
<p><b><em>Baca pembahasan sebelumnya <a href="https://muslim.or.id/32166-keutamaan-dan-keistimewaan-air-zamzam-01.html">Keutamaan dan Keistimewaan Air Zamzam (01)</a></em><br>
</b></p>
<h2><b>Sebagai obat berbagai penyakit</b></h2>
<p>Berdasarkan riwayat Ibnu ‘Abbas <i>radhiyallahu ‘anhuma </i>yang statusnya <i>marfu’ </i>(perkataan Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam),</i></p>
<h3 style="text-align: right;"><b>خَيْرُ مَاءٍ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ مَاءُ زَمْزَمَ فِيهِ طَعَامٌ مِنَ الطُّعْمِ وَشِفَاءٌ مِنَ السُّقْمِ</b></h3>
<p><i>“Air terbaik di seluruh permukaan bumi adalah air zamzam, di dalamnya terdapat makanan (yang membangkitkan) selera, obat dari berbagai penyakit” </i><b>(HR. Ath-Thabrani dalam </b><b><i>Al-Mu’jam Al-Kabir </i></b><b>11/98) [1]</b></p>
<p>Dari Abu Dzar <i>radhiyallahu ‘anhu, </i>Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>bersabda,</p>
<h3 style="text-align: right;"><b>زَمْزَمُ طَعَامُ طُعْمٍ، وَشِفَاءُ سُقْمٍ</b></h3>
<p><i>“Zamzam adalah makanan (yang membangkitkan) selera, obat dari berbagai penyakit” </i><b>(HR. Ath-Thayalisi dalam </b><b><i>Musnad-</i></b><b>nya no. 459) [2]</b></p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas <i>radhiyallahu ‘anhuma, </i>Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>bersabda,</p>
<h3 style="text-align: right;"><b>إِنَّ الْحُمَّى مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ، فَأَبْرِدُوهَا بِمَاءِ زَمْزَمَ</b></h3>
<p><i>“Sesungguhnya demam berasal dari panas neraka, maka dinginkanlah dengan air zamzam” </i><b>(HR. Ahmad no. 2649). [3]</b></p>
<p><b>Peminum air zamzam akan memperoleh sesuai dengan yang mereka niatkan</b></p>
<p>Dari Jabir bin ‘Abdillah <i>radhiyallahu ‘anhu, </i>Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>bersabda,</p>
<h3 style="text-align: right;"><b>مَاءُ زَمْزَمَ، لِمَا شُرِبَ لَهُ</b></h3>
<p><i>“Air zamzam itu sesuai dengan niat peminumnya” </i><b>(HR. Ibnu Majah no. 3062). [4]</b></p>
<p>Syaikh Dr. Nashir bin Abdurrahman bin Muhammad Al-Juda’i berkata,</p>
<p><i>“Sejumlah ulama besar dan lainnya telah meminum air zamzam untuk tujuan (maksud) yang berbeda-beda. Seperti ilmu yang bermanfaat, menghapal hadits, bagusnya tulisan, sembuh dari sebagian penyakit, mengetahui suatu kegemaran semisal memanah, penangkal dahaga pada hari kiamat, atau manfaat-manfaat agama dan duniawi lainnya. Maka tercapailah apa yang mereka niatkan dan yang mereka maksudkan, sebagaimana yang dinukil dari sebagian mereka.  Dan kita berharap tercapainya tujuan di akhirat, seperti orang yang meminumnya sebagai penangkal dahaga pada hari kiamat.” </i><b>[5] </b></p>
<p>Ibnul ‘Arabi <i>rahimahullah </i>berkata tentang manfaat air zamzam,</p>
<h3 style="text-align: right;"><b>وهذا موجود فيه إلى يوم القيامة لمن صحت نيته، وسلمت طويته، ولم يكن به مكذبا، ولا يشربه مجربا، فإن الله مع المتوكلين، وهو يفضح المجربين</b></h3>
<p><i>“Manfaat ini didapatkan sampai hari kiamat bagi mereka yang benar niatnya, hati nuraninya lurus, tidak berdusta dengannya, dan tidak meminumnya karena coba-coba. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertawakkal dan membuka aib orang yang hanya coba-coba.” </i><b>[6] </b></p>
<h2><b>Air zamzam dibuat menjadi asin</b></h2>
