
<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 23pt;">Fatwa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz <em>rahimahullahu Ta’ala</em></span></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br>
Apakah hukum merayakan maulid nabi?</p>
<p><strong>Jawaban:</strong><br>
Merayakan hari ulang tahun tidak memiliki dasar (landasan) dalam syariat. Bahkan hal itu termasuk bid’ah berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد</span></p>
<p>“<em>Barangsiapa yang membuat perkara baru dalam urusanku ini (agama) yang tidak ada dasarnya, maka hal itu tertolak.</em>” Hadits ini disepakati keshahihannya.</p>
<p>Dalam lafadz Muslim dan Bukhari meriwayatkan secara <em>mu’allaq</em> dalam kitab <em>Shahih</em>-nya dengan <em>shighah jazm</em> (tegas),</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد</span></p>
<p>“<em>Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak ada dasarnya dari kami, maka amal tersebut tertolak.</em>”</p>
<p>Telah diketahui bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak merayakan hari lahirnya sepanjang hidup beliau dan beliau tidak pula memerintahkan hal itu. Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak pula mengajarkan kepada para sahabat dan juga khulafaur rasyidin (tidak mengajarkan atau mencontohkannya). Seluruh sahabat tidak merayakan maulid nabi. Padahal mereka adalah orang yang paling mengetahui sunnah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, paling mencintai Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, dan orang yang paling bersemangat dalam mengikuti ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Jika merayakan maulid Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> itu disyariatkan, tentu mereka akan bersegara melaksanakannya. Demikian pula tidak ada satu pun sahabat di masa kejayaan (Islam) yang mengerjakannya dan tidak pula memerintahkannya.</p>
<p>Sehingga bisa diketahui bahwa hal itu bukanlah termasuk bagian dari syariat yang dibawa oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Kami bersaksi kepada Allah <em>Ta’ala</em> dan seluruh kaum muslim, seandainya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengerjakan atau memerintahkannya, atau para sahabat r<em>adhiyallahu ‘anhum</em> memerintahkan hal itu, kami akan bersegera melaksanakannya dan mendakwahkannya. Karena kami, alhamdulillah, bersemangat untuk mengikuti sunnah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan mengagungkan perintah dan larangan nabinya.</p>
<p>Kami memohon kepada Allah <em>Ta’ala</em> untuk diri-diri kami dan juga seluruh saudara kami kaum muslimin, agar diberikan keteguhan di atas kebenaran, dan diselamatkan dari berbagai hal yang menyelisihi syariat Allah <em>Ta’ala</em>. Sesungguhnya Allah <em>Ta’ala</em> adalah Dzat Yang maha mulia.<br>
***</p>
<p>Selesai diterjemahkan di pagi hari, Rotterdam NL 24 Dzulqa’dah 1438/17 Agustus 2017<br>
Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,</p>
<p>Penerjemah: M. Saifudin Hakim</p>
<p>Referensi:<br>
Diterjemahkan dari: https://binbaz.org.sa/fatawa/82</p>
<p style="background: #F2F2F2; padding: 15px; margin: 0; text-align: justify; line-height: 23px; color: white; font-size: 19px;"><span style="font-size: 12pt;"><span style="color: #333333;"><strong>Baca juga:</strong></span> </span><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/5584-kumpulan-penjelasan-mengenai-perayaan-maulid-nabi.html"><span style="font-size: 12pt;">Kumpulan Penjelasan Mengenai Perayaan Maulid Nabi</span></a></span></p>
 