
<p><span style="font-weight: 400;">Di tengah situasi ini, terdapat seruan untuk menghindari dan mengurangi aktivitas-aktivitas pengumpulan massa karena kerumuman massa tersebut dinilai sebagai faktor risiko tinggi terjadinya penularan virus corona.</span></p>

<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Upaya Menghentikan Wabah Covid-19</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Saat ini, dunia sedang berperang menghadapi pandemi virus SARS-CoV-2 </span><i><span style="font-weight: 400;">(Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2) </span></i><span style="font-weight: 400;">yang menyebabkan penyakit Covid-19 </span><i><span style="font-weight: 400;">(Coronavirus Disease 2019). </span></i><span style="font-weight: 400;">Sampai tulisan ini ditulis (tanggal 17 Maret 2020), virus SARS-CoV-2 telah mewabah di 150 negara (teritori), dengan jumlah orang yang terinfeksi mencapai 179,112 dan dengan angka kematian sebanyak 7,426 orang. Situasi ini terjadi hanya dalam waktu sekitar 2,5 bulan saja. </span><b>[1]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, WHO memutuskan untuk menetapkan kondisi pandemi, kondisi wabah yang paling gawat karena menunjukkan penyebaran yang sangat luas di seluruh dunia dan sangat cepatnya penyebaran dan penularan penyakit dari manusia ke manusia </span><i><span style="font-weight: 400;">(direct human-to-human transmission).</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di tengah situasi ini, terdapat seruan untuk menghindari dan mengurangi aktivitas-aktivitas pengumpulan massa karena kerumuman massa tersebut dinilai sebagai faktor risiko tinggi terjadinya penularan. Tentu saja, kondisi itu akan mempengaruhi aktivitas ibadah kaum muslimin, di antaranya adalah shalat jum’at dan shalat berjamaah di masjid. Tulisan ini akan membahas secara singkat hukum menghadiri shalat jum’at dan shalat berjamaah di masjid ketika terjadi pandemi SARS-CoV-2. </span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Bolehkah Meninggalkan Shalat Berjamaah dan Shalat Jum’at di Masjid Ketika Terjadi Pandemi SARS-CoV-2?</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Hukum menghadiri shalat berjamaah di masjid adalah fardhu ‘ain bagi laki-laki </span><b>[2]. </b><span style="font-weight: 400;">Akan tetapi, terdapat beberapa kondisi </span><i><span style="font-weight: 400;">(‘udzur syar’i) </span></i><span style="font-weight: 400;">yang menyebabkan kewajiban tersebut menjadi gugur, di antaranya adalah hujan deras, sakit, angin kencang, dan sebagainya. Ketika terjadi pandemi SARS-CoV-2, terdapat dua kondisi yang mungkin menimpa seseorang:</span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Kondisi pertama, jika orang tersebut terbukti positif terinfeksi SARS-CoV-2.</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada asalnya, jika seseorang sakit, itu adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">‘udzur </span></i><span style="font-weight: 400;">yang menyebabkan dirinya boleh meninggalkan shalat berjamaah di masjid. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnuda ‘Aisyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ’anha</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>أن رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قال في مرَضِه : ( مُروا أبا بكرٍ يصلِّي بالناسِ )</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ’alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> ketika sakit beliau bersabda, “Perintahkan Abu Bakar untuk shalat (mengimami) orang-orang.” </span><b>(HR. Bukhari no. 7303)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu ‘Abbas </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;"> juga mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>لقد رَأيتُنا وما يتخلَّفُ عن الصَّلاةِ إلا منافقٌ قد عُلِمَ نفاقُهُ أو مريضٌ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Aku melihat bahwa kami (para sahabat) memandang orang yang tidak shalat berjama’ah sebagai orang munafik, atau sedang sakit.” </span><b>(HR. Muslim no. 654)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda tentang shalat Jum’at</span><span style="font-weight: 400;">,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>الجمعةُ حقٌّ واجبٌ على كلِّ مسلمٍ فبجماعةٍ إلاَّ أربعةً عبدٌ مملوكٌ أوِ امرأةٌ أو صبيٌّ أو مريضٌ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Shalat Jum’at adalah wajib bagi setiap muslim dengan berjama’ah kecuali empat orang, hamba sahaya, wanita, anak kecil, dan orang sakit.” </span><b>(HR. Abu Daud no. 1067, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits-hadits di atas tegas