
<p><span style="font-weight: 400;">Seseorang yang mendirikan shalat, hendaknya dia memperhatikan untuk shalat di dekat sutrah. </span></p>

<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Pengertian Sutrah</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Sutrah adalah semacam pembatas yang diletakkan di depan orang yang shalat. Menjadikan sutrah itu disyariatkan untuk imam dan orang yang shalat sendirian. Demikian juga disyariatkan untuk makmum masbuq ketika dia menyempurnakan shalat yang tertinggal. Sampai-sampai, sutrah disyariatkan pula untuk orang yang shalat di tempat yang sepi, yang kecil kemungkinan ada orang lewat. Hal ini karena adanya dalil-dalil umum yang berkaitan dengan masalah ini. Adapun ketika shalat berjamaah, maka sutrah makmum itu mengikuti sutrah imam. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sutrah ini juga berlaku baik untuk kaum laki-laki dan perempuan, shalat wajib maupun shalat sunnah. Namun, kita jumpai sebagian orang yang meremehkan masalah ini. Ketika shalat sunnah rawatib, sebagian orang shalat di tengah-tengah masjid atau di bagian belakang masjid tanpa sutrah. Hal ini tidak lain karena ketidaktahuan kaum muslimin secara umum berkaitan dengan hukum masalah ini. Demikian pula kita dapati para wanita yang shalat tanpa sutrah di rumahnya, kecuali sedikit saja yang menjadikan sutrah ketika shalat. </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/18356-sutrah-shalat-4-hukum-lewat-di-depan-orang-yang-sedang-shalat.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Lewat Di Depan Orang Yang Sedang Shalat</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Dalil Disyariatkannya Sutrah dalam Shalat</span></strong></h2>
<p>Berikut dalil-dalil dari hadits Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>yang menunjukkan disyariatkannya membuat sutrah ketika shalat</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terdapat dalil-dalil baik dari perkataan maupun perbuatan Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">berkaitan dengan masalah sutrah. Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">merutinkan dan membiasakannya, baik dalam kondisi safar ataupun tidak. Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">juga memerintahkannya dalam banyak hadits. Oleh karena itu, sebagian ulama menilai bahwa hukum membuat sutrah ketika shalat adalah wajib. Pendapat ini diriwayatkan dari Imam Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Al-‘Aini, Asy-Syaukani, dan selainnya. Dan pendapat ini adalah pendapat yang kuat. Meskipun jumhur (mayoritas) ulama mengatakan bahwa hukumnya sunnah. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudhri </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ، فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ، وَلْيَدْنُ مِنْهَا، وَلَا يَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَإِنْ جَاءَ أَحَدٌ يَمُرُّ فَلْيُقَاتِلْهُ، فَإِنَّهُ شَيْطَانٌ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika salah seorang di antara kalian shalat, shalatlah dengan menghadap sutrah dan mendekatlah ke arah sutrah. Dan jangan biarkan ada seorang pun yang lewat di depannya. Jika ada yang lewat, maka cegahlah dengan kuat, karena sesungguhnya dia itu setan.” </span><b>(HR. Abu Dawud no. 698, Ibnu Majah no. 954, dinilai shahih oleh Al-Albani)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Asy-Syaukani </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Di dalam hadits ini terkandung faidah bahwa menjadikan sutrah itu hukumnya wajib.” </span><b>(</b><b><i>Nailul Authar, </i></b><b>2: 3)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan dari sahabat Sahl bin Abu Khatsmah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى سُتْرَةٍ فَلْيَدْنُ مِنْهَا لَا يَقْطَعِ الشَّيْطَانُ عَلَيْهِ صَلَاتَهُ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika salang seorang di antara kalian shalat, shalatlah menghadap sutrah, dan mendekatlah ke sutrah. Setan tidak akan bisa memutus shalatnya.” </span><b>(HR. Abu Dawud no. 695, dinilai shahih oleh