
<h2>Menghina, mencela, atau mengolok-olok orang lain termasuk dalam dosa besar</h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Menghina, mencela, atau mengolok-olok orang lain termasuk perbuatan yang terlarang. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Hai orang-orang yang beriman, </span><b>janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain</b><span style="font-weight: 400;"> (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri (maksudnya, janganlah kamu mencela orang lain, pen.). Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk). Seburuk-buruk panggilan ialah (penggilan) yang buruk (fasik) sesudah iman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” </span><b>(QS. Al-Hujuraat [49]: 11)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="--darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/47511-menjaga-lisan-di-era-media-sosial.html" target="_blank" rel="noopener" data-darkreader-inline-color="">Menjaga Lisan di Era Media Sosial</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahkan perbuatan tersebut Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">kategorikan dalam dosa besar. Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Mas’ud </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">سِبَابُ المُسْلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Mencela seorang muslim adalah kefasikan (<a href="https://muslim.or.id/40007-kaidah-dosa-besar-dan-dosa-kecil.html" target="_blank" rel="noopener">dosa besar</a>), dan memerangi mereka adalah kekafiran.” </span><b>(HR. Bukhari no. 48 dan Muslim no. 64)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika seseorang mencela sesama muslim dengan panggilan-panggilan, dia berhak mendapatkan hukuman dari penguasa.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan dari sahabat ‘Ali bin Abi Thalib </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">beliau ditanya tentang ucapan seseorang kepada orang lain, “Wahai orang fasiq!”; “Wahai orang jelek!”; maka beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">هن فواحش فيهن تعزير وليس فيهن حد</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Itu perbuatan buruk, terdapat hukuman </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’zir </span></i><b>[1]</b><i><span style="font-weight: 400;">, </span></i><span style="font-weight: 400;">namun tidak ada hukuman </span><i><span style="font-weight: 400;">hadd </span></i><b>[2] </b><span style="font-weight: 400;">untuknya.” </span><b>(Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi 8: 253 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam </b><b><i>Al-Irwa’ </i></b><b>no. 2393)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jangankan mencela sesama muslim, bahkan mencela binatang saja Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">melarangnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan dari sahabat Zaid bin Khalid </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لَا تَسُبُّوا الدِّيكَ فَإِنَّهُ يُوقِظُ لِلصَّلَاةِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Janganlah Engkau mencela ayam jantan, karena sesungguhnya ayam jantan itu yang membangunkan kalian shalat.” </span><b>(HR. Abu Dawud no. 5101, dinilai shahih oleh Al-Albani)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="--darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/43421-hukum-membakar-yang-ada-tulisan-lafadz-allah-dan-al-quran.html" target="_blank" rel="noopener" data-darkreader-inline-color="">Hukum Membakar yang Ada Tulisan Lafadz Allah dan Al-Quran</a></strong></p>
<h2>Dua orang yang saling mencaci, maka dosanya ditanggung pihak yang memulai</h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Cacian itu seringkali disebabkan karena adanya pertengkaran dan perselisihan. Dalam masalah ini, hendaknya kita senantiasa mengingat bahwa saling mencaci yang terjadi di antara dua orang yang sedang berselisih, dosanya akan ditanggung oleh pihak yang memulai.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الْمُسْتَبَّانِ مَا قَالَا فَعَلَى الْبَادِئِ، مَا لَمْ يَعْتَدِ الْمَظْلُومُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Apabila ada dua orang yang saling mencaci-maki, maka cacian yang diucapkan oleh keduanya itu, dosanya akan ditanggung oleh orang yang memulai, selama orang yang dizalimi itu tidak melampaui batas.” </span><b>(HR. Muslim no. 2587 dan Abu Dawud no. 4894)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits di atas, dosa saling mencaci-maki antara dua orang itu akan ditanggung oleh pihak yang memulai. Hal ini dengan syarat bahwa pihak yang dicaci itu tidak melampaui batas, yaitu tidak membalas cacian dengan kuantitas dan kualitas yang lebih jelek.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika dia membalas dengan cacian yang lebih jelek (baik secara kuantitas atau kualitas), maka dosa melampaui batas itu dia tanggung sendiri, sedangkan sisanya ditanggung oleh pihak yang memulai. </span><b>[3]</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="--darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/29950-kebangkrutan-besar-akibat-buruknya-lisan-di-sosial-media.html" target="_blank" rel="noopener" data-darkreader-inline-color="">Kebangkrutan Besar Akibat Buruknya Lisan di Sosial Media</a></strong></p>
