
<h1><b>Hukum Permainan Capit Boneka</b></h1>
<p><em><b>Pertanyaan:</b></em></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">Bagaimana hukum permainan capit boneka yang biasanya ada di pusat perbelanjaan. Biasanya berupa suatu mesin yang di dalamnya terdapat boneka-boneka dan pemain memasukkan uang agar bisa memainkan permainan ini. Jika pemain berhasil menggerakkan capit untuk mengambil dan mengeluarkan boneka, maka boneka tersebut menjadi miliknya. Namun jika ia tidak berhasil, maka ia tidak mendapatkan apa-apa. Bagaimana hukum permainan ini? Jazakumullah khairan.</span></em></p>
<p><b>Jawaban:</b></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Alhamdulillah, ash-shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Permainan capit boneka dan yang semisalnya, baik jika dimainkan menggunakan uang ataupun tanpa uang, hukumnya tidak diperbolehkan karena termasuk </span><i><span style="font-weight: 400;">gharar </span></i><span style="font-weight: 400;">(ketidakjelasan)</span> <span style="font-weight: 400;">dan </span><i><span style="font-weight: 400;">maisir </span></i><span style="font-weight: 400;">(judi).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Definisi </span><i><span style="font-weight: 400;">maisir</span></i><span style="font-weight: 400;">, dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">الميسر كل عقد يكون فيه العاقد إما غانما وإما غارما</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">al-maisir </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah semua akad yang pelaku akadnya bisa jadi untung atau bisa jadi buntung (rugi)” (</span><i><span style="font-weight: 400;">At Ta’liq ‘alal Qawa’id wal Ushul Al Jami’ah</span></i><span style="font-weight: 400;">, 117).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berbeda dengan jual beli yang sah, ketika akad terjadi, pembeli tahu akan dapat barang atau jasa apa dan penjual tahu akan dibayar berapa. Adapun dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">maisir</span></i><span style="font-weight: 400;">, ketika akad, pihak-pihaknya tidak tahu akan dapat apa nantinya? Akan mendapat berapa? Apakah akan untung ataukah akan buntung.  Dan unsur </span><i><span style="font-weight: 400;">maisir</span></i><span style="font-weight: 400;"> ini terdapat dalam permainan capit boneka. Jika pemain mendapat boneka yang harganya melebihi uang taruhan, ia untung dan pemilik mesin rugi. Jika pemain tidak mendapatkan boneka tersebut, maka pemain rugi dan pemilik mesin untung. Sangat jelas unsur </span><i><span style="font-weight: 400;">maisir </span></i><span style="font-weight: 400;">di sini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sedangkan </span><i><span style="font-weight: 400;">maisir</span></i><span style="font-weight: 400;"> sudah jelas larangannya dalam Al-Qur’an. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, judi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al-Maidah: 90).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> juga berfirman:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا </span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar (minuman keras) dan judi. Katakanlah, pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al-Baqarah: 219).</span></p>
<h3><b>Jika tanpa taruhan</b></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu bagaimana jika permainan ini tidak menggunakan uang taruhan? Jawabannya, andaikan permainan ini tidak menggunakan taruhan maka ini termasuk </span><i><span style="font-weight: 400;">as-sabq</span></i><span style="font-weight: 400;"> (perlombaan) yang menjanjikan </span><i><span style="font-weight: 400;">al-‘iwadh</span></i><span style="font-weight: 400;"> (hadiah) bagi pemenang. Menurut jumhur ulama, perlombaan yang berhadiah hukumnya haram dan termasuk </span><i><span style="font-weight: 400;">qimar</span></i><span style="font-weight: 400;"> (judi) kecuali pada perlombaan yang bisa bermanfaat untuk </span><i><span style="font-weight: 400;">jihad fi sabilillah</span></i><span style="font-weight: 400;">. Dari Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu’alaihi wasallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">لا سبَقَ إلا في نَصلٍ أو خفٍّ أو حافرٍ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Tidak boleh ada perlombaan berhadiah, kecuali lomba memanah, berkuda, atau menunggang unta”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Tirmidzi no. 1700, Abu Daud no. 2574, Ibnu Hibban no. 4690, dishahihkan Al-Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahih At-Tirmidzi</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu ‘Abidin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">لَا تَجُوزُ الْمُسَابَقَةُ بِعِوَضٍ إلَّا فِي هَذِهِ الْأَجْنَاسِ الثَّلَاثَةِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Maksudnya, tidak diperbolehkan lomba dengan hadiah kecuali dalam tiga jenis lomba yang disebutkan” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Ad Durr Al Mukhtar</span></i><span style="font-weight: 400;">, 6/402).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Disebutkan dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah</span></i><span style="font-weight: 400;">:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">فَذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ إِلَى أَنَّهُ لاَ يَجُوزُ السِّبَاقُ بِعِوَضٍ إِلاَّ فِي النَّصْل وَالْخُفِّ وَالْحَافِرِ، وَبِهَذَا قَال الزُّهْرِيُّ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Jumhur fuqaha</span></i><span style="font-weight: 400;"> berpendapat bahwa tidak diperbolehkan perlombaan dengan hadiah kecuali lomba memanah, berkuda, dan balap unta. Ini juga pendapat dari Az-Zuhri.” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah</span></i><span style="font-weight: 400;">, 24/126).