
<p>Islam memberikan kemudahan dalam syari’atnya. Ada dua contoh yang akan dijelaskan yaitu kemudahan dalam hal puasa dan dalam hal shalat. Coba baca ulasan khutbah Jumat berikut ini.</p>
<p> </p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Khutbah Pertama</span></h4>
<p> </p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ[</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">]يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا[</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا[</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَأَفْضَلُ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ r وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ َوكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ</p>
<h1></h1>
<h5><span style="color: #0000ff;">Kaum muslimin <em>rahimakumullah</em>,</span></h5>
<p> </p>
<p>Syariat Islam itu membawa kemudahan. Contoh saat tidak mampu berwudhu dengan air, maka bisa beralih pada tayamum. Saat tidak mampu shalat sambil berdiri, maka bisa mengerjakannya sambil duduk.</p>
<p>Contoh lainnya adalah kemudahan dalam puasa dan dalam menghadap kiblat.</p>
<p> </p>
<p>Contoh pertama, dalam syari’at puasa, Allah <em>Ta’ala</em> menyatakan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ</p>
<p>“<em>Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.</em>” (QS. Al Baqarah: 185).</p>
<p>Sebelumnya Allah <em>Ta’ala</em> menetapkan wajibnya puasa, lantas bagi yang sakit dan bersafar dinyatakan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ</p>
<p>“<em>Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain</em>.” (QS. Al Baqarah: 185).</p>
<p> </p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, “Sesungguhnya diberikan keringanan bagi kalian untuk tidak berpuasa ketika sakit dan saat bersafar. Namun puasa ini wajib bagi yang bermukim dan dalam kondisi sehat. Itu semua adalah kemudahan dan rahmat Allah bagi kalian.” (<em>Tafsir Al</em><em>–</em><em>Qur’an Al-</em><em>‘Azhim</em>, 2: 59).</p>
<p> </p>
<p>Adapun puasa ketika safar adalah pilihan, bukan suatu keharusan. Karena para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum </em>pernah keluar bersama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> di bulan Ramadhan. Di antara mereka ada yang berpuasa dan yang lainnya tidak berpuasa. Namun dua pihak yang berbeda tidak saling mencela satu dan lainnya. Seandainya berpuasa tidak dibolehkan saat safar, tentu akan diingkari. Bahkan keadaan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga pernah berpuasa saat safar. (Lihat <em>Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim</em>, 2: 60).</p>
<p> </p>
<h5><span style="color: #0000ff;">Jama’ah shalat Jum’at <em>rahimakumullah</em>,</span></h5>
<p> </p>
<p>Contoh kedua, dalam penetapan arah kiblat ada kemudahan.</p>
<p>Bagi yang melihat ka’bah secara langsung, berada di Masjidil Haram Makkah, maka ia wajib menghadap ka’bah secara langsung.</p>
<p>Ibnu Qudamah menyatakan, “Jika seseorang langsung melihat ka’bah, wajib baginya menghadap langsung ke ka’bah. Kami tidak mengetahui adanya perselisihan mengenai hal ini. Ibnu ‘Aqil mengatakan, ‘Jika melenceng sebagian dari Ka’bah (saat bisa melihatnya langsung, pen.), shalatnya tidak sah’.” (Lihat <em>Al-Mughni</em>, 2: 272)</p>
<p>Sedangkan bagi yang jauh dari Ka’bah seperti kita yang berada di Indonesia, Allah <em>Ta’ala</em> nyatakan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ</p>
<p>“<em>Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya</em>.” (QS. Al-Baqarah: 144). Menurut pendapat pertama ini, mereka menafsirkan “<em>syatro</em>” dalam ayat tersebut dengan arah yaitu arah ka’bah. Jadi bukan yang dimaksud persis menghadap ke ka’bah namun diberi keringanan menghadap arahnya.</p>
<p>Para ulama juga berdalil dengan hadits,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ</p>
<p>“<em>Arah antara timur dan barat adalah kiblat</em>.” (HR. An-Nasa’i, no. 2243; Ibnu Majah, no. 1011; Tirmidzi, no. 342. Tirmidzi mengatakan hadits ini <em>shahih</em>. Dikatakan oleh Syaikh Al-Albani dalam <em>Irwa’ Al-Ghalil</em> dan Misykah Al-Mashabih bahwa hadits ini <em>shahih</em>). Kiblat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>di kota Madinah menghadap ke arah selatan. Lalu dalam hadits di atas hanya dinyatakan antara timur dan barat adalah kiblat. Selama arahnya seperti itu sudah memenuhi syarat sah shalat. Berarti untuk di negeri kita, kiblat adalah menghadap ke arah barat yaitu arah antara utara dan selatan.</p>
<p>Bagi yang mau paskan persis menuju Masjidil Haram (ka’bah), dipersilakan. Bagi yang menuju arah barat pun tetap sah. <em>Wallahu a’lam.</em></p>
<p>Itulah bukti kemudahan dalam syari’at kita. Demikian khutbah pertama ini.</p>
<p> </p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ</p>
<h1></h1>
<h4><span style="color: #ff0000;">Khutbah Kedua</span></h4>
<p> </p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَنَا مُحَمَّدٌ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ:</p>
<p> </p>
<h5><span style="color: #0000ff;">Jama’ah shalat Jum’at yang semoga dirahmati oleh Allah,</span></h5>
<p> </p>
<p>Kita sudah dapat kemudahan dalam syari’at seperti dicontohkan tadi. Namun di antara kita masih malas dan enggan untuk beribadah. Ada di antara shalat kita yang masih seperti shalatnya orang munafik, masih dalam keadaan malas, ingin pamer, dan hanya ingin beribadah yang sedikit. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا</p>
<p>“<em>Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.</em>” (QS. An Nisaa’: 142).</p>
<p>Coba lihat perkataan ulama di masa silam mengenai orang yang malas ibadah. Apa tandanya?</p>
<p>Ibrahim An-Nakha’i <em>rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">كَفَى عَلَماً عَلَى النِّفَاقِ أَنْ يَكُوْنَ الرَّجُلُ جَارَ المسْجِد ، لاَ يُرَى فِيْهِ</p>
<p>“Cukup disebut seseorang memiliki tanda munafik jika ia adalah tetangga masjid namun tak pernah terlihat di masjid” (<em>Fath Al-Bari</em> karya Ibnu Rajab 5: 458; <em>Ma’alim As-Sunan</em> 1: 160. <em>Lihat Minhah Al-‘Allam</em>, 3: 365).</p>
<p>Akhirnya kami memohon kepada Allah <em>Ta’ala</em> agar senantiasa memberikan petunjuk kepada kami dan kepada saudara-saudara kami kaum Muslimin menuju shiratul mustaqîm dan kami memohon kepada Allah <em>Ta’ala</em> agar senantiasa memudahkan urusan kita di dunia dan akhirat.</p>
<p> </p>
<p>Jangan lupa untuk memperbanyak shalat di hari Jumat ini. Siapa yang bershalawat sekali, maka Allah akan membalasnya sepuluh kali.</p>
<p> </p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">اللهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الفَاتِحِيْنَ.</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">اللهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.</p>
<p>—</p>
<p>Naskah Khutbah Jumat oleh Muhammad Abduh Tuasikal di Masjid Jenderal Sudirman Panggang, 20 Sya’ban 1437 H</p>
<p>Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p><a href="http://rumaysho.com/">Rumaysho.Com</a>, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam</p>
 