
<p align="JUSTIFY"><span style="font-size: medium;">Sekarang kita sudah siap untuk menjawab tiga pertanyaan yang telah disebutkan di <a href="https://muslim.or.id/27705-kaidah-ushuliyyah-untuk-memahami-ayat-120-surat-al-baqarah-secara-ilmiah-1.html" target="_blank">bagian pertama</a> dari tulisan ini tentang ayat 120 surat al-Baqarah. Dari dalil-dalil yang telah kami sebutkan sebelumnya, kita menyimpulkan bahwa kaum Yahudi dan Nashrani, bahkan kaum kafir dan musyrik secara umum, dengki kepada kaum muslimin secara umum dan ingin menjerumuskan mereka kepada kekafiran.</span></p>
<h4 align="JUSTIFY"><span style="font-size: medium; color: #ff0000;"><b>Jawaban syubhat pertama</b></span></h4>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-size: medium;">Mengapa Allah </span><span style="font-size: medium;"><i>Subhanahu wa Ta’ala</i></span><span style="font-size: medium;"> menggunakan kata “</span><span style="font-size: medium;"><i>kepadamu..</i></span><span style="font-size: medium;">” pada ayat 120 surat al-Baqarah tersebut? Apakah maknanya adalah bahwa yang dimaksud oleh ayat itu hanyalah Nabi Muhammad </span><span style="font-size: medium;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span style="font-size: medium;"> saja dan bukan para sahabat </span><span style="font-size: medium;"><i>radhiyallahu ‘anhum</i></span><span style="font-size: medium;"> dan bukan juga kaum muslimin secara umum?</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-size: medium;">Jawabannya adalah bahwa ini termasuk dalam bab </span><span style="font-size: medium;"><i>mafhuum muwaafaqah</i></span><span style="font-size: medium;">. Apa maksudnya? Mari kita perhatikan ayat tersebut. Kaum Yahudi dan Nashrani tidak ridha’ kepada Nabi Muhammad </span><span style="font-size: medium;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span style="font-size: medium;">. Baik, tapi apa yang menyebabkan mereka tidak ridha’ kepada beliau? Adakah sifat dari Rasulullah </span><span style="font-size: medium;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span style="font-size: medium;"> yang layak untuk dibenci oleh mereka? Apakah kepribadian beliau, perilaku beliau, sikap beliau? Tentu tidak! Kita telah tahu bagaimana Rasulullah </span><span style="font-size: medium;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span style="font-size: medium;"> terkenal dengan keteladanan akhlaknya, dengan kelembutan budi pekertinya, dengan kejujuran dan sifat amanahnya, serta sifat-sifat unggul beliau yang lain. Sebelum risalah kenabian turun kepada Rasulullah </span><span style="font-size: medium;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span style="font-size: medium;">, semua orang mencintai dan mengagumi beliau. Ini adalah fakta yang banyak disebutkan dalam kitab-kitab sirah, yang tidak mungkin luput oleh kita semua. Namun, setelah beliau diutus menjadi Nabi dan Rasul, barulah mereka kaum kafir menjadi membenci dan memusuhi beliau </span><span style="font-size: medium;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span style="font-size: medium;">, serta memusuhi para sahabat yang mengikuti beliau, walaupun itu anak atau ayah mereka sendiri. Ini berarti faktor yang mereka benci dari Nabi </span><span style="font-size: medium;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span style="font-size: medium;"> adalah risalah yang beliau bawa, bukan sisi personal beliau seperti akhlak, harta, kedudukan, atau selainnya.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-size: medium;">Oleh karena itu, sebenarnya ayat ini bermakna umum. Ketahuilah bahwa dalil umum itu terdiri atas dua macam, yaitu </span><span style="font-size: medium;"><i>‘umuum lafzhiy</i></span><span style="font-size: medium;"> (keumumannya disebabkan oleh keumuman lafazh yang digunakan) dan </span><span style="font-size: medium;"><i>‘umuum ma’nawiy</i></span><span style="font-size: medium;"> (keumumannya disebabkan oleh keumuman makna yang disampaikan). Jika sebuah dalil adalah </span><span style="font-size: medium;"><i>‘umuum lafzhiy</i></span><span style="font-size: medium;">, maka kita harus memasukkan seluruh makna yang terkandung dalam lafazh tersebut, sampai ada dalil yang