
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Khotbah Pertama</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَحَمَّدِ نِالْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا</span></p>
<p><em>Ma’asyiral Muslimin,</em> jemaah masjid yang dimuliakan Allah.</p>
<p>Pertama-tama, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan para jemaah sekalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah <em>Ta’ala.</em> Karena takwa merupakan sebaik-baik bekal yang bisa disiapkan seorang muslim untuk kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ وَيُعَلِّمُكُمُ اللّٰهُ ۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ</span></p>
<p><em>“Dan bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” </em>(QS. Al-Baqarah: 282)</p>
<p>Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa di dalam menuntut ilmu <em>syar’i</em> dan mengajarkannya, keduanya sama-sama memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan agung. Dan keduanya sangatlah penting bagi kehidupan seorang muslim. Dengan kedua hal tersebut, seorang muslim bisa meraih banyak sekali kebaikan dan keutamaan.</p>
<p>Dalam proses menuntut ilmu dan mempelajarinya, Allah <em>Ta’ala</em> memerintahkan Nabi-Nya untuk senantiasa berdoa dan meminta kepada Allah agar diberikan tambahan ilmu. Allah <em>Ta’ala</em> tidak pernah memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta diberikan kelebihan sesuatu, kecuali ilmu <em>syar’i</em>. Sungguh, hal ini menunjukkan bahwa ilmu harus diutamakan dari yang selainnya. Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا</span></p>
<p><em>“Dan katakanlah (wahai Muhammad), ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’”</em> (QS. Thaha: 114)</p>
<p>Ayat ini penuh dengan kemuliaan. Menggembirakan mereka yang menuntut ilmu. Memecut kembali semangat yang melemah saat sedang malas dan membangkitkan kembali usaha serta kerja keras di dalam mempelajarinya. Karena Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>yang membawa dan menyampaikan wahyu Allah kepada seluruh manusia saja, masih dan senantiasa diperintahkan untuk berdoa meminta diberikan tambahan ilmu. Lalu, bagaimana halnya dengan kita yang tentu sangat jauh sekali keutamaan dan kedudukannya dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam?!</em></p>
<p>Jemaah yang dimuliakan Allah <em>Ta’ala. </em></p>
<p>Ketahuilah bahwa orang yang berilmu selangkah lebih dekat kepada Rabbnya. Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَّقَاۤىِٕمًا يَّحْذَرُ الْاٰخِرَةَ وَيَرْجُوْا رَحْمَةَ رَبِّهٖۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ ࣖ</span></p>
<p><em>“(Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.”</em> (QS. Az-Zumar: 9)</p>
<p>Pada ayat tersebut, Allah menjelaskan bahwa orang berilmu lebih mulia di sisi Allah <em>Ta’ala </em>daripada orang yang tidak berilmu. Dan kedudukan mereka tentu saja lebih tinggi di sisi Allah <em>Ta’ala</em>. Sebagaimana disebutkan di dalam surat Al-Mujadalah, Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ</span></p>
<p><em>“Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” </em>(QS. Al-Mujadalah: 11)</p>
<p>Di dalam sebuah hadis, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> menjelaskan bagaimana pentingnya kedudukan ilmu <em>syar’i</em> ini terhadap semua hal duniawi. Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">ألا إن الدنيا ملعونةٌ، ملعونٌ ما فيها، إلا ذكرُ الله، وما والاه، وعالمٌ أو متعلمٌ</span></p>
<p><em>“Ketauhilah, dunia itu terlaknat. Segala yang terkandung di dalamnya terlaknat, kecuali orang yang berzikir kepada Allah, yang melakukan ketaatan kepada-Nya, seorang ‘alim atau penuntut ilmu syar’i.”</em> (HR. Tirmidzi no. 2322. Dalam <em>Shohihul Jami’</em>, Syekh Al-Albani mengatakan hadis ini hasan).</p>
<p>Imam Syafi’i <em>rahimahullah </em>bahkan mengaitkan kebahagiaan dunia dan akhirat dengan ilmu. Beliau <em>rahimahullah </em>berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ</span></p>
<p><em>“Barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia, maka hendaknya dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) akhirat, maka hendaknya dengan ilmu.” </em>(<em>Manaqib Asy Syafi’i</em>, 2: 139)</p>
