
<p><strong>IHRAM DALAM HAJI DAN UMRAH</strong></p>
<p>Oleh<br>
Ustadz Kholid Syamhudi Lc</p>
<p>Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menciptakan jin dan manusia, kecuali hanya untuk menyembah-Nya semata, sebagaimana firman-Nya:</p>
<p><strong>وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ</strong></p>
<p><em>Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. </em>[adz- Dzariyat/51 : 56].</p>
<p>Untuk merealisasikan penyembahan tersebut dibutuhkan suatu media yang dapat menjelaskan makna dan hakikat penyembahan yang dikehendaki Allah Azza wa Jalla . Sehingga dengan hikmah-Nya yang agung, Dia mengutus para rasul untuk membawa dan menyampaikan risalah dan syariat-Nya kepada jin dan manusia.</p>
<p>Di antara kesempurnaan Islam adalah penetapan ibadah haji ke Baitullah, al-Haram sebagai salah satu syiar Islam yang agung. Bahkan ibadah haji merupakan rukun Islam yang kelima, dan menjadi salah satu sarana bagi kaum muslimin untuk bersatu, meningkatkan ketakwaan dan meraih surga yang telah dijanjikan untuk orang-orang yang bertakwa. Oleh karena itu, dengan kesempurnaan syari’atnya, Islam telah menetapkan suatu tata cara atau metode yang lengkap dan terperinci, sehingga tidak perlu lagi adanya penambahan dan pengurangan dalam pelaksanaan ibadah ini.</p>
<p>Salah satu bagian ibadah haji adalah <em>i<u>h</u>ram</em>, yang harus dilakukan setiap orang yang menunaikan ibadah haji dan umrah. Sebagai salah satu bagian tersebut, maka pelaksanaannya perlu dijelaskan, yakni menyangkut tata cara dan hukum seputar hal itu.</p>
<p><strong>DEFINISI I<u>H</u>RAM</strong><br>
Kata <em>i<u>h</u>ram</em> diambil dari bahasa Arab, yaitu dari kata <em>al-<u>h</u>aram</em> yang bermakna terlarang atau tercegah. Hal itu dinamakan dengan <em>i<u>h</u>ram</em>, karena seseorang yang dengan niatnya masuk pada ibadah haji atau umrah, maka ia dilarang berkata dan beramal dengan hal-hal tertentu seperti jima’, menikah, ucapan kotor, dan lain-sebagainya. Dari sini, para ulama mendefinisikan <em>i<u>h</u>ram</em> dengan salah satu niat dari dua <em>nusuk</em> (yaitu haji dan umrah), atau kedua-duanya secara bersamaan.<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a></p>
<p>Dengan demikian, menjadi jelas kesalahan pemahaman sebagian kaum muslimin yang mengatakan <em>i<u>h</u>ram</em> adalah berpakaian dengan kain <em>i<u>h</u>ram</em>. Karena <em>i<u>h</u>ram </em>merupakan niat masuk ke dalam haji atau umrah. Sedangkan berpakaian dengan kain <em>i<u>h</u>ram</em> merupakan satu keharusan bagi seseorang yang telah <em>beri<u>h</u>ram</em>.</p>
<p><strong>TEMPAT BERI<u>H</u>RAM</strong><br>
<em>I<u>h</u>ram</em>, sebagai bagian penting ibadah haji dan umrah dilakukan dari <em>miq</em><em>â</em><em>t</em>. Seorang yang akan berhaji dan umrah, ia harus mengetahui <em>miqat</em> sebagai tempat <em>beri<u>h</u>ram</em>. Mereka yang tidak <em>beri<u>h</u>ram</em> dari <em>miq</em><em>â</em><em>t</em>, berarti telah meninggalkan suatu kewajiban dalam haji, sehingga wajib atas mereka untuk menggantinya dengan <em>dam</em> (denda).</p>
<p><strong>TATA CARA I<u>H</u>RAM</strong><br>
1. Disunnahkan untuk mandi sebelum <em>i<u>h</u>ram</em> bagi laki-laki dan perempuan, baik dalam keadaaan suci atau haidh, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Jabir Radhiyallahu anhu . Beliau berkata:</p>
