
<p>Apa ada kaidah baku yang bisa membantu dalam memahami jual beli barang haram dan jual beli yang digunakan untuk perbuatan maksiat? Apakah setiap jual beli yang mendukung maksiat jadi haram?</p>
<p>Moga bahasan Rumaysho.Com kali ini bisa membantu untuk memahami masalah ini.</p>
<p> </p>
<p style="text-align: center;">Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ</span></p>
<p style="text-align: center;">“<em>Janganlah kalian saling tolong menolong dalam dosa dan melanggar batasan Allah.”</em> (QS. Al-Maidah: 2)</p>

<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Beberapa contoh tolong menolong dalam maksiat</strong></span></h2>
<h3><span style="font-size: 14pt;"><strong>Pertama: Tolong menolong dalam transaksi riba</strong></span></h3>
<p>Dari Jabir <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.</span></p>
<p>“Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris), dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba.” Kata beliau, “<em>Semuanya sama dalam dosa</em>.” (HR. Muslim, no. 1598).</p>
<p>Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, “Hadits ini menegaskan haramnya menjadi pencatat bagi dua orang yang bertransaksi riba dan menjadi saksi dalam transaksi tersebut. Hadits ini juga menunjukkan haramnya tolong menolong dalam kebatilan.” (<em>Syarh Shahih Muslim</em>, 11:23)</p>
<p><strong>Baca Juga: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/15362-makan-riba-lebih-buruh-dibanding-pecandu-khamar.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Pemakan Riba Lebih Buruk dibanding Pecandu Khamar</a></span></strong></p>
<p> </p>
<h3><span style="font-size: 14pt;"><strong>Kedua: Tolong menolong dalam meminum khamar</strong></span></h3>
<p>Dari Ibnu ‘Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, ia berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ</span></p>
<p>“<em>Allah melaknat khamar, orang yang meminumnya, orang yang menuangkannya, penjualnya, pembelinya, orang yang memerasnya, orang yang mengambil hasil perasannya, orang yang mengantarnya, dan orang yang meminta diantarkan</em>.” (HR. Abu Daud, no. 3674 dan Ibnu Majah no. 3380. Al-Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).</p>
<p>Orang yang duduk di sekitar orang yang minum khamar pun tidak dibolehkan. Dari ‘Umar bin Al-Khattab <em>radhiyallahu ‘anhu</em> pernah sampaikan kepada segenap manusia bahwa ia mendengar Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يَقْعُدَنَّ عَلَى مَائِدَةٍ يُدَارُ عَلَيْهَا بِالْخَمْرِ</span></p>
<p>“<em>Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia duduk di tempat yang di sana terdapat khamar yang diedarkan.” </em>(HR. Ahmad, 1:20. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi, sedangkan sanad hadits ini dhaif. Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib menyatakan bahwa hadits ini sahih lighairihi).</p>
<p> </p>
<h3><span style="font-size: 14pt;"><strong>Ketiga: Tolong menolong dalam risywah (sogok menyogok)</strong></span></h3>
<p>Dari ‘Abdullah bin ‘Amr <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, ia berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الرَّاشِىَ وَالْمُرْتَشِىَ.</span></p>
<p>“Rasulullah <em>shallallahu alaihi wa sallam</em> melaknat orang yang memberi suap dan yang menerima suap.” (HR. Abu Daud, no. 3580; Tirmidzi, no. 1337; Ibnu Majah no. 2313. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini <strong><em>hasan</em></strong>).</p>
<p>Apa yang dimaksud risywah? Risywah bisa dibaca dengan rusywah, bisa pula dengan rasywah. Ketiga cara baca ini dibenarkan oleh Ibnu Hajar dalam <em>Fath Al-Bari</em> (5:221). Ibnul ‘Arabi <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">الرِّشْوَة كُلّ مَال دُفِعَ لِيَبْتَاعَ بِهِ مِنْ ذِي جَاهُ عَوْنًا عَلَى مَا لَا يَحِلُّ ، وَالْمُرْتَشِي قَابِضه ، وَالرَّاشِي مُعْطِيه ، وَالرَّائِش الْوَاسِطَة</span></p>
