
<h5><b>4. Akrab dengan sebagian fenomena kesyirikan</b></h5>
<p><span style="font-weight: 400;">Kenyataan membuktikan bahwa sebagian pemuda akrab dengan beberapa bentuk kesyirikan. Sebut saja, misalnya memakai jimat agar kebal senjata tajam saat tawuran, belajar ilmu bela diri tenaga dalam yang menggunakan bantuan jin. Atau bisa jadi di antara mereka tertarik pergi ke tukang sihir agar menyihir teman wanitanya supaya mencintainya dan pergi ke dukun agar lulus ujian atau mendapatkan kerjaan. Padahal kesyirikan adalah penyakit terbesar yang menyerang keimanan seseorang, sedangkan tauhid adalah asas perbaikan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketahuilah, bahwa seluruh Rasul </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihimush shalaatu was salaam </span></i><span style="font-weight: 400;">membawa dakwah tauhid, padahal masalah yang dihadapi oleh sebagian mereka berbeda dengan masalah yang dihadapi oleh sebagian lainnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman:</span></p>
<p style="text-align: right;">وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”  </span></i><span style="font-weight: 400;">(QS. An-Nahl: 36).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman,</span></p>
<p style="text-align: right;">لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya Kami telah mengutus (Rasul) Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagi kalian selain-Nya”. Sesungguhnya (kalau kalian tidak menyembah Allah), aku takut kalian akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat)” </span></i><span style="font-weight: 400;">(QS.Al-A’raaf: 59).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman:</span></p>
<p style="text-align: right;">وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka (Nabi) Shaleh. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagi kalian selain-Nya” </span></i><span style="font-weight: 400;">(QS.Al-A’raaf:73).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman:</span></p>
<p style="text-align: right;">وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">µ(65)µ</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, (Nabi) Hud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagi kalian selain dari-Nya. Maka mengapa kalian tidak bertakwa kepada-Nya?”. </span></i><span style="font-weight: 400;">[QS.Al-A’raaf:65].</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman:</span></p>
<p style="text-align: right;">وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, (Nabi) Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagi kalian selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepada kalian bukti yang nyata dari Tuhan kalian. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kalian kurangi bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika benar-benar kalian orang-orang yang beriman” </span></i><span style="font-weight: 400;">(QS.Al-A’raaf: 85).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berkata Ibnul Qoyyim </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah,</span></i></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">التوحيد مفتاح دعوة الرسل</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Tauhid adalah kunci dakwah seluruh para Rasul (‘alaihimush shalatu was salam)” </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikianlah, kendatipun beranekaragam keadaan dan problematika umat-umat manusia, namun tetaplah dakwah Tauhid adalah dakwah asasi, yang pertama dan paling utama! Sama saja, apakah masalah yang mereka hadapi adalah masalah perekonomian seperti pada masa penduduk Madyan (sebagaimana yang disebutkan pada ayat di atas) atau krisis moral, sebagaimana yang terjadi pada kaum Luth </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Maupun masalah politik -yang sesungguhnya setiap umat yang dihadapi oleh para Rasul </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihimush shalaatu was salaam </span></i><span style="font-weight: 400;">semuanya </span><b>tidaklah</b><span style="font-weight: 400;"> berhukum dengan hukum Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">, maka tetaplah solusi yang diambil para Rasul </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihimush shalaatu was salaam </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah Tauhid, sebagai asas seluruh perbaikan dan kuncinya. Walaupun tetap harus ditunjang dengan perbaikan-perbaikan lain yang mengikuti perbaikan yang asasi ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, barangsiapa yang ingin memperbaiki para pemuda, maka tugas besar yang pertama, paling utama dan mendasar adalah membangun dan memperbaiki tauhid mereka.</span></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
 