
<p>Khusyuk itu tempatnya di hati, namun dari situ ia mengalir ke jasad dan anggota badan. Di sanalah muncul pengaruh khusyuk yang bersemayam di hati. Di antara bentuk lahir khusyuk ini adalah :</p>
<p>a. <em>Ikhbāt</em></p>
<p>Arti asli dari kata <em>ikhbāt</em> adalah dataran yang rendah. Dengan pengertian ini, Ibnu Abbas dan Qatadah menafsirkan kata “<em>al-mukhbitīn</em>” sebagai orang-orang yang rendah hati (<em>al-mutawadhi’ūn</em>).</p>
<p><strong>D E F I N I S I</strong></p>
<p>Menurut:</p>
<p>a. Mujahid</p>
<p><em>al-mukhbit</em> adalah yang tumakninah kepada Allah Jalla Jalaaluhu.</p>
<p><em>al-khabat</em> adalah tanah yang rendah (muthmain).</p>
<p>b. Al-Akhfasy</p>
<p><em>al-mukhbit</em> adalah orang yang khusyuk.</p>
<p>c. Ibrahim An-Nakha’i</p>
<p><em>al-mukhbit</em> adalah orang yang shalat dengan ikhlas.</p>
<p>d. Al-Kilabi</p>
<p><em>al-mukhbit</em> mereka adalah orang yang hatinya lembut.</p>
<p> </p>
<p>Ibnul Qayyim –rahimahullāh– mengomentari hal itu dan berkata, “Semua pendapat itu berkisar pada dua makna, tawadhu’ dan ketenangan jiwa kepada Allah Jalla Jalaaluhu. Oleh sebab itu, kata ini mengandung makna tumakninah, penyerahan diri, dan ketenangan kepada Allah Jalla Jalaaluhu.”[1]</p>
<p>Kata ini dalam Al Qur’an memiliki tiga makna, adakalanya berarti tenang, sebagaimana firman-Nya tentang neraka:</p>
<p>كُلَّمَا خَبَتْ زِدْنَاهُمْ سَعِيرًا</p>
<p>“…Tiap-tiap kali nyala api Jahannam itu akan padam, Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya.” (Al-Isrā’: 97)</p>
<p>Yakni, tenang atau diam nyala apinya.</p>
<p>Makna kedua, berarti ikhlas sebagaimana yang tercantum dalam firman-Nya:</p>
<p>وَأَخْبَتُوا إِلَىٰ رَبِّهِمْ</p>
<p>“ …Dan merendahkan diri kepada Rabb mereka..” (Hūd: 23)</p>
<p>Yakni, mereka memurnikan. Makna yang sama juga terdapat dalam firman-Nya:</p>
<p>وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ</p>
<p>“… Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” (Al-Hajj: 34)</p>
<p>Yakni, orang yang ikhlas.</p>
<p>Adapun makna ketiga yaitu menerima, seperti dalam firman-Nya:</p>
<p>فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ</p>
<p>“…Dan tunduk hati mereka kepadanya…” (Al-Hajj: 54)</p>
<p>Yakni, hati mereka menerimanya.[2]</p>
<p> </p>
<p>*****</p>
<p>[1] Madārij As-Salikin, jilid 1, hal. 432.</p>
<p>[2] Al-Wujuh wa An-Nadzair, Abu ‘Abdullah Al-Husain bin Muhammad Ad-Dumghani.</p>
<p> </p>
<p>Diketik ulang dari buku Trilogi Shalat Khusyuk “Khusyuk Bukan Mimpi” karya Syaikh Mu’min Al-Haddad.</p>
<p> </p>
<p>Artikel Muslimah.Or.Id</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 