<h2>Mencela, menghina, atau memanggil orang lain dengan menyebutkan nama binatang</h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang lebih parah lagi adalah ketika seseorang mencela, menghina, atau memanggil orang lain dengan nama binatang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sangat disayangkan, keburukan ini begitu tersebar pada jaman ini, salah satunya sebagai akibat buruk pesta demokrasi di negeri ini beberapa waktu yang lalu dan mungkin berlanjut sampai hari ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Betapa mudah kita melihat saudara kita memanggil saudaranya yang lain yang berbeda pilihan politiknya dengan sebutan, “Dasar kecebong!”; atau “Dia itu cebong”; atau bahkan julukan semisal (maaf), “Bonglaf” (kecebong salaf, yang dinisbatkan kepada pihak-pihak yang dianggap paham agama, namun menjadi pendukung salah satu pihak). Bahkan, ucapan dan hinaan semacam itu keluar dari pihak-pihak yang secara lahiriyah paham agama dan memiliki semangat tinggi dalam menjalankan agama. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sedangkan di pihak lain, mereka pun tidak mau kalah dengan melontarkan julukan “kampret” (kelelawar) kepada saudaranya yang berbeda pilihan politik. Demikianlah, satu keburukan akan memunculkan keburukan berikutnya, dan demikian seterusnya.</span></p>
<div class="su-note" style="border-color:#c4d4e5;border-radius:3px;-moz-border-radius:3px;-webkit-border-radius:3px;"><div class="su-note-inner su-u-clearfix su-u-trim" style="background-color:#deeeff;border-color:#ffffff;color:#333333;border-radius:3px;-moz-border-radius:3px;-webkit-border-radius:3px;"><strong>Saudaraku, ketahuilah bahwa menghina orang lain dengan menyebutkan nama binatang itu dosanya lebih parah.</strong></div></div>
<p><span style="font-weight: 400;">An-Nawawi Asy-Syafi’i </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">ومن الألفاظ المذمومة المستعملة في العادة قوله لمن يخاصمه، يا حمار ! يا تيس ! يا كلب ! ونحو ذلك؛ فهذا قبيح لوجهين : أحدهما أنه كذب، والآخر أنه إيذاء؛ وهذا بخلاف قوله : يا ظالم ! ونحوه، فإن ذلك يُسامح به لضرورة المخاصمة، مع أنه يصدق غالباً، فقلّ إنسانٌ إلا وهو ظالم لنفسه ولغيرها .</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Termasuk di antara kalimat yang tercela yang umum dipergunakan dalam perkataan seseorang kepada lawannya (adalah ucapan), “Wahai keledai!”; “Wahai kambing hutan!”; “Hai anjing!”; dan ucapan semacam itu. Ucapan semacam ini sangat jelek ditinjau dari dua sisi. Pertama, karena itu ucapan dusta. Ke dua, karena ucapan itu akan menyakiti saudaranya.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="--darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/28219-puasa-yang-sempurna-menghasilkan-hati-dan-lisan-yang-lurus.html" target="_blank" rel="noopener" data-darkreader-inline-color="">Puasa Yang Sempurna Menghasilkan Hati Dan Lisan Yang Lurus</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ucapan ini berbeda dengan perkataan, “Wahai orang dzalim!” dan semacamnya. Ucapan ini dimaafkan karena</span> <span style="font-weight: 400;">adanya kebutuhan darurat disebabkan oleh pertengkaran. Selain itu, pada umumnya ucapan itu adalah ucapan yang benar, karena keadaan mayoritas orang yang zalim terhadap dirinya sendiri atau orang lain.” </span><b>(</b><b><i>Al-Adzkaar, </i></b><b>hal. 314)</b></p>
<span class="su-highlight" style="background:#fff454;color:#000000"> <strong>Memanggil orang lain dengan nama-nama binatang itu disebut ucapan dusta karena orang lain yang dia panggil itu adalah manusia, bukan binatang. Inilah sisi kedustaannya.</strong> </span>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang yang melakukannya pun berhak untuk mendapatkan hukuman dari penguasa kaum muslimin.