
<h4><b>Hukum Isti’adzah Dalam Shalat</b></h4>
<p>Disyari’atkan untuk membaca isti’adzah sebelum membaca Al Qur’an, baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Termasuk juga ketika sebelum membaca Al Fatihah dalam shalat. Namun para ulama berbeda pendapat mengenai hukum membaca isti’adzah sebelum membaca Al Qur’an. Sebagian ulama, berpendapat hukumnya wajib, berdalil dengan ayat:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 18px;">فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاَللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ</span></p>
<p>“<i>Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk</i>” (QS. An Nahl: 98)</p>
<p>dalam ayat ini digunakan bentuk perintah (<span style="font-size: 18px;">فَاسْتَعِذْ</span>), sedangkan hukum asal perintah adalah wajib. Ini yang menjadi pendapat Atha’, Sufyan Ats Tsauri dan sebagian ulama Hanabilah.</p>
<p>Sedangkan jumhur ulama, diantaranya Hanafiyah, Syafi’iyyah, dan pendapat mu’tamad madzhab Hanabilah berpendapat hukumnya sunnah. Diantaranya faktor yang memalingkan hukumnya dari wajib adalah adanya klaim ijma bahwa para salaf tidak menganggapnya wajib dan juga ada beberapa hadits yang mengisyaratkan Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> terkadang tidak isti’adzah sebelum membaca Al Qur’an. Diantaranya hadits ‘Aisyah <i>radhiallahu’anha</i>, beliau berkata:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 18px;">كان رسولُ اللهِ </span>_<span style="font-size: 18px;">صلى الله عليه وسلم</span>_ <span style="font-size: 18px;">يَستفتِحُ الصلاةَ بالتكبيرِ </span>, <span style="font-size: 18px;">والقِراءةَ ب </span>“<span style="font-size: 18px;">الحمدُ للهِ ربِّ العالَمينَ </span>“</p>
<p>“<i>biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memulai shalatnya dengan takbir, lalu membaca alhamdulillahi rabbil ‘alamin..</i>” (HR. Muslim 498).</p>
<p>Sehingga yang rajih insya Allah isti’adzah dalam shalat hukumnya sunnah, tidak wajib (lihat <i>Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah</i> 4/6, <i>Shifatu Shalatun Nabi lit Tharifi</i> 79).</p>
<h4><b>Kapan Isti’adzah?</b></h4>
<p>Isti’adzah diucapkan setelah membaca istiftah dan sebelum membaca Al Fatihah. Berdasarkan surat An Nahl ayat 98 yang telah disebutkan. Juga sebagaimana disebutkan dalam hadits yang dikeluarkan oleh Abu Daud (775), At Tirmidzi, Ahmad</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 18px;">حَدَّثَنَا عَبْدُ السَّلَامِ بْنُ مُطَهَّرٍ، حَدَّثَنَا جَعْفَرٌ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ عَلِيٍّ الرِّفَاعِيِّ، عَنْ أَبِي الْمُتَوَكِّلِ النَّاجِيِّ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ</span>: <span style="font-size: 18px;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ كَبَّرَ، ثُمَّ يَقُولُ</span>: «<span style="font-size: 18px;">سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرَكَ</span>» <span style="font-size: 18px;">، ثُمَّ يَقُولُ</span>: «<span style="font-size: 18px;">لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ</span>» <span style="font-size: 18px;">ثَلَاثًا، ثُمَّ يَقُولُ</span>: «<span style="font-size: 18px;">اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا</span>» <span style="font-size: 18px;">ثَلَاثًا، </span>«<span style="font-size: 18px;">أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ، وَنَفْخِهِ، وَنَفْثِهِ</span>» <span style="font-size: 18px;">، ثُمَّ يَقْرَأُ</span></p>
<p>“Abdussalam bin Muthahhir menuturkan kepadaku, Ja’far menuturkan kepadaku, dari Ali bin Ali Ar Rifa’i dari Abul Mutawakkil An Nahi dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata, biasanya Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> ketika hendak shalat malam beliau membuka shalatnya dengan bertakbir, lalu mengucapkan /<i>subhaakallahumma wabihamdika wa tabaarakasmuka wa ta’aala jadduka wa laa ilaaha ghairaka/</i>, lalu mengucapkan /<i>laa ilaaha illallah/</i> 3x, lalu mengucapkan <i>allaahu akbar kabiiran</i> 3x, lalu mengucapkan /<i>a’uudzubillaahis samii’il ‘aliimi minas syaithaanir rajiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi/</i>, lalu baru membaca baca’an shalat”.</p>
