
<p>Salah satu makanan yang digemari di Gunungkidul dan yang berada di sekitar hutan jati adalah ulat jati. Bagaimana hukum ulat jati sendiri? Apakah halal?</p>
<p><a href="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2015/01/ulat_jati.jpg"><img loading="lazy" class="alignnone size-medium wp-image-10084" src="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2015/01/ulat_jati-263x197.jpg" alt="ulat_jati" width="263" height="197" srcset="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2015/01/ulat_jati-263x197.jpg 263w, https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2015/01/ulat_jati.jpg 300w" sizes="(max-width: 263px) 100vw, 263px"></a></p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Hukum Asal Makanan</span></h4>
<p>Hukum asal hewan darat adalah halal sampai ada dalil yang mengharamkan.</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata, “Hukum asal makanan adalah halal sampai ada dalil yang mengharamkan. Jika kita ragu akan halal ataukah haramnya sesuatu, maka hukum asalnya adalah halal sampai terbukti ada dalil yang mengharamkan.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا</p>
<p>“<em>Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu</em>” (QS. Al Baqarah: 29). Ayat ini mencakup segala yang ada di muka bumi, baik itu hewan, tumbuhan dan pakaian. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ</p>
<p>“<em>Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya.</em>” (QS. Al Jatsiyah: 13).</p>
<p>Oleh karena itu hukum asal dari hewan adalah halal sampai datang dalil yang mengharamkannya. (<em>Fatawa Nur ‘alad Darb</em>, 11: 116)</p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Hewan Menjijikkan</span></h4>
<p>Bagaimanakah standar hewan disebut menjijikkan?</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ</p>
<p>“<em>Dan dia mengharamkan bagi mereka segala yang khobits</em>” (QS Al A’raf: 157).</p>
<p>Makna <em>khobits</em> dalam ayat ini ada tiga pendapat, yaitu:</p>
<ul>
<li>
<em>Khobits</em> adalah makanan haram. Jadi yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah dilarang menyantap makanan haram.</li>
<li>
<em>Khobits</em> bermakna segala sesuatu yang merasa jijik untuk memakannya, seperti ular dan hasyarot (berbagai hewan kecil yang hidup di darat).</li>
<li>
<em>Khobits</em> bermakna bangkai, darah dan daging babi yang dianggap halal. Artinya, Allah mengharamkan bentuk penghalalan semacam ini padahal bangkai, darah dan daging babi sudah jelas-jelas haram. (Lihat <em>Zaadul Masiir</em>, 3: 273)</li>
</ul>
<p>Ulama Malikiyah tidak menganggap standar jijik dan tidak dari orang Arab ahli Hijaz. Mereka berdalil dengan tiga ayat yang menerangkan bahwa segala hewan yang tidak dinash-kan (tidak disebutkan dalilnya) akan haramnya, dihukumi halal. Tiga ayat yang dimaksud adalah,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا</p>
<p>“<em>Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu</em>” (QS. Al Baqarah: 29)</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ</p>
<p>“<em>Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah</em>.” (QS. Al An’am: 145)</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ</p>
<p>“<em>Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu</em>” (QS. Al An’am: 119). Dari tiga ayat ini terlihat bahwa makanan haram adalah yang dikecualikan dari keumuman ayat pertama (Al Baqarah: 29). Selain yang diharamkan berarti kembali kepada keumuman yang menyatakan halal atau bolehnya. (Dinukil dari <em>Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah</em>, 5: 147)</p>
<p>Sehingga standar menjijikkan yang lebih tepat adalah kembalikan pada dalil, bukan dikembalikan pada penilaian masing-masing orang. Karena jika dikembalikan pada penilaian masing-masing orang, ada yang menganggapnya jijik dan ada yang tidak.</p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Bedakah dengan Ulat dalam Makanan?</span></h4>
<p>Ulat jati berbeda dengan <a href="https://rumaysho.com/umum/hukum-ulat-dalam-makanan-2166">ulat dalam makanan</a> yang seringkali dibahas oleh para ulama. Karena ulat yang dimaksud oleh mereka adalah ulat dari makanan yang busuk.</p>
<p>Ketika Imam Ahmad mendapati sayuran yang terdapat ulat di dalamnya. Beliau lantas berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">تجنّبه أحبّ إليّ ، وإن لم يتقذّر فأرجو</p>
<p>“Menjauhi sayuran semacam itu lebih aku sukai. Namun jika tidak sampai mengotori (menjijikkan), maka aku pun mau.” Imam Ahmad menganggap tidak mengapa jika kita menyelidik-nyelidik kurma yang terdapat ulat. Lihat contoh dari Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berikut ini.</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ أُتِىَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- بِتَمْرٍ عَتِيقٍ فَجَعَلَ يُفَتِّشُهُ يُخْرِجُ السُّوسَ مِنْهُ.</p>
<p>Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi kurma yang sudah agak lama (membusuk), lalu beliau mengorek-ngorek kurma tersebut. Lantas beliau mengeluarkan ulat dari kurma itu. (HR. Abu Daud no. 3832 dan Ibnu Majah no. 3333. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini <em>hasan</em>)</p>
<p>Sehingga menyamakan ulat jati dengan ulat yang disebut di atas tidaklah tepat.</p>
<p>Kesimpulannya, ungkrung atau ulat jati tidaklah masalah dikonsumsi karena kembali ke hukum asal makanan yaitu halal. Ulat jati pun tidak termasuk makanan yang menjijikkan.</p>
<p><em>Wallahu a’lam, wabillahit taufiq.</em></p>
<p>—</p>
<p>Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul <a href="http://darushsholihin.com/">@ Darush Sholihin</a>, 29 Rabi’ul Awwal 1436 H</p>
<p>Oleh: <a href="http://darushsholihin.com/">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Ikuti status kami dengan memfollow <a href="https://www.facebook.com/muhammad.tuasikal">FB Muhammad Abduh Tuasikal</a>, <a href="http://www.facebook.com/rumaysho">Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat</a>, Twitter <a href="https://twitter.com/RumayshoCom">@RumayshoCom</a>, <a href="instagram.com/rumayshocom/">Instagram RumayshoCom</a></p>
<p>Segera pesan buku Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang membicarakan masalah natal dan loyal pada non muslim dengan judul “<strong>Natal, Hari Raya Siapa?”</strong> dan “<strong>Kesetiaan pada Non Muslim</strong>” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku natal dan kesetiaan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.20.000,- untuk dua buku (belum termasuk ongkir).</p>
<blockquote>
<p>Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar <strong>1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 350 juta rupiah.</strong></p>
<p>Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal].</p>
<p>Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor <b>0823 139 50 500</b> dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek <a title="Renovasi Masjid" href="http://darushsholihin.com/renovasi-masjid/" target="_blank">di sini</a>.</p>
</blockquote>
 