menunjukkan bahwa orang sakit tidak wajib shalat jama’ah di masjid atuapun shalat Jum’at. Al-Mardawi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَيُعْذَرُ في تَرْكِ الْجُمُعَةِ وَالْجَمَاعَةِ الْمَرِيضُ بِلَا نِزَاعٍ وَيُعْذَرُ أَيْضًا في تَرْكِهِمَا لِخَوْفِ حُدُوثِ الْمَرَض</b><b>ِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Orang sakit diberi ‘udzur untuk meninggalkan shalat Jum’at dan shalat jama’ah tanpa ada perselisihan. Dan juga diberi ‘udzur (untuk meninggalkan shalat Jum’at dan shalat jama’ah) karena khawatir terkena penyakit.” </span><b>(</b><b><i>Al-Inshaaf, </i></b><b>2: 300)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnul Mundzir </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>لا أعلم خلافا بين أهل العلم أن للمريض أن يتخلف عن الجماعات من أجل المرض</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Aku tidak mengetahui adanya perselisihan di antara para ulama bahwa orang sakit boleh meninggalkan shalat berjamaah karena penyakitnya.” </span><b>(</b><b><i>Asy-Syarh Al-Kabiir li Ibni Qudamah, </i></b><b>2: 82) </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akan tetapi, boleh jika dia menginginkan untuk tetap shalat berjamaah di masjid selama tidak membahayakan dirinya. Sebagaimana perkataan sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan sesungguhnya ada orang -dari kalangan sahabat di zaman beliau- (yang sakit tidak bisa jalan) dipapah di antara dua orang sampai diberdirikan di dalam shaf.” </span><b>(HR. Muslim no. 654)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akan tetapi, jika penyakitnya tersebut adalah penyakit menular (semisal penyakit Covid-19), maka hukumnya menjadi haram. Hal ini dengan beberapa pertimbangan berikut ini:</span></p>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><b>Pertama, tidak boleh menghadiri shalat jamaah jika kehadirannya menyakiti kaum muslimin. </b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sahabat Jabir </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثُّومَ وَالْكُرَّاثَ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa makan bawang merah, bawang putih, serta bawang bakung, janganlah dia mendekati masjid kami, </span><b>karena malaikat merasa tersakiti dari bau yang juga membuat manusia merasa tersakiti (disebabkan baunya).”</b> <b>(HR. Muslim no. 564)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Juga dari sahabat Jabir </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>مَنْ أَكَلَ ثُومًا أَوْ بَصَلًا، فَلْيَعْتَزِلْنَا أَوْ لِيَعْتَزِلْ مَسْجِدَنَا، وَلْيَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang makan bawang putih atau bawang merah, maka hendaklah dia memisahkan diri dari kami atau memisahkan diri dari masjid kami, dan hendaklah dia duduk di rumahnya.” </span><b>(HR. Muslim no. 564)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits di atas menunjukkan bahwa orang yang makan bawang merah dan bawang putih dilarang mengikuti shalat jama’ah di masjid karena alasan akan mengganggu dan menyakiti kaum muslimin dengan bau tidak sedap yang ditimbulkan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika menyakiti kaum muslimin dengan bau tidak sedap saja menyebabkan seseorang dilarang menghadiri shalat berjamaah di masjid, lalu bagaimana lagi jika dia mengidap penyakit menular berbahaya yang bisa merenggut nyawa? Tentu larangannya akan lebih keras lagi. </span></p>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><b>Kedua, mengingat kaidah </b><b><i>“tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain, baik sengaja atau tidak sengaja”.</i></b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Terdapat kaidah yang sudah dikenal,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>لا ضرر و لا ضرار</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain, baik sengaja ataupun tidak sengaja.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang yang memiliki penyakit menular berbahaya, akan menimbulkan bahaya bagi orang lain jika hadir shalat berjamaah di masjid. Apalagi jika di masjid tersebut terdapat orang-orang berisiko tinggi terinfeksi SARS-CoV-2 dengan komplikasi serius, seperti orang-orang berusia lebih dari 60 tahun. </span></p>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><b>Ketiga, mengingat kaidah </b><b><i>“menolak mudharat lebih didahulukan daripada meraih manfaat”.</i></b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Juga mengingat kaidah </span><i><span style="font-weight: 400;">fiqhiyyah </span></i><span style="font-weight: 400;">lainnya yang sudah dikenal,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>درء المفاسد أولى من جلب المصالح</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Menolak potensi bahaya </span><i><span style="font-weight: 400;">(mudharat)</span></i><span style="font-weight: 400;"> itu lebih didahulukan daripada meraih manfaat.