memalingkan dari keumuman makna ini. Contohnya adalah kata “</span><span style="font-size: medium;"><i>al-insaan</i></span><span style="font-size: medium;">” pada surat al-’Ashr, harus dimaknai umum mencakup seluruh manusia, sebagaimana keumuman lafazhnya. Adapun jika sebuah dalil adalah </span><span style="font-size: medium;"><i>‘umuum ma’nawiy</i></span><span style="font-size: medium;">, maka kita harus memasukkan seluruh hal yang memiliki </span><span style="font-size: medium;"><i>‘illah</i></span><span style="font-size: medium;"> (sifat) yang sama dengan </span><span style="font-size: medium;"><i>‘illah</i></span><span style="font-size: medium;"> yang disebutkan dalam dalil tersebut. Contohnya adalah ayat 120 surat al-Baqarah ini. Rasulullah </span><span style="font-size: medium;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span style="font-size: medium;"> didengki dan dibenci karena risalah yang dibawa oleh beliau, maka kaum muslimin pada generasi setelah beliau hingga saat ini, yang juga membawa risalah tersebut, juga akan didengki dan dibenci oleh mereka.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-size: medium;">Ini sesuai dengan kaidah,</span></p>
<p dir="RTL" align="JUSTIFY">الحكم يدور مع علته، وجودا وعدما، قوة وضعفا</p>
<p align="JUSTIFY">“<span style="font-size: medium;">Hukum itu berkaitan dengan </span><span style="font-size: medium;"><i>‘illah</i></span><span style="font-size: medium;">-nya, dalam hal ada atau tidaknya, dalam hal kuat atau lemahnya.”</span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote1sym" name="sdfootnote1anc"><sup>1</sup></a></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-size: medium;">Maknanya adalah bahwa jika </span><span style="font-size: medium;"><i>‘illah</i></span><span style="font-size: medium;">-nya ada, maka hukumnya pun ada. Sebaliknya, jika </span><span style="font-size: medium;"><i>‘illah</i></span><span style="font-size: medium;">-nya tidak ada, maka hukumnya pun tidak ada. Jika seseorang adalah muslim, maka </span><span style="font-size: medium;"><i>‘illah</i></span><span style="font-size: medium;"> ayat di atas ada padanya, sehingga akibatnya pun akan ada padanya, yaitu kedengkian kaum kafir. Jika </span><span style="font-size: medium;"><i>‘illah</i></span><span style="font-size: medium;">-nya kuat, maka hukumnya pun kuat. Sebaliknya, jika </span><span style="font-size: medium;"><i>‘illah</i></span><span style="font-size: medium;">-nya lemah, maka hukumnya pun lemah. Jika seseorang adalah muslim yang fasik, yang sangat hedonis dan mengikuti budaya orang kafir, maka kedengkian kepadanya pun lemah. Namun, jika seseorang adalah muslim yang ta’at, shalih, dan komitmen dengan agamanya dalam setiap langkah kehidupannya, maka kedengkian mereka pun menjadi kuat.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-size: medium;">Jika ada yang berkata, “Baik, saya terima bahwa banyak ayat yang menyebutkan bahwa kaum Yahudi dan Nashrani itu dengki kepada kaum muslimin, sebagaimana sebagian ayat yang telah anda sebutkan di atas. Namun, ayat 120 surat al-Baqarah ini maknanya khusus hanya kepada Nabi Muhammad </span><span style="font-size: medium;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span style="font-size: medium;">. Jadi, semua ayat-ayat lain yang telah anda sebutkan tersebut dikenai </span><span style="font-size: medium;"><i>takhshiish</i></span><span style="font-size: medium;"> (pengkhususan) oleh ayat 120 surat al-Baqarah. Ayat-ayat lain tersebut memang bermakna umum, namun ternyata dikhususkan oleh ayat 120 surat al-Baqarah ini.”</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-size: medium;">Maka jawabannya, “</span><span style="font-size: medium;"><i>Takhshiish</i></span><span style="font-size: medium;"> dalam kasus ini tidak bisa diberlakukan, karena syarat </span><span style="font-size: medium;"><i>takhshiish</i></span><span style="font-size: medium;"> adalah bahwa dalil yang khusus itu haruslah menafikan dalil yang umum.