
<p>Pada pembahasan sebelumnya telah kami jelaskan lima poin keistimewaan para Rasul; diantaranya mendapatkan wahyu, Al-‘Ishmah, matanya tertidur namun hatinya tetap terjaga, mereka dimakamkan di tempat mereka meninggal, dan diberikan pilihan antara dunia dan akhirat ketika sakit. Silahkan simak pembahasan tersebut pada artikel <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/60278-keistimewaan-para-rasul-bag-1.html" data-darkreader-inline-color=""><strong>Keistimewaan para Rasul (Bag. 1)</strong></a></span>.</p>
<p>Pada penjelasan selanjutnya, akan kami lanjutkan poin keenam sampai kedelapan; diantaranya, jasad para nabi tidak bisa dimakan tanah, setiap nabi memiliki <em>haudh </em>(telaga), dan para nabi tetap hidup di kubur mereka. Silahkan menyimak ketiga ulasan berikut.</p>

<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>Keenam, jasad para nabi tidak bisa dimakan tanah</strong></span></h2>
<p>Dari sahabat Aus bin Aus <em>Radhiyallahu ‘anhu, </em>beliau berkata, “Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><strong>إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ</strong></span></p>
<p>“Sesungguhnya hari Jumat adalah di antara hari-hari kalian yang terbaik. Maka perbanyaklah selawat kepadaku pada hari itu, karena sesungguhnya selawat kalian disampaikan kepadaku.”</p>
<p>Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana selawat kami disampaikan kepadamu, sementara Anda telah meninggal?”</p>
<p>Beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><strong>إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِمْ</strong></span></p>
<p>“Sesungguhnya Allah <em>Tabaraka wa Ta’ala</em> telah mengharamkan jasad para nabi atas tanah” <strong>(HR. Abu Dawud no. 1531 dan An-Nasa’i no. 1374, dinilai shahih oleh Al-Albani)</strong>.</p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>Ketujuh, setiap nabi memiliki <em>haudh</em> (telaga)</strong></span></h2>
<p>Dari Samurah bin Jundub <em>Radhiyallahu ‘anhu, </em>beliau berkata, “Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><strong>إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوْضًا وَإِنَّهُمْ يَتَبَاهَوْنَ أَيُّهُمْ أَكْثَرُ وَارِدَةً وَإِنِّي أَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ وَارِدَةً</strong></span></p>
<p>“Sesungguhnya tiap-tiap nabi itu memiliki telaga, dan sesungguhnya mereka saling membangga-banggakan telaga siapakah di antara mereka yang paling banyak pengunjungnya. Dan sesungguhnya aku berharap menjadi orang yang paling banyak pengunjungnya” <strong>(HR. Tirmidzi no. 2443)</strong>.</p>
<p>Hadis ini diperselisihkan status sahihnya. Dan di antara ulama yang menilai hadis ini hasan adalah Syaikh Ibnu Baaz dan Syaikh Al-Albani <em>Rahimahumullah. </em>Sehingga kita katakan bahwa nabi-nabi yang lain juga memiliki telaga. Meskipun demikian, telaga yang paling istimewa adalah telaga Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>yang mendapatkan suplai air dari surga.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/60275-kedudukan-iman-kepada-para-rasul.html" data-darkreader-inline-color="">Kedudukan Iman kepada Para Rasu</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>Kedelapan, para nabi itu tetap hidup di kubur mereka</strong></span></h2>
<p>Dari sahabat Anas bin Malik <em>Radhiyallahu ‘anhu, </em>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><strong>الأنبياء أحياء في قبورهم يصلون</strong></span></p>
<p>“Para Nabi itu tetap hidup di kubur-kubur mereka, mereka shalat di dalamnya” <strong>(HR. Abu Ya’ala dalam <em>Musnad </em>no. 3425)</strong>.</p>
<p>Dari sahabat Anas bin Malik <em>Radhiyallahu ‘anhu, </em>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><strong>مَرَرْتُ عَلَى مُوسَى لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عِنْدَ الْكَثِيبِ الْأَحْمَرِ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي قَبْرِهِ</strong></span></p>
<p>“Aku melewati Musa pada malam aku di isra’-kan, yaitu di samping bukit merah, beliau  sedang salat di dalam kuburnya” <strong>(HR. Muslim no. 2375)</strong>.</p>
<p>Jika telah diketahui bahwa para nabi itu tetap hidup dalam kubur mereka berdasarkan dalil wahyu <em>(dalil naql), </em>hal itu pun bisa dikuatkan dari sisi logika. Hal ini karena para syuhada juga hidup (di dalam kuburnya) berdasarkan dalil dari Al Quran. Sedangkan kedudukan para nabi itu lebih tinggi daripada kedudukan para syuhada <strong>(<em>Fathul Baari, </em>6: 488)</strong>.</p>
