
<p><span style="color: #000000;">Khutbah Jumat ini menjelaskan tentang perintah untuk mengikuti sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, dan berasaha untuk menjauhi berbagai amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Semoga bermanfaat. <strong>[Redaksi <a href="http://KhotbahJumat.com" target="_blank">KhotbahJumat.com</a>]</strong></span><br>
<!--more--></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #000000;"><strong>***<br>
</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><strong>KHUTBAH PERTAMA</strong></span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><span style="color: #000000;"> اِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><em>Ma’asyiral muslimin rahimakumullah</em></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Marilah kita senantiasa menjaga dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>. Yaitu dengan mempelajari dan mengamalkan, serta berpegang teguh di atas syariat-Nya. Karena di dalamnya ada cahaya dan petunjuk yang demikian mencukupi untuk membimbing dan mengatur seluruh sisi kehidupan kita. Mulai dari urusan rumah tangga hingga ketatanegaraan. Sehingga, selama seseorang itu mengikuti petunjuk dan aturan-Nya pasti dia akan selamat di dunia dan akhirat. Karena, Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>telah berjanji bagi orang yang mengikuti petunjuk-Nya di dalam firman-Nya,</span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><span style="color: #000000;"> قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَيَشْقَى </span></p>
<p><span style="color: #000000;">“<em>Barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya ia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka</em>.” (Thaha: 123)</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Maka, barang siapa yang tidak merasa cukup dengan petunjuk Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> sehingga menyelisihinya, pasti dia akan rugi dan celaka. Meskipun orang melihatnya hidup dengan penuh kemewahan dan serba ada. Namun, sesungguhnya dia tidak merasakan kelapangan dan ketenangan di dalam jiwanya. Karena, Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> telah mengancam bagi orang-orang yang menyelisihi petunjuk-Nya di dalam firman-Nya,</span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><span style="color: #000000;"> وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى </span></p>
<p><span style="color: #000000;">“<em>Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta</em>.” (Thaha: 124)</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Hadirin <em>rahimakumullah</em></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Seorang muslim yang hakiki tidak akan ridha untuk meninggalkan petunjuk Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>. Meskipun ditawarkan kepadanya dunia seisinya. Dia akan tetap berpegang teguh di atas syariat-Nya, meskipun cobaan dan ujian menimpa dirinya. Karena dia mengetahui, bahwa kehidupan yang sesungguhnya bukanlah di dunia dan apa yang dimilikinya berupa kenikmatan dunia, baik berupa harta, kedudukan, dan yang semisalnya, pasti akan sirna. Sehingga, yang senantiasa diinginkan oleh dirinya adalah meraih kecintaan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dan diampuni seluruh dosanya, serta mendapatkan hidayah dan curahan rahmat-Nya. Oleh karena itu, dia berusaha untuk mengikuti jalan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, yaitu dengan menaatinya dan tidak menyelisihinya. Karena itulah satu-satunya jalan yang harus ditempuh agar dirinya dicintai dan dirahmati, serta diberi hidayah oleh Yang Maha Kuasa. Hal ini sebagaimana tersebut dalam firman-Nya,</span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><span style="color: #000000;"> قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورُُ رَّحِيمُُ {31} قُلْ أَطِيعُوا اللهَ وَالرَّسُولَ فَإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْكَافِرِينَ </span></p>
<p><span style="color: #000000;">“<em>Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir.’</em>” (Ali ‘Imran: 31-32)</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Maka di dalam ayat tersebut Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menjelaskan bahwa menaati Rasul-Nya adalah konsekuensi dan bukti dari cintanya kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, sementara menyelisihinya adalah tanda kekufuran dirinya kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala.</em></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Dan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> juga memberitakan di dalam Alquran, bahwa barang siapa menaati Rasul-Nya akan memperoleh hidayah-Nya. Sebagaimana dalam firman-Nya,</span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><span style="color: #000000;"> وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا </span></p>