</span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote2sym" name="sdfootnote2anc"><sup>2</sup></a><span style="font-size: medium;"> Misalnya, pada surat al-’Ashr, disebutkan kata ‘</span><span style="font-size: medium;"><i>al-insaan</i></span><span style="font-size: medium;">’ (manusia) yang merupakan makna umum dan dihukumi akan mengalami kerugian. Kemudian disebutkan pengecualian dari kata ‘</span><span style="font-size: medium;"><i>al-insaan</i></span><span style="font-size: medium;">’ ini, yaitu orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasehati dengan kebenaran, dan saling menasehati untuk sabar. Penggunaan kata ‘</span><span style="font-size: medium;"><i>illaa</i></span><span style="font-size: medium;">’ (kecuali) menunjukkan bahwa hukumnya berbeda, sehingga kita memahami bahwa orang yang memiliki empat karakteristik ini akan beruntung di dunia dan akhirat. Maka, ketika dalil yang khusus menafikan dalil yang umum, seperti pada contoh ini, </span><span style="font-size: medium;"><i>takhshiish</i></span><span style="font-size: medium;"> boleh diberlakukan. Namun, dalam kasus yang sedang kita bahas di sini, dalil-dalil yang secara umum menyebutkan kaum muslimin dan ayat 120 surat al-Baqarah yang secara khusus mengacu pada Nabi Muhammad </span><span style="font-size: medium;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span style="font-size: medium;">, semuanya memiliki hukum yang sama, yaitu kedengkian kaum Yahudi dan Nashrani. Ini menunjukkan bahwa </span><span style="font-size: medium;"><i>takhshiish</i></span><span style="font-size: medium;"> tidak sah untuk diaplikasikan dalam kasus ini.”</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-size: medium;">Jika ada yang berkata, “Baik, saya setuju bahwa </span><span style="font-size: medium;"><i>takhshiish</i></span><span style="font-size: medium;"> tidak bisa diberlakukan di sini. Namun, ketahuilah bahwa lafazh umum yang tercantum di banyak ayat yang anda sebutkan di atas, itu sebenarnya merupakan </span><span style="font-size: medium;"><i>lafzhul-’umuum yuraadu bihi al-khaashsh</i></span><span style="font-size: medium;"> (lafazh umum tapi yang dimaksudkan adalah makna khusus). Jadi, walaupun lafazh yang digunakan itu bermakna jamak, sehingga kita memaknainya sebagai ‘kaum muslimin,’ namun sebenarnya yang ingin disampaikan oleh lafazh-lafazh umum tadi adalah makna khusus, yaitu hanya Rasulullah </span><span style="font-size: medium;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span style="font-size: medium;"> saja. Sehingga bisa disimpulkan bahwa kedengkian dan ketidaksenangan dari kaum Yahudi dan Nashrani itu hanya tertuju pada beliau </span><span style="font-size: medium;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span style="font-size: medium;">. Ini bukan termasuk bab </span><span style="font-size: medium;"><i>takhshiish</i></span><span style="font-size: medium;">, karena dari awal saya tidak mengklaim bahwa lafazh-lafazh umum tersebut bermakna umum. Namun, saya katakan bahwa ini adalah lafazh umum tapi yang dimaksudkan adalah makna khusus.”</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-size: medium;">Maka jawabannya, “</span><span style="font-size: medium;"><i>Absyir </i></span><span style="font-size: medium;">(berbahagialah)</span><span style="font-size: medium;"><i> yaa akhiy</i></span><span style="font-size: medium;">. Bagimu hadits ini,</span></p>
<p dir="RTL" align="JUSTIFY">عن ثوبان مولى رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: يوشك أن تداعى عليكم الأمم من كل أفق كما تداعى الأكلة على قصعتها. قال: قلنا: يا رسول الله أمن قلة بنا يومئذ؟ قال: أنتم يومئذ كثير ولكن تكونون غثاء كغثاء السيل، ينتزع المهابة من قلوب عدوكم ويجعل في قلوبكم الوهن. قال: قلنا: وما الوهن؟ قال: حب الحياة وكراهية الموت.</p>
<p align="JUSTIFY">‘<span style="font-size: medium;">Dari Tsaubaan, mantan budak Rasulullah </span><span style="font-size: medium;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span style="font-size: medium;">, bahwa beliau berkata: Rasulullah </span><span style="font-size: medium;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span style="font-size: medium;"> bersabda: Hampir-hampir umat-umat kafir saling menyeru untuk menyerang kalian dari segenap penjuru, sebagaimana orang-orang (yang lapar) sedang mengerumuni hidangan makanan. Dia (Tsaubaan) berkata: Kami (para sahabat) bertanya: Wahai Rasulullah, apakah pada waktu itu kami