
<p><em>Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang</em></p>
<p>Syaikh as-Sa’di <em>rahimahullah</em> berkata, “Tidak ada suatu perkara yang memiliki bekas-bekas/dampak yang baik serta keutamaan yang beraneka ragam seperti halnya tauhid. Karena sesungguhnya kebaikan di dunia dan di akherat itu semua merupakan buah dari tauhid dan keutamaan yang muncul darinya.” (<em>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 16)</p>
<p>Syaikh as-Sa’di <em>rahimahullah</em> juga berkata, “Segala kebaikan yang segera -di dunia- ataupun yang tertunda -di akherat- sesungguhnya merupakan buah dari tauhid, sedangkan segala keburukan yang segera ataupun yang tertunda maka sesungguhnya itu merupakan buah/dampak dari lawannya….” (<em>al-Qawa’id al-Hisan al-Muta’alliqatu Bi Tafsir al-Qur’an</em>, hal. 26)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ</p>
<p><em>“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (yaitu syirik), maka mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan hidayah.”</em> (<strong>QS. al-An’aam: 82</strong>)</p>
<p>Abdullah bin Mas’ud <em>radhiyallahu’anhu</em> berkata: Ketika turun ayat <em>“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (yaitu syirik), maka mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan hidayah.”</em> (<strong>QS. al-An’aam: 82</strong>) Maka hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Lantas merekapun mengadu, <em>“Lalu siapakah diantara kami ini yang tidak menzalimi dirinya sendiri?”</em>. Maka Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidak seperti yang kalian sangka. Sesungguhnya yang dimaksudkan adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Luqman kepada anaknya; ‘Hai anakku, janganlah kamu berbuat syirik. Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.’ </em>(<strong>QS. Luqman: 13</strong>)<em>.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/206])</p>
<p>al-Khatthabi <em>rahimahullah</em> berkata, “Asal makna dari zalim adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, dan barangsiapa yang menempatkan ibadah untuk selain Allah <em>ta’ala</em> maka dia adalah sosok pelaku kezaliman yang paling zalim.” (sebagaimana dinukil oleh an-Nawawi <em>rahimahullah</em> dalam <em>Syarh Muslim</em> [2/206])</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz al-Qar’awi <em>hafizhahullah</em> berkata, “Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em> memberitakan kepada kita bahwasanya barangsiapa yang mentauhidkan-Nya dan tidak mencampuri tauhidnya dengan syirik maka Allah menjanjikan atasnya keselamatan dari masuk ke dalam neraka di akherat serta Allah akan membimbingnya menuju jalan yang lurus di dunia.” (<em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 35)</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz al-Qar’awi <em>hafizhahullah</em> juga menjelaskan, “Ayat ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang meninggal di atas tauhid serta bertaubat dari dosa-dosa besar maka dia akan selamat dari siksa neraka. Dan barangsiapa yang meninggal dalam keadaan masih bergelimang dengan dosa-dosa besar/tidak bertaubat darinya sementara dia masih bertauhid maka dia akan selamat dari -hukuman- kekal di neraka.” (<em>al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid</em>, hal. 35)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang mengucapkan la ilaha illallah wahdahu la syarika lah -tiada sesembahan yang benar selain Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya- dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Kemudian mengatakan bahwa Isa adalah hamba Allah dan putra dari seorang hamba perempuan-Nya serta terjadi dengan kalimat-Nya yang diberikan kepada Maryam dan merupakan ruh dari -ciptaan-Nya. Dan dia mengatakan bahwa surga itu benar, neraka juga benar. Maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga melalui salah satu pintu manapun di antara kedelapan pintu surga yang dia kehendaki.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/70-71])</p>
<p>Syaikh as-Sa’di <em>rahimahullah</em> berkata, “Di antara keutamaan tauhid yang paling agung adalah ia merupakan sebab yang menghalangi kekalnya seorang di dalam neraka, yaitu apabila -minimal- di dalam hatinya masih terdapat tauhid meskipun seberat biji sawi. Kemudian, apabila tauhid itu sempurna di dalam hati maka akan bisa menghalangi masuk neraka secara keseluruhan/tidak masuk neraka sama sekali.” (<em>al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid</em>, hal. 17)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidaklah ada seorang hambapun yang mempersaksikan bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya melainkan Allah pasti haramkan dia tersentuh api neraka.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/82-83])</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mempersekutukan Allah barang sedikitpun maka dia pasti masuk neraka.” </em>(<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/164])</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Jibril ‘alaihis salam datang kepadaku dan menyampaikan kabar gembira bahwa barangsiapa yang meninggal di antara umatmu dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah barang sedikitpun maka dia pasti masuk surga.” </em>Aku -Abu Dzar- berkata, <em>“Meskipun dia berzina dan mencuri?”</em>. Maka beliau menjawab, <em>“Meskipun dia berzina dan mencuri.” </em>(<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [2/166])</p>
<p>an-Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, “…Apabila dia adalah seorang pelaku dosa besar -yaitu yang masih bertauhid- meninggal dalam keadaan terus-menerus bergelimang dengannya -maksudnya tidak bertaubat dari dosa besarnya- maka dia berada di bawah kehendak Allah -artinya terserah kepada Allah mau menghukum atau memaafkannya-. Apabila dia dimaafkan maka dia bisa masuk surga secara langsung sejak awal. Kalau tidak, maka dia disiksa terlebih dulu lalu akan dikeluarkan dari neraka dan dikekalkan di dalam surga…” (<em>Syarh Muslim</em> [2/168])</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata, “…Sesungguhnya salah satu ciri hati yang sakit adalah ia berpaling dari mengkonsumsi hal-hal yang bermanfaat dan yang cocok dengannya menuju hal-hal yang justru membahayakan dirinya, serta ia berpaling dari obat yang manjur menuju penyakit yang membahayakan…” (<em>Ighatsat al-Lahfan</em>, hal. 96)</p>
<p>Beliau <em>rahimahullah</em> juga berkata, “…Salah satu ciri sehatnya hati adalah ia senantiasa merasa rindu dan berhasrat untuk berkhidmat/mengabdi dan taat -kepada Allah- sebagaimana halnya orang yang lapar menginginkan makanan dan minuman.” (<em>Ighatsat al-Lahfan</em>, hal. 98)</p>
<p>Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;">وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى (41)</p>
<p><em>“Maka barangsiapa yang merasa takut akan kedudukan Rabbnya serta menahan dari melampiaskan hawa nafsunya -dengan cara yang terlarang-, maka sesungguhnya surga adalah tempat tinggal baginya.”</em> (<strong>QS. an-Nazi’aat: 40-41</strong>)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> juga berfirman, <em></em></p>
<p style="text-align: center;">يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89)</p>
<p><em>“Pada hari itu -kiamat- tidak berguna harta dan keturunan, kecuali bagi orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang selamat.”</em> (<strong>QS. asy-Syu’araa’: 88-89</strong>).</p>
<p><em>Wallahu a’lam. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa sallam</em>.</p>
<p>Penulis: <a href="http://abumushlih.com">Abu Mushlih Ari Wahyudi</a></p>
<p>Artikel <a href="https://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
 