
<p><iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/388306958&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe></p>
<h2><strong>Jangan Ceritakan Dosa Zina</strong></h2>
<p><em>Saya telah melakukan dosa zina sewaktu kecil, tapi saya tidak tahu itu dosa tpi saat bersamaan saya takut ketahuan, saya saat ini ingin menikah tapi saya tidak mau mengatakan dosa zina tersebut kepada calon suami saya karena ini bersangkutan nanti dengan keluarga besar, bagaimana saya harus bersikap secara islam?</em></p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,</em></p>
<p>Bukan syarat taubat dari zina harus menceritakan dan melaporkan dosa zina itu kepada orang lain, siapapun dia. Baik calon suaminya, orang tuanya, saudaranya, ustadnya, gurunya, bahkan termasuk pemimpin yang ada di negerinya.</p>
<p>Buraidah bin Hashib <em>Radhiyallahu ‘anhu</em> pernah bercerita,</p>
<p>Suatu ketika Maiz bin Malik datang menghadap Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab">يَا رَسُولَ اللهِ، طَهِّرْنِي</p>
<p><em>“Ya Rasulullah, sucikan aku…”</em></p>
<p>Jawab Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em></p>
<p class="arab">وَيْحَكَ، ارْجِعْ فَاسْتَغْفِرِ اللهَ وَتُبْ إِلَيْهِ</p>
<p><em>“Jangan lancang…, pulang dan memohon ampun kepada Allah, taubat kepada-Nya.”</em></p>
<p>Pulanglah Maiz. Tidak berselang lama, dia datang lagi. Dia tetap melaporkan,</p>
<p class="arab">يَا رَسُولَ اللهِ، طَهِّرْنِي</p>
<p><em>“Ya Rasulullah, sucikan aku…</em>”</p>
<p>Jawab Nabi S<em>hallallahu ‘alaihi wa sallam,</em></p>
<p class="arab">وَيْحَكَ، ارْجِعْ فَاسْتَغْفِرِ اللهَ وَتُبْ إِلَيْهِ</p>
<p><em>“Jangan lancang…, pulang dan memohon ampun kepada Allah, taubat kepada-Nya.”</em></p>
<p>Pulanglah Maiz. Tidak berselang lama, dia datang lagi. Dia tetap melaporkan yang sama dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jawaban yang sama sampai 3 kali. Hingga di kedatangan yang keempat, baru Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menerima pengaduan Maiz. (HR. Muslim 1695 dan Nasai dalam al-Kubro 7125).</p>
<p>Hadis ini dengan tegas menunjukkan bahwa <strong>BUKAN</strong> syarat taubat harus mengaku. Karena inti dari taubat adalah memohon ampun kepada Allah karena menyesali perbuatannya. Bahkan Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyarankan sebisa mungkin dirahasiakan.</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">مَنْ أَصَابَ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ</p>
<p><strong>“Siapa yang tertimpa musibah maksiat dengan melakukan perbuatan semacam ini (perbuatan zina), hendaknya dia menyembunyikannya, dengan kerahasiaan yang Allah berikan.”</strong> (HR. Malik dalam Al-Muwatha’, no. 1508)</p>
<p>Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,</p>
<p class="arab">ويؤخذ من قضيته – أي : ماعز عندما أقرَّ بالزنى – أنه يستحب لمن وقع في مثل قضيته أن يتوب إلى الله تعالى ويستر نفسه ولا يذكر ذلك لأحدٍ . . .</p>
<p>Berdasarkan kasus ini – Sahabat Maiz yang mengaku berzina – menunjukkan bahwa dianjurkan bagi orang yang terjerumus ke dalam kasus zina untuk bertaubat kepada Allah – Ta’ala – dan menutupi kesalahan dirinya, dan tidak menceritakannya kepada siapapun.</p>
<p>Lalu beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">وبهذا جزم الشافعي رضي الله عنه فقال : أُحبُّ لمن أصاب ذنباً فستره الله عليه أن يستره على نفسه ويتوب..</p>
<p>Dan ini juga yang ditegaskan as-Syafii <em>Radhiyallahu ‘anhu</em>, beliau mengatakan,</p>
<p>Saya menyukai bagi orang yang pernah melakukan perbuata dosa, lalu dosa itu dirahasiakan Allah, agar dia merahasiakan dosanya dan serius bertaubat kepada Allah… (Fathul Bari, 12/124).</p>
<p>Orang lain tidak memiliki kepentingan dengan maksiat kita yang sifatnya pribadi. Sehingga sekalipun dia tidak tahu, tidak akan memberikan pengaruh apapun bagi kehidupannya. Sebaliknya, ketika dia tahu, tidak akan semakin memperbaiki dirinya. Apalagi ketika maksiat itu dilakukan saat belum baligh, yang tidak ada nilai dosa sama sekali.</p>
<p>Karena itu, bertaubatlah dan jangan ceritakan dosa zina kepada siapapun sampai mati!!</p>
<p>Demikian. <em>Allahu a’lam.</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)</strong></p>
<p>Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><strong>Tanya Ustadz untuk Android</strong></a>.<br>
<a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><strong>Download Sekarang !!</strong></a></p>
<p><strong>KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting <a href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</a>.</strong></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>SPONSOR</strong> hubungi: 081 326 333 328</li>
<li>
<strong>DONASI</strong> hubungi: 087 882 888 727</li>
<li>
<strong>REKENING DONASI</strong> : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK</li>
</ul>
 