sedikit? Nabi </span><span style="font-size: medium;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span style="font-size: medium;"> menjawab: Bahkan pada waktu itu kalian berjumlah banyak, akan tetapi kalian bagai buih, seperti buih banjir. Allah mencabut rasa takut kepada kalian dari hati-hati musuh kalian, dan memasukkan </span><span style="font-size: medium;"><i>al-wahn</i></span><span style="font-size: medium;"> kepada hati-hati kalian. Dia (Tsaubaan) berkata: Kami (para sahabat) bertanya: Apakah itu </span><span style="font-size: medium;"><i>al-wahn</i></span><span style="font-size: medium;">? Nabi </span><span style="font-size: medium;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span style="font-size: medium;"> menjawab: Cinta dunia dan takut mati.’</span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote3sym" name="sdfootnote3anc"><sup>3</sup></a></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-size: medium;">Dari hadits ini, jelaslah bahwa kedengkian dan kebencian kaum kafir itu juga ditujukan kepada kaum muslimin, baik di jaman Nabi </span><span style="font-size: medium;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span style="font-size: medium;"> maupun jaman setelahnya. Karena mereka semua memiliki </span><span style="font-size: medium;"><i>‘illah</i></span><span style="font-size: medium;"> yang sama, yaitu risalah tauhid dan agama Allah yang lurus. Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwa ayat 120 surat al-Baqarah tersebut secara tekstual hanya mengacu pada Nabi </span><span style="font-size: medium;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span style="font-size: medium;"> karena ini termasuk dalam bab </span><span style="font-size: medium;"><i>lafzhul-khaash yuraadu bihi al-’umuum</i></span><span style="font-size: medium;"> (lafazh khusus tapi yang dimaksudkan adalah makna umum), yaitu dengan cara </span><span style="font-size: medium;"><i>at-tanbiih bil-a’laa ‘alal-adnaa</i></span><span style="font-size: medium;"> (mengarahkan pada hal yang lebih rendah dengan menyebutkan hal yang lebih tinggi). Yaitu, sebab mengapa hanya Rasulullah </span><span style="font-size: medium;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span style="font-size: medium;"> yang disebutkan pada ayat 120 surat al-Baqarah ini adalah karena beliaulah yang paling didengki dan dibenci oleh kaum Yahudi dan Nashrani, bahkan oleh kaum kafir seluruhnya, karena beliau adalah yang membawa risalah agama ini. Walaupun demikian, orang lain selain beliau dari kalangan kaum muslimin juga mendapatkan porsi kedengkian ini sesuai derajat keimanan mereka, karena </span><span style="font-size: medium;"><i>‘illah</i></span><span style="font-size: medium;">-nya adalah agama Allah yang haq, bukan pribadi Nabi Muhammad </span><span style="font-size: medium;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span style="font-size: medium;"> seorang. Dan kami telah jelaskan tentang hal ini sebelumnya.”</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-size: medium;">Ini menjawab pertanyaan 1, </span><span style="font-size: medium;"><i>alhamdulillah</i></span><span style="font-size: medium;">.</span></p>
<h4 align="JUSTIFY"><span style="font-size: medium; color: #ff0000;"><b>Jawaban syubhat kedua</b></span></h4>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-size: medium;">Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “orang-orang Yahudi dan Nashrani” yang disebutkan di ayat 120 surat al-Baqarah tersebut adalah orang-orang Yahudi dan Nashrani tertentu yang ada pada masa Nabi </span><span style="font-size: medium;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span style="font-size: medium;">, sesuai dengan </span><span style="font-size: medium;"><i>asbaabun-nuzuul</i></span><span style="font-size: medium;"> ayat tersebut.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-size: medium;">al-Baghawiy </span><span style="font-size: medium;"><i>rahimahullah</i></span><span style="font-size: medium;"> berkata,</span></p>
<p dir="RTL" align="JUSTIFY">وقال ابن عباس رضي الله عنهما : هذا في القبلة وذلك أن يهود المدينة ونصارى نجران كانوا يرجون النبي صلى الله عليه وسلم حين كان يصلي إلى قبلتهم فلما صرف الله القبلة إلى الكعبة أيسوا في أن يوافقهم على دينهم</p>