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mendapatkan pahala shalat berjamaah merupakan suatu manfaat besar yang tidak dapat dipungkiri. Akan tetapi, jika hal itu dapat menimbulkan mudharat berupa semakin meluasnya penyakit menular yang mengancam jiwa, maka mudharat tersebut lebih didahulukan. Sehingga tidak boleh bagi orang tersebut menghadiri shalat berjamaah di masjid karena akan menyebabkan mudharat bagi kaum muslimin. </span></p>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><b>Keempat, mengingat hadits Nabi </b><b><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</i></b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">memberikan petunjuk,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>لاَ يُورِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jangan dikumpulkan (unta) yang sakit dengan (unta) yang sehat.” </span><b>(HR. Bukhari no. 5771 dan Muslim no. 2221)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika orang yang positif Covid-19 tetap berkumpul bersama jamaah kaum muslimin, tentu akan bertentangan dengan isi kandungan hadits di atas.</span></p>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><b>Kelima, orang-orang yang positif menderita Covid-19 akan diisolasi oleh petugas kesehatan atas instruksi pemerintah, sehingga wajib taat. </b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam kondisi pandemi, pasien yang terkena wabah perlu diisolasi agar tidak menimbulkan bahaya bagi orang lain. Isolasi tersebut memang akan membuat tidak nyaman bagi si pasien, karena dia tidak bisa beraktivitas secara bebas, termasuk tidak bisa ke masjid. Akan tetapi, itu hanyalah </span><i><span style="font-weight: 400;">mudharat</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang sifatnya terbatas untuk si pasien saja. Sedangkan ancaman </span><i><span style="font-weight: 400;">mudharat</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">(dharar) </span></i><span style="font-weight: 400;">bagi orang banyak harus lebih diutamakan, mengingat kaidah:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>يتحمل الضرر الخاص لدفع ضرر العام</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Membiarkan </span><i><span style="font-weight: 400;">dharar </span></i><span style="font-weight: 400;">yang dampaknya terbatas untuk menghilangkan </span><i><span style="font-weight: 400;">dharar </span></i><span style="font-weight: 400;">yang dampaknya lebih luas.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika diisolasi, pasien tersebut bisa jadi diisolasi di dalam rumah sakit atau diisolasi di dalam rumah masing-masing, sehingga tidak mungkin ke masjid.</span></p>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><b>Keenam, </b><b><i>‘udzur-‘udzur </i></b><b>yang menyebabkan bolehnya tidak shalat berjamaah juga menyebabkan bolehnya tidak shalat Jum’at. </b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam kitab </span><b><i>As-Siraj Al-Wahhaaj Syarh Matni Al-Minhaaj </i></b><b>(1: 84)</b><b><i>,</i></b> <span style="font-weight: 400;">Al-Ghamrawi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَلَا جُمُعَةَ عَلَى مَعْذُورٍ بِمُرَخِّصٍ فِي تَرْكِ الْجَمَاعَةِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidak ada (kewajiban) shalat Jum’at bagi orang yang mendapatkan ‘udzur dengan keringanan sebagaimana yang bisa (membolehkan meninggalkan) shalat berjamaah.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">An-Nawawi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>كل ما أمكن تصوره في الجمعة من الاعذار المرخصة في ترك الجماعة، يرخص في ترك الجمعة.</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Semua perkara yang bisa digambarkan terjadi di waktu shalat Jum’at berupa ‘udzur-‘udzur yang membolehkan meninggalkan shalat jamaah, maka perkara tersebut bisa membolehkan meninggalkan shalat Jum’at.” </span><b>(</b><b><i>Raudhatuth Thalibiin, </i></b><b>1: 540)</b></p>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><b>Ketujuh, jika selama sehat orang tersebut terbiasa menghadiri shalat berjamaah di masjid, dia akan tetap mendapatkan pahala meskipun dia tidak bisa ke masjid karena terjangkit Covid-19.</b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini berdasarkan sabda Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إِذَا مَرِضَ العَبْدُ، أَوْ سَافَرَ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Apabila seorang hamba sakit atau sedang melakukan safar, Allah akan menuliskan baginya pahala seperti saat ia lakukan ibadah di masa sehat dan bermukim.” </span><b>(HR. Bukhari no. 2996)</b></p>