<p>Sanad ini hasan, semua perawinya adalah perawi Shahih Muslim kecuali Ali bin Ali Ar Rifa’i, ia diperselisihkan statusnya, <i>insya Allah</i> yang rajih ia berstatus <i>laa ba’sa bihi, </i>sebagaimana kata Ibnu Hajar. Terdapat beberapa jalan lain yang menguatkan hadits ini hingga terangkat derajatnya menjadi <i>shahih li ghairihi</i>. Hadits ini dinilai shahih oleh Al Albani dalam <i>Ashlu Shifati Shalatin Nabi</i> (252). Hadits ini menunjukkan bahwa isti’adzah diucapkan setelah membaca doa istiftah.</p>
<p>Kemudian, para ulama sepakat isti’adzah diucapkan pada raka’at pertama dalam shalat. Namun mereka berselisih apakah isti’adzah diucapkan pada raka’at setelahnya?</p>
<p>Sebagian ulama mengatakan tidak dianjurkan untuk diucapkan pada raka’at setelahnya, karena isti’adzah diucapkan sebelum <i>qira’ah</i> (membaca Al Qur’an) dan isti’adzah pada raka’at pertama sudah mencakup qira’ah pada seluruh shalat. Ini pendapat Hanafiyyah dan Hanabilah. Sebagian ulama berpendapat tetap dianjurkan mengucapkan isti’adzah pada setiap raka’at, karena ada pemisah antara qira’ah di satu raka’at dengan raka’at yang lain. Selain itu dianjurkannya isti’adzah pada raka’at setelahnya merupakan qiyas terhadap raka’at pertama. Ini pendapat Syafi’iyyah, Malikiyyah, dan pendapat yang shahih dari Imam Ahmad (<i>Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah</i> 4/13-14).</p>
<p>Pendapat yang kuat adalah dianjurkan isti’adzah sebelum membaca Al Fatihah di setiap rakaat, sebagaimana yang dikatakan Al Albani di <em>Ashlu Shifati Shalatin Nabi</em> (3/828) bahwa qira’ah yang dibaca pada raka’at yang lain itu sama dengan qira’ah pada raka’at pertama berdasarkan sabda Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> dalam hadits <em>al musi’ shalatuhu</em>, setelah beliau mengajarkan bacaan qira’ah pada rakaat pertama beliau mengatakan:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 18px;">ثم افعل ذلك في صلاتك كلها</span></p>
<p>“<em>lalu lakukanlah itu semua pada semua shalatmu</em>” (HR. Bukhari-Muslim)</p>
<p>dalam riwayat lain:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 18px;">في كل ركعة</span></p>
<p>“<em>dalam setiap rakaat</em>”</p>
<h4><b>Bacaan Isti’adzah</b></h4>
<p>Ada beberapa jenis baca’an isti’adzah :</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Bacaan 1:</span></strong></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 18px;">أَعُوذُ بِاَللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ </span></p>
<p>/a’uudzubillaahi minas syaithaanir rajiim/</p>
<p>“<i>aku memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk</i>”</p>
<p>para ulama yang memilih bacaan ini, yaitu Imam Asy Syafi’i, Abu Hanifah, dan mayoritas qurra’. Mereka berdalil dengan ayat:</p>
<p><span style="font-size: 18px;">فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاَللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ</span></p>
<p>“<i>Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk</i>” (QS. An Nahl: 98)</p>
<p>adapun dalil dari hadist untuk lafadz ini, Syaikh Al Albani mengatakan: “adapun bacaan isti’adzah yang hanya /a’uudzubillaahi minas syaithaanir rajiim/ saja, saya tidak menemukan satu hadits pun. Ya Allah..! Kecuali riwayat (mursal) yang ada dalam kitab <i>Marasil Abu Daud</i>, dari Al Hasan Al Bashri” (<i>Ashlu Sifati Shalatin Nabi Lil Albani</i>, 275).</p>
<p>Namun terdapat atsar dari Umar bin Khattab <i>radhiallahu’anhu</i> bahwa beliau biasa membaca lafadz ini. Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam <i>Mushannaf</i>-nya (2455),</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 18px;">حَدَّثَنَا حَفْصٌ ، عَنِ الْأَعْمَشِ ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ ، عَنِ الْأَسْوَدِ ، قَالَ </span>: <span style="font-size: 18px;">افْتَتَحَ عُمَرُ الصَّلَاةَ ثُمَّ كَبَّرَ </span>, <span style="font-size: 18px;">ثُمَّ قَالَ </span>: ” <span style="font-size: 18px;">سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ </span>“</p>
<p>“Hafsh menuturkan kepadaku, dari Al A’masy, dari Ibrahim, dari Al Aswad, ia berkata: Umar memulai shalatnya, kemudian bertakbir, lalu ia mengucapkan /<i>subhaakallahumma wabihamdika wa tabaarakasmuka wa ta’aala jadduka wa laa ilaaha ghairaka/ </i>lalu <i>/a’uudzubillaahi minas syaithaanir rajiim/ </i>lalu<i> /alhamdulillahi rabbil’alamin/</i>”</p>