<p align="JUSTIFY">“<span style="font-size: medium;">Ibn ‘Abbas </span><span style="font-size: medium;"><i>radhiyallahu ‘anhuma</i></span><span style="font-size: medium;"> berkata, ‘Ayat ini tentang kiblat, yaitu bahwa kaum Yahudi Madinah dan Nashrani Najran mengharapkan Nabi </span><span style="font-size: medium;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span style="font-size: medium;"> untuk shalat menghadap kiblat mereka. Maka ketika Allah memalingkan kiblat (kaum muslimin) kepada Ka’bah, mereka lantas berputus asa dari keinginan mereka tersebut, yaitu agar Nabi </span><span style="font-size: medium;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span style="font-size: medium;"> mengikuti agama mereka.’”</span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote4sym" name="sdfootnote4anc"><sup>4</sup></a></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-size: medium;">Berdasarkan penjelasan yang telah kami paparkan sebelumnya, bahwa kita harus mengambil keumuman lafazh dan bukan kekhususan sebab, maka kita katakan bahwa mengkhususkan lafazh “orang-orang Yahudi dan Nashrani” kepada orang-orang Yahudi Madinah dan Nashrani Najran di masa Nabi </span><span style="font-size: medium;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span style="font-size: medium;"> adalah sebuah kesalahan. Ini menjawab pertanyaan 2, </span><span style="font-size: medium;"><i>alhamdulillah</i></span><span style="font-size: medium;">.</span></p>
<h4 align="JUSTIFY"><span style="font-size: medium; color: #ff0000;"><b>Jawaban syubhat ketiga</b></span></h4>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-size: medium;">Lalu apa yang dimaksud dengan kata “</span><span style="font-size: medium;"><i>millah</i></span><span style="font-size: medium;">” pada ayat 120 surat al-Baqarah tersebut? Apakah “<em>millah</em>” artinya adalah “jalan”, sehingga kaum Yahudi dan Nasrani bukan ingin mengajak umat Muslim ke agama mereka namun sekedar ke “jalan” mereka?</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-size: medium;">Maka silahkan lihat ayat-ayat lain yang telah disebutkan sebelumnya untuk mencari tahu apa yang dimaksud. Misalnya, kami bawakan kembali ayat berikut,</span></p>
<p dir="RTL" align="JUSTIFY">وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ ۖ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّـهُ بِأَمْرِهِ ۗ إِنَّ اللَّـهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ</p>
<p align="JUSTIFY">“<span style="font-size: medium;"><em>Banyak dari kalangan ahli kitab yang menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki (yang timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintahNya. Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu</em>.”</span><span style="font-size: medium;"> (al-Qur’an, surat al-Baqarah, ayat 109)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-size: medium;">Dari ayat ini, jelaslah bahwa yang dimaksud “</span><span style="font-size: medium;"><i>millah</i></span><span style="font-size: medium;">” adalah agama, karena kaum kafir ingin mengembalikan kaum muslimin menuju kekafiran. Memang benar bahwa al-Baghawiy </span><span style="font-size: medium;"><i>rahimahullah</i></span><span style="font-size: medium;"> menafsirkan kata “</span><span style="font-size: medium;"><i>millah</i></span><span style="font-size: medium;">” ini dengan makna “jalan,”</span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote5sym" name="sdfootnote5anc"><sup>5</sup></a><span style="font-size: medium;"> sehingga ada yang beranggapan bahwa maknanya bukanlah agama. Pendapatnya ini berusaha untuk diperkuat dengan menukil </span><span style="font-size: medium;"><i>asbaabun-nuzuul</i></span><span style="font-size: medium;"> dari ayat ini sebagaimana yang disebutkan oleh al-Baghawiy </span><span style="font-size: medium;"><i>rahimahullah</i></span><span style="font-size: medium;"> dan yang telah kita nukil sebelumnya, yaitu tentang orang-orang Yahudi Madinah dan Nashrani Najran yang ingin Nabi </span><span style="font-size: medium;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span style="font-size: medium;"> shalat menghadap kiblat mereka. Namun, bukankah permasalahan kiblat itu adalah termasuk dari agama?</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-size: medium;">Selain itu, Ibn Katsir </span><span style="font-size: medium;"><i>rahimahullah</i></span><span style="font-size: medium;"> menyebutkan bahwa,</span></p>
