
<p>Perasaan diri suci, pasca upaya untuk menyucikan diri adalah manusiawi, alias wajar-wajar saja. Tapi mengapa dilarang?</p>
<p>“Ustad,<br>
 sebagai manusia biasa, kadang terlintas di hati bahwa aku adalah orang<br>
yang terbaik di antara mereka. Bagaimana cara mengatasinya? Apa yang<br>
harus kulakukan? Aku tahu hal itu tidak boleh.” Begitu pesan singkat<br>
yang saya terima dari salah satu jamaah pengajian saya beberapa waktu<br>
lalu. Sebelum saya bahas solusi penyakit hati tersebut, perlu kiranya<br>
dijelaskan duduk permasalahannya. Sebab mungkin ada di antara pembaca<br>
majalah [Majalah Pengusaha Muslim Indonesia, red] ini yang bertanya-tanya: “Apa salahnya kita merasa paling baik.<br>
Toh kita sudah berusaha untuk memperbaiki diri. Bukankah itu konsekuensi<br>
 hasil sebuah usaha?</p>
<p><b>Antara Usaha Menyucikan Diri dan Merasa Suci</b></p>
<p>Sebagian<br>
 orang kurang bisa membedakan antara “usaha menyucikan diri” dan “merasa<br>
 diri suci.” Seakan keduanya sama, padahal sebenarnya Al-Quran pun<br>
membedakannya. Mari kita cermati dua ayat berikut ini. Ayat pertama, </p>
<p class="arab">“قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى”</p>
<p>yang artinya, <em>“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri.” (</em>QS. Al-A’la: 14). Semakna dengan ayat ini adalah QS. Asy-Syams: 9.</p>
<p>Ayat kedua,</p>
<p class="arab">“فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى”</p>
<p>yang artinya, <em>“Janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dia lebih mengetahui siapa orang yang bertakwa.” (</em>QS. An-Najm: 32). Senada dengan ayat ini adalah QS. An-Nisâ’: 14 dan QS. Yusuf: 53.</p>
<p>Ayat<br>
 pertama berisi motivasi untuk menyucikan diri; jelas perbuatan ini<br>
positif. Sebaliknya ayat kedua berisi larangan mengklaim diri suci; ayat<br>
 ini menjelaskan bahwa perbuatan tersebut adalah negatif.</p>
<p>Ar-Raghib<br>
 al-Ashfahany (wafat pada 425 H) mengistilahkan perbuatan pertama dengan<br>
 “penyucian diri dengan tindak nyata.” Sedangkan perbuatan kedua beliau<br>
namakan “penyucian diri dengan klaim belaka.” (baca: <em>Mufradât Alfâzh al-Qur’ân; </em>hlm. 381)</p>
<p><b>Bukankah perasaan seperti itu manusiawi?</b></p>
<p>Perasaan diri suci, pasca upaya untuk menyucikan diri, bukankah manusiawi, alias wajar-wajar saja. Mengapa dilarang?</p>
<p>Perlu<br>
 diketahui, sesuatu yang manusiawi belum tentu islami. Misalnya,<br>
ketertarikan kepada lawan jenis. Ini manusiawi. Terlebih karena memang<br>
sejalan dengan dorongan syahwat manusia. Namun hal yang manusiawi, bila<br>
disalurkan tanpa aturan, menjadi tidak islami. Begitu pula perasaan diri<br>
 suci dan terbaik atau tersalih. Ini gejala tidak islami. Mengapa?</p>
<p><b>Pertama,</b><br>
 akan menyeret kepada seabreg penyakit hati yang amat berbahaya. Antara<br>
lain kesombongan, keangkuhan, takjub dengan diri sendiri, memandang<br>
remeh orang lain dan yang semisal.Jika seseorang telah terjangkiti<br>
penyakit sombong, walaupun kadarnya hanya sebesar debu, dia terancam<br>
terhalang masuk surga, sebagaimana telah diingatkan oleh Rasulullah <em>Shallallahu ’alaihi wa sallam </em>dalam sabdanya,</p>
<p class="arab">“لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ”</p>
<p><em>“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sifat sombong walaupun sebesar debu.” (</em>HR. Muslim dari Ibnu Mas’ûd)</p>
<p>Perasaan<br>
 sombong amat bertolak belakang dengan konsep ibadah dalam Islam. Sebab<br>
makna dasar ibadah adalah merendahkan diri di hadapan Allah. Maka jika<br>
ada orang rajin beribadah, namun justru kemudian yang muncul dalam<br>
dirinya perasaan sombong, berarti dia telah gagal mencapai tujuan utama<br>
ibadah.</p>
<p>Dari sini kita bisa memahami mengapa seorang ahli ibadah<br>
tersohor; Mutharrif bin Abdullah asy-Syikh-khir (wafat pada 95 H) pernah<br>
 bertutur, “Aku lebih suka bila ketiduran sehingga tidak bisa bangun<br>
malam, lalu menyesal di pagi harinya, dibandingkan bila aku bisa bangun<br>
malam, namun kemudian di hatiku muncul perasaan takjub!.” (<em>Hilyah al-Auliyâ’</em> karya Abu Nu’aim al-Ashbahany; II/200)</p>
<p><b>Kedua,</b><br>
 tidaklah pantas kita merasa suci. Mengapa? Sebab jika kita mau<br>
