
<p>Ada seorang ibu seorang sahabat mulia yaitu Sa’ad bin Abi Waqqash yang mengajak anaknya berbuat syirik. Kisahnya adalah sebab turunnya surah Lukman ayat berikut ini,</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ</span></p>
<p>“<em>Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan</em>” (QS. Lukman: 15)</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/2357-nasehat-lukman-pada-anaknya-4-ketika-orang-tua-mengajak-berbuat-syirik.html" target="_blank" rel="noopener">Nasehat Lukman, Ketika Orang Tua Mengajak Berbuat Syirik</a></span></strong></span></p>
<p>Lihatlah kisah teladan berikut ini sebagaimana dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam kitab sahihnya dari Mush’ab bin Sa’ad dari ayahnya (yaitu Sa’ad) bahwa beberapa ayat Al-Qur’an turun padanya. Dia berkata,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">حَلَفَتْ أُمُّ سَعْدٍ أَنْ لاَ تُكَلِّمَهُ أَبَدًا حَتَّى يَكْفُرَ بِدِينِهِ وَلاَ تَأْكُلَ وَلاَ تَشْرَبَ. قَالَتْ زَعَمْتَ أَنَّ اللَّهَ وَصَّاكَ بِوَالِدَيْكَ وَأَنَا أُمُّكَ وَأَنَا آمُرُكَ بِهَذَا. قَالَ مَكَثَتْ ثَلاَثًا حَتَّى غُشِىَ عَلَيْهَا مِنَ الْجَهْدِ فَقَامَ ابْنٌ لَهَا يُقَالُ لَهُ عُمَارَةُ فَسَقَاهَا فَجَعَلَتْ تَدْعُو عَلَى سَعْدٍ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِى الْقُرْآنِ هَذِهِ الآيَةَ (وَوَصَّيْنَا الإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا) (وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِى) وَفِيهَا (وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوفًا)</span></p>
<p>Ummu Sa’ad (Ibunya Sa’ad) bersumpah tidak akan mengajaknya bicara selamanya sampai dia kafir (murtad) dari agamanya, dan dia juga tidak akan makan dan minum. Ibunya mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah mewasiatkan padamu untuk berbakti pada kedua orang tuamu, dan aku adalah ibumu. Saya perintahkan padamu untuk berbuat itu (memerintahkan untuk murtad, pen)’.</p>
<p>Sa’ad mengatakan, “Lalu Ummu Sa’ad diam selama tiga hari kemudian jatuh pingsan karena kecapekan. Kemudian datanglah anaknya yang bernama ‘Umarah, lantas memberi minum padanya, tetapi ibunya lantas mendoakan (kejelekan) pada Sa’ad. Lalu Allah menurunkan ayat,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا</span></p>
<p>“<em>Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya.</em>” (QS. Al-‘Ankabut: 8). Dan juga ayat,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي</span></p>
<p>“<em>Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku.</em>” (QS. Lukman: 15), yang di dalamnya terdapat firman Allah,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا</span></p>
<p>“<em>Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.”</em> (QS. Lukman: 15). Lalu beliau menyebutkan lanjutan hadits. (HR. Muslim, no. 1748)</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/14372-diancam-murtad.html" target="_blank" rel="noopener">Diancam Murtad</a></span></strong></span></p>
<p>Karenanya, tidak ada ketaatan kepada kedua orang tua dan selainnya dalam melakukan kesyirikan, kemungkaran, <a href="https://rumaysho.com/885-mengenal-bidah-diawali-dengan-memahami-definisi-bidah.html" target="_blank" rel="noopener">bid’ah</a>, kesesatan, dan <a href="https://rumaysho.com/19260-khutbah-jumat-bermaksiat-dengan-gadget.html" target="_blank" rel="noopener">maksiat</a>. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">وَلَا تُطِيعُوا أَمْرَ الْمُسْرِفِينَ , الَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ</span></p>
<p>“<em>Dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan.</em>” (QS. Asy-Syu’ara: 151-152).</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا</span></p>
<p>“<em>Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.</em>” (QS. Al-Kahfi: 28).</p>
<p>Juga dalam hadits disebutkan,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةٍ ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ</span></p>
<p>“<em>Tidak ada kewajiban ta’at dalam rangka bermaksiat (kepada Allah). Ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma’ruf (bukan maksiat).</em>” (HR. Bukhari, no. 7257)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga bersabda,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ ، فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ</span></p>
<p>“<em>Seorang muslim wajib mendengar dan taat dalam perkara yang dia sukai atau benci selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Apabila diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat.”</em> (HR. Bukhari, no. 7144).</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga: <a href="https://rumaysho.com/3727-taat-pada-pemimpin-pada-selain-perkara-maksiat.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;">Taat pada Pemimpin pada Selain Perkara Maksiat</span></a></strong></span></p>
<p> </p>
<h4><strong>Pelajaran dari kisah Sa’ad bin Abi Waqqash</strong></h4>
<p>Meski menghadapi tekanan yang dilancarkan oleh sang ibu kepada putranya, di samping bahwa ia sangat berbakti kepada ibunya, tetapi ia tetap lebih memilih kebenaran dan akidah yang benar daripada kebatilan yang dianut oleh keluarga dan kaumnya. Dengan demikian keislamannya merupakan keislaman yang didasari keyakinan yang mantap. Maka dari itu beberapa ayat mengukuhkan sikapnya, dan menjelaskan bahwa tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kedurhakaan kepada Pencipta.</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga: <a href="https://rumaysho.com/16882-cara-membahagiakan-orang-tua.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;">Cara Membahagiakan Orang Tua</span></a></strong></span></p>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
<p> </p>
<p>—</p>
<p style="text-align: left;">Diselesaikan di<a href="https://darushsholihin.com"> @ Darush Sholihin</a>, 7 Februari 2021 (25 Jumadal Akhirah 1442 H)</p>
<p style="text-align: left;">Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p style="text-align: left;">Artikel <a href="https://rumaysho.com">Rumasyho.Com</a></p>
 