
<p><strong>JAMA’ SHALAT ‘ISYA DAN MAGHRIB</strong></p>
<p>Pertanyaan.<br>
Saya menjama’ <em>takhir</em> shalat Maghrib dengan ‘Isya ketika sedang safar. Tetapi ketika saya sampai di lokasi tujuan, ternyata sudah masuk waktu ‘Isya dan <em>iqamah</em> sudah dikumandangkan. Pertanyaan saya :</p>
<ol>
<li>Apakah saya harus shalat ‘Isya <em>berjama’ah</em> dahulu atau shalat Maghrib dahulu, baru kemudian shalat ‘Isya?</li>
<li>Apakah boleh shalat ‘Isya <em>berjama’ah</em>, tetapi dengan niat shalat Maghrib. Mohon dijelaskan tehnisnya.</li>
</ol>
<p>Jawaban<strong>.</strong><br>
Perlu diketahui, tertib dalam melakukan shalat ialah melakukan shalat Dhuhur kemudian ‘Ashar, atau Maghrib kemudian ‘Isya, adalah syarat dalam <em>jama’</em>, sebagaimana dijelaskan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam <em>Syarhul Mumti’</em>, 4/871. Beliau rahimahullah mengatakan, disyaratkan tertib dengan memulai yang pertama kemudian yang kedua, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p><strong>صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي </strong></p>
<p>(<em>Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat</em>) -HR al Bukhari. Juga karena <em>syari’at</em> menjelaskan tertib waktu-waktu shalat, sehingga shalat, wajib dilakukan pada waktu yang telah disusun pembuat <em>syari’at</em>.</p>
<p>Kemudian Syaikh Ibnu ‘Utsaimin memberikan contoh. Seseorang berniat <em>jama’ ta’khir</em>, kemudian masuk masjid dan mendapati orang-orang shalat ‘Isya, lalu ia masuk ikut mereka (<em>berjama’ah</em>) dengan niat shalat Isya’. Dan ketika selesai shalat ‘Isya, ia shalat Maghrib. Maka kami katakan, shalat ‘Isya’nya tidak sah, karena ia mendahulukan dari Maghrib dan tertib itu adalah syarat. Sehingga ia mengulangi lagi shalat ‘Isyanya lagi, sedangkan shalat Maghribnya sah. Pengertian tidak sah disini adalah, tidak sah sebagai shalat <em>fardhu</em> yang menghilangkan kewajiban, namun ia menjadi shalat sunnah yang diberi pahala.<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a></p>
<p>Berkenaan dengan  pertanyaan tersebut, kami bawakan pula fatwa <strong>Lajnah ad Da’imah lil Buhuts al ‘Ilmiyah wal Ifta`, Saudia Arabia, no. fatwa 425 yang berbunyi:</strong></p>
<p>Barangsiapa yang mendapatkan keringanan safar, maka diperbolehkan <em>menjama’</em> shalat ‘Ashar dengan Dhuhur, baik <em>jama’ taqdim</em> (di waktu Dhuhur) atau <em>jama’ ta’khir</em> (di waktu ‘Ashar), dan <em>menjama’</em> shalat Maghrib dan ‘Isya dengan <em>jama’ taqdim</em> (di waktu Maghrib) atau <em>jama’ ta’khir</em> (di waktu ‘Isya) sesuai dengan kemaslahatan musafir tersebut. Namun dalam <em>jama’</em> tersebut diwajibkan tertib. Dia shalat Dhuhur dulu kemudian shalat ‘Ashar, dan shalat Maghrib dahulu baru shalat ‘Isya, baik dilakukan dalam <em>jama’ taqdim</em> maupun <em>ta’khir</em>. <a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a></p>
<p><strong>Fatwa Lajnah Da’imah no. 12014 berbunyi</strong>:<br>
Wajib bagi orang yang mengakhirkan shalat Maghrib ke shalat ‘Isya dalam safar (bepergian), untuk memulainya dengan shalat Maghrib terlebih dahulu. Apabila ia masuk bersama orang yang shalat ‘Isya dan berniat shalat Maghrib, kemudian duduk pada <em>raka’at</em> ketiga, maka shalatnya sah. <a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a></p>
<p>Dari fatwa-fatwa di atas menjadi jelas, bila kita ingin <em>menjama’</em> shalat Maghrib dan ‘Isya pada waktu ‘Isya, maka wajib mendahulukan shalat Maghrib walaupun mendapati <em>jama’ah</em> shalat ‘Isya. Apabila didahulukan shalat ‘Isyanya, maka dianggap belum menunaikan shalat ‘Isya, sehingga mengulangi shalat ‘Isya lagi setelah melaksanakan shalat Maghrib.</p>
<p>Jadi, bila Anda berniat shalat Maghrib di belakang imam shalat ‘Isya, maka boleh duduk pada rakaat ketiga, sambil menunggu imam selesai shalat, dan salam setelah imam salam.</p>
<p><em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 7-8/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]<br>
________<br>
Footnote<br>
<a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> <em>Syarhul Mumti’</em>, 4/572.<br>
<a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> <em>Fatawa Lajnah Daimah</em>, 8/138-139.<br>
<a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> <em>Fatwa Lajnah Daimah,</em> 8/139.</p>
 