
<p><span style="font-weight: 400;">Kembali orang liberal (yang mengaku beragama Islam) menyebarkan tuduhan bahwa umat Islam menyembah ka’bah. Mereka menyamakan umat Islam dengan agama yang bersujud di depan batu dan patung. Beberapa orang Islam yang lemah iman dan ilmunya (sangat awam) bisa jadi terpengaruh dengan tuduhan (syubhat) ini. Orang yang beragama selain Islam pun bisa jadi berkata: “Ternyata sama saja agama Islam ini, menyembah batu juga (ka’bah)”. Tentu hal ini bisa menghalangi mereka dari hidayah dan menjadikan citra buruk agama Islam.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/20564-ngalap-berkah-dari-kain-kiswah-kabah.html" data-darkreader-inline-color="">Ngalap Berkah dari Kain Kiswah Kabah</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jawaban hal ini cukup mudah, karena semua orang Islam yakin (bahkan sebagian non muslim juga) paham bahwa ka’bah adalah arah kiblat kaum muslimin. Berikut beberapa poin jawaban dari tuduhan (syubhat) tersebut:</span></p>
<ol>
<li><span style="font-weight: 400;"> Allah <em>Ta’ala</em> memerintahkan kita dalam Al-Quran agar menyembah Rabb dari ka’bah ini. Jadi, bukan ka’bah sebagai Rabb yang disembah. </span></li>
<li><span style="font-weight: 400;"> Kiblat kaum muslimin di awal Islam bukan ke arah ka’bah tetapi ke arah baitul maqdis di Palestina. Jadi apakah Rabb berganti apabila berpindah? Tentu tidak kan?</span></li>
<li><span style="font-weight: 400;"> Tidak ada kaum muslimin yang membuat bangunan semisal ka’bah atau miniatur ka’bah kemudian ditaruh di masjid untuk disembah atau di bawa ke mana-mana untuk disembah</span></li>
<li><span style="font-weight: 400;"> Bahkan orang kafir quraisy pun tidak menyembah ka’bah saat itu, mereka menaruh berhala-berhala mereka di ka’bah.</span></li>
</ol>
<p><strong>Berikut penjelasan dari poin di atas:</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/45076-keajaiban-dan-keistimewaan-maqam-ibrahim.html" data-darkreader-inline-color="">Keajaiban dan Keistimewaan Maqam Ibrahim</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong> 1. Allah memerintahkan kita dalam AL-Quran agar menyembah Rabb dari ka’bah ini. </strong><span style="font-weight: 400;"><strong>Jadi bukan ka’bah sebagai Rabb yang disembah.</strong> </span></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah).” <strong>[QS. Al-Quraisy: 3]</strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penegasan perintah ini agar menyembah Rabb dari ka’bah adalah karena saat itu (di awal-awal Islam) di dalam ka’bah ada berhala-berhala yang ditaruh oleh orang kafir Quraisy. Ahli tafsir Al-Qurthubi menjelaskan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">والبيت : الكعبة . وفي تعريف نفسه لهم بأنه رب هذا البيت وجهان : أحدهما لأنه كانت لهم أوثان فيميز نفسه عنها . الثاني : لأنهم بالبيت شرفوا على سائر العرب</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Maksud dari ‘Al-Bait’ adalah ka’bah. Allah menjelaskan bahwa Allah adalah Rabb ka’bah karena dua alasan. Pertama: orang quraiys memiliki berhala-berhala dan membedakan Allah dari berhala tersebut. Kedua: karena orang Arab saat itu memuliakan ka’bah (Ajaran nabi Ibrahim &amp; Ismail).” <strong>[Tasir Al-Qurthubi]</strong></span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/9139-potret-kejahatan-syiah-dalam-sejarah.html" data-darkreader-inline-color="">Potret Kejahatan Syi’ah dalam Sejarah</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;"> 2. Kiblat kaum muslimin di awal Islam bukan ke arah ka’bah tetapi ke arah baitul maqdis di Palestina. Jadi apakah Rabb berganti apabila berpindah? </span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah menurunkan ayat terkait perpindahan kiblat kaum muslimin. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu berada, Palingkanlah mukamu ke arahnya. <strong>[QS. Al-Baqarah:144]</strong></span></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;"> 3. Tidak ada kaum muslimin yang membuat permisalan ka’bah atau minatur ka’bah kemudian ditaruh di masjid untuk disembah atau di bawa ke mana-mana untuk disembah</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad Rasyid Ridha menjelaskan bahwa tuduhan umat islam adalah penyembah berhala (ka’bah dan hajar aswad) itu tidak benar, beliau berkata:</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الذين يشككون المسلمين في دينهم بأمثال هذا الكلام المبني على جهل قائليه من جهة ، وسوء نيتهم في الغالب من جهة أخرى </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Mereka membuat ragu kaum muslimin mengenai agama mereka dengan perkataan semisal ini (Umat Islam menyembah berhala), perkataan ini dibangun di atas kejahilan orang yang mengucapkannya dari berbagai sisi dan niat jelek dari sisi yang lain.” <strong>[Majallah AL-Manar 16/675]</strong></span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/45303-ujian-dan-keutamaan-tinggal-di-kota-madinah.html" data-darkreader-inline-color="">Ujian dan Keutamaan Tinggal di Kota Madinah</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">4. Bahkan orang kafir quraisy pun tidak menyembah ka’bah saat itu, mereka menaruh berhala-berhala mereka di ka’bah.</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika Fathul Mekkah, kaum muslimin menghancurkan berhala-berhala ini dari ka’bah dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghancurkan berhala-berhala di ka’bah tersebut dengan tangan beliau sendiri dengan membaca firman Allah.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">قُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَمَا يُبْدِئُ الْبَاطِلُ وَمَا يُعِيدُ </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Katakanlah: “Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi”. <strong>[QS. Saba’: 49]</strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian pembahasan singkat ini. Semoga Allah menjaga kaum muslimin dari tuduhan dan syubhat orang liberal yang ingin menghancurkan Islam.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/50575-bercita-cita-meninggal-di-tanah-suci.html" data-darkreader-inline-color="">Bercita-cita Meninggal di Tanah Suci</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/47427-kewajiban-suami-kepada-istri-untuk-mengajarkan-perkara-agama.html" data-darkreader-inline-color="">Kewajiban Suami kepada Istri dalam Mengajarkan Perkara Agama </a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><span style="font-weight: 400;">@ Bandara Hasanuddin, Makasar, Kota Angin Mamiri</span></p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color="">Raehanul Bahraen</span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 