
<p>Bagi yang Allah karuniai kecukupan rizki maka hendaklah dia menunaikan ibadah haji, karena haji merupakan kewajiban dan rukun Islam.</p>
<p>Barangsiapa yang menunaikan ibadah haji menurut cara dan tuntunan yang disyariatkan, maka <em>insya Allah</em> dia termasuk dalam kandungan sabda Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> yang berbunyi:</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">العُمْرَةُ إِلىَ العُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ</span></p>
<p>“<em>Umrah ke umrah adalah penghapus dosa diantara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga</em>” (HR. Bukhari – Muslim).</p>
<p>Haji mabrur adalah haji yang sesuai dengan tuntunan syar’i, menyempurnakan hukum-hukumnya, mengerjakan dengan penuh kesempurnaan dan lepas dari dosa serta terhiasi dengan amalan shalih dan kebaikan.</p>
<p>Bila ada yang bertanya, bagaimanakah kriteria haji mabrur?</p>
<p><strong>Pertama</strong>: Ikhlas, seorang hanya mengharap pahala Allah, bukan untuk pamer, kebanggan, atau agar dipanggil oleh masyarakatnya “pak haji” atau “bu haji”.</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّـهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ ﴿٥﴾</span></p>
<p>“<em>Mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan penuh keikhlasan</em>” (QS. Al-Bayyinah: 5)</p>
<p><strong>Kedua</strong>: <em>Ittiba</em>’ (meneladani) kepada Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>, dia berhaji sesuai tata cara haji yang diperaktekkan oleh Nabi dan menjauhi perkara-perkara bid’ah haji. Beliau sendiri bersabda:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">خُذُوْا عَنِّيْ مَنَاسِكَكُمْ</span></p>
<p>“<em>Contolah cara manasik hajiku</em>” (HR. Muslim).</p>
<p><strong>Ketiga</strong>: Harta untuk berangkat hajinya adalah harta yang halal. Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>bersabda:</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ, لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا</span></p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah itu baik, Dia tidak menerima kecuali dari yang baik</em>” (HR. Muslim).</p>
<p><strong>Keempat</strong>: Menjauhi segala kemaksiatan, kebid’ahan dan penyimpangan.</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّـهُ ۗوَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ ﴿١٩٧﴾</span></p>
<p>“<em>Barangsiapa yang menetapkan niatnya untuk haji di bulan itu maka tidak boleh rafats (kata-kata tak senonoh), berbuat fasik dan berbantah-bantahan pada masa haji</em>” (QS. Al-Baqarah: 197).</p>
<p><strong>Kelima</strong>: Berakhlak baik antar sesama, tawadhu dalam bergaul, dan suka membantu kebutuhan saudara lainnya.</p>
<p>Alangkah bagusnya ucapan Ibnu Abdil Barr dalam <em>At-Tamhid</em> (22/39): “Adapun haji mabrur, yaitu haji yang tiada riya’ dan sum’ah di dalamnya, tiada kefasikan, dan dari harta yang halal”.</p>
<p>Semoga Allah menganugerahkan kita haji mabrur.</p>
<p>***</p>
<p><strong>Penulis:</strong> Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi</p>
<p><strong>Artikel</strong> Muslim.or.id</p>
 