Al-Albani)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Sabrah bin Ma’bad Al-Juhani </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ، فَلْيَسْتَتِرْ لِصَلَاتِهِ، وَلَوْ بِسَهْمٍ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika salah seorang di antara kalian shalat, pasanglah sutrah, meskipun dengan ujung (pangkal) anak panah.” </span><b>(HR. Ahmad 24: 57, dengan sanad yang hasan)</b></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“As-sahmu” </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah ujung anak panah yang dibuat sama persis satu sama lain. Bagian inilah yang melekat ke busur panah sebelum dilepaskan. Tingginya kurang lebih jarak antara ujung jari telunjuk dengan jempol, atau kurang lebih enam belas sentimeter. </span><b>[1]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sahabat Ibnu ‘Umar </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhuma, </span></i><span style="font-weight: 400;">beliau menceritakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَرَجَ يَوْمَ العِيدِ أَمَرَ بِالحَرْبَةِ، فَتُوضَعُ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَيُصَلِّي إِلَيْهَا وَالنَّاسُ وَرَاءَهُ، وَكَانَ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السَّفَرِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> jika keluar untuk shalat ‘ied, beliau meminta sebuah tombak lalu ditancapkan di hadapannya. Kemudian beliau shalat dengan menghadap ke arahnya, sedangkan orang-orang shalat di belakangnya. Beliau juga berbuat seperti itu ketika dalam bepergian, yang kemudian diteruskan oleh para pemimpin (Khulafa’ Rasyidun).” </span><b>(HR. Bukhari no. 494 dan Muslim no. 501)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari ‘Aun bin Abu Juhaifah, beliau berkata, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>سَمِعْتُ أَبِي: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِهِمْ بِالْبَطْحَاءِ وَبَيْنَ يَدَيْهِ عَنَزَةٌ، الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ، وَالعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ، تَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْهِ المَرْأَةُ وَالحِمَارُ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Aku mendengar dari bapakku, bahwa Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> pernah melaksanakan shalat bersama para sahabat di daerah Bathha’, dan di hadapan beliau ditancapkan sebuah tombak kecil. Beliau mengerjakan shalat zhuhur dua rakaat dan shalat ashar dua rakaat, sementara wanita dan keledai berlalu lalang di hadapannya.” </span><b>(HR. Bukhari no. 495 dan Muslim no. 503)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan dari sahabat Abu Dzarr </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">beliau berkata, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu’alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّي، فَإِنَّهُ يَسْتُرُهُ إِذَا كَانَ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلُ آخِرَةِ الرَّحْلِ، فَإِذَا لَمْ يَكُنْ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلُ آخِرَةِ الرَّحْلِ، فَإِنَّهُ يَقْطَعُ صَلَاتَهُ الْحِمَارُ، وَالْمَرْأَةُ، وَالْكَلْبُ الْأَسْوَدُ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Apabila salah seorang dari kalian hendak shalat, sebaiknya kamu membuat sutrah (penghalang) di hadapannya semisal pelana unta. Apabila di hadapannya tidak ada sutrah semisal pelana unta, maka shalatnya akan terputus oleh keledai, wanita, dan anjing hitam (pelana).” </span><b>(HR. Muslim no. 510)</b></p>
