
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin</strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Pertanyaan:</strong></span></p>
<p>Apa saja jenis <em>iradah </em>(kehendak) Allah?</p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Jawaban:</strong></span></p>
<p><em>Iradah </em>(kehendak) Allah itu terbagi menjadi dua macam,</p>
<p>Pertama<em>, iradah kauniyah.</em></p>
<p>Kedua<em>, iradah syar’iyyah.</em></p>
<p>Yang sejenis dengan istilah <em>al-masyi’ah </em>(kehendak) adalah <em>iradah kauniyyah. </em>Adapun yang sejenis dengan istilah <em>al-mahabbah </em>(mencintai) adalah <em>iradah syar’iyyah. </em></p>
<p>Di antara contoh <em>iradah syar’iyyah </em>adalah firman Allah <em>Ta’ala,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَاللّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ</span></p>
<p>“<em>Dan Allah <strong>hendak</strong> menerima tobatmu</em>.” (QS. An-Nisa’: 27)</p>
<p>Kata (<span style="font-size: 21pt;">يُرِيدُ</span>) bermakna <em>“mencintai”,</em> dan bukan bermakna <em>“al-masyi’ah”. </em>Jika dimaknai dengan <em>al-masyi’ah, </em>konsekuensinya adalah semua hamba Allah (manusia) akan bertobat. Ini sesuatu yang tidak terjadi karena mayoritas manusia berada di atas kekafiran. Sehingga makna ayat tersebut adalah, <em>“Allah suka (mencintai) menerima taubatmu.” </em>Adanya kecintaan Allah terhadap sesuatu tidak mengharuskan sesuatu tersebut terjadi. Hal ini karena ada hikmah <em>ilahiyah</em> yang sempurna yang menuntut tidak terjadinya sesuatu yang Allah cintai tersebut.</p>
<p>Adapun contoh <em>iradah kauniyah </em>adalah firman Allah <em>Ta’ala,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِن كَانَ اللّهُ يُرِيدُ أَن يُغْوِيَكُمْ</span></p>
<p>“ … <em>sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu</em> …” (QS. Huud: 34)</p>
<p>Hal ini karena Allah <em>Ta’ala </em>tidak suka untuk menyesatkan manusia. Sehingga tidak tepat jika ayat tersebut dimaknai, <em>“Sekiranya Allah suka menyesatkan kamu.” </em>Akan tetapi, makna yang tepat adalah, <em>“Sekiranya Allah berkehendak (dengan iradah kauniyah, pent.) menyesatkan kamu.”</em></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong><a href="https://muslim.or.id/68750-sepuluh-kaidah-pemurnian-tauhid.html">Sepuluh Kaidah Pemurnian Tauhid</a></strong></p>
<p>Akan tetapi, masih tersisa pertanyaan, <em>“Lalu, apa perbedaan antara iradah kauniyah dan iradah syar’iyyah ditinjau dari sisi terjadinya sesuatu yang dikehendaki?”</em></p>
<p>Kami katakan, sesuatu yang dikehendaki dengan <em>iradah kauniyah </em>itu pasti terjadi. Jika Allah menghendaki sesuatu secara <em>kauni, </em>maka pasti akan terjadi. Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئاً أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ</span></p>
<p>“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu, hanyalah berkata kepadanya, ‘Jadilah!’, maka terjadilah ia.” (QS. Yasin: 82)</p>
<p>Adapun <em>iradah syar’iyyah, </em>bisa saja terjadi, dan bisa juga tidak terjadi. Terkadang Allah menghendaki sesuatu secara <em>syar’i</em> dan mencintai sesuatu tersebut, akan tetapi sesuatu tersebut tidak terjadi. Karena perkara yang dicintai itu bisa terjadi dan bisa juga tidak terjadi.</p>
<p>Jika ada seseorang yang bertanya, <em>“Apakah Allah menghendaki terjadinya maksiat?”</em></p>
<p>Kita katakan, Allah menghendakinya secara <em>kauni, </em>namun tidak secara <em>syar’i. </em>Hal ini karena <em>iradah syar’iyyah </em>itu bermakna <em>al-mahabbah, </em>dan Allah tidak mencintai kemaksiatan. Akan tetapi, Allah menghendakinya secara <em>kauni, </em>atau <em>al-masyi’ah. </em>Semua (kejadian) yang ada di langit dan di bumi ini sesuai dengan <em>masyi’ah </em>Allah <em>Ta’ala.</em></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li class="jeg_post_title"><a href="https://muslim.or.id/66426-makna-rukun-dan-syarat-kalimat-tauhid.html">Makna, Rukun dan Syarat Kalimat Tauhid</a></li>
<li class="jeg_post_title"><strong><a href="https://muslim.or.id/60924-penyimpangan-dalam-tauhid-asma-wa-shifat.html">Penyimpangan dalam Tauhid Asma’ wa Shifat</a></strong></li>
</ul>
<p>***</p>
<p>@Rumah Kasongan, 12 Dzulhijah 1443/ 12 Juli 2022</p>
<p><strong>Penerjemah: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color="">www.muslim.or.id</span></strong></p>
<p> </p>
<p><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<p>Diterjemahkan dari kitab <em>Fataawa Arkaanil Islaam, </em>hal. 103-104, pertanyaan no. 36.</p>
<p> </p>
 