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin mengatakan: “Lomba yang berhadiah hukumnya haram kecuali yang diizinkan oleh syariat. Yaitu yang dijelaskan oleh sabda Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu’alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">: </span><i><span style="font-weight: 400;">“Tidak boleh ada lomba (berhadiah), kecuali lomba memanah, berkuda, atau menunggang unta”. </span></i><span style="font-weight: 400;">Maksudnya, tidak boleh ada </span><i><span style="font-weight: 400;">iwadh</span></i><span style="font-weight: 400;"> (hadiah) pada lomba kecuali pada tiga hal ini. Adapun </span><i><span style="font-weight: 400;">nashl</span></i><span style="font-weight: 400;">, maksudnya adalah memanah. Dan </span><i><span style="font-weight: 400;">khiff</span></i><span style="font-weight: 400;"> maksudnya adalah balap unta. Dan </span><i><span style="font-weight: 400;">hafir </span></i><span style="font-weight: 400;">artinya balap kuda. Dibolehkannya hadiah pada tiga lomba tersebut karena mereka merupakan hal yang membantu untuk berjihad </span><i><span style="font-weight: 400;">fi sabilillah</span></i><span style="font-weight: 400;">. Oleh karena itu kami katakan, semua perlombaan yang membantu untuk berjihad, baik berupa lomba menunggang hewan atau semisalnya, hukumnya boleh. Qiyas kepada unta, kuda, dan memanah. Dan sebagian ulama juga memasukkan dalam hal ini perlombaan dalam ilmu syar’i, karena menuntut ilmu syar’i juga merupakan </span><i><span style="font-weight: 400;">jihad fii sabilillah</span></i><span style="font-weight: 400;">. Oleh karena itu perlombaan ilmu-ilmu syar’i dibolehkan dengan hadiah. Di antara yang memilih pendapat ini adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;">” (</span><a href="https://www.youtube.com/watch?v=7xWSOcOWkXw"><span style="font-weight: 400;">https://www.youtube.com/watch?v=7xWSOcOWkXw</span></a><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan demikian, karena perlombaan capit boneka tidak termasuk yang dapat membantu </span><i><span style="font-weight: 400;">jihad fi sabilillah</span></i><span style="font-weight: 400;">, maka hukumnya juga terlarang. </span></p>
<h3><b>Hukum memiliki dan memainkan boneka</b></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Mengenai boneka yang ada dalam permainan capit boneka, ini pun ada pembahasan tersendiri. Pada asalnya terlarang memanfaatkan boneka yang berupa makhluk bernyawa, seperti boneka manusia atau binatang. Dari Abu Thalhah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, bahwa Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu’alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا صُورَةٌ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Malaikat tidak masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar makhluk bernyawa”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Bukhari no.3225, Muslim no.2106).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kecuali jika boneka tersebut untuk dimainkan oleh anak-anak.</span><i><span style="font-weight: 400;"> Jumhur ulama</span></i><span style="font-weight: 400;"> membolehkan anak-anak memainkan mainan berupa patung atau boneka makhluk bernyawa. Sebagaimana dalam hadis dari Aisyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anha</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang beliau memainkan boneka anak perempuan dan boneka kuda, dan Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu’alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> tidak mengingkarinya. (HR. Abu Daud no.4932, dishahihkan Al-Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahih Abu Daud</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, disebutkan dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Fathul Baari</span></i><span style="font-weight: 400;"> (10/388) bahwa Ibnul Arabi mengatakan:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">وهذا الإجماع محله في غير لعب البنات كما سأذكره في باب من صور صورة</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ini (haramnya memanfaatkan gambar makhluk bernyawa yang lengkap anggota badannya) adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">ijma’ ulama</span></i><span style="font-weight: 400;">, kecuali mainan anak perempuan sebagaimana yang akan saya sebutkan pada bab bentuk-bentuk gambar”.</span></p>
<h3><b>Jika untuk sekedar permainan semata</b></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun jika seseorang memiliki mesin capit boneka sendiri, dan boneka di dalamnya juga milik sendiri, dan ia gunakan sekedar untuk permainan semata, dan yang memainkan adalah anak-anak, maka hukum asalnya boleh. Karena disini tidak ada unsur judi serta yang memainkan adalah anak-anak, bukan orang dewasa. Sehingga tidak terdapat </span><i><span style="font-weight: 400;">illah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (sebab) larangannya. Kaidah mengatakan:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">الحكم يدور مع العلة وجودا وعدما</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Hukum itu tergantung ada tidaknya </span><i><span style="font-weight: 400;">illah</span></i><span style="font-weight: 400;">”.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam</span></i><span style="font-weight: 400;">. Semoga Allah ta’ala memberi taufik.</span></p>
<p>***</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dijawab oleh Ustadz </span><span style="font-weight: 400;">Yulian Purnama, S.Kom.</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><strong>Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Tanya Ustadz untuk Android</a>. <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Download Sekarang !!</a></strong></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>REKENING DONASI </strong>:</li>
</ul>
<p>BANK SYARIAH INDONESIA<br>
7086882242<br>
a.n. YAYASAN YUFID NETWORK<br>
Kode BSI: 451</p>
 