<p><em>Ma’asyiral Muslimin </em>yang berbahagia,</p>
<p>Ketahuilah, bahwa menuntut ilmu lebih didahulukan dan lebih diutamakan daripada amalan-amalan sunah yang lain. Sebagaimana sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إن مقام أحدكم في سبيل الله أفضل من صلاته في بيته سبعين عاما</span></p>
<p><em>“Sesungguhnya berdirinya salah seorang dari kalian di jalan Allah (medan jihad) lebih utama daripada salat (sunah) di rumahnya selama 70 tahun.”</em> (HR. Tirimidzi no. 1650)</p>
<p>Menuntut ilmu merupakan salah satu bentuk jihad di jalan Allah yang paling mulia. Karena hanya dengan ilmulah, agama ini tegak dan tersebar di muka bumi. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ العِلْمِ كَانَ فِي سَبِيْلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ</span></p>
<p><em>“Barang siapa yang keluar dalam rangka untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang.”</em> (Hadis <em>hasan ghariib</em>, diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi no. 2647 dan Al-Bazzar no. 6520)</p>
<p>Menuntut ilmu adalah tanda Allah <em>Ta’ala </em>menginginkan kebaikan untuk diri kita. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين</span></p>
<p><em>“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia paham dalam agama.” </em>(HR. Bukhari no. 3116 dan Muslim no. 1037)</p>
<p>Sebaliknya, saat seseorang bermalas-malasan di dalam mempelajari ilmu <em>syar’i</em>, bahkan meremehkannya, maka ia harus waspada, bisa jadi ini pertanda Allah <em>Ta’ala </em>tidak menginginkan kebaikan untuk dirinya. Hendaknya ia segera bertobat dan menyibukkan diri kembali di dalam belajar dan menuntut ilmu, sehingga nantinya Allah<em> Ta’ala</em> bukakan kembali pintu-pintu kebaikan untuk dirinya.</p>
<p>Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah <em>Ta’ala.</em></p>
<p>Pentingnya menuntut ilmu <em>syar’i</em> dan mempelajarinya bukan semata-mata karena banyaknya keutamaan yang akan diperoleh. Lebih dari itu semua, Allah <em>Ta’ala </em>telah menjadikan <em>tholibul ilmi</em>/ menuntut ilmu sebagai salah satu fitrah dan bawaan semua orang saat ia dilahirkan ke dunia ini. Di mana Allah <em>Ta’ala </em>telah menciptakan serta membekali setiap jiwa yang ada dengan wasilah dan berbagai sarana untuk mendulang ilmu ini. Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ</span></p>
<p><em>“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.” </em>(QS. An-Nahl: 78)</p>
<p>Pendengaran, pengelihatan, dan hati nurani adalah sarana-sarana memperoleh dan mempelajari ilmu <em>syar’i.</em> Allah <em>Ta’ala </em>telah melimpahkan nikmat ini semenjak kita masih di dalam kandungan. Maka, sudah menjadi kewajiban dan keharusan kita untuk mensyukurinya dan memanfaatkan semua kenikmatan tersebut dengan sebaik-baiknya.</p>
<p>Berusaha untuk memperdalam pengetahuan dan keilmuan agama Islam kita, mempelajari apa-apa yang menjadi kewajiban kita, dan memaksimalkan waktu yang ada untuk terus menerus duduk di majelis ilmu.</p>
<p>Jemaah yang dimuliakan Allah <em>Ta’ala.</em></p>
<p>Tentu saja, semua keutamaan yang telah kita sebutkan tidak akan bisa diraih, kecuali oleh mereka yang ikhlas dan mengamalkan ilmu yang telah ia pelajari. Hanya berilmu dan semangat belajar saja tidak cukup. Semuanya harus dibarengi dengan keikhlasan dan realisasi atas apa yang telah kita pelajari. Karena di akhirat nantipun kita akan dimintai pertanggungjawaban atas ilmu yang telah kita pelajari.</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لا تزولُ قدما عبدٍ يوم القيامة حتى يُسألَ عن عمرِه؛ فيمَ أفناه؟ وعن علمِه؛ فيمَ فعل؟ وعن مالِه؛ من أين اكتسبه؟ وفيمَ أنفقه؟ وعن جسمه؛ فيمَ أبلاه؟</span></p>
<p><em>“Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser dari tempatnya untuk dihisab (ke surga atau ke neraka), hingga ia ditanya mengenai hidupnya. U</em><em>ntuk apa ia habiskan? Tentang ilmunya, apa yang dilakukan dengannya? Tentang hartanya, dari mana dia memperolehnya? Untuk apa ia belanjakan? Tentang tubuhnya, untuk apa ia pergunakan?” </em>(HR. Tirmidzi no. 2417, Ad-Darimi no. 537 dan Al-Baihaqi no. 494)</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ</span></p>