<p><strong>فَخَرَجْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَيْنَا ذَا الْحُلَيْفَةِ فَوَلَدَتْ أَسْمَاءُ بِنْتُ عُمَيْسٍ مُحَمَّدَ بْنَ أَبِيْ بَكْرٍ فَأَرْسَلَتْ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ </strong><strong>صلى الله عليه وسلم</strong><strong> كَيْفَ أَصْنَعُ؟ قَالَ : اغْتَسِلِيْ وَاسْتَثْفِرِيْ بِثَوْبٍ وَاحْرِمِيْ (رواه  مسلم)</strong></p>
<p><em>“Lalu kami keluar bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> <em>. Tatkala sampai di Dzul Hulaifah, Asma binti ‘Umais melahirkan Mu<u>h</u>ammad bin Abi Bakr. Maka ia (Asma) mengutus (seseorang untuk bertemu) kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (dan bertanya): ‘Apa yang aku kerjakan?’ Beliau </em><em>r</em><em> menjawab: ‘Mandilah dan beristitsfarlah,</em><a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a><em> dan beri<u>h</u>ramlah’.”</em> [Riwayat Muslim (2941) 8/404, Abu Dawud no. 1905 dan 1909, dan Ibnu Majah no. 3074]</p>
<p>Apabila tidak mendapatkan air maka tidak bertayammum, karena bersuci yang disunnahkan apabila tidak dapat menggunakan air maka tidak bertayamum. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tayammum dalam bersuci dari hadats sebagaimana firman-Nya:</p>
<p><strong>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا</strong></p>
<p><em> Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih)…</em> [al-Mâ`idah/5 : 6].</p>
<p>Oleh karena itu, tidak bisa dianalogikan (dikiaskan) kepada yang lainnya. Juga karena tidak ada contoh atau perintah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertayammum apalagi jika mandi <em>i<u>h</u>ram</em> tersebut untuk kebersihan dengan dalil perintah beliau kepada Asma` bintu Umais yang sedang haidh untuk mandi tersebut.</p>
<p>2. Disunnahkan untuk memakai minyak wangi ketika <em>i<u>h</u>ram</em>, sebagaimana dikatakan oleh ‘Aisyah Radhiyallahu anha :</p>
<p><strong>كُنْتُ أُطَيِّبُ النَّبِيَّ </strong><strong>صلى الله عليه وسلم</strong><strong> لإِحْرَامِهِ قَبْلَ اَنْ يُحْرِمَ وَ لِحِلَِّهِ قَبْلَ أَنْ يَطُوْفَ بِاْلبَيْتِ.</strong></p>
<p><em>Aku memakaikan Nabi </em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam<em> wangi-wangian untuk i<u>h</u>ramnya sebelum beri<u>h</u>ram, dan ketika halalnya sebelum thawaf di Ka’bah.</em> [HR Bukhâri no.1539, dan Muslim no. 1189].</p>
<p>Dalam pemakaian minyak wangi ini hanya diperbolehkan pada anggota badan, dan bukan pada pakaian <em>i<u>h</u>ramnya</em>, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>لاَ تَلْبَسُوْا ثَوْبًا مَسَّهُ الزَّعْفَرَانُ وَ لاَ الْوَرَسُ</strong></p>
<p><em>Janganlah kalian memakai pakaian yang terkena minyak wangi za’faran dan wars</em>. [Muttafaqun alaih].</p>
<p>Memakai minyak wangi ini ada dua keadaan:</p>
<ul>
<li>Memakainya sebelum mandi dan <em>beri<u>h</u>ram</em>, dan ini disepakati tidak ada permasalahan.</li>
<li>Memakainya setelah mandi dan sebelum <em>beri<u>h</u>ram</em> dan minyak wangi tersebut tidak hilang, maka ini dibolehkan oleh para ulama kecuali Imam Malik dan orang-orang yang sependapat dengan pendapatnya.</li>
</ul>
<p>Dalil dibolehkannya pemakaian minyak wangi dalam <em>i<u>h</u>ram</em>, yaitu hadits Aisyah, beliau berkata:</p>
<p><strong>كَانَ رَسُوْلُ اللهِ </strong><strong>صلى الله عليه وسلم</strong><strong> اِذَا أَرَادَ أَنْ يُحْرِمَ يَتَطَيَّبَ بِأَطْيَبِ مَا يَجِدُ ثُمَّ أَرَى وَبِيْصَ الدُّهْنِ فِيْ رَأْسِهِ وَ لِحْيَتِهِ بَعْدَ ذَلِكَ (رواه مسلم)</strong></p>
