
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam mengambil ilmu agama, kita harus selektif tidak mengambil dari sembarang orang. Demikian juga ilmu dunia, harus selektif. Karena menyerahkan urusan bukan pada ahlinya adalah sumber kehancuran.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ilmu agama harus diambil dari orang yang berilmu agama. Muhammad bin Sirin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;">, beliau mengatakan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><span style="font-weight: 400;">إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم</span></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ilmu ini adalah bagian dari agama kalian, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil ilmu agama” <strong>(Diriwayatkan oleh Ibnu Rajab dalam </strong></span><strong><i>Al ‘Ilal</i>, 1/355).</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/45082-manfaat-kesehatan-jimak-yang-halal.html" data-darkreader-inline-color="">Manfaat Kesehatan Jimak (Hubungan Intim) yang Halal</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ilmu dunia juga tidak boleh ambil sembarangan. Harus diambil dari yang ahli dan berilmu di bidangnya. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><span style="font-weight: 400;">وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً</span></span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya” </span></i><strong>(QS. Al-Isra’ : 36).</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Katsir </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><span style="font-weight: 400;">أن الله تعالى نهى عن القول بلا علم بل بالظن الذي هو التوهم والخيال</span></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Allah <em>Ta’ala</em> melarang untuk bicara tanpa ilmu, yaitu bicara dengan sekedar sangkaan yang merupakan kerancuan dan khayalan” <strong>(</strong></span><strong>Tafsir Ibnu Katsir).</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka ayat ini umum berlaku untuk masalah agama atapun masalah dunia, tidak boleh bicara tentang sesuatu yang tidak diketahui dan tidak diilmui. Dan orang yang melakukannya akan dimintai pertanggungjawaban.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/33999-tahnik-dan-manfaat-kesehatan-mitos-atau-fakta-01.html" data-darkreader-inline-color=""><strong>Tahnik dan Manfaat Kesehatan, Mitos atau Fakta?</strong></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berbicara tentang sesuatu dengan modal prasangka adalah akhlak yang tercela dan merupakan dosa. Allah berfirman:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><span style="font-weight: 400;">اِجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ</span></span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Jauhilah kalian dari kebanyakan persangkaan, sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa”</span></i><strong> (QS. Al-Hujuraat: 12).</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam </span></i><span style="font-weight: 400;">juga bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><span style="font-weight: 400;">إياكم والظنَّ، فإنَّ الظنَّ أكذب الحديث</span></span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Jauhilah prasangka, karena prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta”</span></i><strong> (HR. Bukhari-Muslim).</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan menyerahkan urusan kepada orang yang tidak ahli adalah salah satu tanda kiamat. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><span style="font-weight: 400;">بينما النبي صلى الله عليه وسلم في مجلس يحدث القوم جاءه أعرابي فقال: متى الساعة؟ فمضى رسول الله صلى الله عليه وسلم يحدث فقال بعض القوم: سمع ما قال فكره ما قال. وقال بعضهم: بل لم يسمع. حتى إذا قضى حديثه قال ((أين السائل عن الساعة)). قال: ها أنا يا رسول الله قال: ((فإذا ضيعت الأمانة فانتظر الساعة)). قال كيف إضاعتها؟ قال: ((إذا وسد الأمر إلى غير أهله فانتظر الساعة))  </span></span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam duduk berceramah kepada beberapa orang, datang seorang Arab Badwi lalu ia bertanya: “kapan kiamat?”. Namun Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam meneruskan ceramahnya. Maka sebagian orang berkata: “Sebenarnya Nabi mendengar orang Badwi tadi, namun Nabi tidak menyukai apa yang dikatakannya”. Sebagian orang berkata: “Nampaknya Nabi tidak mendengarnya”. Hingga ketika Nabi selesai berceramah, Nabi bertanya: “mana orang yang bertanya tentang kiamat?”. Orang tadi menjawab: “saya wahai Rasulullah”. Nabi bersabda: “Ketika amanat disia-siakan, maka tunggulah kiamat”. Ia bertanya lagi: “apa maksudnya amanah disai-siakan?”. Nabi menjawab: “Jika urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat!””</span></i><strong> (HR. Bukhari no.59).</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/50747-jangan-risau-dan-khawatir-dengan-jatah-rizki-kita-bag-1.html" data-darkreader-inline-color=""><strong>Jangan Risau dan Khawatir dengan ”Jatah” Rizki Kita</strong></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka wajib menyerahkan segala urusan kepada orang yang berkompeten, termasuk masalah kesehatan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ilmu kesehatan, harus diambil dari ahli kesehatan seperti dokter, tabib, dan semisalnya. Bukan orang yang hanya ikut pelatihan kesehatan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ilmu herbal juga harus diambil dari ahli herbal. Yang bertahun-tahun belajar herbal*). Bukan orang yang hanya ikut pelatihan herbal.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian juga dokter tidak punya kapasitas bicara herbal, kecuali dia belajar herbal. Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><span style="font-weight: 400;">مَن تطبَّبَ ولا يُعلَمْ منه طِبٌّ فهوَ ضامنٌ</span></span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang berlagak melakukan pengobatan padahal ia tidak mengetahui ilmu pengobatan, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban”</span></i><strong> (HR. Abu Daud no. 4586, dihasankan Al Albani dalam <i>Shahih Abu Daud</i>).</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian jika kita berbicara mengenai <em>thibbun Nabawi</em>, maka dia harus paham ilmu kesehatan dan paham ilmu agama. Karena thibbun Nabawi itu disandarkan kepada agama.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tidak layak orang yang tidak paham Al Qur’an dan hadits bicara<em> thibbun Nabawi</em>. Hendaknya tinggalkan orang yang demikian!!</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/47972-menceritakan-rahasia-hubungan-suami-istri.html" data-darkreader-inline-color="">Menceritakan Rahasia Hubungan Suami-Istri</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/47429-pengertian-thibb-nabawi-dan-cara-menyikapinya-bag-3.html" data-darkreader-inline-color="">Pengertian Thibb Nabawi dan Cara Menyikapinya</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah memberi Taufiq.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">**</span></p>
<p><strong>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/yulian-purnama-s-kom" data-darkreader-inline-color=""> Yulian Purnama</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 