
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>5. Allah </b><b><i>Ta’ala </i></b><b>Menjaga Agama Islam dari Perubahan</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: right;">إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya” </span></i><span style="font-weight: 400;">(QS. Al-Hijr: 9).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menafsirkan kata</span> الذِّكْرَ <span style="font-weight: 400;">dengan Alquran. Beliau mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: right;">وإنا للقرآن لحافظون من أن يزاد فيه باطل مَّا ليس منه، أو ينقص منه ما هو منه من أحكامه وحدوده وفرائضه</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya Kami benar-benar menjaga Alquran dari penambahan perkara batil yang bukan bagian darinya, atau pengurangan sesuatu yang merupakan bagian darinya, baik berupa hukum, batasan maupun kewajiban-kewajiban yang terdapat di dalamnya.”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jaminan dari Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berupa penjagaan Alquran ini berkonsekuensi kepada penjagaan As-Sunnah yang merupakan penjelas Alquran, sebagaimana firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala,</span></i></p>
<p style="text-align: right;">وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan Kami turunkan kepadamu Alquran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS.</span> <span style="font-weight: 400;">An-Nahl: 44).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini selaras dengan tafsiran Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> ketika beliau</span> <span style="font-weight: 400;">menafsirkan kata </span><b>الذِّكْرَ </b><span style="font-weight: 400;">dalam QS. Al-Hijr: 9 dengan Alquran dan As-Sunnah, beliau mengatakan,</span></p>
<p dir="rtl" style="text-align: right;">وذكر الرحمن الذي أنزله هو الكتاب والسنة …وهو الذكر الذي قال الله فيه: {إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ} (الحجر: 9)</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan maksud </span><i><span style="font-weight: 400;">Dzikrur Rahman </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah Al-Kitab dan As-Sunnah… Makna Dzikir seperti inilah yang dimaksud dalam firman Allah </span></p>
<p style="text-align: right;">إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya” </span></i><span style="font-weight: 400;">(QS. Al-Hijr: 9)” </span><span style="font-weight: 400;">(Al-Fatawa Al-Kubra, 2/274)[1. Sumber: www.Islamtoday.net/fatawa/quesshow-60-32618.htm].</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">juga mengatakan,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman</span></p>
<p style="text-align: right;">إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">maka dari itu, jika ada kesalahan dalam tafsir Alquran, penukilan hadits maupun penjelasannya, pastilah Allah akan mempersiapkan dari umat ini orang yang menjelaskan kesalahan tersebut dan menyebutkan dalil (yang benar) untuk membuktikan kesalahan orang yang salah dan kedustaan orang yang dusta, karena sesungguhnya umat ini tidak akan bersepakat di atas kesesatan, dan senantiasa ada sekelompok orang yang jaya di atas kebenaran hingga dekat hari Kiamat. Karena mereka ini berada pada generasi umat terakhir sehingga tak ada lagi nabi setelah nabi mereka dan tidak ada Kitabullah setelah Kitabullah yang diturunkan untuk mereka (Alquran).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun umat-umat terdahulu sebelum mereka, jika mereka mengganti dan mengubah wahyu yang diturunkan untuk mereka, maka Allah mengutus seorang nabi yang menjelaskan (kebenaran) kepada mereka, memerintahkan kepada mereka (kebaikan) dan melarang mereka (dari berbuat keburukan).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hanya saja, sepeninggal Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> tidak ada nabi (lagi yang diutus), namun Allah telah menjamin bahwa Dia akan menjaga Wahyu yang diturunkan-Nya dan menjamin umat (Islam) ini tidak akan pernah bersepakat dalam kesesatan, bahkan di setiap zaman, Allah persiapkan untuk umat ini ulama dan Ahlul Quran yang menjaga agama-Nya” (<em>Al Jawab Ash-Shahih</em>, 3/39)[2. Sumber: www.Islamtoday.net/fatawa/quesshow-60-32618.htm].</span></p>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
 