
<p><strong><em>Ketiga,</em> Ikhlas. </strong>Lawannya adalah syirik</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p class="arab">أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِص</p>
<p>“<em>Ingatlah, hanya kepunyaan Allahlah agama yang <strong>bersih (dari syirik)</strong>.”</em> (QS. Az-Zumar: 3)</p>
<p>Allah juga  berfirman:</p>
<p class="arab">وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ  حُنَفَاءَ</p>
<p>“<em>Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah  Allah dengan <strong>memurnikan ketaatan kepada-Nya</strong> dalam (menjalankan) agama dengan lurus.”</em> (QS. Al-Bayyinah: 5)</p>
<p>Dalam hadis, dari  Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi  wasallam</em>, beliau bersabda:</p>
<p class="arab">أسعد الناس بشفاعتي من قال لاإله إلا الله خالصاً  من قلبه -أو من نفسه –</p>
<p>“<em>Orang yang paling berbahagia dengan syafaatku adalah  orang-orang yang mengatakan Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah  dengan <strong>ikhlas dari dalam lubuk hatinya </strong>(atau dirinya).”</em> (HR.  Bukhari)</p>
<p>Dalam riwayat  lain, dari ‘Itban bin Malik <em><span style="text-decoration: underline;">radhiyallahu ‘anhu</span></em>, dari Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wasallam</em>, bahwa beliau bersabda:</p>
<p class="arab">إن الله حرم على النار من قال لا إله إلا الله  يبتغي بذلك وجه الله عز وجل</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang  mengucapkan Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dengan <strong>mengharapkan wajah Allah ‘azza wa jalla.</strong>”</em> (HR. Bukhari dan  Muslim).</p>
<p>Ikhlas adalah  mencintai Allah, mengesakanNya dan membersihkan seluruh ibadah kepada-Nya dari  semua unsur kemusyrikan. Karena Allah adalah satu-satunya sesembahan yang  paling berhak untuk diibadahi dan tidak ada sekutu bagi-Nya.</p>
<p><strong><em>Keempat,</em> shidq (membenarkan). </strong>Lawannya adalah sikap  mendustakan .</p>
<p>Seorang yang telah  mengucapkan kalimat tauhid, maka orang tersebut harus membenarkannya di dalam  hatinya, di mana hatinya selalu sejalan dengan lisannya. Tidaklah cukup bagi  kita mengucapkan kalimat <span class="arab"> لا اله الا الله </span> saja, namun ucapan ini juga harus  dibarengi dengan adanya pembenaran di dalam hati. Adapun orang yang hanya  menampakkan lahirnya saja dengan mengucapkan kalimat tersebut, akan tetapi dia  tidak membenarkan dalam hatinya, maka dia adalah seorang munafik.</p>
<p>Allah <em>ta’ala </em>berfirman:</p>
<p class="arab">الم (1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ  يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2)  وَلَقَدْ فَتَنَّا  الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا  وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (3)</p>
<p>“<em>Alif Laam Miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka  membiarkan (saja) mengatakan,’kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji.  Dan seseungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah  benar-benar mengetahui <strong>orang-orang yang  benar </strong>dan orang-orang yang dusta.” </em>(QS. Al-‘Ankabut: 1-3).</p>
<p>Allah juga  berfirman:</p>
<p class="arab">وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آَمَنَّا بِاللَّهِ  وَبِالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ (8) يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَمَا  يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (9) فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ  مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ (10)</p>
<p>“<em>Di antara manusia ada orang-orang yang mengatakan, ‘Kami  beriman kepada Allah dan hari kemudian’, padahal mereka itu sesungguhnya bukan  orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman,  padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri, namun mereka tidak sadar. Dalam  hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit mereka, dan bagi mereka  siksa yang pedih, disebabkan mereka telah berdusta.”</em> (QS. Al-Baqarah: 8-10).</p>
<p>Dalam hadis, dari  Mu’adz bin Jabal <em>radhiyallahu ‘anhu</em> dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi  wasallam</em>, beliau bersabda:</p>
<p class="arab">ما من أحد يشهد أن لا إله إلا الله وأن محمداً  رسول الله ، صادقاً من قلبه ، إلا حرمه الله على النار</p>
<p>“<em>Tidaklah seseorang itu bersaksi bahwa tidak ada sesembahan  yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, <strong>dengan sebenar-benarnya di dalam hati</strong>, melainkan Allah mengharamkannya masuk neraka.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p><strong><em>Kelima</em>, mahabbah, </strong>yaitu  mencintai kalimat ini serta makna yang terkandung di dalamnya dan merasa  bahagia dengannya.</p>
<p>Rasa cinta  terhadap kalimat ini telah meniadakan rasa benci. Bahkan cinta merupakan salah  satu unsur pokok dalam ibadah di samping rasa takut dan harap.</p>