<p dir="RTL" align="JUSTIFY">وقد استدل كثير من الفقهاء بقوله: (حتى تتبع ملتهم) حيث أفرد الملة على أن الكفر كله ملة واحدة كقوله تعالى: (لكم دينكم ولي دين)، فعلى هذا لا يتوارث المسلمون والكفار، وكل منهم يرث قرينه سواء كان من أهل دينه أم لا، لأنهم كلهم ملة واحدة، وهذا مذهب الشافعي وأبي حنيفة وأحمد في رواية عنه.</p>
<p align="JUSTIFY">“<span style="font-size: medium;">Banyak ahli fiqh berdalil dengan menggunakan firman Allah </span><span style="font-size: medium;"><i>Ta’ala</i></span><span style="font-size: medium;">, </span><span style="font-size: medium;"><b>‘Hingga kamu mengikuti millah mereka,’</b></span><span style="font-size: medium;"> di mana Allah menggunakan bentuk tunggal untuk ‘</span><span style="font-size: medium;"><i>millah</i></span><span style="font-size: medium;">,’ yaitu bahwa seluruh kekafiran itu adalah </span><span style="font-size: medium;"><i>millah</i></span><span style="font-size: medium;"> yang satu, seperti firman Allah </span><span style="font-size: medium;"><i>Ta’ala</i></span><span style="font-size: medium;">, </span><span style="font-size: medium;"><b>‘Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.’</b></span><span style="font-size: medium;"> Oleh karena itu, seorang muslim dan kafir tidak saling mewarisi. Dan setiap dari orang kafir itu mewarisi kerabatnya (yang sama-sama kafir), baik apakah kerabatnya itu beragama sama dengannya atau tidak, karena semua dari mereka itu memiliki </span><span style="font-size: medium;"><i>millah</i></span><span style="font-size: medium;"> yang satu. Ini adalah madzhab asy-Syafi’iy, Abu Hanifah, dan Ahmad dalam sebuah riwayat dari beliau.”</span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote6sym" name="sdfootnote6anc"><sup>6</sup></a></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-size: medium;">Perhatikanlah bagaimana para ulama’ madzhab tersebut, yaitu Imam asy-Syafi’iy, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad memahami kata “</span><span style="font-size: medium;"><i>millah</i></span><span style="font-size: medium;">” ini sebagai agama. Ini adalah pemahaman mereka, dan metode kita dalam beragama adalah dengan mengikuti pemahaman mereka, para generasi terdahulu, </span><span style="font-size: medium;"><i>rahimahumullah</i></span><span style="font-size: medium;">. Ini menjawab pertanyaan 3, </span><span style="font-size: medium;"><i>alhamdulillah</i></span><span style="font-size: medium;">.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-size: medium;">Untuk menutup tulisan ini, kami ingin mengingatkan kepada saudara-saudara kami kaum muslimin, bahwa hendaknya kedengkian dan kebencian kaum kafir ini tidak boleh menjadikan kita untuk tidak berbuat adil kepada mereka. Kita harus tetap berbuat adil kepada mereka dengan cara memberikan mereka haknya, dengan mengharap Wajah Allah, bukan mengharap pujian mereka atau siapapun juga. Jika kita bertetangga dengan orang kafir, misalnya, maka berikanlah ia haknya sebagai tetangga. Allah </span><span style="font-size: medium;"><i>Subhanahu wa Ta’ala</i></span><span style="font-size: medium;"> berfirman,</span></p>
<p dir="RTL" align="JUSTIFY">لَّا يَنْهَاكُمُ اللَّـهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّـهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ * إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّـهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَىٰ إِخْرَاجِكُمْ أَن تَوَلَّوْهُمْ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَـٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ</p>
