
<h2 style="text-align: center;">Hadits 16 – Adab Makan (Larangan Berlebih-lebihan)</h2>
<p style="text-align: center;"><strong>Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA</strong></p>
<p class="arab"><strong>وَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم  : كُلْ، وَاشْرَبْ، وَالْبَسْ، وَتَصَدَّقْ فِي غَيْرِ سَرَفٍ، وَلَا مَخِيلَةٍ . أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ, وَأَحْمَدُ, وَعَلَّقَهُ اَلْبُخَارِيُّ</strong></p>
<p>Dari ‘Amr Ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, <em>radhiyallāhu ‘anhum</em> (semoga Allāh meridhai mereka) berkata, Rasūlullāh ﷺ bersabda, <em>“Makanlah dan minumlah dan berpakaianlah dan bersedekahlah tanpa berlebihan (isrāf) dan tanpa kesombongan.”</em> (<strong>HR. Abū Dāwūd</strong>, <strong>Ahmad</strong> dan <strong>Al-Bukhāri </strong>meriwayatkan secara ta’liq)</p>
<p>Sesungguhnya Allāh <em>ﷻ</em> pada asalnya menghalalkan bagi hamba-hamba-Nya seluruh perkara dan rezeki yang baik. Makanan dan minuman, pakaian, tempat tinggal, tunggangan/kendaraan, dan seluruh kebaikan-kebaikan yang ada di atas muka bumi ini, hukum asalnya adalah halal. Allāh tidak akan mengharamkan bagi hamba-hamba-Nya kecuali yang mendatangkan kemudharatan, baik kemudharatan bagi agamanya, badannya, akalnya, harga dirinya, atau bagi hartanya.</p>
<p>Hadits yang akan kita bahasa ini juga memperkuat pernyataan bahwa seluruh perkara dan kesenangan yang baik di atas muka bumi ini dihalalkan oleh Allāh <em>ﷻ</em>.</p>
<p>Allāh <em>ﷻ</em> telah menyatakan dalam Al-Qurān,</p>
<p class="arab">هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا</p>
<p><em>“Dialah Allāh </em><em>ﷻ</em><em> yang telah menciptakan bagi kalian seluruh yang ada di atas muka bumi ini.” </em> (<strong>QS. Al-Baqarah: 29</strong>)</p>
<p>Jadi pada asalnya seluruh perkara yang baik di atas muka bumi ini hukumnya halal dan dipersilakan untuk dimanfaatkan. Akan tetapi, perkara-perkara baik yang hukum asalnya halal tersebut bisa jadi diubah hukumnya oleh Allāh menjadi haram kalau sudah mencapai tingkatan <em>saraf</em> (berlebihan) dan <em>makhyalah</em> (untuk kesombongan). Oleh karena itu, dalam hadits ini diperintahkan untuk menikmati karunia Allah di muka bumi  ini dengan dua syarat berikut ini;</p>
<ul>
<li>Tidak boleh berlebih-lebihan.</li>
<li>Tidak boleh karena kesombongan.</li>
</ul>
<p>Allāh <em>ﷻ</em> menyatakan dalam Al-Qurān,</p>
<p class="arab">كُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا</p>
<p><em>“Makanlah dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan.”</em> (<strong>QS. Al-A’rāf: 31</strong>)</p>
<p>Oleh karenanya, diperbolehkan menikmati makan dan minuman yang baik-baik dengan syarat tidak sampai derajat berlebih-lebihan dan tidak boleh dalam derajat kesombongan.</p>
<h3><strong>Apa bedanya antara <em>saraf</em> (berlebihan) dengan <em>tabdzīr</em>? </strong></h3>
<p>Ada dua perbedaan :</p>
<p><em>Pertama</em> : Israf adalah bentuk berlebih-lebihan pada segala perkara, baik dalam infak atau amalan yang lain. Adapun tabdzir hanya berkaitan dengan berlebih-lebihan dalam harta. Dari sisi ini maka Isrof lebih umum dibandingkan tabdzir</p>
<p><em>Kedua</em> : Jika berkaitan dengan infak maka Israf berkaitan dengan pengeluaran yang berlebihan pada perkara-perkara yang asalnya adalah mubah. Misalnya makanan dan minuman yang halal (asalnya boleh, tetapi karena berlebih-lebihan menjadi tidak boleh). Jadi saraf bukan pada perkara yang maksiat, melainkan pada perkara yang boleh tetapi berlebih-lebihan. Makanya Allāh mengatakan, <em>“Makanlah dan minumlah dan janganlah kalian berlebih-lebihan.”</em></p>
<p>Adapun tabdzir maka berkaitan dengan kemaksiatan.</p>
<p>Misalnya:</p>
<ul>
<li>Seseorang mengeluarkan hartanya pada hal-hal yang dilarang oleh Allāh <em>ﷻ</em>. Ini namanya <em>mubadzdzir</em>.</li>
<li>Seseorang yang mengeluarkan hartanya berlebih-lebihan pada perkara yang halal. Ini juga disebut dengan <em>mubadzdzir</em>.</li>
</ul>
<p>Dari sisi ini maka tabdzir mencakup isrof juga, karena isrof juga adalah kemaksiatan.</p>
<p>Allāh berfirman,</p>
<p class="arab">إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ</p>
<p><em>“Dan sesungguhnya orang-orang yang melakukan tabdzīr adalah saudara-saudaranya syaithān.”</em> (<strong>QS. Al-Isrā: 27</strong>)</p>
<p>Dari sisi ini maka tabdzir lebih umum mencakup berlebih-lebihan pada perkara yang haram/maksiat, dan juga mencakup isrof (berlebih-lebihan pada perkara yang asalnya boleh)</p>
<p>Oleh karenanya, silakan makan, minum dan bersedekah tapi jangan berlebih-lebihan dan juga karena kesombongan. Karena bisa jadi makanan bisa menghantarkan pada sikap berlebih-lebihan (terlalu banyak atau terlalu mahal). Sikap ini akan memberikan kemudharatan kepada tubuh. Seluruh yang berlebih-lebihan akan memberi kemudharatan pada tubuh.</p>
<p>Makanan juga bisa mengantarkan seseorang kepada kesombongan. Seperti seorang yang sengaja membeli makanan yang mahal kemudian dipamerkan kepada teman-temannya, diunggah dalam status Facebook/WA/IG-nya, dan sebagainya. Hal seperti ini termasuk kesombongan. Demikian pula orang yang hanya mau makan makanan yang mahal, bermerk, dan di tempat yang elit. Maka hal ini termasuk <em>makhyalah</em> (kesombongan) yang diharamkan oleh Allāh <em>ﷻ</em>.</p>
<p><em>Wallahu A’lam.</em></p>
 