<p><span style="color: #000000;">“<em>Dan jika kalian menaatinya, niscaya kalian akan mendapat hidayah/ petunjuk.</em>” (An-Nur: 54)</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Begitupula Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> beritakan, bahwa taat kepada Rasul adalah sebab yang akan mengantarkan kita untuk mendapatkan rahmat-Nya. Sebagaimana dalam firman-Nya,</span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><span style="color: #000000;"> وَأَطِيعُوا اللهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ </span></p>
<p><span style="color: #000000;">“<em>Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kalian diberi rahmat.</em>” (Ali ‘Imran: 132)</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><em>Ma’asyiral</em> muslimin <em>rahimakumullah</em>,</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Oleh karena itu, seorang muslim akan mengikuti jalan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan akan meninggalkan seluruh ajaran yang menyimpang dari ajarannya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Dia tidak akan terburu-buru dalam meyakini dan mengamalkan suatu ajaran dalam beribadah kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, baik yang berupa ucapan maupun amalan anggota badan. Akan tetapi, dia akan menimbang terlebih dahulu seluruh ucapan dan amalan ibadahnya dengan amalan dan ucapan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Apabila sesuai maka diterima, namun apabila bertentangan maka dia akan menolak, dari manapun datangnya. Karena beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><span style="color: #000000;"> مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ </span></p>
<p><span style="color: #000000;">“<em>Barang siapa yang mengamalkan amalan yang tidak ada syariatnya dari kami, maka amalan tersebut ditolak.</em>” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Al-Imam Asy-Syafi’i <em>rahimahullah</em> mengatakan,</span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><span style="color: #000000;"> لَقَدْ أَجْمَعَ النَّاسُ عَلَى أَنَّ مَنْ تَبَيَّنَ لَهُ سُنَّةُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَجُوْزُ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ </span></p>
<p><span style="color: #000000;">“<em>Para ulama telah sepakat, bahwasanya barang siapa yang telah jelas baginya jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak boleh baginya untuk meninggalkannya karena ucapan siapapun</em>.”</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Hadirin<em> rahimakumullah</em>,</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Ketahuilah, bahwa Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah mengingatkan umatnya agar jangan sampai terjatuh pada perbuatan bid’ah, yaitu mengada-adakan amalan ibadah baru yang tidak ada syariatnya. Hal ini sebagaimana tersebut di dalam sabdanya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><span style="color: #000000;"> وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ </span></p>
<p><span style="color: #000000;">“<em>Hati-hatilah kalian dari terjatuh kepada amalan-amalan ibadah baru yang diada-adakan, karena setiap amalan tersebut adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat</em>.” (H.R. Ahmad dan yang lainnya, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani<em> rahimahullah</em>)</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Bahkan, beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyebutkan bahwa perbuatan mengada-adakan amalan ibadah baru yang tidak ada syariatnya adalah sejelek-jelek amalan. Sebagaimana tersebut dalam haditsnya,</span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><span style="color: #000000;"> وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا </span></p>
<p><span style="color: #000000;">“<em>Dan sejelek-jelek amalan adalah amalan ibadah yang diada-adakan (yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Al-Khulafa` Ar-Rasyidin)</em>.” (H.R. Muslim)</span><br>
<span style="color: #000000;"> <em><br>