<p>Termasuk keistimewaan air zamzam lainnya adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Az-Zarkasyi <i>rahimahullah </i>bahwa Allah Ta’ala mengistimewakannya dengan membuatnya menjadi asin. Sehingga motivator utama untuk meminumnya adalah keimanan. Kalau rasa airnya tawar, maka faktor pendorong meminumnya adalah tabiat (kebutuhan) sebagaimana manusia pada umumnya, bukan karena faktor keimanan. <b>[7]</b></p>
<p>Maksud perkataan beliau adalah sebagaimana perkataan para ulama,</p>
<h3 style="text-align: right;"><b>إنما لم يكن عذابا ليكون شربه تعبدا لا تلذذا</b></h3>
<p><i>“Air zamzah tidak dibuat tawar agar motivasi meminumnya adalah dalam rangka ibadah, bukan karena mencari kelezatan.” </i><b>[8]</b></p>
<p>Demikianlah keberkahan dan keistimewaan yang Allah Ta’ala berikan kepada air zamzam. Kita jumpai sebagai ilmuwan yang berusaha meneliti kandungan (komposisi) air zamzam untuk dapat lebih menyibak rahasia di balik keistimewaan-keistimewaan tersebut, terutama yang berkaitan dengan kesehatan. Hal ini tentu sangat layak didukung, apalagi ketika penelitian tersebut dilakukan dengan valid sehingga hasilnya pun dapat dipertanggungjawabkan. <b>[9] [Selesai]</b></p>
<p>***</p>
<p>Selesai disusun menjelang maghrib, Rotterdam NL 10 Dzulhijjah 1438/01 September 2017</p>
<p>Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,</p>
<p>Penulis: <a href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim">Muhammad Saifudin Hakim</a><br>
Artikel: <a href="http://muslim.or.id">Muslim.or.id</a></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<h6>
<b>[1] </b><b>    </b>Syaikh Al-Albani berkata, <i>”Sanadnya paling minimal adalah hasan.” </i>(<i>Silsilah Ash-Shahihah, </i>3/45)</h6>
<h6>
<b>[2] </b><b>    </b><b>    </b>Diriwayatkan pula oleh Al-Bazaaar (Lihat <i>Kasyful Astaar ‘an Zawaaidil Bazzaar, </i>2/47). Al-Hafidz Al-Mundziri berkata, <i>“Diriwayatkan oleh Al-Bazzaar dengan sanad yang shahih.” </i>(<i>At-Targhiib wat Tarhiib, </i>2/209) Al-Haitsami berkata, <i>“Diriwayatkan oleh Al-Bazzaar dan Ath-Thabrani dalam Ash-Shaghiir. Perawi Al-Bazzaar adalah perawi yang shahih.” </i>(<i>Majma’ Zawaaid, </i>3/286) As-Suyuthi menyatakan bahwa hadits ini shahih (<i>Al-Jami’ Ash-Shaghir, </i>2/28)</h6>
<h6>
<b>[3] </b><b>    </b><b>    </b>Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata mengomentari hadits ini, <i>“Sanad hadits ini shahih sesuai persaratan Bukhari dan Muslim.”</i>
</h6>
<h6>
<b>[4] </b><b>    </b><b>    </b>Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani.</h6>
<h6>
<b>[5] </b><b>    </b><b>    </b><i>At-Tabarruk Anwaa’uhu wa Ahkaamuhu, </i>hal. 285.</h6>
<h6>
<b>[6]</b><b>    </b> <b>    </b><i>Jaami’ li Ahkaamil Qur’an, </i>9/270.</h6>
<h6>
<b>[7] </b><b>    </b><b>    </b><i>I’laamus Saajid bi Ahkaamil Masaajid, </i>hal. 206.</h6>
<h6>
<b>[8] </b><b>    </b><b>    </b>Diriwayatkan dari Syaikh ‘Abdullah bin Hamid <i>rahimahullah </i>dalam kitab <i>Hidaayatun Naasik ila Ahkaamil Manaasik, </i>hal. 51.</h6>
<h6>
<b>[9]</b><b>    </b>Pembahasan tentang zamzam dan keutamaannya di bab ini kami sarikan dari kitab <b><i>At-Tabarruk Anwaa’uhu wa Ahkaamuhu</i></b> karya Dr. Nashir bin Abdurrahman bin Muhammad Al-Juda’i, hal. 279-294.</h6>
 