<p>Meskipun demikian, tidak boleh bagi kita untuk meminta sesuatu dari mereka, meskipun mereka tetap hidup di kubur mereka. Karena hal ini tidak pernah dilakukan sama sekali oleh para salaf. Perbuatan itu termasuk sarana menuju kemusyrikan dan juga menujukan ibadah kepada mereka, selain kepada Allah <em>Ta’ala</em>.  Berbeda halnya meminta kepada para Nabi ketika mereka masih hidup di dunia, hal ini bukanlah sarana menuju kemusyrikan <strong>(<em>Qa’idah Jalilah fi At-Tawassul wal Wasilah, </em>hal. 289)</strong>.</p>
<p>Kehidupan para nabi di alam kubur adalah kehidupan di alam barzakh, yang kita tidak mengetahui bagaimanakah hakikatnya. Hal itu termasuk perkara gaib yang tidak Allah <em>Ta’ala</em> kabarkan kepada kita. Sehingga, kehidupan mereka di alam kubur itu berbeda dengan kehidupan mereka di alam dunia.</p>
<p>Dalam masalah ini, terdapat sekelompok orang yang tersesat, karena mereka menyangka bahwa kehidupan para nabi di alam kubur itu sebagaimana kehidupan mereka di alam dunia. Hal ini bisa dibantah dari beberapa aspek:</p>
<p><strong>Pertama, </strong>seandainya para nabi itu hidup di alam kubur sebagaimana hidupnya mereka di alam dunia, maka seharusnya mereka berada di atas bumi (di atas tanah), bukan di bawahnya. Ini adalah <em>sunnatullah</em> yang berlaku atas makhluknya, bahwa orang hidup di dunia itu berada di atas bumi, sedangkan orang yang sudah meninggal di bawah bumi.</p>
<p><strong>Kedua, </strong>terjadi perselisihan pendapat di kalangan sahabat dalam beberapa masalah, demikian pula umat Islam setelah generasi sahabat. Demikian pula, berbagai bidah muncul sepeninggal beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em>Seandainya nabi itu hidup sebagaimana hidupnya di dunia, akan mudah bagi Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>untuk berfatwa, menjelaskan kepada umat manakah yang sunah, dan manakah yang bidah, menjelaskan pekara manakah yang halal dan manakah yang haram.</p>
<p>Atau jika tidak demikian, maka ada kemungkinan yang lain, yaitu Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>tidak mampu untuk berbicara atau tidak mampu menjawab pertanyaan. Atau Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>tidak mampu bangkit dari kuburnya. Kita berlindung kepada Allah <em>Ta’ala</em> dari kesesatan semacam ini.</p>
<p><strong>Ketiga, </strong>Allah <em>Ta’ala</em> mengabarkan bahwa para rasul itu manusia biasa, mereka mati sebagaimana manusia juga mati. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِ<strong>نَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ</strong></span></p>
<p><em>“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)”</em> <strong>(QS. Az-Zumar [39]: 30)</strong>.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><strong>وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِن مِّتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ</strong></span></p>
<p>“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad). Maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?” <strong>(QS. Al-Anbiya’ [21]: 34)</strong>.</p>
<p>Dan tidak terdapat dalil dari Al Quran dan As Sunnah bahwa mereka akan diutus kembali setelah meninggal dunia.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/59189-penjelasan-hadits-doa-rasulullah-bagi-para-pemimpin.html" data-darkreader-inline-color="">Penjelasan Hadits Doa Rasulullah Bagi Para Pemimpin</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/57979-jumlah-para-nabi-dan-rasul.html" data-darkreader-inline-color="">Jumlah Para Nabi dan Rasul</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>[Selesai]</strong></p>
<p><strong>***</strong></p>
<p>@Rumah Kasongan, 17 Jumadil Ula 1442/1 Januari 2021</p>
<p><strong>Penulis: <a href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim"><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</span></a></strong></p>
<p><strong>Artikel: <a href="https://muslim.or.id/"><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</span></a></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<p>Disarikan dari kitab <em>Al-Mabaahits Al-‘Aqdiyyah Al-Muta’alliqah bil Imaan bir Rusul</em> karya Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najar<em>, </em>hal. 51-54.</p>
 