<p><em>Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin berihram, (beliau) memakai wangi-wangian yang paling wangi yang beliau dapatkan, kemudian aku melihat kilatan minyak di kepalanya dan jenggotnya setelah itu</em>. [HR Muslim no.2830].</p>
<p>‘Aisyah Radhiyallahu anha berkata pula:</p>
<p><strong>كَأَنِّيْ أَنْظُرُ إِلَى وَبِيْصَ الْمِسْكِ فِيْ مَفْرَقِ رَسُوْلِ اللهِ </strong><strong>صلى الله عليه وسلم</strong><strong> وَ هُوَ مُحْرِمٌ </strong></p>
<p><em>Seakan-akan aku melihat kilatan misk (minyak wangi misk) di bagian kepala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sedangkan beliau dalam keadaan i<u>h</u>ram. </em>[HR Muslim no. 2831, dan Bukhâri no. 5923].</p>
<p><strong>Ada</strong><strong> satu permasalahan:</strong><br>
Apabila seseorang memakai wangi-wangian di badannya, yaitu di kepala dan jenggotnya, tetapi kemudian minyak wangi  itu menetes atau meleleh ke bawah, apakah hal ini mempengaruhi atau tidak?</p>
<p><strong>Jawabnya:</strong> Tidak mempengaruhi, karena perpindahan minyak wangi tersebut dengan sendirinya dan tidak dipindahkan, dan juga karena tampak pada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya tidak menghiraukan kalau minyak wangi tersebut menetes, lantaran mereka memakainya pada keadaan yang dibolehkan.<a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a></p>
<p><strong>Kemudian,</strong> jika seseorang yang <em>beri<u>h</u>ram</em> (<em>mu<u>h</u>rim</em>) akan berwudhu, dan dia telah memakai minyak rambut yang wangi, maka tentu akan mengusap kepalanya dengan kedua telapak tangannya. Jika ia lakukan, maka minyak tersebut akan menempel ke kedua telapak tangannya walaupun hanya sedikit, maka apakah perlu memakai kaos tangan ketika akan mengusap kepala tersebut?</p>
<p><strong>Syaikh Mu<u>h</u>ammad Sh</strong><strong>â</strong><strong>li<u>h</u> al-‘Utsaim</strong><strong>î</strong><strong>n</strong> pernah memberikan penjelasan tentang masalah ini. Syaikh berkata: “Tidak perlu, bahkan hal itu termasuk berlebih-lebihan dalam agama, dan tidak ada dalilnya. Demikian juga tidak mengusap kepalanya dengan kayu atau kulit. Dia cukup mengusapnya dengan telapak tangannya karena ini termaasuk yang dimaafkan”.<a href="#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</a></p>
<p>3. Mengenakan dua helai kain putih yang dijadikan sebagai sarung dan selendang, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :</p>
<p><strong>لِيُحْرِمْ أَحَدُكُمْ فِىْ إِزَارٍ وَ رِدَاءٍ وَ نَعْلَيْنِ</strong></p>
<p><em>Hendaklah salah seorang dari kalian beri<u>h</u>ram dengan menggunakan sarung dan selendang serta sepasang sandal</em>. [HR A<u>h</u>mad 2/34, dan <em>disha<u>h</u></em><em>î</em><em><u>h</u></em><em>kan</em> sanadnya oleh A<u>h</u>mad Syakir].</p>
<p>Dua helai kain itu diutamakan berwarna putih, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p><strong>خَيْرُ ثِيَابِكُمُ اْلبَيَاضُ فَالْبَسُوْهَا َوكَفِّنُوْا فِيْهَا مَوْتَكُمْ</strong></p>
<p><em>Sebaik-baik pakaian kalian adalah yang putih, maka kenakanlah dia dan kafanilah mayat kalian dengannya. </em>[HR A<u>h</u>mad. Lihat Syara<u>h</u> A<u>h</u>mad Syakir, 4/2219, dan ia berkata: “<em>Isnadnya sha<u>h</u></em><em>î</em><em><u>h</u></em>“]</p>