<p> </p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Khotbah Kedua</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.</span></p>
<p>Jemaah salat Jumat yang insyaAllah dimuliakan oleh Allah <em>Ta’ala</em>.</p>
<p>Ketahuilah, bahwa sesungguhnya ilmu <em>syar’i</em> ini tidak akan sampai kepada kita dan tidak akan bisa kita pahami, kecuali karena peran penting dan andil besar para ulama, <em>asatidzah</em>, dan guru-guru yang telah mengabdikan kehidupannya untuk membela ilmu <em>syar’i</em>, mendakwahkannya, dan menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia.</p>
<p>Sungguh, mereka itulah sebenar-benarnya pewaris para nabi, pemikul ajarannya, dan pembela kitab sucinya. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>pernah mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إنَّ العلماءَ ورثةُ الأنبياءِ إنَّ الأنبياءَ لم يورِّثوا دينارًا ولا درْهمًا إنَّما ورَّثوا العلمَ فمَن أخذَ بِهِ فقد أخذَ بحظٍّ وافرٍ</span></p>
<p><em>“Sungguh para ulama adalah pewaris para nabi. Dan sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Maka, siapa saja yang mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang melimpah.” </em>(HR. Abu Daud no. 3641 dan At-Tirmidzi no. 2682)</p>
<p>Bagi mereka yang menyebarkan, mengajarkan, dan mendakwahkan ilmu ini, maka Allah <em>Ta’ala</em> menjanjikan balasan yang sangat agung. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ</span></p>
<p><em>“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”</em> (HR. Muslim no. 1893)</p>
<p>Jemaah yang berbahagia.</p>
<p>Mengajarkan ilmu merupakan bentuk keberkahan dan tanda bahwa ilmunya tersebut bermanfaat. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>pernah mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثٍ : صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ , أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ , أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ</span></p>
<p><em>“Jika anak Adam meninggal, maka terputuslah semua amalnya, kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” </em>(HR. Muslim no. 1631)</p>
<p>Dari hadis ini kita belajar, bahwa salah satu investasi amal yang akan berguna di saat kita telah meninggal dunia dan pahalanya tidak akan terputus adalah mengajarkan ilmu <em>syar’i</em> yang sudah pernah kita pelajari.</p>
<p>Sedangkan mereka yang sudah mempelajari sebuah ilmu, lalu menyembunyikan ilmu tersebut dan tidak mau mengajarkannya, maka ancamannya sangatlah keras. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ</span></p>
<p><em>“Siapa saja yang ditanya tentang suatu ilmu, lalu ia menyembunyikannya, maka akan diberikan pada hari kiamat penutup mulut dari api neraka.</em>” (HR. Abu Dawud no. 3658, Tirmidzi no. 2649 dan Ahmad no. 10420)</p>
<p>Di hadis yang lain Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مثلُ الَّذي يتعلَّمُ العلمَ ثمَّ لا يحدِّثُ بِهِ كمثلِ الَّذي يَكْنزُ الكنزَ ثمَّ لا ينفقُ منهُ</span></p>
<p><em>“Perumpamaan orang yang menuntut ilmu lalu ia tidak menyampaikannya, seperti orang yang menumpuk harta dan tidak mengeluarkan zakatnya.” </em>(HR. Thabrani dalam <em>Al-Ausath</em> no. 689)</p>
<p>Marilah kita berdoa. Semoga Allah <em>Ta’ala </em>senantiasa membimbing kita menuju jalan yang benar, memberikan kita rasa semangat dan antusias di dalam mendalami dan mempelajari ilmu <em>syar’i</em> yang mulia ini. Kita semua juga berdoa, semoga Allah <em>Ta’ala </em>menghindarkan diri kita dari ilmu yang tidak bermanfaat, memberikan kita kekuatan untuk senantiasa menyampaikan kebenaran yang telah kita pelajari dan tidak menyembunyikannya.</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ</span></p>
<p><em>“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak merasa puas, dan dari doa yang tidak didengar (tidak dikabulkan).”</em> (HR. Abu Dawud no. 1548, An-Nasa’i no. 5536, dan Ibnu Majah no. 3837. Hadis ini sahih).</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ</span></p>
<p> </p>
<p>***</p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color="">Muhammad Idris, Lc.</span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color="">www.muslim.or.id</span></strong></p>
 