
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/53211-hukum-shalat-dengan-menghadap-sutrah-bag-3.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Shalat dengan Menghadap Sutrah (Bag. 3)</a></span></strong></p>

<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Adakah Ketentuan Tinggi dan Lebar Sutrah?</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Sutrah itu bisa berupa tiang; tembok -meskipun pendek (pembatas)-; pelana; kendaraan; pohon; dipan tempat tidur; tongkat; batu dan sebagainya. </span><b>[1]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagian ulama membolehkan menjadikan sajadah sebagai sutrah dan menganggap ujung sajadah sebagai batas sutrah. Ash-Shan’ani </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وقاس الشافعية على ذلك بسط المصلي لنحو سجادة بجامع إشعار المار أنه في الصلاة، وهو صحيح.</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ulama Syafi’iyyah meng-qiyas-kan hamparan sajadah orang shalat dengan hal itu –yaitu membuat garis sebagai sutrah-. Hal ini karena ada kesamaan dalam hal sebagai isyarat bagi orang-orang yang lewat bahwa dia sedang shalat. Qiyas ini shahih.” </span><b>(</b><b><i>Subulus Salaam, </i></b><b>1: 284)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/45578-pelajari-tata-cara-shalat-dengan-benar.html" data-darkreader-inline-color="">Pelajari Tata Cara Shalat Dengan Benar</a></strong></p>
<h3><strong><span style="font-size: 18pt;">Ketentuan Lebar Sutrah</span></strong></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Tidak ada batasan atau ketentuan untuk lebar sutrah, karena Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">shalat menghadap </span><b><i>al-‘anazah</i></b><span style="font-weight: 400;">, yaitu semacam tongkat yang ujung bawahnya lancip. Beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">juga shalat dengan menghadap tombak. Dalam hadits dari Sabrah yang telah kami sebutkan di seri sebelumnya, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ، فَلْيَسْتَتِرْ لِصَلَاتِهِ، وَلَوْ بِسَهْمٍ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika salah seorang di antara kalian shalat, pasanglah sutrah, meskipun dengan ujung (pangkal) anak panah.” </span><b>(HR. Ahmad 24: 57, dengan sanad yang hasan)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/45151-kiat-kiat-meraih-shalat-khusyuk-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Kiat-Kiat Meraih Shalat Khusyuk (Bag. 1)</a></strong></p>
<h3><strong><span style="font-size: 18pt;">Ketentuan Tinggi Sutrah</span></strong></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun tinggi sutrah, maka telah kami sebutkan hadits Abu Dzarr </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">yang menunjukkan bawa tingginya itu semisal dengan pelana. Pelana adalah semacam kayu yang digunakan sebagai tempat bersandar orang yang naik hewan tunggangan, misalnya unta. Tingginya sekitar satu hasta, sebagaimana yang ditegaskan oleh ulama tabi’in, yaitu Atha’. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Juraij menceritakan, ‘Atha’ berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>كَانَ مَنْ مَضَى يَجْعَلُونَ مُؤَخِّرَةَ الرَّحْلِ إِذَا صَلُّوا ، قُلْتُ: وَكَمْ بَلَغَكَ؟ قَالَ: قَدْرُ مُؤَخِّرَةِ الرَّحْلِ قَالَ: ذِرَاعٌ قَالَ: وَسَمِعْتُ الثَّوْرِيَّ يُفْتِي بَقَوْلِ عَطَاءٍ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Orang-orang terdahulu menjadikan pelana (sebagai sutrah) ketika mereka shalat. Aku (Ibnu Juraij) berkata, “Berapa tingginya?” ‘Atha’ berkata, “Setinggi pelana unta.” ‘Atha’ berkata (lagi), “(Setinggi) satu hasta.” Ibnu Juraij berkata, “Dan aku mendengar Ats-Tsauri berfatwa sebagaimana perkataan ‘Atha’.” </span><b>(Riwayat ‘Abdur Razaq no. 2272 dan atsar ini shahih)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun An-Nawawi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menyebutkan bahwa tingginya sekitar dua pertiga hasta. </span><b>(</b><b><i>Syarh Shahih Muslim, </i></b><b>4: 463)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sehingga dzahirnya, ketinggiannya bervariasi. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu Ta’ala a’lam. </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perlu diketahui bahwa dzahir dari dalil-dalil yang ada menunjukkan bahwa orang yang shalat itu menjadikan sutrah tepat di hadapannya, tidak menyimpang darinya. </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/44643-jangan-sembarang-maju-menjadi-imam-shalat.html" data-darkreader-inline-color="">Jangan Sembarang Maju Menjadi Imam Shalat</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Bolehkah Membuat Garis Sebagai Sutrah?