَلَا كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي</span></p>
<p>“<em>Mengapa kalian tidak memberitahukan kepadaku?</em>” (HR. Muslim no. 956)</p>
<p>Dalam hadis tersebut, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>tidak mengingkari perbuatan para sahabat yang memakamkan jenazah di malam hari. Yang Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>sesalkan adalah para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum </em>tidak memberitahukan berita meninggalnya sahabat tersebut kepada beliau <em>shallallahu ‘alaihi wasallam.</em></p>
<p>Bolehnya memakamkan jenazah di malam hari juga diperkuat dengan perbuatan para sahabat yang memakamkan jenazah Abu Bakr Ash-Shiddiq <em>radhiyallahu ‘anhu </em>di malam hari. Sebagaimana hal ini terdapat dalam hadis yang diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha, </em>di dalam hadis tersebut terdapat perkataan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَدُفِنَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ</span></p>
<p>“<em>Lalu beliau dimakamkan sebelum pagi.</em>” (HR. Bukhari no. 1387)</p>
<p>Ibnu Hajar Al-Asqalani <em>rahimahullah </em>berkata, “Ini semacam <em>ijma</em>’ (kesepakatan) dari para sahabat bahwa hal itu (memakamkan jenazah di malam hari) diperbolehkan.” (<em>Fathul Baari, </em>3: 208)</p>
<p>Artinya, memakamkan jenazah di malam hari adalah perkara yang sudah dikenal luas kebolehannya di kalangan sahabat, dan tidak ada yang mengingkari hal itu.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/22446-menyalati-jenazah-tapi-tak-tahu-jenis-kelaminnya-sahkah-shalatnya.html" data-darkreader-inline-color="">Menyalati Jenazah, Tapi Tak Tahu Jenis Kelaminnya, Sahkah Shalatnya?</a></strong></p>
<p>Adapun hadis yang diriwayatkan dari sahabat Jabir <em>radhiyallahu ‘anhu, </em>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لَا تَدْفِنُوا مَوْتَاكُمْ بِاللَّيْلِ، إِلَّا أَنْ تُضْطَرُّوا</span></p>
<p>“<em>Janganlah kalian menguburkan orang-orang yang telah meninggal dari kalian pada malam hari, kecuali terpaksa.</em>” (HR. Ibnu Majah no. 1521)</p>
<p>adalah hadis yang lemah sehingga tidak bisa dijadikan sebagai hujjah, Hal ini karena di dalam sanadnya terdapat perawi bernama Ibrahim bin Yazid. Imam Ahmad <em>rahimahullah </em>berkata, <em>“Matrukul hadits.” </em>(Lihat <em>Minhatul ‘Allam, </em>4: 374) <strong>[1]</strong></p>
<p>Dalam riwayat Muslim terdapat hadis yang diriwayatkan dari sahabat Jabir bin ‘Abdullah <em>radhiyallahu ‘anhu, </em>beliau mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فَزَجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُقْبَرَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهِ إِلَّا أَنْ يُضْطَرَّ</span></p>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk menguburkannya di malam hari sampai disalatkan, kecuali jika keadaannya sangat terpaksa.</em>” (HR. Muslim no. 943)</p>
<p>Dalam hadis tersebut, telah disebutkan sebab larangan memakamkan jenazah di malam hari, yaitu karena jika dimakamkan di siang hari, maka akan dihadiri lebih banyak orang yang kemudian akan menyalatkannya. Adapun jika dimakamkan malam hari, yang menghadiri hanya sedikit. Demikian pula sebab larangan yang lain adalah karena sahabat tersebut dikafani dengan kain yang tidak menutupi seluruh badannya.</p>
<p>Kompromi yang terbaik berkaitan dengan hadis-hadis di atas adalah sebagaimana penjelasan Ibnul Qayyim <em>rahimahullah. </em>Yaitu jika memakamkan di malam hari itu tidak mengurangi sedikit pun hak-hak jenazah, maka tidak mengapa dimakamkan di malam hari. Inilah yang ditunjukkan oleh hadis-hadis yang menunjukkan bolehnya memakamkan jenazah di malam hari. Adapun jika hal itu mengurangi hak-hak jenazah dan pengurusan jenazah menjadi tidak sempurna, maka dilarang. Inilah yang ditunjukkan oleh hadis-hadis yang menunjukkan terlarangnya memakamkan jenazah di malam hari. (Lihat <em>Tahdzib Mukhtashar As-Sunan, </em>4: 309) <strong>[2]</strong></p>
<p><em>Wallahu Ta’ala a’lam.</em></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/43876-fikih-pengurusan-jenazah-1-memandikan-dan-mengkafani.html" data-darkreader-inline-color="">Fikih Pengurusan Jenazah (1) : Memandikan dan Mengkafani</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/25051-fikih-jenazah-3-hal-hal-yang-disyariatkan-terhadap-orang-yang-baru-meninggal-dunia.html" data-darkreader-inline-color="">Fikih Jenazah (3) : Hal-Hal Yang Disyari’atkan Terhadap Orang Yang Baru Meninggal Dunia</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p>***</p>
<p>@Rumah Kasongan, 28 Jumadil akhirah 1443/ 31 Januari 2022</p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/" data-darkreader-inline-color="">www.muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p> </p>
<p><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<p><strong>[1] </strong>Namun hadis ini dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani <em>rahimahullah. </em>Sehingga beliau berpendapat terlarangnya memakamkan jenazah di malam hari, kecuali dalam kondisi darurat.</p>
<p><strong>[2] </strong>Disarikan dari kitab <em>Minhatul ‘Allam, </em>4: 374-375.</p>
 