<p>Cinta sendiri  terbagi atas dua jenis, yaitu cinta yang wajib dan cinta yang sunnah  (dianjurkan).</p>
<p>Cinta yang wajib  adalah keadaan di mana seseorang tidaklah dinilai sebagai seorang muslim  kecuali dengan mewujudkannya. Cinta ini adalah cinta kepada Allah. Cinta ini  mewajibkan seseorang untuk melaksanakan apa-apa yang diwajibkan kepadanya, dan  meninggalkan semua yang diharamkan baginya.</p>
<p>Ada ulama –<em>rahimahullah</em>– yang menulis nasehat :</p>
<p class="arab">تَعْصِي الْإِلَهَ وَ اَنْتَ تَزْعُمٌ حٌبَّهُ</p>
<p>هَذَا لَعَمْرِي فِي الْقِيَاسِ شَنِيْعُ</p>
<p>لَوْ كَانَ حُبُّكَ صَادِقَاَ لَأَطَعْتَهُ</p>
<p>إِنَّ الْمُحِبَّ لِمَنْ يُحِبُّ مُطِيْعُ</p>
<p><em>Engkau durhaka  kepada Allah, sementara engkau mengaku mencintai-Nya</em></p>
<p><em>Demi Allah,  sesungguhnya dalam analogi itu terdapat sesuatu yang buruk</em></p>
<p><em>Seandainya  cintamu itu benar, pasti engkau akan menaati-Nya</em></p>
<p><em>Karena  sesungguhnya orang yang mencintai akan selalu menaati Dzat yang dicintainya.</em></p>
<p>Adapun cinta yang  sunnah adalah cinta yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang  disunnahkan.</p>
<p>Mengenai <em>mahabbah</em> ini, Allah <em>ta’ala</em> berfirman:</p>
<p class="arab">وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ  اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ  حُبًّا لِلَّهِ</p>
<p>“<em>Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah  tandingan-tandingan Allah, mereka mencintai sesembahan-sesembahan tersebut  sebagaimana mereka mencintai Allah. <strong>Adapun  orang-orang beriman sangat kuat cintanya kepada Allah.</strong>”</em> (QS. Al-Baqarah:  165).</p>
<p>Allah juga  berfirman:</p>
<p class="arab">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ  مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ  وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ  يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ</p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian  yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang <strong>Allah mencintai dan merekapun mencintai-Nya</strong>, yang bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin, yang  bersikap keras terhadap orang kafir, yang berjihad di jalan Allah dan yang  tidak takut celaan orang yang suka mencela.”</em> (QS. Al-Maidah: 54)</p>
<p>Dari Anas <em>radhiyallahu  ‘anhu</em>, dia berkata, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">ثلاث من كن فيه وجد حلاوة الإيمان : أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما ، وأن  يحب المرء لا يحبه إلا لله ، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد إذ أنقذه الله منه كما  يكره أن يقذف في النار</p>
<p>“<em>Ada tiga perkara yang jika itu semua terdapat pada diri  seseorang, maka dia akan merasakan manisnya iman. Yaitu: <strong>Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai dari selain keduanya,  dia mencintai seseorang yang dia mencintainya hanya karena Allah</strong>, dan dia benci kembali kepada kekafiran setelah  diselamatkan Allah darinya sebagaimana dia benci jika dicampakkan ke dalam api  neraka.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p><strong><em>Keenam,</em> tunduk. </strong></p>
<p>Maksudnya adalah  tunduk terhadap konsekwensi kalimat <span class="arab"> لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ </span> . Bentuknya adalah  melaksanakan amalan yang wajib, ikhlas karena Allah dan untuk tujuan mencari  ridha Allah. Lawan sikap tunduk adalah <em>al-i’radh</em> (cuek). Artinya, sama  sekali tidak mau melaksanakan konsekwensi kalimat tauhid tersebut.</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman:</p>
<p class="arab">وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَه</p>
<p>“<em>Dan kembalilah kalian kepada Tuhanmu, dan <strong>berserah  dirilah kepada-Nya.</strong>”</em> (QS. Az-Zumar: 54)</p>
<p>Allah juga  berfirman:</p>
<p class="arab">وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ  لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ</p>
<p>“<em>Siapakah yang lebih baik agamanya daripada <strong>orang yang ikhlas menyerahkan diri kepada Allah</strong>, sedang dia pun mengerjakan kebaikan?”</em> (QS. An-Nisa’: 125)</p>
<p>Allah juga  berfirman:</p>
<p class="arab">وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ  مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى</p>
<p>“<em>Dan barangsiapa yang <strong>menyerahkan  dirinya kepada Allah </strong>sedang dia orang yang  berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang  kokoh.”</em> (QS. Luqman: 22)</p>
<p>Allah juga  berfirman:</p>
<p class="arab">فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى  يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ  حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (65)</p>
<p>“<em>Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman  sebelum mereka menjadikan kamu sebagai hakim dalam perkara yang mereka  perselisihkan, kemudian tidak ada keberatan dalam hati mereka terhadap putusan  yang kamu berikan, dan <strong>mereka menerima  sepenuhnya.</strong>”</em> (QS. An-Nisa’: 65)</p>