</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ، فَلْيَجْعَلْ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ شَيْئًا، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ، فَلْيَنْصِبْ عَصًا، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ، فَلْيَخُطَّ خَطًّا، ثُمَّ لَا يَضُرُّهُ مَا مَرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika salah seorang dari kalian shalat, hendaklah meletakkan sesuatu di depannya. Jika tidak mendapatkan sesuatu, hendaklah menancapkan tongkat. </span><b>Dan jika tidak mendapatkan, hendaklah membuat garis.</b><span style="font-weight: 400;"> Setelah itu, tidak akan membahayakannya apa-apa yang melintas di depannya.” </span><b>(HR. Ibnu Majah no. 943 dan Ahmad 12: 355)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Status hadits di atas diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian ulama menilai hadits di atas lemah (dha’if). Di antara yang menilai dha’if adalah Ibnu Shalah, Syaikh Al-Albani dan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth. Sebagian yang lain menilai bahwa hadits ini derajatnya hasan. Ibnu Hajar </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Bulughul Maraam</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>ولم يصب من زعم أنه مضطرب بل هو حسن</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidaklah tepat orang yang menganggap bahwa hadits ini </span><i><span style="font-weight: 400;">mudhtharib </span></i><span style="font-weight: 400;">(salah satu jenis hadits dha’if, pent.)</span><i><span style="font-weight: 400;">, </span></i><span style="font-weight: 400;">bahkan hadits ini statusnya </span><i><span style="font-weight: 400;">hasan.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berdasarakan hal ini, boleh menjadikan garis sebagai sutrah. Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa lantai rumah atau masjid pada jaman dahulu terbuat dari pasir dan kerikil. Sehingga ketika dibuat garis, akan muncul bekas yang nyata terlihat. Adapun lantai masjid hari ini dilapisi dengan tikar atau karpet. Garisnya hanyalah berupa warna saja, tidak ada bekas garis nyata yang terlihat sebagaimana membuat garis di lantai pasir.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagian ulama menilai bahwa semua yang diyakini sebagai sutrah, maka mencukupi. Sisi pendalilannya adalah Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan, </span><i><span style="font-weight: 400;">“Dan jika tidak mendapatkan, hendaklah membuat garis.” </span></i><span style="font-weight: 400;">“Garis” yang Nabi sebutkan bersifat mutlak, atau tidak ada tambahan keterangan atau syarat apa pun, sehingga bersifat umum. Artinya, mencakup garis yang memang nyata terlihat bekas garis dan tidak terlihat nyata karena hanya berupa warna yang terlihat di karpet. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>فالظاهر: أن هذه الخطوط الملونة لا تكفي، لكن لو فُرض أن فيه خيطاً بارزاً في طرف الحصير، أو في طرف الفراش لصحَّ أن يكون سُتْرة، لأنه بارز.</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Yang lebih mendekati, garis berupa warna tertentu (di karpet atau di lantai) ini tidaklah mencukupi. Akan tetapi, seandainya ada garis yang menonjol di ujung tikar atau di ujung karpet, niscaya hal itu sudah mencukupi karena ada bentuk yang menonjol.” </span><b>(</b><b><i>Asy-Syarhul Mumti’, </i></b><b>3: 280)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>فإن لم يجد وضع شيئا كعصا أو نحوها أو خط خطا إن كان في أرض يتضح فيها الخط مع العلم بأن السترة سنة وليست واجبة</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika dia tidak mendapatkan sesuatu sebagai sutrah, maka dia letakkan tongkat atau semacamnya. Atau membuat garis jika dia shalat di atas tanah yang garis itu tampak jelas. Hal ini disertai dengan ilmu (keyakinan) bahwa sutrah itu sunnah dan bukan wajib.” </span><b>(</b><b><i>Majmu’ Al-Fataawa Ibnu Baaz, </i></b><b>11: 105)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>والأفضل أن تكون السترة مرتفعة قدر مؤخرة الرحل، فإن لم يجد شيئًا شاخصًا؛ خط خطًّا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Yang afdhal adalah sutrah itu sesuatu yang tegak berdiri setinggi pelana unta. Jika tidak menemukan sesuatu yang bisa ditegakkan, (dia boleh) membuat garis.” </span><b>(</b><b><i>Al-Muntaqa min Fataawa Al-Fauzan, </i></b><b>49: 12)</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/44198-fikih-shalat-dhuha.html" data-darkreader-inline-color="">Fikih Shalat Dhuha</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/43999-keutamaan-keutamaan-ibadah-shalat.html" data-darkreader-inline-color="">Keutamaan-Keutamaan Ibadah Shalat</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 14 Shafar 1441/13 Oktober 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Lihat </span><b><i>Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, </i></b><span style="font-weight: 400;">4: 463.</span></p>
 