
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Hukum mencela atau mencaci maki waktu (masa)</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ، بِيَدِي الأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">‘Azza wa Jalla</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman, “Anak Adam telah menyakiti-Ku (karena) dia suka mencela waktu (masa). Padahal Aku-lah pencipta (pengatur) masa. Aku-lah yang menggilir antara siang dan malam”.” </span><b>(HR. Bukhari no. 4826 dan Muslim no. 2246)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/47616-mencela-penyakit-demam.html" data-darkreader-inline-color="">Mencela Penyakit Demam</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>3 Rincian hukum mencela masa</strong></span></h2>
<h3><span style="font-size: 19pt;"><b>Pertama</b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika maksud atau niatnya semata-mata mengabarkan, tidak dimaksudkan untuk mencela. Hal ini diperbolehkan, karena setiap amal itu tergantung pada niatnya. Misalnya perkataan seseorang, “Cuaca hari ini sangat panas sehingga membuat kita sangat lelah.” Atau, “Hari ini suhunya sangat dingin.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semisal dengan jenis pertama ini adalah ucapan Nabi Luth </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">هَذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ini adalah hari yang amat sulit.”</span> <b>(QS. Huud [11]: 77)</b></p>
<h3><span style="font-size: 19pt;"><b>Kedua</b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Mencela masa karena adanya keyakinan bahwa dia-lah yang menjadi pelaku kebaikan dan keburukan di dunia ini. Seperti keyakinan bahwa masa-lah yang membolak-balik perkara antara kebaikan dan keburukan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perbuatan ini termasuk dalam kemusyrikan syirik akbar, karena berarti bahwa orang tersebut meyakini adanya sang Pencipta selain Allah <em>Ta’ala.</em> Siapa saja yang meyakini adanya pencipta yang lain di samping Allah <em>Ta’ala,</em> maka dia telah kafir.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/47198-mencela-dan-mencaci-orang-tua.html" data-darkreader-inline-color="">Mencela dan Mencaci Orang Tua</a></strong></p>
<h3><span style="font-size: 19pt;"><b>Ketiga</b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Mencela masa bukan karena meyakini bahwa masa-lah pelaku atau penciptanya. Dia meyakini bahwa yang mentakdirkan adalah Allah <em>Ta’ala</em> (bukan karena poin ke dua). Akan tetapi, dia mencela masa karena masa itulah yang berkaitan langsung dengan kejadian, peristiwa, atau keburukan yang dia alami. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perbuatan semacam ini diharamkan, meskipun tidak sampai kepada derajat kemusyrikan. Hal ini karena pada hakikatnya, celaan tersebut kembali kepada Allah <em>Ta’ala</em> yang telah menetapkan dan mentakdirkannya. Karena Allah-lah yang mengatur masa, mempergilirkan antara siang dan malam, dan mengisinya dengan kebaikan dan keburukan (menurut makhluk) sesuai dengan apa yang Allah <em>Ta’ala</em> kehendaki. Sehingga perbuatan ini tidak termasuk dalam kekafiran karena dia tidaklah mencela Allah <em>Ta’ala</em> secara langsung. </span><b>(</b><b><i>Al-Qaulul Mufiid, </i></b><b>2: 240)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Juga terdapat hadits yang tegas melarang perbuatan mencela masa. Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لَا تَسُبُّوا الدَّهْرَ، فَإِنَّ اللهَ هُوَ الدَّهْرُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Janganlah mencela masa, karena sesungguhnya Allah Ta’ala adalah (pengatur) masa.” </span><b>(HR. Muslim no. 2246)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana kaidah dalam ilmu ushul bahwa larangan menunjukkan haramnya perbuatan yang dilarang tersebut.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/41414-saudaraku-sampai-kapan-kita-saling-mencela-dan-mengolok-olok.html" data-darkreader-inline-color="">Saudaraku, Sampai Kapan Kita saling Mencela dan Mengolok-olok?</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Pelajaran lain dari hadits di atas</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dua pelajaran (faidah) lain dari hadits pertama di atas adalah:</span></p>
<p><b>Pertama, </b><span style="font-weight: 400;">makhluk itu mungkin menyakiti Allah <em>Ta’ala.</em> Akan tetapi, makhluk tidak mungkin menimbulkan bahaya </span><i><span style="font-weight: 400;">(dharar) </span></i><span style="font-weight: 400;">kepada Allah <em>Ta’ala.</em> Dalam hadits di atas, Allah <em>Ta’ala</em> mengabarkan bahwa Dia tersakiti dengan perbuatan sebagian makhluk-Nya yang suka mencela masa. Hal ini juga sebagaimana firman Allah <em>Ta’ala,</em></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَاباً مُهِيناً</span></p>
