
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika ada wabah para ahli kesehatan menghimbau </span><i><span style="font-weight: 400;">“social distancing”</span></i><span style="font-weight: 400;"> yaitu berusaha meminimalkan interaksi, bertemu, berkumpul dalam jumlah massa yang banyak untuk sementara. Inilah yang paling efektif untuk menegah wabah menular dan menyebar, sehingga sangat ditekankan –maaf sekali lagi ditekankan- agar tetap di rumah dan tidak keluar dahulu apabila tidak ada kebutuhan yang sangat penting.</span></p>

<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Konsep </b><b><i>“Social Distancing”</i></b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Ternyata konsep </span><i><span style="font-weight: 400;">“social distancing”</span></i><span style="font-weight: 400;"> ini telah diterapkan sejak dulu oleh sahabat Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shalllallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">, yaitu sahabat ‘Amr bin ‘Ash. Kisahnya ketika terjadi wabah di Syam. Para sejarawan muslim mencatat sekitar 25.000 sampai 30.000 korban meninggal akibat wabah tha’un di Syam. Dua gubernur sebelumnya, sahabat yang mulia Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah dan Mu’adz bin Jabal meninggal karena wabah. Ketika ‘Amr bin ‘Ash menjadi gubernur, beliau memerintahkan agar kaum muslimin berpencar dan pergi tinggal ke gunung-gunung saling menjauh satu sama lainnya. Beliau berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>أيها الناس إن هذا الوجع إذا وقع فإنما يشتعل اشتعال النار</b> <b>فتجبلوا منه في الجبال</b><b><i>.</i></b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Wahai manusia, sesungguhnya wabah ini terjadi seperti api yang menyala (semakin dahsyat jika bahan bakarnya berkumpul), hendaknya kalian menyebar tinggal di gunung-gunung.” </span><b>[</b><b><i>Musnad Ahmad</i></b><b> no. 1697]</b></p>
<p><strong>Baca Juga: <a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/55274-hukum-menghadiri-shalat-jamaah-dan-shalat-jumat-di-masjid-ketika-terjadi-wabah.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Menghadiri Shalat Jamaah dan Shalat Jum’at di Masjid ketika Terjadi Wabah</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Konsep </b><b><i>“lockdown” </i></b><b>atau Karantina Wilayah</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian juga konsep </span><i><span style="font-weight: 400;">“lockdown”</span></i><span style="font-weight: 400;">  yaitu mencegah dan melarang orang masuk di suatu wilayah serta melarang orang keluar dari suatu wilayah untuk mencegah wabah masuk maupun keluar. Konsep ini adalah konsep Islam sejak dahulu kala di mana Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shalllahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إِذَا سَمِعْتُمُ الطَّاعُونَ بِأَرْضٍ، فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأرْضٍ، وأنْتُمْ فِيهَا، فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا. متفق عَلَيْهِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Apabila kalian mendengar wabah </span><i><span style="font-weight: 400;">tha’un</span></i><span style="font-weight: 400;"> melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu melanda suatu negeri sedang kalian ada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri itu.” </span><b><i>(Muttafaqun ‘alaihi)</i></b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">An-Nawawi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وفي هذه الأحاديث منع القدوم على بلد الطاعون ومنع الخروج منه فرارا من ذلك. أما الخروج لعارض فلا بأس به</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Hadits-hadits ini menunjukkan terlarangnya mendatangi daerah yang terkena wabah tha’un dan larangan untuk keluar dengan tujuan menghindari wabah, Adapun keluar karena ada keperluan, maka tidaklah mengapa (misalnya untuk belanja keperluan makanan ke negeri tetangga).” </span><b>[</b><b><i>Syarh Shahih Muslim, </i></b><b>14: 205-207]</b></p>
<p>Baca Juga:  <strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/55194-hukum-memakai-masker-ketika-shalat-saat-terjadi-wabah-covid-19.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Memakai Masker ketika Shalat Saat Terjadi Wabah Covid-19</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Tidak Bersentuhan atau Berjabat Tangan</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian wabah juga cepat menular dengan salah satunya caranya adalah sentuhan serta berjabat tangan dengan orang lain </span><i><span style="font-weight: 400;">(close contact).</span></i><span style="font-weight: 400;"> Para ahli kesehatan memberikan himbauan akan hal ini, dan kembali ajaran Islam yang jauh sebelumnya telah mengajarkannya. Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alahi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> tidak bersalaman untuk menerima bai’at dari orang yang terkena penyakit menular lepra.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari ‘Amr bin Asy-Syarid dari bapaknya, beliau berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>كَانَ فِى وَفْدِ ثَقِيفٍ رَجُلٌ مَجْذُومٌ فَأَرْسَلَ إِلَيْهِ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم-  إِنَّا قَدْ بَايَعْنَاكَ فَارْجِعْ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dahulu ada utusan dari Tsaqif ada yang terkena kusta. Maka Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu alihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengirim pesan, “Sungguh kami telah membaiat Anda (tidak perlu bersalaman, pent.), maka pulanglah.” </span><b>[HR. Muslim no. 328]</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/54393-renungan-virus-korona.html" data-darkreader-inline-color="">6 Renungan Dalam Menyikapi Kejadian Wabah Virus Korona (2019 nCov)</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/14922-tidak-ada-wabah-penyakit-menular-dalam-pandangan-islam.html" data-darkreader-inline-color="">Tidak Ada Wabah Penyakit Menular Dalam Pandangan Islam?</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah Ta’ala segera mengangkat wabah dari Indonesia dan seluruh dunia. </span><i><span style="font-weight: 400;">Aamiin.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Lombok, Pulau seribu Masjid</span></p>
<p><b>Penyusun: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/raehan" data-darkreader-inline-color="">Raehanul Bahraen</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color=""> Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p> </p>
 