
<p>Ayat berikut menunjukkan keutamaan <a href="https://rumaysho.com/tag/sedekah" target="_blank" rel="noopener noreferrer">bersedekah</a> saat masa krisis, bencana, dan kebutuhan hidup melilit. Itulah yang dimaksud dengan memberi makan pada saat <em>dzi mas-ghabah.</em></p>
<p> </p>
<p style="text-align: center;">Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;" align="center"><span style="font-size: 14pt;">فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ (11) وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ (12) فَكُّ رَقَبَةٍ (13) أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ (14)</span></p>
<p style="text-align: center;">“<em>Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, <strong>atau memberi makan pada hari kelaparan</strong>.</em>” (QS. Al-Balad: 11-14).</p>
<p></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Tafsir “pada hari <em>dzi mas-ghabah</em>“</strong></span></h2>
<p style="text-align: left;">Ibnu Jarir Ath-Thabari <em>rahimahullah</em> (224-310 H) menerangkan bahwa memberi makan pada hari “<em>dzi mas-ghabah</em>”, <strong>maksudnya adalah pada masa kelaparan, ketika makanan menjadi langka, di masa semua kebutuhan terfokus pada makanan.</strong> Lihat <em>Tafsir Ath-Thabari</em>, 23:255-256.</p>
<p>Dalam <em>Zaad Al-Masir</em> (9:135), Ibnul Jauzi <em>rahimahullah</em> (508-597 H) berkata menyebutkan perkataan Ibnu Qutaibah bahwa <em>mas-ghabah</em> artinya menderita kelaparan, kata tersebut berasal dari <em>saghiba, yas-ghabu, su-ghuuban</em>, artinya ketika lapar.</p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em>, nama aslinya adalah Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi Asy-Syafii (701-774 H), dalam <em>Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim</em> (7:573) menyebutkan pendapat dari Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma </em>bahwa arti dari <em>dzi mas-ghabah</em> adalah hari kelaparan (<em>dzi ma-jaa’ah</em>). Ibnu Katsir menyatakan bahwa pendapat ini dinyatakan pula oleh Mujahid, Adh-Dhahak, Qatadah, dan selainnya.</p>
<p>Dalam <em>Tafsir Al-Jalalain</em> (hlm. 605), Jalaluddin As-Suyuthi <em>rahimahullah</em> (849-911 H) mengatakan bahwa memberi makan pada hari <em>dzi mas-ghabah</em> adalah memberi makan sewaktu terjadi bencana kelaparan.</p>
<p>Dalam <em>Fath Al-Qadir</em> (5:597), Imam Asy-Syaukani <em>rahimahullah</em> (1173-1250 H) menyebutkan tentang <em>dzi mas-ghbah</em> maksudnya kelaparan. Beliau menyebutkan perkataan sahabat Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma </em>tentang hal ini.</p>
<p>Syaikh As-Sa’di <em>rahimahullah</em> (1307-1376 H) menafsirkan, “Memberi makan pada saat keadaan benar-benar lapar di mana-mana orang-orang butuh mencari makan.” (<em>Tafsri As-Sa’di</em>, hlm. 972)</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin <em>rahimahullah</em> (1347-1421 H) menyatakan, “<strong><em>Dzi mas-ghabah</em> berarti keadaan penuh kelaparan, bisa jadi karena kelaparan melanda, bisa jadi karena hasil pertanian dan buah-buahan berkurang, bisa jadi pula karena penyakit pada tubuh mereka, atau bisa pula ada makanan namun tidak mengenyangkan.</strong>” (<em>Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Juz ‘Amma</em>, hlm. 220)</p>
<p><strong>Baca Juga: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/21924-doa-meminta-perlindungan-dari-kelaparan-dan-sifat-khianat.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Doa Meminta Perlindungan dari Kelaparan dan Sifat Khianat</a></span></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Renungkanlah!</strong></span></h2>
<p>Coba kita renungkan saat wabah melanda seperti ini, kira-kira sudah banyak orang butuh makan ataukah belum?</p>
<ul>
<li>Sekarang pekerja OJOL sulit cari makan, padahal mereka masih menanggung nafkah anak dan istri.</li>
<li>Pekerja bangunan di daerah kami sudah tidak punya pekerjaan lagi karena sedang sepi proyek bangunan.</li>
<li>Para dokter dan ahli medis sekarang hanya bisa focus menangani pasien padahal mereka juga butuh makan dan butuh berbagai alat kebutuhan mereka seperti Alat Pelindung Diri.</li>
<li>Ini belum waktunya pemerintah memutuskan untuk lockdown atau pilihan karantina wilayah, tentu sedekah kebutuhan saat itu benar-benar dibutuhkan.</li>
</ul>
<p> </p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Manfaat sedekah begitu banyak</strong></span></h2>
<p>Ditambah lagi jika wabah corona mau segera terangkat, sedekah harus jadi solusinya.</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> mengatakan bahwa manfaat sedekah begitu banyak, hanya Allah yang bisa menghitungnya, di antara manfaatnya adalah:</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;" align="center"><span style="font-size: 14pt;">أَنَّهَا تَقِيَ مَصَارِعَ السُّوْءِ وَتَدْفَعُ البَلاَءَ حَتَّى إِنَّهَا لَتَدْفَعَ عَنِ الظَّالِمِ , قاَلَ إِبْرَاهِيْمُ النَّخَعِي: وَكَانُوْ يَرَوْنَ أَنَّ الصَّدَقَةَ تَدْفَعُ عَنِ الرَّجُلِ الظَّلُوْمِ ,وَتُطْفِئُ الخَطِيْئَةَ وَتَحْفَظُ المَالَ وَتَجْلِبُ الرِّزْقَ وَتُفْرِحُ القَلْبَ وَتُوْجِبَ الثِّقَّةَ بِاللهِ وَحُسْنَ الظَّنِّ بِهِ</span></p>