<p><span style="font-size: 18pt;"><strong>Majelis Ulama Indonesia melalui Fatwa Nomor 14 Tahun 2020 menyatakan,</strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Orang yang telah terpapar virus Corona, wajib menjaga dan mengisolasi diri agar tidak terjadi penularan kepada orang lain. </span><b>Baginya shalat Jumat dapat diganti dengan shalat zuhur, karena shalat Jumat merupakan ibadah wajib yang melibatkan banyak orang sehingga berpeluang terjadinya penularan virus secara massal.</b> <b>Baginya haram melakukan aktifitas ibadah sunnah yang membuka peluang terjadinya penularan, seperti jamaah shalat lima waktu/rawatib,</b><span style="font-weight: 400;"> shalat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan tabligh akbar.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari fatwa di atas bisa kita pahami bahwa tidak hanya yang terbukti positif </span><i><span style="font-weight: 400;">(confirmed case), </span></i><span style="font-weight: 400;">akan tetapi orang-orang dengan status </span><i><span style="font-weight: 400;">suspect </span></i><span style="font-weight: 400;">atau dalam pengawasan, sebaiknya tidak menghadiri shalat jamaah dan shalat Jum’at di masjid.</span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Kondisi kedua, jika orang tersebut belum terbukti positif terinfeksi SARS-CoV-2 (masih sehat).</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana yang telah kami sampaikan sebelumnya, </span><span style="font-weight: 400;">terdapat beberapa kondisi </span><i><span style="font-weight: 400;">(‘udzur syar’i) </span></i><span style="font-weight: 400;">yang menyebabkan kewajiban shalat berjamaah menjadi gugur, di antaranya adalah hujan deras, sakit, angin kencang, dan sebagainya. Adanya wabah, apalagi level pandemi, tentu bisa dianalogikan (diqiyaskan) dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">‘udzur-‘udzur </span></i><span style="font-weight: 400;">tersebut, boleh tidak shalat berjamaah di masjid. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara alasan lain, </span><span style="font-weight: 400;">boleh meninggalkan shalat berjamaah ketika makanan sudah dihidangkan. </span><span style="font-weight: 400;">Dalam kondisi perut sangat lapar (sangat membutuhkan makanan) dan makanan pun sudah terhidang, seseorang diperbolehkan menyantap makanan terlebih dahulu dan meninggalkan shalat jamaah. Namun dengan catatan, tidak dijadikan sebagai kebiasaan </span><b>[3]</b><span style="font-weight: 400;">. Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ وَحَضَرَ العَشَاءُ، فَابْدَءُوا بِالعَشَاءِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika shalat hampir ditegakkan (iqamah sudah dikumandangkan, pen.), sedangkan makan malam telah dihidangkan, </span><b>maka dahulukanlah makan malam</b><span style="font-weight: 400;">.”</span> <b>(HR. Bukhari no. 5465 dan Muslim no. 557)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hikmahnya adalah untuk menghilangkan semua sebab yang dapat mengganggu ke-khusyu’-an shalat kita, di antaranya adalah adanya nafsu dan kebutuhan terhadap makanan dan minuman. Jika demikian, maka ketakutan akan terkena penyakit juga dapat mengganggu ke-khusyu’-an shalat. Lebih-lebih rasa takut tersebut adalah rasa takut yang beralasan karena pandemi Covid-19 ini bisa menyebabkan kematian atau sakit berat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan bolehnya tidak shalat berjamaah di masjid juga sesuai dengan kaidah </span><i><span style="font-weight: 400;">fiqhiyyah </span></i><span style="font-weight: 400;">yang telah kami sebutkan sebelumnya, yaitu:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>درء المفاسد أولى من جلب المصالح</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Menolak potensi bahaya </span><i><span style="font-weight: 400;">(mudharat)</span></i><span style="font-weight: 400;"> itu lebih didahulukan daripada meraih manfaat.” </span></p>
<p><span style="font-size: 18pt;"><strong>Majelis Ulama Indonesia melalui Fatwa Nomor 14 Tahun 2020 merinci dalam dua kondisi wabah di suatu wilayah,</strong></span></p>
<p><b>Pertama</b><span style="font-weight: 400;">, “Dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya tinggi atau sangat tinggi, berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang, maka </span><b>ia boleh meninggalkan shalat Jumat dan menggantikannya dengan shalat zuhur di tempat kediaman, serta meninggalkan jamaah shalat lima waktu/rawatib,</b><span style="font-weight: 400;"> tarawih, dan ied di masjid atau tempat umum lainnya.”</span></p>