Ma’asyiral</em> muslimin <em>rahimakumullah,</em></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Para ulama telah menjelaskan di dalam kitab-kitab mereka tentang maksud dari amalan bid’ah. Di antaranya disebutkan bahwa bid’ah adalah aturan yang diada-adakan dalam beragama yang menandingi syariat dan dimaksudkan dengan mengikuti aturan tersebut untuk beribadah kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>. Dan bid’ah itu bermacam-macam jenisnya. Ada yang berupa amalan ibadah baru yang sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan <em>Al-Khulafa` Ar-Rasyidin</em>. Seperti mengadakan acara perayaaan dan peringatan hari kelahiran atau hari kematian seseorang. Ataupun dengan mengubah tata cara ibadah yang telah disyariatkan. Seperti berzikir secara berjamaah dengan dipimpin oleh seorang imam setelah selesai dari shalat berjamaah.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Hadirin <em>rahimakumullah,</em></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Seluruh jenis bid’ah dengan berbagai macamnya adalah sesat, sebagaimana tersebut dalam sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><span style="color: #000000;"> وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ </span></p>
<p><span style="color: #000000;">“<em>Dan setiap bid’ah adalah sesat</em>.” (HR. Ahmad dan yang lainnya, dishahihkan Al-Albani <em>rahimahullah</em>)</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Begitu pula dikatakan oleh Abdullah ibnu ‘Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>,</span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><span style="color: #000000;"> كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً </span></p>
<p><span style="color: #000000;"><em><br>
“</em>Setiap bid’ah adalah sesat meskipun orang-orang menganggapnya baik.”</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Maka, tidak benar kalau dikatakan ada bid’ah yang baik atau hasanah. Akan tetapi, yang ada adalah sunnah yang hasanah, bukan bid’ah hasanah. Yaitu melakukan amal ibadah yang disyariatkan dan kemudian dicontoh, serta diikuti oleh yang lainnya. Adapun mendekatkan diri kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dengan amal ibadah yang dibuat sendiri atau dibuat oleh gurunya, hal tersebut adalah amalan bid’ah dan tidak ada baiknya sama sekali. Karena seluruh amalan bid’ah adalah keluar dari petunjuk Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Meskipun kadar kesesatannya dan kejelekannya berbeda-beda.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Akhirnya, marilah kita senantiasa mengikuti wasiat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> untuk berpegang teguh di atas jalannya. Begitupula wasiat beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> untuk berhati-hati terhadap kerusakan yang sangat berbahaya, yaitu bid’ah serta orang-orang yang mengajaknya. Karena hal itu akan menjauhkan kita dari agama yang mulia.</span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><span style="color: #000000;"> بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْـمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. </span></p>
<p><span style="color: #000000;"><strong>KHUTBAH KEDUA</strong></span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><span style="color: #000000;"> الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَـمِيْنَ أَمَرَنَا بِاتِّبَاعِ صِرَاطِهِ الْـمُسْتَقِيْمِ وَنَهَانَا عَنِ اتِّبَاعِ سُبُلِ أَصْحَابِ الْـجَحِيْمِ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، الْـمَلِكُ الْبَرُّ الرَّحِيْمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ بَلَّغَ اْلبَلاَغَ الْـمُبِيْنَ، وَقَالَ: عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْـخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ تَلَقَّوْا عَنْهُ الدِّيْنَ وَبَلَّغُوْهُ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ </span></p>
<p><span style="color: #000000;"><em>Ma’asyiral </em>Muslimin <em>rahimakumullah</em>,</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Marilah kita berusaha untuk selalu menjaga diri-diri kita dari azab Allah<em> Subhanahu wa Ta’ala</em> dengan bertakwa kepada-Nya. Yaitu dengan senantiasa mengikuti ajaran yang dibawa oleh Rasul-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan tidak menyelisihinya. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> telah mengancam orang-orang yang menyelisihi jalan rasul-Nya dengan ancaman yang keras. Sebagaimana hal ini tersebut di dalam firman-Nya (yang artinya),</span></p>