<p>Dalil-dalil di atas menunjukkan disyariatkannya membuat sutrah ketika shalat, baik shalat di masjid, di rumah, atau di tanah lapang.</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagian ulama mengatakan bahwa tidak disyariatkan membuat sutrah kalau diketahui tidak akan ada orang yang lewat (di tempat sepi). Akan tetapi, pendapat ini tidak tepat. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وقال بعض أهل العلم: إنه إذا لم يخشَ مارًّا فلا تُسَنُّ السُّتْرة. ولكن الصحيح أن سُنيَّتها عامة، سواء خشي المارَّ أم لا.</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sebagian ulama mengatakan bahwa jika tidak dikhawatirkan akan ada orang yang lewat, maka tidak dianjurkan memasang sutrah. Akan tetapi, pendapat yang benar bahwa dianjurkannya memasang sutrah ini bersifat umum, baik ada kekhawatiran akan ada orang yang lewat ataukah tidak.” </span><b>(</b><b><i>Asy-Syarhul Mumti’, </i></b><b>3: 275-276)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/18221-sutrah-shalat-2-apa-saja-yang-bisa-menjadi-sutrah.html" data-darkreader-inline-color="">Apa Saja Yang Bisa Menjadi Sutrah?</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Teladan<em> Salafus Shalih</em>  dalam Menjalankan Syariat Membuat Sutrah Ketika Shalat</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita juga dapati bagaimanakah teladan dari para ulama salaf dari kalangan sahabat dan generasi terbaik setelahnya yang membuat sutrah ketika shalat. Hal ini sebagai realisasi dari melaksanakan petunjuk yang disampaikan oleh Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sahabat Anas bin Malik </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">beliau berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>كَانَ المُؤَذِّنُ إِذَا أَذَّنَ قَامَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبْتَدِرُونَ السَّوَارِيَ، حَتَّى يَخْرُجَ النَّبِيُّ صلّى الله عليه وسلم وَهُمْ كَذَلِكَ، يُصَلُّونَ الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ المَغْرِبِ، وَلَمْ يَكُنْ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ شَيْءٌ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika seorang mu’adzin sudah mengumandangkan adzan (maghrib), maka para sahabat Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">berebut mendekati tiang-tiang (untuk shalat sunnah) sampai Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> keluar, sementara mereka tetap dalam keadaan menunaikan shalat sunnah dua rakaat sebelum maghrib. Dan di antara adzan dan iqamat maghrib sangatlah pendek (waktunya).” </span><b>(HR. Bukhari no. 625)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sahabat ‘Umar bin Khaththab </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">melihat seseorang yang shalat di antara dua tiang. Kemudian beliau mendekatkan ke arah tiang dan mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>صَلِّ إِلَيْهَا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Shalatlah menghadapnya.” </span><b>(HR. Bukhari 1: 106 secara </b><b><i>mu’allaq</i></b><b>)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Hajar </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“’Umar bermaksud dengan tindakannya itu agar shalat orang tersebut menghadap sutrah.” </span><b>(</b><b><i>Fathul Baari, </i></b><b>1: 577)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">‘Abdullah bin Mas’ud </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>أَرْبَعٌ مِنَ الْجَفَاءِ: أَنْ يُصَلِّيَ الرَّجُلُ إِلَى غَيْرِ سُتْرَةٍ وَأَنْ يَمْسَحَ جَبْهَتَهُ قَبْلَ أَنْ يَنْصَرِفَ أَوْ يَبُولَ قَائِمًا أَوْ يَسْمَعَ الْمُنَادِيَ ثُمَّ لَا يُجِيبَهُ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Terdapat empat perbuatan yang jelek, yaitu (1) seseorang shalat tanpa menghadap sutrah; (2) seseorang mengusap dahi sebelum pergi; (3) kencing sambil berdiri; dan (4) seseorang mendengar adzan, namun tidak mendatanginya.” </span><b>(HR. Ibnu Abi Syaibah 2: 61 dengan sanad yang hasan)</b><b><i> </i></b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/6229-soal-194-hukum-shalat-tanpa-sutrah.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Shalat Tanpa Sutrah</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/46300-mengganggu-shalat-adalah-perbuatan-setan.html" data-darkreader-inline-color="">Mengganggu Shalat Adalah Perbuatan Setan</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 14 Shafar 1441/13 Oktober 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><b>Catatan Kaki:</b></span></p>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Lihat </span><b><i>Ahkaam Khudhuril Masaajid, </i></b><span style="font-weight: 400;">hal. 118.</span></p>
 