<p>“<strong>Sungguh bersedekah itu mencegah kematian yang jelek, mencegah malapetaka (bala), sampai sedekah itu melindungi dari orang yang zalim.</strong> Ibrahim An-Nakha’i mengatakan, ‘Orang-orang dahulu memandang bahwa sedekah akan melindungi dari orang yang suka berbuat zalim.’ <strong>Sedekah juga akan menghapus dosa, menjaga harta, mendatangkan rezeki, membuat gembira hati, serta menyebabkan hati yakin dan berbaik sangka kepada Allah</strong>.” (<em>‘Uddah Ash-Shabirin wa Dzakhirah Asy-Syakirin</em>, hlm. 313).</p>
<p> </p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Mumpung kita masih sehat</strong></span></h2>
<p>Mumpung sekarang kita masih sehat dan punya kesempatan sedekah, yuk, bersedekah.</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata bahwa ada seseorang yang menemui Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, lalu ia berkata,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;" align="center"><span style="font-size: 14pt;">يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الصَّدَقَةِ أَعْظَمُ أَجْرًا قَالَ « أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ ، تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى ، وَلاَ تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلاَنٍ كَذَا ، وَلِفُلاَنٍ كَذَا ، وَقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ »</span></p>
<p>“<em>Wahai Rasulullah, sedekah mana yang lebih besar pahalanya?” Beliau menjawab, “<strong>Engkau bersedekah pada saat engkau masih sehat</strong>, saat engkau takut menjadi fakir, dan saat engkau berangan-angan menjadi kaya. Janganlah engkau menunda-nunda sedekah itu, hingga apabila nyawamu telah sampai di tenggorokan, barulah engkau berkata, ‘Untuk si fulan sekian dan untuk si fulan sekian, padahal harta itu sudah menjadi hak si fulan.</em>” (<em>Muttafaqun ‘alaih</em>. HR. Bukhari no. 1419 dan Muslim no. 1032).</p>
<p style="text-align: center;"><em><strong>Silakan direnungkan. Moga Allah mudahkan kita untuk bersedekah sehingga bala wabah corona segera terangkat dari negeri ini.</strong></em></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/23663-di-rumah-saja-saat-wabah-tetap-dapat-pahala-syahid.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><span style="color: #ff0000;"><strong>Di Rumah Saja Saat Wabah Tetap Dapat Pahala Syahid</strong></span></a></li>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/23644-20-doa-dan-dzikir-saat-wabah-corona-melanda.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><strong>20 Doa dan Dzikir Saat Wabah Corona Melanda</strong></a></span></li>
</ul>
<h3 style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;"><strong>Referensi:</strong></span></h3>
<ol>
<li>
<em>Fath Al-Qadir Al-Jaami’ bayna Fanni Ar-Riwayah wa Ad-Dirayah min ‘Ilmi At-Tafsir</em>. Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Asy-Syaukani. Penerbit Darul Wafa’.</li>
<li>
<em>Jaami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Aayi Al-Qur’an (Tafsir Ath-Thabari).</em> Cetakan pertama, Tahun 1423 H. Al-Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari. Penerbit Dar Ibnu Hazm.</li>
<li>
<em>Tafsir Al-Jalalain</em>. Cetakan kedua, Tahun 1422 H. Jalaluddin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Al-Mahalli dan Jalaluddin ‘Abdurrahman bin Abu Bakr As-Suyuthi. Penerbit Darus Salam.</li>
<li>
<em>Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Juz ‘Amma</em>. Cetakan ketiga, Tahun 1424 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.</li>
<li>
<em>Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim</em>. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.</li>
<li>
<em>Tafsir As-Sa’di</em>. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.</li>
<li>
<em>‘Uddah Ash-Shabirin wa Dzakhirah Asy-Syakirin</em>. Cetakan kedua, Tahun 1429 H. Abu ‘Abdillah Muhammad bin Abu Bakr bin Ayyub Az-Zar’i (Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah). Penerbit Maktabah Ar-Rusyd.</li>
<li>
<em>Zaad Al-Masiir</em>. Cetakan keempat, Tahun 1407 H. Al-Imam Abul Faraj Jamaluddin ‘Abdurrahman bin ‘Ali bin Muhammad Al-Jauzi Al-Qurasyi Al-Baghdadi (Ibnul Jauzi). Penerbit Al-Maktab Al-Islami.</li>
</ol>
<p> </p>
<hr>
<p> </p>
<p style="text-align: center;"><a href="https://darushsholihin.com"><strong>Darush Sholihin</strong></a>, saat menjelang Maghrib, 29 Maret 2020 (4 Syakban 1441 H)</p>
<p style="text-align: center;">Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p style="text-align: center;">Artikel <a href="https://rumaysho.com">Rumasyho.Com</a></p>
 