
<p><em>Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.</em></p>
<p>Sesungguhnya, alam kubur adalah tempat persinggahan akhirat yang pertama. Jika seseorang selamat di dalamnya, maka yang sesudahnya lebih mudah baginya.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">الْقَبْرُ أَوَّلُ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ</span></p>
<p>”<em>Kubur adalah tempat persinggahan akhirat yang pertama. Barangsiapa yang selamat darinya, maka jenjang berikutnya akan lebih mudah. Dan barangsiapa yang tidak selamat darinya, maka sesudahnya akan lebih berat</em>.” <a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Di dalam kubur nantinya, seorang hamba akan ditanyai tiga perkara yaitu <span style="color: #333399;"><strong>(1) siapa Rabbmu, (2) apa agamamu, dan (3) siapa nabimu</strong></span>. Seorang mukmin akan begitu mudah menjawab pertanyaan tersebut karena Allah-lah yang mengokohkan dia.</p>
<p>Adapun, orang munafik atau ragu dalam keimanannya akan berkata, ”Hah! Hah! Aku tidak tahu, aku mendengar manusia berkata demikian, aku pun ikut mengatakannya! Maka orang yang demikian akan dipukul dengan tongkat dari besi. Semua makhluk akan mendengarnya kecuali manusia. Seandainya manusia mendengar kejadian, sungguh mereka akan jatuh pingsan.”<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p> </p>
<p>Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Qotadah, dari Anas bin Malik berkata, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,”</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"> إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَتَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ قَالَ يَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُقْعِدَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ قَالَ فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيَقُولُ أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ قَالَ فَيُقَالُ لَهُ انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنْ النَّارِ قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنْ الْجَنَّةِ قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا</span></p>
<p>“Sesungguhnya seorang hamba apabila dimasukkan dalam kuburnya, dan para kerabatnya telah meninggalkannya, maka sungguh, dia akan mendengar bunyi (kepergian) sendal mereka.</p>
<p>Lalu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkata, ”(Pada saat itu), dua malaikat mendatanginya, lalu mendudukinya, dan mengatakan padanya,”Apa yang kamu katakan tentang laki-laki ini (yaitu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>)?” “</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkata, ”<span style="text-decoration: underline;"><span style="color: #333399;">Adapun mu’min, dia akan menjawab,’Saya bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya.’</span></span></p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkata,”Maka dikatakan padanya: “Lihat tempat dudukmu di neraka, sungguh Allah telah menggantimu dengan tempat duduk di surga.”</p>
<p>Lalu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkata,”Maka hamba tersebut melihat keduanya.”<a href="#_ftn3">[3]</a></p>

<h2><span style="color: #0000ff;"><strong>Wajib Beriman pada Para Rasul</strong></span></h2>
<p>Iman kepada para rasul merupakan salah satu rukun iman yang wajib diimani. Karena para rasul adalah sebagai perantara antara Allah dan hamba-Nya dalam menyampaikan risalah (wahyu) dan dalam rangka menegakkan hujjah Allah bagi para hamba-Nya.</p>
<p>Iman kepada para rasul adalah dengan <span style="text-decoration: underline;">membenarkan wahyunya dan menetapkan nubuwahnya (kenabiannya)</span>. Sungguh, para rasul adalah orang-orang yang jujur (<em>shidiq</em>) terhadap yang disampaikan dari Allah. Sungguh, mereka telah menyampaikan risalah (wahyu) dan menjelaskan pada manusia tentang sesuatu yang tidak boleh mereka <em>jahil</em> (bodoh) padanya. Dalil tentang wajibnya beriman pada para Rasul amat banyak. Di antaranya Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"> وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ</span></p>
<p>“<em>Akan tetapi, sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi.</em>” (QS. Al Baqarah: 177)</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"> آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آَمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ</span></p>
<p>“<em>Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya.</em>” (Al Baqarah: 285)</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"> إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا  أُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا</span></p>
<p>“<em>Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir),</em> <em>merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya.</em>” (An Nisa’: 150-151)</p>
<p>Dari ayat-ayat di atas terlihat bahwa <span style="text-decoration: underline;">Allah menggandengkan keimanan kepada Rasul dengan keimanan kepada-Nya</span>, malaikat-Nya, dan kitab-kitab-Nya. Dan dijelaskan pula tentang hukuman <strong>kafir </strong>bagi siapa yang membedakan antara (keimanan, pen) kepada Allah dan Rasul-Nya karena dia telah beriman pada sebagian dan kufur kepada sebagian yang lain. Dan seorang hamba tidak bisa beriman dengan benar kecuali dengan mengenal dan menempuh jalan rasul<a href="#_ftn4">[4]</a>.</p>
<h2><span style="color: #0000ff;"><strong>Hamba Sangat Butuh pada Rasul</strong></span></h2>
<p>Pengutusan para rasul merupakan nikmat Allah bagi para hamba-Nya. Karena kebutuhan hamba pada para rasul sangat mendesak (primer). Seorang hamba tidak mungkin mengatur kondisi dan menegakkan agama tanpa mereka. <span style="color: #333399;"><strong>Kebutuhan hamba kepada rasul melebihi kebutuhan mereka pada makan dan minum</strong></span>. Karena Allah <em>Ta’ala</em> telah menjadikan para rasul sebagai perantara antara Dia dan hamba-Nya, dalam mengenal Allah, mengetahui sesuatu yang bermanfaat atau membahayakannya, juga dalam mengenal rincian syari’at berupa perintah, larangan, dan hal yang dibolehkan, dan menjelaskan apa yang dicintai Allah dan dibenci-Nya. Tidak ada jalan mengetahui yang demikian kecuali dari para rasul, karena akal tidak dapat menunjuki pada rincian perkara ini dan sungguh diketahui hal yang mendesak ini secara umum. Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"> كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيه</span></p>
<p>”<em>Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), <span style="text-decoration: underline;">maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan</span></em>.” (QS. Al Baqarah: 213)</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Kebutuhan hamba kepada risalah (wahyu) lebih besar dari pada banyaknya kebutuhan pasien pada dokternya</span>. Karena tidak adanya dokter, hanya akan membahayakan badan. Sedangkan tidak adanya risalah (wahyu) akan membahayakan hati<a href="#_ftn5">[5]</a>. Kehidupan penghuni dunia akan tetap ada, selama adanya <em>atsar</em> (pengaruh) risalah. Jika <em>atsar</em> (pengaruh) risalah ini hilang dari dunia, maka terjadilah hari kiamat.<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel https://rumaysho.com</p>
<p>Tulisan yang disusun pada bulan Jumada Tsaniyah, tahun 1428 H (3 tahun silam)</p>
<hr>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> HR. Ahmad, dihasankan oleh Syaikh al-Albani</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat <em>at-Tanbihaat al-Mukhtashoroh Syarh al-Wajibat al-Mutahattimat al-Ma’rifah ’ala kulli muslim wa muslimah</em>, Ibrahim bin Syaikh Sholih bin Ahmad al-Khurashi, hal. 15</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> HR. Muslim, lihat pula <em>Shohih Imam Bukhari</em></p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Kalimat terakhir dari paragraf ini adalah tambahan dari editor.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Jika hati itu rusak maka seluruh anggota badan akan rusak. (<em>Hadits Arba’in No.6</em>) Oleh karena itu, rusaknya hati lebih berbahaya daripada rusaknya badan. (-peny)</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> <em>Al Irsyad ila Shohihil I’tiqod</em>, hal. 177-178, diambil dari Program Aplikasi <em>Maktabah Syaikh Sholih Al Fauzan</em></p>
 