<p><b>“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah</b><span style="font-weight: 400;"> dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.”</span> <b>(QS. Al-Ahzab [33]: 57)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun dalil bahwa makhluk tidak mungkin (mustahil) menimbulkan bahaya </span><i><span style="font-weight: 400;">(mudharat) </span></i><span style="font-weight: 400;">kepada Allah <em>Ta’ala</em> adalah firman Allah <em>Ta’ala,</em></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّهُمْ لَنْ يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئاً</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikit pun.”</span> <b>(QS. Ali ‘Imran [3]: 176)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Juga dalam hadits qudsi, Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Wahai hamba-Ku, kamu sekalian tidak akan mampu menimpakan mara bahaya sedikit pun kepada-Ku, sehingga Engkau bisa membahayakan-Ku.” </span><b>(HR. Muslim no. 2557)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/34789-larangan-mencela-hujan-dan-angin.html" data-darkreader-inline-color="">Larangan Mencela Hujan dan Angin</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لا يلزم من الأذية الضرر; فالإنسان يتأذى بسماع القبيح أو مشاهدته، ولكنه لا يتضرر بذلك، ويتأذى بالرائحة الكريهة كالبصل والثوم ولا يتضرر بذلك</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Menyakiti (mengganggu) belum tentu menimbulkan bahaya </span><i><span style="font-weight: 400;">(dharar). </span></i><span style="font-weight: 400;">Manusia terganggu dengan suara yang jelek atau menyaksikan sesuatu, namun dia tidak tertimpa bahaya karenanya. Manusia juga terganggu dengan bau yang tidak enak seperti bawang merah atau bawang putih, namun tidak tertimpa bahaya karenanya.” </span><b>(</b><b><i>Al-Qaulul Mufiid, </i></b><b>2: 241)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, kita menetapkan dan meyakini bahwa Allah <em>Ta’ala</em> bisa saja tersakiti (terganggu). Hal ini karena Allah <em>Ta’ala</em> sendiri yang telah mengabarkannya. Dan Allah <em>Ta’ala</em> adalah Dzat yang paling mengetahui tentang diri-Nya sendiri. Akan tetapi, kita wajib meyakini bahwa tersakitinya Allah <em>Ta’ala</em> itu tidak sama dengan makhluk-Nya, namun sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah <em>Ta’ala.</em> Sehingga tidak berarti bahwa “menyakiti” tersebut berarti makhluk mampu menimpakan keburukan kepada Allah <em>Ta’ala.</em> Maha suci Allah <em>Ta’ala</em> dari anggapan-anggapan semacam itu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidak ada satu pun yang semisal dengan Allah, dan Dia Maha mendengar dan Maha melihat.” </span><b>(QS. Asy-Syuura [42]: 11)</b></p>
<p><b>Ke dua, </b><i><span style="font-weight: 400;">ad-dahr </span></i><span style="font-weight: 400;">(waktu atau masa) bukanlah nama Allah <em>Ta’ala.</em> Karena nama Allah <em>Ta’ala</em> itu pasti mengandung pujian berupa sifat-sifat mulia dan sempurna yang terkandung di dalamnya. Adapun </span><i><span style="font-weight: 400;">ad-dahr </span></i><span style="font-weight: 400;">itu bersifat netral, tidak mengandung pujian ataupun celaan.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/8759-syiah-mencela-ummul-mukminin-aisyah.html" data-darkreader-inline-color="">Syi’ah Mencela Ummul Mukminin, ‘Aisyah</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun firman Allah <em>Ta’ala,</em></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَأَنَا الدَّهْرُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Aku adalah masa”, dijelaskan dalam lanjutan kaliamt berikutnya, yaitu:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Aku-lah yang menggilir antara siang dan malam.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sehingga kalimat, “Aku adalah masa”; maksudnya adalah “Aku adalah pencipta atu pengatur masa”. Dan tidak menunjukkan bahwa </span><i><span style="font-weight: 400;">ad-dahr </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah di antara nama-nama Allah <em>Ta’ala.</em> </span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/47509-taat-kepada-penguasa-karena-pamrih-duniawi.html" data-darkreader-inline-color="">Taat kepada Penguasa karena Pamrih Duniawi</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/47423-zaman-ini-dakwah-dengan-lemah-lembut-dan-bersabar.html" data-darkreader-inline-color="">Haruskah Berdakwah dengan Lemah Lembut di Zaman Ini?</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 11 Syawwal 1440/15 Juni 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.Or.Id</a></span></strong></p>
 