<p><span style="color: #000000;">“<em>Maka, hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa adzab yang pedih.</em>” (An-Nur: 50)</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Hadirin <em>rahimakumullah,</em></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Ketahuilah, bahwa bid’ah adalah bentuk penyelisihan paling besar dari jalan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> setelah perbuatan syirik. Hal ini karena perbuatan bid’ah akan memecah-belah kaum muslimin, serta menyeret pelakunya pada kerusakan agama dan hatinya. Perbuatan bid’ah akan menjadikan hati pelakunya menjadi benci kepada As-Sunnah. Karena, hati tidak akan menerima Sunnah Rasul jika sudah ditempati oleh bid’ah. Oleh karena itu, kita dapati orang yang melakukan atau bergelut dengan bid’ah serta menghidupkannya adalah orang yang jauh dari Sunnah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Setan akan menghiasi amalan bid’ah sehingga akan menjadi sangat mudah bagi orang yang tertipu untuk mengamalkannya, meskipun harus mengeluarkan banyak biaya dan menyita sebagian besar waktunya. Dan bid’ah akan menyeret pelakunya menjadi orang yang sombong untuk menerima kebenaran. Hal itu karena setiap pelaku bid’ah akan membanggakan dirinya dan menganggap cara serta amalannya adalah yang paling baik.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Hadirin <em>rahimakumullah,</em></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Ketahuilah, bahwa termasuk dari amalan bid’ah yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin adalah mengkhususkan pertengahan bulan Sya’ban atau yang dikenal dengan istilah Nishfu Sya’ban dengan shalat malam secara berjamaah.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Al-Imam An-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata dalam kitabnya <em>Al-Majmu’</em>, “Shalat yang dikenal dengan istilah shalat <em>Ar-Ragha`ib </em>yaitu shalat 12 rakaat yang dilakukan antara Maghrib dan ‘Isya pada malam Jumat pertama di bulan Rajab dan shalat pada malam <em>Nishfu Sya’ban</em> sebanyak seratus rakaat, keduanya adalah amalan bid’ah dan mungkar. Janganlah tertipu karena disebutkannya dua jenis shalat ini dalam kitab<em> Qutul Qulub</em> dan<em> Ihya` ‘Ulumuddin</em>. Dan jangan pula tertipu dengan hadits-hadits yang tersebut di dalam dua kitab tadi. Karena sesungguhnya semua itu batil.”</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Berkata pula Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz <em>rahimahullah</em>, “Hadits-hadits yang menyebutkan keutamaan malam <em>Nishfu Sya’ban</em> adalah hadits-hadits yang <strong>dha’if</strong><em>. Tidak boleh dijadikan sebagai pegangan. Sementara hadits-hadits yang menyebutkan tentang keutamaan shalat pada malam <em>Nishfu Sya’ban </em>semuanya adalah <strong>hadits palsu</strong></em>, sebagaimana telah diingatkan oleh banyak ulama.”</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Maka, tidak boleh bagi kaum muslimin untuk mengkhususkan, serta mengistimewakan pertengahan bulan ini daripada hari-hari lainnya di bulan tersebut. Karena Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan <em>Al-Khulafa` Ar-Rasyidin</em> tidak pernah melakukannya. Begitu pula tidak boleh bagi kaum muslimin untuk mendukung dan membantu pelaksanaannya. Karena hal itu sama saja dengan menghancurkan agama saudaranya. Bukan berarti tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk shalat malam pada hari tersebut. Akan tetapi mengistimewakan hari dan malam tersebut dari hari-hari lainnya di bulan Sya’ban untuk shalat atau ibadah lainnya bukanlah ajaran yang dibawa oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Akhirnya, marilah kita senantiasa berhati-hati dari jalan-jalan yang menyimpang dari jalan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Karena jalan yang ditempuh oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan orang-orang yang terbaik di umat ini baik dari kalangan sahabat, tabi’in, dan yang mengikuti mereka adalah satu-satunya jalan yang benar.</span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;"><span style="color: #000000;"> اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْـمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْـمُشْرِكِيْنَ. وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْـمُوَحِّدِينَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْـمُسْلِمينَ في كُلِ مَكَانٍ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ والْـمُسْلِمَاتِ، وَالْـمُؤْمِنِيْنَ وَالْـمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّهُ سَمِيْعٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى الْـمُرْسَلِينَ وَالْـحَمْدُ لِلهِ ربِّ الْعَالَـمِينَ</span></p>
<h2>Download Materi Khutbah Jum’at</h2>
<p>[download id=”5″]</p>
<h2>Info Naskah Khutbah Jum’at</h2>
<p><span style="color: #000000;">Penulis: Al-Ustadz Saifuddin Zuhri, Lc.</span><br>
<span style="color: #000000;"> Disalin dari kumpulan Khutbah Jumat Majalah Asy-Syariah Edisi 34 disertai penyuntingan bahasa oleh Tim Redaksi </span><a href="http://KhotbahJumat.com%20" target="_blank"><span style="color: #000000;">KhotbahJumat.com</span></a><br>
<span style="color: #000000;"> Artikel </span><a href="http://KhotbahJumat.com%20" target="_blank"><span style="color: #000000;">www.KhotbahJumat.com </span></a></p>
 