
<p>Sebagian orang yang tinggi kecintaannya terhadap Al-Qur`an tentu begitu semangat menghafalkannya, hingga Allah pun menganugerahkan kepadanya mampu menghafal sekian banyak ayat-ayat  Al-Qur`an.</p>
<p>Terkadang keinginan baiknya untuk <i>muraja’ah</i> (mengulang) hafalan mendorongnya untuk menirukan bacaan Imam sesudah Al-Fatihah, <i>itung-itung </i>bisa mengingatkan sang Imam ketika lupa. Benarkah sikap ini?</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan namun</b> <b>tidak mendapatkannya!</b></span></h4>
<p>Niat dan keinginan yang baik saja tidaklah cukup, perlu diiringi cara beribadah yang benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </i>Dua hal inilah yang menyebabkan ibadah seorang hamba diterima oleh Allah.</p>
<p>Betapa indahnya perkataan Abdullah bin Mas’ud <i>radhiallahu ‘anhu :</i></p>
<p class="arab" align="center">وكم من مريد للخيرلن يصيبه</p>
<p><i>“</i>Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan namun tidak mendapatkannya<i>” </i>(Diriwayatkan Ad-Darimi dengan sanad hasan).</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Fatwa Syaikh Bin Bazz </b><b><i>rahimahullah</i></b></span></h4>
<p>Para ulama berbeda pendapat tentang hukum makmum membaca surat Al-Fatihah di shalat <i>jahriyyah</i> (imam mengeraskan suara dalam membaca Al-Qur’an).</p>
<p>Bagi ulama yang berpendapat makmum diam, tidak membaca surat  Al-Fatihah jika bacaan imam terdengar (ini pendapat yang terkuat), maka tentu mereka memandang makmum lebih tidak boleh lagi membaca surat lain sesudah Al-Fatihah saat imam mengeraskan bacaannya.</p>
<p>Namun, bagaimanakah pendapat ulama yang mengharuskan makmum membaca Al-Fatihah walaupun imam mengeraskan bacaannya (shalat<i> jahriyyah</i>)? Bagi ulama yang mengharuskan makmum membaca Al-Fatihah pun melarang makmum dari membaca Al-Qur’an sesudah membaca Al-Fatihah. Seperti contohnya adalah Fatwa Syaikh Bin Bazz <i>rahimahullah, </i>beliau berkata,</p>
<p class="arab" align="center">لا يجوز للمأموم في الصلاة الجهرية أن يقرأ زيادة على الفاتحة</p>
<p>“Makmum tidak boleh membaca melebihi dari bacaan  Al-Fatihah di dalam shalat jahriyyah”</p>
<p class="arab" align="center">بل الواجب عليه بعد ذلك الإنصات لقراءة الإمام</p>
<p>“bahkan kewajibannya setelah membaca Al-Fatihah adalah diam untuk mendengarkan bacaan Imam”</p>
<p class="arab" align="center">لقول النبي صلى الله عليه وسلم: ((لعلكم تقرءون خلف إمامكم))؟</p>
<p>Dalilnya adalah sabda Nabi<i>  shalallahu alaihi wa sallam, “Kalian tadi membaca di belakang Imam Kalian?”</i></p>
<p class="arab" align="center">قلنا: نعم، قال: (لا تفعلوا إلا بفاتحة الكتاب فإنه لا صلاة لمن لم يقرأ بها)،</p>
<p>Kami menjawab, ”Ya”, Beliaupun menanggapinya, “Janganlah kalian lakukan hal itu kecuali membaca Al-Fatihah karena sesungguhnya tidak sah shalat seseorang yang tidak membacanya (Al-Fatihah)” (HR. Imam Ahmad<i> ,</i>Syaikh Bin Baz menyatakan bahwa sanadnya shahih- pent).</p>
<p class="arab" align="center">ولقول الله سبحانه: {وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ}</p>
<p><i>“Dan apabila dibacakan Al-Qur`an, maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kalian mendapat rahmat” ( Al-A’raaf : 204).</i></p>
<p class="arab" align="center">، وقوله صلى الله عليه وسلم:(إذا قرأ الإمام فأنصتوا)</p>
<p>Dan berdasarkan sabda  Nabi<i>  shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika Imam membaca (dengan keras-pent) maka diamlah Kalian” </i>(HR. Ibnu Majah dalam kitab <i>Iqomatush Shalah was Sunnah fiiha</i> ,no. 838).</p>
<p>(Fatwa Syaikh Bin Baz:  <a href="http://www.binbaz.org.sa/mat/965">http://www.binbaz.org.sa/mat/965</a>)</p>
<p>Dan barangsiapa yang <i>nekad </i>melakukannya (mengulang hafalan surat selain Al-Fatihah), maka telah terjatuh dalam dosa karena telah membaca melebihi Al-Fatihah dalam shalat <i>jahriyyah </i> (imam mengeraskan suara dalam membaca Al-Qur’an) sebagaimana yang dapat disimpulkan dari fatwa Syaikh Bin Baz di atas dan fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid di <a href="http://islamqa.info/ar/66742">http://Islamqa.info/ar/66742</a>.</p>
<p><i>Wallahu a’lam bish-shawab.</i></p>
<p>—</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu ‘Ukkasyah</p>
<p>Artikel Muslim.Or.Id</p>
 