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan dari sahabat ‘Ali bin Abi Thalib </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">beliau berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إنكم سألتمونى عن الرجل يقول للرجل: يا كافر! يا فاسق! يا حمار! وليس فيه حد , وإنما فيه عقوبة من السلطان , فلا تعودوا فتقولوا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya kalian bertanya kepadaku tentang seseorang yang mengatakan kepada orang lain, “Wahai orang kafir!”, “Wahai orang fasiq!”, atau “Wahai keledai!” Tidak ada hukuman </span><i><span style="font-weight: 400;">hadd</span></i> <span style="font-weight: 400;">dari syari’at (untuk perbuatan itu). Yang ada hanyalah hukuman </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’zir </span></i><span style="font-weight: 400;">dari penguasa. Maka janganlah diulangi mengucapkannya lagi!” </span><b>[4]</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="--darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/11298-tidak-menunaikan-amanat-ilmiah-dalam-tulisan.html" target="_blank" rel="noopener" data-darkreader-inline-color="">Tidak Menunaikan Amanat Ilmiah dalam Tulisan</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sa’id bin Al-Musyyab </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لَا تَقُلْ لِصَاحِبِكَ: يَا حِمَارُ، يَا كَلْبُ، يَا خِنْزِيرُ. فَيَقُولَ لَكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: أَتُرَانِي خُلِقْتُ كَلْبًا أَوْ حِمَارًا أَوْ خِنْزِيرًا؟</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Janganlah Engkau berkata kepada temanmu, </span><i><span style="font-weight: 400;">“Wahai keledai!”, “Wahai anjing!”, atau “Wahai babi!” </span></i><span style="font-weight: 400;">Karena kelak di hari kiamat Engkau akan ditanya, “Apakah Engkau melihat aku diciptakan sebagai anjing, keledai, atau babi?” </span><b>(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam </b><b><i>Al-Mushannaf </i></b><b>5: 282)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Mukhtashar Al-Khalil </span></i><span style="font-weight: 400;">(8: 409) disebutkan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ قَالَ لِرَجُلٍ: يَا ابْنَ الْفَاسِقَةِ أَوْ يَا ابْنَ الْفَاجِرَةِ فَعَلَيْهِ فِي ذَلِكَ النَّكَالُ، وَمَنْ قَالَ لِرَجُلٍ: يَا حِمَارَ أَوْ يَا ابْنَ الْحِمَارِ فَعَلَيْهِ النَّكَالُ، وَمَنْ قَالَ لِرَجُلٍ: يَا سَارِقُ عَلَى وَجْهِ الْمُشَاتَمَةِ نُكِّلَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Siapa saja yang berkata kepada seseorang, “Wahai anak dari wanita fasik!“ atau “Wahai anak dari wanita fajir (pezina)’, maka dia berhak mendapatkan hukuman. Dan siapa saja yang berkata kepada seseorang, “Wahai keledai!” atau “Wahai anak keledai!”, maka dia berhak mendapatkan hukuman.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian dikutip perkataan Ibnu Salmun,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ قَالَ لِآخَرَ: يَا كَلْبُ أَوْ يَا ثَوْرُ فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ الْأَذَى وَعَلَيْهِ الْأَدَبُ، وَكَذَلِكَ إنْ قَالَ لَهُ: يَا خِنْزِيرُ فَعَلَيْهِ الْأَدَبُ عَلَى مَا يَرَاهُ السُّلْطَانُ إلَّا أَنْ يَكُونَ الْقَائِلُ مَا لَا يُعْرَفُ بِالْأَذَى وَإِنَّمَا هِيَ زَلَّةٌ أَوْ فَلْتَةٌ فَلَا بَأْسَ أَنْ يُقَالَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Siapa saja yang berkata kepada orang lain, “Wahai anjing!” atau “Wahai sapi jantan!”, maka ucapan itu menyakiti saudaranya, sehingga berhak dihukum. Demikian pula ucapan, “Wahai babi!”, maka dia berhak mendapatkan hukuman sesuai dengan kebijakan penguasa. Kecuali jika dia tidak tahu kalau ucapan semacam itu menyakitkan, yang hanya muncul karena ketergelinciran atau salah ucap lisan, maka hal itu tidak mengapa (dimaafkan, pen.).” </span><b>(</b><b><i>Mukhtashar Al-Khalil, </i></b><b>8: 409)</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><strong><a href="https://muslim.or.id/534-ringan-di-lisan-berat-di-timbangan.html" target="_blank" rel="noopener" data-darkreader-inline-color="">Ringan di Lisan Berat di Timbangan</a></strong></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a href="https://muslim.or.id/50522-jangan-suka-teriak-teriak.html" target="_blank" rel="noopener" data-darkreader-inline-color="">Jangan Suka Teriak-Teriak!</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 18 Dzulhijjah 1440/19 Agustus 2019</span></p>
<p><strong>Penulis: <span style="--darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="--darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://acadstaff.ugm.ac.id/msaifudinhakim" target="_blank" rel="noopener" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="--darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</span></strong></p>
<p> </p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Hukuman </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’zir </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah hukuman yang kadarnya tidak ditentukan secara baku oleh syari’at, sehingga kembali kepada kebijakan penguasa. </span></p>
<p><b>[2] </b><span style="font-weight: 400;">Hukuman </span><i><span style="font-weight: 400;">hadd </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah hukuman baku yang telah ditentutan kadarnya oleh syari’at.</span></p>
<p><b>[3] </b><span style="font-weight: 400;">Lihat </span><b><i>‘Aunul Ma’buud Syarh Sunan Abu Dawud, </i></b><span style="font-weight: 400;">13: 237.</span></p>
<p><b>[4] </b><span style="font-weight: 400;">Lihat </span><b><i>Irwa’ul Ghalil </i></b><span style="font-weight: 400;">karya Syaikh Al-Albani, 8: 54.</span></p>
 