<p>atsar ini shahih, semua perawinya tsiqah.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Bacaan 2:</span></strong></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 18px;">أعوذُ باللهِ السَّمِيعِ العَلِيمِ مِنَ الشيطانِ الرَّجِيمِ</span></p>
<p>/a’uudzubillaahis samii’il ‘aliimi minas syaithaanir rajiim/</p>
<p>“<i>aku memohon perlindungan kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, dari setan yang terkutuk</i>”</p>
<p>bacaan ini yang dipilih oleh Imam Ahmad, Al A’masy, Al Hasan bin Shalih, Nafi’ dan Ibnu ‘Umar. Bacaan ini terdapat dalam riwayat yang dikeluarkan Abdurrazaq dalam <i>Mushannaf</i>-nya (2554),</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 18px;">عَنْ جَعْفَرِ بْنِ سُلَيْمَانَ </span>, <span style="font-size: 18px;">عَنْ عَلِيِّ بْنِ عَلِيٍّ الرِّفَاعِيِّ </span>, <span style="font-size: 18px;">عَنْ أَبِي الْمُتَوَكِّلِ النَّاجِيِّ </span>, <span style="font-size: 18px;">عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ </span>, <span style="font-size: 18px;">قَالَ </span>: <span style="font-size: 18px;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَاسْتَفْتَحَ صَلاتَهُ كَبَّرَ </span>, <span style="font-size: 18px;">ثُمَّ قَالَ </span>: <span style="font-size: 18px;">سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ </span>, <span style="font-size: 18px;">تَبَارَكَ اسْمُكَ </span>, <span style="font-size: 18px;">وَتَعَالَى جَدُّكَ </span>, <span style="font-size: 18px;">وَلا إِلَهَ غَيْرُكَ </span>, <span style="font-size: 18px;">ثُمَّ يُهَلِّلُ ثَلاثًا وَيُكَبِّرُ ثَلاثًا </span>, <span style="font-size: 18px;">ثُمَّ يَقُولُ </span>: <span style="font-size: 18px;">أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ </span>“</p>
<p>Dari Ja’far bin Sulaiman, dari Ali bin Ali Ar Rifa’i dari Abul Mutawakkil An Nahi dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata, biasanya Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> ketika hendak shalat malam beliau membuka shalatnya dengan bertakbir, lalu mengucapkan <i>subhaakallahumma wabihamdika wa tabaarakasmuka wa ta’aala jadduka wa laa ilaaha ghairaka</i>, kemudian membaca tahlil 3x dan takbir 3x lalu mengucapkan <i>a’uudzubillaahis samii’il ‘aliimi minas syaithaanir rajiim</i>”.</p>
<p>Hadits ini shahih.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Bacaan 3:</span></strong></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 18px;">أعوذ بالله من الشيطان الرجيم؛ من هَمْزِه، ونَفْخِه، ونَفْثِه</span></p>
<p>/a’uudzubillaahi minas syaithaanir rajiim wa hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi/</p>
<p>“<i>aku memohon perlindungan kepada Allah, dari setan yang terkutuk yaitu dari gangguannya, kesombongannya dan sya’irnya”</i>”</p>
<p>adapun makna <i>al hamzu</i>, <i>an naftsu</i> dan <i>an nafkhu</i> dijelaskan dalam hadits riwayat Imam Ahmad dalam <i>Musnad</i>-nya (3828)</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 18px;">حَدَّثَنَا أَبُو الْجَوَابِ، حَدَّثَنَا عَمَّارُ بْنُ رُزَيْقٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ </span>” <span style="font-size: 18px;">كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنَ الشَّيْطَانِ مِنْ هَمْزِهِ، وَنَفْثِهِ، وَنَفْخِهِ </span>” <span style="font-size: 18px;">قَالَ</span>: ” <span style="font-size: 18px;">وَهَمْزُهُ</span>: <span style="font-size: 18px;">الْمُوتَةُ، وَنَفْثُهُ</span>: <span style="font-size: 18px;">الشِّعْرُ، وَنَفْخُهُ</span>: <span style="font-size: 18px;">الْكِبْرِيَاءُ </span>“</p>
<p>“Abul Jawab menuturkan kepadaku, ‘Ammar bin Ruzaiq menuturkan kepadaku, dari ‘Atha bin Sa-ib, dari Abu Abdirrahman, dari Abullah bin Mas’ud, dari Nabi <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> bahwa beliau biasanya berta’awudz dari setan yang terkutuk yaitu dari <i>al hamzu</i>, <i>an naftsu</i> dan <i>an nafkhu</i> darinya. Lalu beliau bersabda: ‘<i>al hamzu maksudnya mati karena gangguan setan, al nafats maksudnya sya’ir, an nafakh maksudnya kesombongan</i>‘”</p>
<p>Hadits ini hasan, sebagaimana pendapat Syaikh Ahmad Syaikir dalam ta’liq beliau untuk <i>Musnad Ahmad</i> (5/318).</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Bacaan 4:</span></strong></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 18px;">أعوذُ باللهِ السَّمِيعِ العَلِيمِ مِنَ الشيطانِ الرَّجِيمِ من هَمْزِه، ونَفْخِه، ونَفْثِه</span></p>
