
<p>Jangan berkata uff (ahh) kepada orang tua. Apa maksud dari kalimat uff atau ahh?</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 14pt;">وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا</span></p>
<p>“<em>Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan <a href="https://rumaysho.com/23563-tsalatsatul-ushul-ibadah-dan-macamnya-kapan-disebut-syirik.html" target="_blank" rel="noopener">menyembah selain Dia</a> dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali <strong>janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”</strong> dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia</em>.” (QS. Al-Isra’: 23)</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga: <a href="https://rumaysho.com/tag/bakti-orang-tua" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;">Berbagai Artikel Berbakti pada Orang Tua</span></a></strong></span></p>
<p>Kata Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari <em>rahimahullah </em>yang dimaksud dengan ayat di atas,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 14pt;">فلا تؤفف من شيء تراه من أحدهما أو منهما مما يتأذّى به الناس، ولكن اصبر على ذلك منهما، واحتسب في الأجر صبرك عليه منهما، كما صبرا عليك في صغرك</span></p>
<p>“Janganlah berkata ah, jika kalian melihat sesuatu dari salah satu atau sebagian dari keduanya yang dapat menyakiti manusia. Akan tetapi, <strong>bersabarlah dari mereka berdua</strong>. Lalu raihlah pahala dengan bersabar pada mereka sebagaimana mereka bersabar merawatmu kala kecil.” (<em>Tafsir Ath-Thabari</em>, 15:82)</p>
<p>Mengenai maksud berkata uff (ah) dalam ayat, dikatakan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 14pt;">كلّ ما غلظ من الكلام وقبُح</span></p>
<p>“Segala bentuk perkataan keras dan perkataan jelek (pada orang tua, pen.).” (<em>Tafsir Ath-Thabari</em>, 15:82)</p>
<p>Imam Ibnu katsir <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 14pt;">وَلاَ التَّأْفِيْفُ الَّذِي هُوَ أَدْنَى مَرَاتِبِ القَوْلِ السَّيْءِ</span></p>
<p>“Jangan berkata ah, yang dimaksud adalah seringan-ringannya perkataan jelek.” (<em>Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim</em>, 5:63)</p>
<p>Syaikh As-Sa’di <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 14pt;">هَذَا أَدْنَى مَرَاتِبِ الأَذَى نُبِّهَ بِهِ عَلَى مَا سِوَاهُ وَالمعْنَى وَلاَ تُؤَذِّهِمَا أَدْنَى أَذِيَّةٍ</span></p>
<p>“Ini adalah bentuk menyakiti orang tua yang paling ringan, hal ini diingatkan dari bentuk menyakiti lainnya. Maknanya adalah jangan sakiti keduanya walaupun itu dianggap ringan.” (<em>Tafsir As-Sa’di</em>, hlm. 479)</p>
<p>Kita simpulkan, berkata <em>ah</em> atau <em>uff</em> yang bentuknya menyakiti perasaan orang tua termasuk durhaka (‘uquq walidain). Imam Nawawi dalam <em>Al-Minhaj Shahih Muslim</em> (2:78) berkata, ”‘<em>Uququl walidain</em> atau <strong><em>durhaka kepada orang tua</em> </strong>adalah:</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 14pt;">مَايَتَأَذَّى بِهِ الوَالِدَ</span></p>
<p><strong><em>“Segala bentuk menyakiti orang tua.”</em></strong></p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga: <a href="https://rumaysho.com/6684-kapan-disebut-durhaka-pada-orang-tua.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;">Kapan Disebut Durhaka pada Orang Tua</span></a></strong></span></p>
<p><em>Semoga Allah memberi taufik dan kita dihindarkan dari sifat durhaka kepada orang tua kita.</em></p>
<p> </p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga:</strong></span></p>
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/20613-bulughul-maram-akhlak-durhaka-kepada-ibu-sibuk-berita-koran-buang-buang-harta.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="font-size: 12pt;"><strong>Durhaka kepada Ibu</strong></span></a></span></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/14662-anak-durhaka-saat-orang-tua-stroke.html" target="_blank" rel="noopener"><strong><span style="font-size: 12pt; color: #ff0000;">Anak Durhaka Saat Orang Tua Stroke</span></strong></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/809-celakalah-anak-yang-durhaka.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="font-size: 12pt; color: #ff0000;"><strong>Celakalah Anak yang Durhaka</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/8692-haruskah-istri-berbakti-pada-mertua.html" target="_blank" rel="noopener"><strong><span style="font-size: 12pt; color: #ff0000;">Haruskah Istri Berbakti pada Mertua?</span></strong></a></li>
</ul>
<p> </p>
<h4><strong>Referensi:</strong></h4>
<ol>
<li>
<em>Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj.</em> Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm.</li>
<li>
<em>Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim.</em> Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.</li>
<li>
<em>Tafsir As-Sa’di.</em> Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.</li>
<li>
<em>Tafsir Ath-Thabari (Jaami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Aayi Al-Qur’an).</em> Cetakan pertama, Tahun 1423 H. Al-Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari. Penerbit Dar Ibnu Hazm.</li>
</ol>
<p>—</p>
<p>Diselesaikan pada Selasa pagi, 6 Jumadal Akhirah 1442 H, 19 Januari 2021 di <a href="https://darushsholihin.com">Darush Sholihin</a>, Panggang, Gunungkidul</p>
<p>Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="https://rumaysho.com">Rumasyho.Com</a></p>
 