<p><strong><em>Ketujuh</em>, al-Qabul (menerima)</strong></p>
<p>Artinya, menerima  dengan sepenuh hati setiap konsekwensi kalimat tauhid. Lawan dari sikap  menerima adalah menolak.</p>
<p>Seorang muslim  yang mengaku dirinya beriman sudah seharusnya menerima kalimat ini dengan hati  dan lisannya. Maka barangsiapa yang tidak mau menerima kalimat ini, menolaknya,  bahkan menyombongkan diri darinya, maka dia telah kafir. Karena sikap menolak  kalimat tauhid ini, serupa dengan yang terjadi di kalangan kaum kafir Quraisy di  mana mereka melawan dan bersikap sombong serta tidak mau menerima kalimat  tauhid tersebut.</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman:</p>
<p class="arab">وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي  قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا  عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آَثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ (23) قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِأَهْدَى مِمَّا  وَجَدْتُمْ عَلَيْهِ آَبَاءَكُمْ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ  كَافِرُونَ (24) فَانْتَقَمْنَا  مِنْهُمْ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (25)</p>
<p>“<em>Dan demikianlah, kami tidaklah mengutus sebelum kamu  seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri melainkan orang-orang yang  hidup mewah di negeri itu berkata, ’Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak  kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.’  (Rasul itu) berkata,’Apakah (kalian akan mengikutinya juga) sekalipun aku  membawa untuk kalian (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa  yang kalian dapatkan dari (agama) yang dianut bapak-bapak kalian. Mereka  menjawab,’Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk  menyampaikannya.’ Maka kami binasakan mereka. Oleh karena itu, perhatikanlah  kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.”</em> (QS. Az-Zukhruf: 23-25).</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> juga berfirman:</p>
<p class="arab">إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ  إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ (35) وَيَقُولُونَ  أَئِنَّا لَتَارِكُوا آَلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ (36)</p>
<p>“<em>Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka  ‘ <span class="arab"> </span> (tiada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah)’, mereka  menyombongkan diri. Dan mereka berkata, ’Apakah kami harus meninggalkan  sesembahan-sesembahan karena seorang penyair gila?’ ”</em> (QS. Ash-Shaffat: 35-36).</p>
<p>Dalam hadis, dari  Abu Musa Al-‘Asy’ari <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi  wasallam</em>, beliau bersabda:</p>
<p class="arab">مثل ما بعثني الله به من الهدى والعلم كمثل الغيث  الكثير أصاب أرضاً ، فكان منها نقية قبلت الماء فأنبتت الكلأ والعشب الكثير ،  وكانت منها أجادب أمسكت الماء فنفع الله به الناس فشربوا وسقوا وزرعوا ، أصاب منها  طائفة أخرى إنما هي قيعان لا تمسك الماء ولا تنبت كلأ ، فذلك مثل من فقه في دين  الله ونفعه ما بعثني الله به فعلم وعلّم ، ومثل من لم يرفع بذلك راساً ولم يقبل  هدى الله الذي أرسلت به</p>
<p>“<em>Permisalan petunjuk yang aku bawa dari Allah adalah  seperti hujan lebat yang jatuh ke bumi. Sebagian bumi ada tanah yang baik, yang  bisa menyerap air dan menumbuhkan rerumputan yang banyak. Sebagian lagi ada  tanah yang keras namun bisa menahan air, sehingga Allah bisa menjadikannya  bermanfaat bagi manusia untuk minum, memberi minum (ternak) dan bercocok tanam.  Sebagian air hujan tersebut juga mengenai gersang, yang tidak bisa menahan air dan tidak bisa menumbuhkan  rumput. Demikianlah permisalan bagi orang yang paham tentang agama Islam. Allah  memberikan kemanfaatan padanya dengan ajaran yang ku-bawa dari-Nya. Dia belajar  dan mengajar. Dan permisalan bagi orang yang tidak peduli dengan ilmu dan  petunjuk. Dia tidak mau menerima petunjuk Allah yang ku-bawa.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>***<br>
Artikel <a href="https://muslimah.or.id/">muslimah.or.id</a><br>
Penulis: Ummu Aufa Nunung  Wulandari<br>
Murajaah: Ust Ammi Nur Baits</p>
<p><strong>Maraji’:</strong></p>
<ul>
<li>
<em>Al-Wajibat</em>, Syaikh Abdullah bin Ibrahim Al-Qar’awi, Media Hidayah.</li>
<li>
<em>Jami’ Ahkamis Shalat, </em>Maktabah Syamilah.</li>
<li>
<em>Mulakhos Syarah Kitabut Tauhid,</em> Syaikh Sholeh bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan, Darul  ‘Ashimah.</li>
<li>
<em>Penjelasan Hal-Hal yang Wajib Diketahui oleh Setiap Muslim dan  Muslimah, </em>Ibrahim  bin As-Syaikh Shalih bin Ahmad al-Khuraishi, Pustaka Imam Syafi’i.</li>
<li>
<em>Tanbihat Mukhtashoroh</em>, Syaikh Ibrahim bin Syaikh Sholih bin Ahmad Al-Khuraisyi,  Darus Shomi’i.</li>
</ul>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 