
<p><strong>Info Donasi: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="http://muslim.or.id/bangunmasjid" data-darkreader-inline-color="">Yuk, Bantu Perluasan Pembangunan Masjid Al Ashri Pogungrejo</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terdapat keutamaan yang besar dalam amal berupa berjalan menuju masjid.</span></p>

<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Pahala Besar dengan Berjalan Menuju Masjid</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya, pahala yang paling besar adalah yang paling jauh rumahnya dari masjid.  </span><span style="font-weight: 400;">Para </span><i><span style="font-weight: 400;">fuqaha </span></i><span style="font-weight: 400;">(ulama ahli fiqih) </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahumullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menegaskan dianjurkannya memperpendek langkah menuju masjid dan tidak tergesa-gesa (alias berjalan dengan tenang) ketika menuju masjid. Hal ini untuk memperbanyak pahala kebaikan ketika berjalan menuju masjid, berdasarkan berbagai dalil yang menunjukkan adanya keutamaan memperbanyak langkah menuju masjid. </span><b>[1]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Maukah kalian aku tunjukkan kepada suatu amal yang dapat menghapus kesalahan (dosa) dan meninggikan derajat?” Para sahabat menjawab, ”Ya, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda</span><b>, ”(Yaitu)</b> <b>menyempurnakan wudhu dalam kondisi sulit, </b><span style="font-weight: 400;">banyaknya langkah menuju masjid, menunggu shalat setelah mendirikan shalat. Itulah </span><i><span style="font-weight: 400;">ar-ribath </span></i><span style="font-weight: 400;">(kebaikan yang banyak).”</span> <b>(HR. Muslim no. 251)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/54283-mendahulukan-kaki-kanan-ketika-masuk-masjid.html" data-darkreader-inline-color="">Mendahulukan Kaki Kanan ketika Masuk Masjid</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Berjalan Kaki Ke masjid Meskipun Jauh</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Abu Musa </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصَّلاَةِ أَبْعَدُهُمْ، فَأَبْعَدُهُمْ مَمْشًى وَالَّذِي يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ حَتَّى يُصَلِّيَهَا مَعَ الإِمَامِ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الَّذِي يُصَلِّي، ثُمَّ يَنَامُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Orang yang paling banyak mendapatkan pahala dalam shalat adalah mereka yang paling jauh (jarak rumahnya ke masjid), karena paling jauh jarak perjalanannya menuju masjid. Dan orang yang menunggu shalat hingga dia melaksanakan shalat bersama imam itu lebih besar pahalanya dari orang yang melaksanakan shalat kemudian tidur.” </span><b>(HR. Bukhari no. 651 dan Muslim no. 662)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits-hadits tersebut menunjukkan keutamaan rumah yang jauh dari masjid, karena banyaknya langkah menuju masjid yang membuahkan pahala yang besar. Besarnya pahala itu karena jauhnya rumah dari masjid dan juga karena bolak-balik pergi ke masjid.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari ‘Ubay bin Ka’ab </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">dia berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">كَانَ رَجُلٌ لَا أَعْلَمُ رَجُلًا أَبْعَدَ مِنَ الْمَسْجِدِ مِنْهُ، وَكَانَ لَا تُخْطِئُهُ صَلَاةٌ، قَالَ: فَقِيلَ لَهُ: أَوْ قُلْتُ لَهُ: لَوْ اشْتَرَيْتَ حِمَارًا تَرْكَبُهُ فِي الظَّلْمَاءِ، وَفِي الرَّمْضَاءِ، قَالَ: مَا يَسُرُّنِي أَنَّ مَنْزِلِي إِلَى جَنْبِ الْمَسْجِدِ، إِنِّي أُرِيدُ أَنْ يُكْتَبَ لِي مَمْشَايَ إِلَى الْمَسْجِدِ، وَرُجُوعِي إِذَا رَجَعْتُ إِلَى أَهْلِي، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَدْ جَمَعَ اللهُ لَكَ ذَلِكَ كُلَّهُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Seseorang yang setahuku tidak ada lagi yang lebih jauh (rumahnya) dari masjid, dan dia tidak pernah ketinggalan dari shalat. ‘Ubay berkata, maka ia diberi saran atau kusarankan, “Bagaimana sekiranya jika kamu membeli keledai untuk kamu kendarai saat gelap atau saat panas terik?” Laki-laki itu menjawab, “Aku tidak ingin rumahku di samping masjid, sebab aku ingin jalanku ke masjid dan kepulanganku ke rumah semua dicatat (pahala).” Maka Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda, “Allah <em>Ta’ala</em> telah kumpulkan untukmu semuanya tadi.” </span><b>(HR. Muslim no. 663)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lihatlah saudaraku, adanya pahala yang besar dari Allah <em>Ta’ala</em> bagi orang-orang yang pergi menuju masjid dan juga ketika berjalan pulang dari masjid. Oleh karena itu, sahabat tersebut lebih memilih untuk berjalan kaki meskipun rumahnya jauh dari masjid.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ، ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مَنْ بُيُوتِ اللهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللهِ، كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً، وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian berjalan ke salah satu rumah Allah (masjid) untuk melaksanakan kewajiban yang Allah tetapkan, maka kedua langkahnya, yang satu menghapus kesalahan dan satunya lagi meninggikan derajat.” </span><b>(HR. Muslim no. 666)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits-hadits tersebut dan yang lainnya, terdapat motivasi untuk bersungguh-sungguh mendatangi masjid dengan berjalan kaki, bukan dengan naik kendaraan, meskipun rumahnya agak jauh. Hal ini dengan catatan, selama hal itu tidak menimbulkan </span><i><span style="font-weight: 400;">masyaqqah </span></i><span style="font-weight: 400;">(kesulitan) dan juga selama tidak ada </span><i><span style="font-weight: 400;">‘udzur </span></i><span style="font-weight: 400;">(misalnya, sudah tua renta dan yang lainnya). Juga motivasi agar tidak membiasakan diri naik kendaraan ketika menuju masjid, jika jarak masjid tersebut masih bisa terjangkau dengan berjalan kaki. </span><b>[2]</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/52129-keluar-masjid-setelah-adzan.html" data-darkreader-inline-color="">Larangan Keluar dari Masjid setelah Adzan Dikumandangkan</a></strong></span></li>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/45725-meninggal-ketika-menuju-ke-masjid-mendapat-jaminan-surga.html" data-darkreader-inline-color="">Meninggal Ketika Menuju Ke Masjid Mendapat Jaminan Surga</a></strong></span></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 27 Jumadil awwal 1441/ 22 Januari 2020</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Anjuran seperti ini tentu bukan pada tempatnya karena hanya akan membebani diri sendiri. Karena yang dimaksud oleh Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah langkah berjalan biasa (normal), bukan langkah yang dibuat-buat sengaja lebih pendek agar lebih banyak jumlah langkah menuju ke masjid. Karena jika memperpendek langkah ini yang Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">maksudkan, tentu akan Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">contohkan dengan perbuatan beliau atau minimal akan Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">anjurkan kepada para sahabatnya. </span></p>
<p><b>[2] </b><span style="font-weight: 400;">Pembahasan ini kami sarikan dari kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Ahkaam Khudhuuril Masaajid </span></i><span style="font-weight: 400;">karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullah, </span></i><span style="font-weight: 400;">hal. 62-63 (cetakan ke empat tahun 1436, penerbit Maktabah Daarul Minhaaj, Riyadh KSA). </span></p>
 