<p>/ a’uudzubillaahis samii’il ‘aliimi minas syaithaanir rajiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi/</p>
<p>“<i>aku memohon perlindungan kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, dari setan yang terkutuk yaitu dari gangguannya, kesombongannya dan sya’irnya”</i>”</p>
<p>dalil lafadz ini sebagaimana hadits Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri <i>radhiallahu’anhu</i> yang sudah dibahas.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Bacaan 5:</span></strong></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 18px;">أعوذُ باللهِ السَّمِيعِ العَلِيمِ مِنَ الشيطانِ الرَّجِيمِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ</span></p>
<p>/a’uudzubillaahis samii’il ‘aliimi minas syaithaanir rajiim, innahu huwas samii’ul’alim/</p>
<p>bacaan ini adalah sebagaimana bacaan nomor 2, namun sebagian salaf memberikan tambahan lafadz:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 18px;">إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ</span></p>
<p>“<i>sesungguhnya Allah itu Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui</i>”</p>
<p>yang membaca lafadz ini diantaranya Sufyan Ats Tsauri <i>rahimahullah </i>dan juga salah satu bacaan Imam Ahmad bin Hambal (<i>Sifatu Shalatin Nabi Litharifi</i>, hal 78). Mereka berdalil dengan ayat:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 18px;">فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ</span></p>
<p>“<i>maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui</i>” (QS. Fushilat: 36).</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Bacaan 6:</span></strong></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 18px;">أَسْتَعِيْذُ بِاَللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ </span></p>
<p>/asta’iidzu billahi minas syaithaanirrajiim/</p>
<p>“<i>aku memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk</i>”</p>
<p>diantaranya para salaf yang membaca demikian Ibnu Sirin <i>rahimahullah</i> (<i>Sifatu Shalatin Nabi Litharifi</i>, hal 78). Beliau berdalil dengan ayat:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 18px;">فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاَللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ</span></p>
<p>“<i>Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk</i>” (QS. An Nahl: 98)</p>
<p>Lafadz-lafadz di atas boleh digunakan sebagai isti’adzah ketika shalat walaupun sebagiannya tidak didasari dalil yang sharih, namun para salaf pernah menggunakannya. Syaikh Abdul ‘Aziz Ath Tharifi setelah menyebut beberapa lafadz, beliau mengatakan: “setiap lafadz tersebut terdapat atsar-nya, dan dalam masalah ini terdapat kelonggaran insya Allah” (<i>Sifatu Shalatin Nabi Litharifi</i>, hal 79). Namun tentu yang menjadi praktek Nabi <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> itu lebih sesuai sunnah.</p>
<h4><b>Isti’adzah Dibaca Sirr atau Jahr?</b></h4>
<p>Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> dan para sahabat tidak menjahrkan (mengeraskan) bacaan isti’adzah, sehingga jika hal ini dilakukan dapat terjerumus dalam perbuatan bid’ah. Kecuali jika ada kebutuhan, misalnya dalam rangka mengajarkan orang-orang. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya mengenai seseorang yang menjadi imam kemudian setelah takbir ia mengeraskan bacaan ta’awwudz kemudian membaca basmalah lalu membaca Al Fatihah, ia melakukan demikian secara rutin pada setiap shalat. Beliau <i>rahimahullah</i> menjawab: “jika ia melakukannya hanya kadang-kadang dalam rangka mengajarkan orang-orang atau kebutuhan lainnya maka tidak mengapa. Sebagaimana Umar bin Khattab beliau mengeraskan bacaan doa istiftah sesekali. Juga sebagaimana Ibnu Umar dan Abu Hurairah mereka mengeraskan bacaan isti’adzah sesekali. Adapun melakukannya secara ruitn maka ini bid’ah dan menyelisihi sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam serta para Khulafa Ar Rasyidin. Mereka tidak menjahrkan (mengeraskan) bacaan isti’adzah secara rutin, bahkan sama sekali tidak ada riwayat yang dinukil dari Nabi <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> bahwa beliau pernah mengeraskan bacaan isti’adzah. <i>Wallahu’alam</i>” (<i>Majmu’ Fatawa</i>, 22/405).</p>
<p>—</p>
<p>Penulis: Yulian Purnama</p>
<p>Muraja’ah: Ust. Aris Munandar, Ss., MPi.</p>
<p>Artikel Muslim.Or.Id</p>
 