merenungi sejauh mana kesempurnaan upaya kita untuk menyucikan diri,<br>
niscaya kita bisa berkaca, alangkah jauhnya kita dari potret kesucian!<br>
Maka akan sangat naïf bila kita merasa suci.</p>
<p>Sekadar contoh:<br>
sholat lima waktu yang selalu kita kerjakan secara berjamaah di masjid<br>
tepat pada waktunya. Selama sekian puluh tahun kita menjalankannya,<br>
pernahkah kita menunaikannya dengan kekhusyukan sempurna, sejak dari<br>
takbiratul ihram hingga mengucapkan salam? Sekali saja dalam kurun waktu<br>
 yang amat panjang itu?! Silakan dijawab dengan jujur.</p>
<p>Ini baru<br>
ibadah sholat. Bagaimana jika kita telusuri kualitas ibadah kita<br>
lainnya, semisal puasa, zakat, haji, dan zikir? Apalagi bila kita<br>
introspeksi, deretan maksiat lain, setiap hari juga kita kerjakan. Entah<br>
 dosa semisal mata jelalatan, atau tutur kata tidak jujur. Atau pun dosa<br>
 tersembunyi seperti iri-dengki, <em>riya’ </em>dan buruk sangka. Di<br>
situlah kita akan menyadari betapa jauhnya kita dari potret ideal orang<br>
yang suci. Maka mengapa kita masih juga merasa sok suci?</p>
<p>Karena<br>
itu, bila kita mencermati perjalanan hidup kaum salih terdahulu, kita<br>
akan dapatkan mereka adalah orang-orang yang begitu jauh dari perasaan<br>
sok suci. Mereka adalah generasi yang begitu tekun dalam beribadah,<br>
namun mereka amat rendah hati, bahkan cenderung merasa khawatir dengan<br>
nasib akhir mereka kelak di akhirat.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala </em>merekam jejak menakjubkan mereka dalam firman-Nya,</p>
<p class="arab">“وَالَّذِينَ<br>
 يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ<br>
رَاجِعُونَ . أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا<br>
سَابِقُونَ”.</p>
<p>yang artinya: <em>“Mereka yang memberikan sedekah dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada </em>Rabb<em>-nya. Mereka itu bersegera dalam kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya.”</em>(QS. Al-Mukminun: 60-61)</p>
<p>Ummul Mukminin ‘Aisyah <em>Radhiyallahu’anha </em>saat membaca ayat tersebut terheran-heran, lalu bertanya kepada Nabiyullah <em>Shallallahu’alaihiwasallam, </em>“Wahai<br>
 Rasulullah, siapakah yang dimaksud dalam ayat ini; apakah orang yang<br>
merasa takut kepada Allah? Apakah ia adalah orang yang minum <em>khamr</em> dan mencuri?” <em>“Bukan<br>
 wahai putri Abu Bakr! Ia adalah orang yang menunaikan sholat, berpuasa<br>
dan bersedekah, namun ia juga merasa takut amalannya tidak diterima.” </em>(HR. Tirmidzy dan dinilai sahih oleh Al-Albany)</p>
<p>Ya,<br>
 begitulah potret ideal orang yang beriman. Gemar beramal namun hatinya<br>
tetap diliputi perasaan khawatir mengenai nasib amalannya. Bukan orang<br>
yang amalannya pas-pasan, bahkan cenderung kurang, tapi begitu <em>pede </em>memandang dirinya suci. Tutup pintu itu rapat-rapat!</p>
<p>Saking menjaga supaya tidak muncul perasaan sok suci, sampai Nabi kita Muhammad <em>Shalllallahu ’alaihi wa sallam </em>merasa perlu untuk mengubah nama yang berkonotasi demikian.</p>
<p>Dikisahkan dalam <em>Shahîh Muslim, </em>salah satu sahabat Nabi <em>Shallallahu ’alaihi wa sallam </em>menamakan anak perempuannya “Barroh”, yang kurang lebih maknanya “wanita yang sangat berbakti”. Rasulullah <em>Shallallahu ’alaihi wa sallam </em>pun menasihati: <em>“Janganlah<br>
 kalian menganggap diri kalian suci. Sesungguhnya Allah lebih mengetahui<br>
 siapakah yang sejatinya berbakti di antara kalian.” </em>Lalu beliau memerintahkan agar namanya diganti dengan “Zainab”.</p>
<p>Mari kita berusaha meneladani Rasulullah <em>Shallallahu ’alaihi wa sallam </em>dalam<br>
 menutup setiap celah yang mengantarkan kepada perasaan buruk. Jadikan<br>
“Sucikan diri, namun jangan merasa sok suci!” sebagai slogan kita. (Majalah Cetak PM)</p>
<ul>
<li><b>PengusahaMuslim.com didukung oleh Zahir Accounting <a href="http://zahiraccounting.com/id">Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.</a></b></li>
<li>Dukung kami dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. 081 326 333 328 &amp; 087 882 888 727</li>
<li>Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) /1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial</li>
</ul>
 