<p>“Risywah adalah segala sesuatu yang diserahkan untuk membayar orang yang punya kedudukan supaya menolong dalam hal yang tidak halal. <em>Al-murtasyi</em> adalah yang menerima sogok. <em>Ar-rasyi</em> adalah yang memberikan sogok. <em>Ar-raisy</em> adalah perantara dalam menyogok.” (<em>Fath Al-Bari</em>, 5:221)</p>
<p> </p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kaidah jual beli yang mendukung maksiat</strong></span></h2>
<h3><span style="font-size: 14pt;"><strong>1. Mubasyarah maqshudah (langsung barang maksiat dan ditujukan untuk maksiat)</strong></span></h3>
<p><em>Mubasyarah</em>: Barang maksiat</p>
<p><em>Maqshudah</em>: Ditujukan untuk maksiat</p>
<p>Contoh: Ada yang menjual khamar yang digunakan untuk pecandu yang minum minuman keras.</p>
<p><strong>Hukum: Haram menolong</strong></p>
<p> </p>
<h3><span style="font-size: 14pt;"><strong>2. Mubasyarah ghairu maqshudah (langsung haram tetapi tidak diketahui tujuannya untuk hal mubah)</strong></span></h3>
<p><em>Mubasyarah</em>: Barang maksiat</p>
<p><em>Ghairu</em> <em>maqshudah</em>: Tidak diketahui kegunaannya untuk hal yang mubah</p>
<p>Contoh: Ada yang membeli rokok, di mana yang membeli pasti bukan gunakan untuk hal mubah. Bentuk lainnya adalah membeli rokok, bukan ia yang merokok, tetapi orang lain.</p>
<p><strong>Hukum: Haram menolong</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/2928-hukum-kerja-di-pabrik-rokok.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Hukum Kerja di Pabrik Rokok</a></span></strong></p>
<h3><span style="font-size: 14pt;"><strong>3. Maqshudah ghairu mubasyarah (ditujukan untuk maksiat tetapi tidak langsung barang haram)</strong></span></h3>
<p><em>Maqshudah</em>: Diketahui dipakai maksiat</p>
<p><em>Ghairu mubasyarah</em>: Barang mubah</p>
<p>Contoh: Ada yang memberi uang, tetapi tahu akan digunakan membeli miras.</p>
<p><strong>Hukum: Haram menolong</strong></p>
<p> </p>
<h3><span style="font-size: 14pt;"><strong>4. Ghairu mubasyarah wa laa maqshuudah (tidak langsung dan tidak ditujukan untuk maksiat)</strong></span></h3>
<p><em>Ghairu mubasyarah</em>: bukan barang maksiat</p>
<p><em>Ghairu maqshudah</em>: dapat digunakan untuk yang mubah dan haram</p>
<p>Contoh: Menjual gawai dan tidak diketahui dipakai untuk yang mubah ataukah yang haram.</p>
<p><strong>Hukum: Boleh menolong</strong></p>
<p> </p>
<p>Keempat kaidah di atas disimpulkan dari Majma’ Fuqaha bi ‘Amrika dalam konferensi kelima di Bahrain pada tahun 1428 H, di mana disarikan dari buku Harta Haram Muamalat Kontemporer (cetakan ke-23), hlm. 623-624.</p>
<p><em>Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.</em></p>
<p> </p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Referensi:</strong></span></p>
<ol>
<li>
<em>Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari.</em> Cetakan Keempat. Tahun 1432 H. Ibnu Hajar Al-Asqalani. Penerbit Dar Ath-Thiybah.</li>
<li>
<em>Harta Haram Muamalat Kontemporer.</em> Cetakan ke-23, Tahun 2020. Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. Berkat Mulia Insani.</li>
<li>
<em>Shahih Muslim bi Syarh Al-Imam Muhyiddin Yahya bin Syarf An-Nawawi (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj).</em> Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm.</li>
</ol>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/25525-hukum-asal-jual-beli-itu-halal.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Hukum Asal Jual Beli itu Halal</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/13633-renungan-04-riba-sama-dengan-jual-beli.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Riba Sama dengan Jual Beli?</strong></span></a></li>
</ul>
<p>—</p>
<p style="text-align: center;">Disusun di <a href="https://darushsholihin.com"><strong>Darush Sholihin</strong></a>, Malam Jumat, 23 Muharram 1442 H (11 September 2020)</p>
<p style="text-align: center;">Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p style="text-align: center;">Artikel <a href="https://rumaysho.com">Rumaysho.Com</a></p>
 