<p>Ibnu Taimiyyah di dalam kitab manasik (hlm. 21) berkata: “Disunnahkan untuk <em>beri<u>h</u>ram</em> dengan dua kain yang bersih. Jika keduanya berwarna putih maka itu lebih utama, dan dibolehkan <em>i<u>h</u>ram</em> dengan segala jenis kain yang <em>dimubahkan</em> dari katun <em>shuf</em> (bulu domba), dan lain sebagainya. Dibolehkan <em>beri<u>h</u>ram</em> dengan kain putih dan yang tidak putih dari warna-warna yang diperbolehkan, walaupun berwarna-warni”.<a href="#_ftn5" name="_ftnref5">[5]</a> Sedangkan bagi wanita, ia tetap memakai pakaian wanita yang menutup semua auratnya, kecuali wajah dan telapak tangan.</p>
<p>4. Disunahkan <em>beri<u>h</u>ram</em> setelah shalat. Disebutkan dalam hadits Ibnu ‘Umar t dalam <em>Sha<u>h</u></em><em>î</em><em><u>h</u></em><em> Bukh</em><em>â</em><em>ri</em> bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>أَتَانِيَ اللَّيْلَةَ</strong> <strong>آتٍ مِنْ رَبِّيْ فَقَالَ : صَلِّ فِيْ هَذَا الْوَادِيْ الْمُبَارَكِ وَقُلْ عُمْرَةً فِيْ حَجَّةٍ</strong></p>
<p><em>Telah datang tadi malam utusan dari Rabbku lalu berkata: “Shalatlah di Wadi yang diberkahi ini dan katakan: ‘Umratan f</em><em>î</em><em> hajjatin’.”</em></p>
<p>Juga hadits Jabir:</p>
<p><strong>فَصَلَّى رَسُوْلُ اللهِ </strong><strong>صلى الله عليه وسلم</strong><strong> فِي الْمَسْجِدِ ثُمَّ رَكِبَ الْقَصْوَاءَ حَتَّى إِذَا اسْتَوَتْ بِهِ نَاقَتُهُ عَلَى الْبَيْدَاءِ أَهَلَّ بِالْحَجِّ </strong></p>
<p><em>Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di masjid (Dzul Hulaifah), kemudian beliau menaiki al-Qaswa’ (nama onta beliau). Sampai ketika ontanya berdiri di al-Baida’, beliau beri<u>h</u>ram untuk haji. </em>[HR Muslim].</p>
<p>Sehingga sesuai dengan sunnah maka yang lebih utama dan sempurna, ialah <em>beri<u>h</u>ram</em> setelah shalat fardhu. Akan tetapi, apabila tidak mendapatkan waktu shalat fardhu maka terdapat dua pendapat dari para ulama:</p>
<ul>
<li>Tetap disunnahkan shalat dua rakaat, dan demikian ini pendapat <em>jumhur</em>, yaitu berdalil dengan keumuman hadits Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ahhuma:</li>
</ul>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>صَلِّ فِيْ هَذَا الْوَادِي</strong></p>
<p style="padding-left: 40px;">(<em>Shalatlah di Wadi ini</em>).</p>
<ul>
<li>Tidak disyariatkan shalat dua rakaat, dan demikian ini pendapat Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah. Beliau mengatakan di dalam <em>Majmu’ Fat</em><em>â</em><em>w</em><em>â</em> (26/108): “Disunnahkan <em>beri<u>h</u>ram</em> setelah shalat, baik fardhu maupun sunnah. Kalau ia berada pada waktu <em>tathawu’</em> -menurut salah satu dari dua pendapatnya- dan yang lain kalau dia shalat fardhu, maka <em>beri<u>h</u>ram</em> setelahnya; dan jika tidak maka tidak ada shalat yang khusus bagi <em>i<u>h</u>ram</em>; dan inilah yang <em>r</em><em>â</em><em>jih</em>“.</li>
</ul>
<p>Di dalam <em>Ikhtiyarat</em> (hlm. 116) beliau menyatakan: “<em>Beri<u>h</u>ram</em> setelah shalat fardhu kalau ada, atau sunnah (nafilah); karena <em>i<u>h</u>ram</em> tidak memiliki shalat yang khusus untuknya”.</p>
<p>Demikianlah, tidak ada shalat dua rakaat khusus untuk <em>i<u>h</u>ram</em>.</p>
<p>5. Berniat untuk melaksanakan salah satu manasik, dan disunnahkan untuk diucapkan. Dibolehkan untuk memilih salah satu dari tiga <em>nusuk</em>, yaitu <em>ifrad, qiran dan tamattu’,</em> sebagaimana dikatakan oleh ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma :</p>
