
<p><iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/519617358&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe></p>
<h2><strong>Membatalkan Shalat Sunah Qabliyah Karena Dengar Iqamah</strong></h2>
<p><em>Jika kita mendengar iqamah, sementara kita sedang shalat sunah qabliyah, apakah harus dibatalkan? Bgmn jika tinggal tahiyat, apakah msh boleh diselesaikan?</em></p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,</em></p>
<p>Perintah <a href="https://konsultasisyariah.com/29861-cara-membatalkan-shalat-ketika-iqamah.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">membatalkan shalat sunah</a> karena mendengar iqamah, dinyatakan dalam beberapa hadis. Diantaranya,</p>
<p>[1] Hadis dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ فَلاَ صَلاَةَ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةُ</p>
<p><em>“Apabila telah dikumandangkan iqamah maka tidak ada shalat kecuali shalat wajib.”</em> (HR. Muslim 1678, Nasai 874 dan yang lainnya).</p>
<p>[2] Hadis dari Abdullah bin Malik bin Buhainah <em>radhiyallahu ‘anhu,</em></p>
<p>Ketika iqamah shalat subuh dikumandangkan, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melihat ada sahabat yang sedang shalat sunah. Beliau mengucapkan sesuatu yang saya tidak paham. Usai shalat, kami mengerumuni beliau, lalu bersabda,</p>
<p class="arab">يُوشِكُ أَحَدُكُمْ أَنْ يُصَلِّىَ الْفَجْرَ أَرْبعًا</p>
<p><em>“Hampir saja diantara kalian ada yang shalat subuh 4 rakaat.”</em> (HR. Muslim 1682 &amp; Ibnu Majah 1208).</p>
<p>Dalam riwayat lain, seusai shalat, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menasehati orang itu dengan bersabda,</p>
<p class="arab">الصُّبْحَ أَرْبَعًا ، الصُّبْحَ أَرْبَعًا</p>
<p><em>Shalat subuh 4 rakaat, shalat subuh 4 rakaat?</em> (HR. Bukhari 663)</p>
<p>Al-Hafidz al-Iraqi menjelaskan hadis Abu Hurairah di atas,</p>
<p class="arab">إن قوله : “فلا صلاة ” يحتمل أن يراد : فلا يشرع حينئذ في صلاة عند إقامة الصلاة , ويحتمل أن يراد: فلا يشتغل بصلاة وإن كان قد شرع فيها قبل الإقامة بل يقطعها المصلي لإدراك فضيلة التحريم؛ أو أنها تبطل بنفسها وإن لم يقطعها المصلي</p>
<p>Sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “tidak ada shalat kecuali shalat wajib” ada 3 kemungkinan,</p>
<p>[1] Kemungkinan pertama, ketika iqamah tidak disyariatkan shalat sunah</p>
<p>[2] atau kemungkinan maknanya, jangan melakukan shalat, meskipun shalat sunah sudah dimulai sebelum iqamah. Namun dia harus batalkan, agar bisa mendapatkan keutamaan takbiratul ihram.</p>
<p>[3] atau kemungkinan maknanya, ketika iqamah, shalat sunah batal dengan sendirinya, meskipun tidak dibatalkan oleh orang yang melakukannya.</p>
<p>(<em>Nailul Authar</em>, as-Syaukani, 3/102).</p>
<p>Hanya saja, kemungkinan ketiga cukup jauh, karena iqamah bukan termasuk pembatal shalat. Karena itulah, dalam hadis Abdullah bin Malik, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyebut orang yang mengerjakan shalat qabliyah subuh ketika iqamah, seolah telah mengerjakan shalat subuh 4 rakaat. Artinya, qabliyah subuh yang  dia kerjakan tetap sah, meskipun dia melakukan pelanggaran dari sisi waktu pelaksanaan.<br>
<iframe src="https://www.youtube.com/embed/WoA546TM74U?rel=0&amp;controls=0" width="640" height="360" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<h3><strong>Kapan Harus Dibatalkan?</strong></h3>
<p>Apakah harus dibatalkan ketika mendengar iqamah, apapun posisinya?</p>
<p>As-Syaukani menyebutkan keterangan dari Abu Hamid – ulama syafiiyah –,</p>
<p class="arab">قال الشيخ أبو حامد من الشافعية : أن الأفضل خروجه من النافلة إذا أداه إتمامها إلى فوات فضيلة التحريم وهذا واضح</p>
<p>Syaikh Abu Hamid – dari syafiiyah – mengatakan, “Yang afdhal, dia batalkan shalat sunah, dengan batasan, apabila dilanjutkan akan menyebabkan dirinya ketinggalan takbiratul ihram.” Dan alasan ini sangat jelas. (<em>Nailul Authar</em>, as-Syaukani, 3/102).</p>
<p>Berdasarkan batasan ini, tidak bisa ditegaskan di posisi mana makmum harus membatalkan shalat sunahnya. Intinya, ketika makmum merasa dirinya akan ketinggalan takbiratul ihram jika <a href="https://carasholat.com/" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><strong>shalat sunah</strong></a> dikerjakan, maka dia bisa segera batalkan shalat sunahnya. Jika dia di posisi tasyahud akhir, dan dia yakin jika dilanjutkan tidak ketinggalan takbiratul ihram imam, maka tidak masalah diselesaikan.</p>
<p>Demikian, <em>Allahu a’lam.</em><br>
<strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)</strong></p>
<p>Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><strong>Tanya Ustadz untuk Android</strong></a>.<br>
<a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><strong>Download Sekarang !!</strong></a></p>
<p><strong>KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting <a href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</a>.</strong></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>SPONSOR</strong> hubungi: 081 326 333 328</li>
<li>
<strong>DONASI</strong> hubungi: 087 882 888 727</li>
<li>
<strong>REKENING DONASI</strong> : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK</li>
</ul>
 