
<h2 style="text-align: center;"><strong>Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin <em>rahimahullah</em></strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apa hukum memakamkan mayit di dalam masjid?</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Memakamkan mayit di dalam masjid itu perbuatan yang dilarang oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em>Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>juga melarang menjadikan masjid di atas kubur. Beliau melaknat perbuatan tersebut sesaat sebelum meninggal dunia. Beliau memperingatkan umatnya, dan menyebutkan bahwa hal itu adalah perbuatan kaum Yahudi dan Nasrani. <strong>[1]</strong></p>
<p>Juga karena perbuatan tersebut merupakan sarana menuju kemusyrikan terhadap Allah <em>Ta’ala</em>. Hal ini karena perbuatan mendirikan masjid di atas kubur dan memakamkan mayit di dalam masjid merupakan sarana mempersekutukan mayit tersebut dengan Allah <em>Ta’ala</em>. Manusia bisa meyakini bahwa orang yang dimakamkan di dalam masjid tersebut bisa memberikan manfaat atau <em>mudharat</em> (marabahaya), atau bahwa mayit tersebut memiliki keistimewaan sehingga wajib untuk mendekatkan diri kepada mereka dengan ketaatan selain Allah <em>Ta’ala</em>.</p>
<p>Oleh karena itu, wajib bagi kaum muslimin untuk waspada dari fenomena berbahaya ini. Hendaknya masjid itu bersih (tersucikan) dari makam. Masjid dibangun di atas pondasi tauhid dan <em>aqidah shahihah</em>. Sebagaimana firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَداً</span></p>
<p>“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka, janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al-Jin: 18)</p>
<p>Maka, masjid harus bersih dari simbol-simbol kemusyrikan sehingga bisa mengantarkan kepada pemurnian ibadah kepada Allah <em>Ta’ala</em>, tidak ada sekutu bagi-Nya. Inilah yang menjadi kewajiban atas kaum muslimin. <em>Wallahul muwaffiq. </em><strong>[2]</strong></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><span style="--darkreader-inline-color: #ff1010;">Hukum Tabarruk Dengan Jasad dan Kuburan Orang Shalih</span></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/54584-apakah-tidak-menziarahi-kuburan-kedua-orang-tua-termasuk-kedurhakaan.html" data-darkreader-inline-color="">Apakah Tidak Menziarahi Kuburan Kedua Orang Tua Termasuk Kedurhakaan?</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p>***</p>
<p>@Rumah Kasongan, 2 Jumadil akhirah 1443/ 5 Januari 2022</p>
<p><strong>Penerjemah: <a href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim"><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</span></a></strong></p>
<p><strong> Artikel: <a href="https://muslim.or.id/"><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color="">www.muslim.or.id</span></a></strong></p>
<p><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<p><strong>[1] </strong>HR. Bukhari no. 1330.</p>
<p><strong>[2] </strong>Diterjemahkan dari kitab <em>Fataawa Arkaanil Islaam, </em>hal. 199-200, pertanyaan no. 82.</p>
 