<p><strong>خَرَجْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ </strong><strong>صلى الله عليه وسلم</strong><strong> عَامَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ فَمِنَّا مَنْ أَهَلَّ بِعُمْرَةٍ وَ مِنَّا مَنْ أَهَلَّ بِحَجٍّ وَ عُمْرَةٍ وَ مِنَّا مَنْ أَهَلَّ بِحَجٍّ وَ أَهَلَّ رَسُوْلُ اللهِ بِالْحَجِ فأَمَّا مَنْ أَهَلَّ بِعَمْرَةٍ فَحَلَّ عَنْهُ قُدُوْمُهُ وَ أَمَّا مَنْ أَهَلَّ بِحَجٍّ أَوْ جَمَعَ بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَلَمْ يُحِلُّوْا حَتَّى كَانَ يَوْمَ النَّحْرِ (متفق عليه)</strong></p>
<p>“<em>Kami telah keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun haji Wada’ maka ada di antara kami yang berihram dengan umrah dan ada yang berihram dengan haji dan umrah, dan ada yang berihram dengan haji saja, sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berihram dengan haji saja. Adapun yang berihram dengan umrah maka dia halal setelah datangnya,</em><a href="#_ftn6" name="_ftnref6"><strong>[6]</strong></a><em> dan yang berihram dengan haji atau yang menyempurnakan haji dan umrah tidak halal (lepas dari ihramnya) sampai dia berada di hari nahar</em><a href="#_ftn7" name="_ftnref7">[7]</a>.<em>“</em> [Mutafaq ‘alaih].</p>
<p>Oleh karena itu, seseorang yang <em>bermanasik ifrad</em>, ia mengatakan:</p>
<p><strong>لَبَّيْكَ حَجًّا  </strong>atau<strong>  لَبَّيْكَ الَّلهُمَّ حَجًّا</strong></p>
<p>dan seseorang yang <em>bermanasik tamattu’</em>, ia mengatakan:</p>
<p><strong>لَبَّيْكَ عُمْرَةً  </strong>atau <strong> </strong><strong>لَبَّيْكَ الَّلهُمّ عُمْرَةً</strong></p>
<p>dan ketika hari Tarwiyah (8 Dzulhijah) menyatakan:</p>
<p><strong>لَبَّيْكَ حَجًّا  </strong>atau <strong> </strong><strong>لَبَّيْكَ الَّلهُمّ حَجًّا </strong></p>
<p>Adapun sunnah yang <em>bermanasik qiran</em>, ia menyatakan:</p>
<p><strong>  لَبَّيْكَ  عُمْرَةً وَ حَجًّا</strong></p>
<p>Setelah itu disunnahkan memperbanyak <em>talbiyah</em> hingga sampai ke Ka’bah untuk melaksanakan <em>thawaf</em>.</p>
<p>Demikian penjelasan secara ringkas tentang ihram saat haji dan umrah. Mudah-mudahan bermanfaat. <em>Wallahu Ta’ala a’lam bish-Shawab</em>.<strong>  </strong></p>
<p>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XII/1429H/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]<br>
______<br>
Footnote<br>
<a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> Lihat <em>Mudzakirat, Syarah ‘Umdah</em> (hlm. 65), dan <em>Syarhul-Mumti’</em> (6/67).<br>
<a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a>  <em>Istitsfar</em>, ialah suatu usaha untuk mencegah keluarnya darah dari kemaluan orang yang haidh atau nifas dengan cara mengambil kain yang memanjang, diletakkan pada tempat darah tersebut dan dilapisi dengan bahan yang tidak tembus darah yang diambil ujung-ujunnya untuk diikatkan di perut. Adapun pada zaman sekarang telah ada pembalut wanita. Lihat <em>Syara<u>h</u> Muslim</em>, 8/404.<br>
<a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a>  Lihat <em>Syar<u>h</u>ul-Mumti’</em>, 6/73-74.<br>
[4] <em>Syar<u>h</u>ul-Mumti’</em>, 6/74.<br>
<a href="#_ftnref5" name="_ftn5">[5]</a>  Dinukil dari <em>Syar<u>h</u>ul-Mumti’</em>, 6/75.<br>
<a href="#_ftnref6" name="_ftn6">[6]</a> Setelah melakukan umrah dengan melakukan thawaf dan sa’i.<br>
<a href="#_ftnref7" name="_ftn7">[7]</a> Pada tanggal 10 Dzul Hijjah.</p>
 