<p><b>Kedua</b><span style="font-weight: 400;">: “Dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya rendah berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang, maka ia tetap wajib menjalankan kewajiban ibadah sebagaimana biasa dan wajib menjaga diri agar tidak terpapar COVID-19, seperti tidak kontak fisik langsung (bersalaman, berpelukan, cium tangan), membawa sajadah sendiri, dan sering membasuh tangan dengan sabun.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahkan bisa jadi, kaum muslimin tidak diperbolehkan menyelenggarakan shalat Jum’at dan shalat berjamaah jika kondisi semakin gawat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Majelis Ulama Indonesia melalui Fatwa Nomor 14 Tahun 2020 menyatakan,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dalam kondisi penyebaran COVID-19 tidak terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa, umat Islam tidak boleh menyelenggarakan shalat jumat di kawasan tersebut, sampai keadaan menjadi normal kembali dan wajib menggantikannya dengan shalat zuhur di tempat masing-masing. Demikian juga tidak boleh menyelenggarakan aktifitas ibadah yang melibatkan banyak orang dan diyakini dapat menjadi media penyebaran COVID-19, seperti jamaah shalat lima waktu/rawatib, shalat tarawih, dan ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan majelis taklim.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian pula ulama </span><b><i>Lajnah Daimah</i></b><span style="font-weight: 400;"> telah mengeluarkan fatwa khusus,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وبناء على ما تقدم فإنه يسوغ شرعاً إيقاف صلاة الجمعة والجماعة لجميع الفروض في المساجد والاكتفاء برفع الأذان، ويستثنى من ذلك الحرمان الشريفان، وتكون أبواب المساجد مغلقة مؤقتاً، وعندئذ فإن شعيرة الأذان ترفع في المساجد، ويقال في الأذان: صلوا في بيوتكم؛ لحديث بن عباس أنه قال لمؤذنه ذلك ورفعه إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، والحديث أخرجه البخاري ومسلم. وتصلى الجمعة ظهراً أربع ركعات في البيوت.</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Berdasarkan pertimbangan sebelumnya, maka dibolehkan secara syariat untuk meniadakan shalat Jum’at dan shalat jamaah untuk semua shalat wajib di masjid dan mencukupkan diri dengan mengumandangkan azan. Dikecualikan dari hal ini adalah masjidil haram dan masjid nabawi. Sehingga pintu-pintu masjid ditutup sementara waktu. Dalam masa ini, syariat azan dikumandangkan di masjid. Dan dikatakan ketiak azan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>صلوا في بيوتكم</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Shalatlah di rumah-rumah kalian.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhuma </span></i><span style="font-weight: 400;">bahwa beliau berkata kepada muadzinnya, dan status hadits tersebut tersebut adalah marfu’ (berasal dari Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam). </span></i><span style="font-weight: 400;">Dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim. (Sebagai pengganti shalat jum’at), maka shalat zuhur empat rakaat di rumah masing-masing.” </span><b>[4]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian pembahasan ini, semoga Allah Ta’ala segera mengangkat wabah ini dari kaum muslimin.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Kantor YPIA, 23 Rajab 1441/18 Maret 2020</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel:<span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color=""> Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b> <a href="https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/situation-reports"><span style="font-weight: 400;">https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/situation-reports</span></a></p>
<p><b>[2] </b> <span style="font-weight: 400;">Silakan dibaca kembali tulisan kami sebelumnya:</span></p>
<p><a href="https://muslim.or.id/43229-keutamaan-dan-kewajiban-shalat-berjamaah-bag-4.html"><span style="font-weight: 400;">https://muslim.or.id/43229-keutamaan-dan-kewajiban-shalat-berjamaah-bag-4.html</span></a></p>
<p><b>[3] </b> <span style="font-weight: 400;">Silakan dibaca kembali tulisan kami sebelumnya:</span></p>
<p><a href="https://muslim.or.id/25024-shalat-ketika-makanan-sudah-dihidangkan.html"><span style="font-weight: 400;">https://muslim.or.id/25024-shalat-ketika-makanan-sudah-dihidangkan.html</span></a></p>
<p><b>[4]</b> <a href="https://www.spa.gov.sa/2048662"><span style="font-weight: 400;">https://www.spa.gov.sa/2048662</span></a></p>
 