
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnul Qoyyim mengatakan, </span></p>
<p> </p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400;">إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَرَادَ بِعَبْدٍ خَيْرًا سَلَبَ رُؤْيَةَ أَعْمَالِهِ الْحَسَنَةِ مِنْ قَلْبِهِ وَالْإِِخْبَارَ بِهَا مِنْ لِسَانِهِ وَشَغَلَهُ بِرُؤْيَةِ ذَنْبِهِ فَلَا يَزَالُ نَصْبَ عَيْنَيْهِ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika Allah ingin memberikan kebaikan yang besar untuk seorang hamba, Allah buat hati orang tersebut tidak ingat dengan amal kebaikan yang pernah dilakukan ataupun menceritakannya kepada orang lain. Di samping itu Allah jadikan orang tersebut selalu ingat dengan dosa-dosanya. Dosa itu terpampang jelas di hadapannya sehingga orang tersebut akhirnya masuk surga.” (Thariq al-Hijratain 169-172)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada dua langkah untuk meniti jalan surga.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menjaga kualitas keikhlasan dalam beramal shalih dengan melupakan amal kebajikan yang pernah dilakukan dan tidak menceritakan amal kebajikan  kepada publik lewat medsos ataupun sarana lainnya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Senantiasa ingat  kekurangan dan maksiat diri sehingga tidak merasa lebih baik dari pada orang lain. Orang tersebut senantiasa terbayang-bayang dosanya sehingga punya nafas yang stabil untuk selalu memperbaiki kualitas diri. Pada akhirnya, buah ini semua adalah masuk surga Allah. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Memang surga itu di akhirat namun jalan menuju surga itu ada di dunia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pilihan ada di hadapan kita masing-masing antara meniti jalan surga ataukah jalan neraka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini agar diberi kemudahan masuk surga tanpa mampir di neraka. Aamiin. </span></p>
<p><strong>Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.</strong></p>
 