<p align="JUSTIFY">“<em><span style="font-size: medium;">Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kalian karena agama dan tidak pula mengusir kalian dari negeri kalian. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Sungguh Allah hanya melarang kalian untuk ber-</span><span style="font-size: medium;">wala’</span><span style="font-size: medium;"> kepada orang-orang yang memerangi kalian karena agama dan yang mengusir kalian dari negeri kalian dan membantu (orang lain) untuk mengusir kalian. Barangsiapa yang ber-</span><span style="font-size: medium;">wala’</span></em><span style="font-size: medium;"><em> kepada mereka, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim</em>.”</span><span style="font-size: medium;"> (al-Qur’an, surat al-Mumtahanah, ayat 8-9).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-size: medium;"><i>Wallaahu a’lamu bish-shawaab.</i></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-size: medium;">Birmingham, UK, 7 </span><span style="font-size: medium;"><i>Jumaadaa al-Aakhirah</i></span><span style="font-size: medium;"> 1437 H</span></p>
<p align="JUSTIFY">***</p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-size: medium;">Penulis: Andy Octavian Latief</span></p>
<div id="sdfootnote1">
<p align="JUSTIFY">Artikel Muslim.or.id</p>
<p align="JUSTIFY">___</p>
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote1anc" name="sdfootnote1sym">1</a><span style="font-size: small;"> Lihat kaidah ketiga pada kitab </span><span style="font-size: small;"><i>at-Ta’liiq ‘alaa al-Qawaa’id al-Hissaan al-Muta’alliqah biTafsiiril-Qur’aan</i></span><span style="font-size: small;">, karya Syaikh Muhammad ibn Shalih al-’Utsaimin </span><span style="font-size: small;"><i>rahimahullah</i></span><span style="font-size: small;">.</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote2anc" name="sdfootnote2sym">2</a><span style="font-size: small;"> Lihat beberapa paragraf terakhir dari subbab </span><span style="font-size: small;"><i>al-Qism al-Awwal fil-Mabaahits al-Lafzhiyyah</i></span><span style="font-size: small;"> pada bab </span><span style="font-size: small;"><i>al-Kalaam fil-Awaamir wan-Nawaahiy</i></span><span style="font-size: small;"> dalam kitab </span><span style="font-size: small;"><i>Nafaa’isul-Ushuul fiy Syarhil-Mahshuul</i></span><span style="font-size: small;">, karya Syihabud-Din Abul-’Abbas Ahmad ibn Idris al-Qarafiy </span><span style="font-size: small;"><i>rahimahullah</i></span><span style="font-size: small;">.</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote3">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote3anc" name="sdfootnote3sym">3</a><span style="font-size: small;"> Hadits shahih, dikeluarkan oleh Abu Dawud (</span><span style="font-size: small;"><i>Sunan Abiy Daawuud</i></span><span style="font-size: small;">, no. 4297) </span><span style="font-size: small;"><i>rahimahullah</i></span><span style="font-size: small;">.</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote4">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote4anc" name="sdfootnote4sym">4</a><span style="font-size: small;"> Lihat tafsir surat al-Baqarah ayat 120 pada kitab </span><span style="font-size: small;"><i>Ma’aalimut-Tanziil fiy Tafsiiril-Qur’aan / Tafsiir al-Baghawiy</i></span><span style="font-size: small;">, karya Abu Muhammad al-Husain ibn Mas’ud al-Baghawiy </span><span style="font-size: small;"><i>rahimahullah</i></span><span style="font-size: small;">.</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote5">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote5anc" name="sdfootnote5sym">5</a><span style="font-size: small;"> Lihat tafsir surat al-Baqarah ayat 120 pada kitab </span><span style="font-size: small;"><i>Ma’aalimut-Tanziil fiy Tafsiiril-Qur’aan / Tafsiir al-Baghawiy</i></span><span style="font-size: small;">, karya Imam Abu Muhammad al-Husain ibn Mas’ud al-Baghawiy </span><span style="font-size: small;"><i>rahimahullah</i></span><span style="font-size: small;">.</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote6">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote6anc" name="sdfootnote6sym">6</a><span style="font-size: small;"> Lihat tafsir surat al-Baqarah ayat 120 pada kitab </span><span style="font-size: small;"><i>Tafsiir al-Qur’aan al-’Azhiim / Tafsiir Ibn Katsiir</i></span><span style="font-size: small;">, karya Abul-Fida’ Isma’il ibn ‘Umar ibn Katsir </span><span style="font-size: small;"><i>rahimahullah</i></span><span style="font-size: small;">.</span></p>
<p align="JUSTIFY">[serialposts]
</p>
</div>
 