
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong>Yang dianggap dalam mu’amalah adalah sesuai yang terjadi, bukan sesuai dugaannya.</strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Telah disebutkan bahwa dugaan kuat dapat digunakan dalam masalah ibadah &gt;&gt;<a href="http://cintasunnah.com/kaidah-fikih-21-dugaan-kuat-digunakan-dalam-ibadh/">(Kaidah Fikih 21)</a>&lt;&lt; Adapun dalam mu’amalah yang dianggap adalah sesuai yang terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Apabila si A menjual barang milik B tanpa izinnya, tetapi rupanya B sudah mewakilkan penjualan tanpa sepengetahuan A, maka jual belinya sah. Walaupun haram bagi A menjual milik B tanpa izinnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bila C membayarkan hutang B kepada A, maka dianggap lunas walaupun B tak mengetahuinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bila A menjual milik B tanpa izinnya, ternyata B telah meninggal sebelum terjadinya akad. Dan ternyata A pewaris B maka akadnya sah..<br>
dan sebagainya…</p>
<p style="text-align: justify;">
</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://cintasunnah.com/category/artikel-islami/kaidah-islam/" class="shortc-button medium red "><i class="fa fa fa-paper-plane"></i>Lihat Semua Artikel “Kaidah Islam”</a></p>
 