
<p>Dalam sebuah hadits, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ – أَوْ: لاَ يَخْشَى أَحَدُكُمْ – إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ الإِمَامِ، أَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ، أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ</strong></span></p>
<p>“Tidakkah salah seorang dari kalian takut, atau apakah salah seorang dari kalian tidak takut, jika dia mengangkat kepalanya sebelum imam, Allah akan menjadikan kepalanya seperti kepala keledai, atau Allah akan menjadikan rupanya seperti bentuk keledai?” <strong>(HR. Bukhari no. 691 dan Muslim no. 427)</strong></p>
<p>Hukuman ini karena dia telah berbuat jelek (melakukan pelanggaran) dalam shalat, yaitu mendahului imam dengan sengaja. Seandainya dia shalat dalam rangka mengharap pahala, namun tidak takut dengan hukuman ini, maka Allah <em>Ta’ala</em> akan mengubah kepalanya seperti kepala keledai.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/46702-shalat-tarawih-lebih-baik-di-awal-malam-bersama-imam.html" data-darkreader-inline-color="">Shalat Tarawih Lebih Baik Di Awal Malam Bersama Imam</a></strong></p>
<p>Dari sahabat Al-Barra’ bin ‘Azib <em>radhiyallahu ‘anhu, </em>beliau berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، لَمْ يَحْنِ أَحَدٌ مِنَّا ظَهْرَهُ، حَتَّى يَقَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاجِدًا، ثُمَّ نَقَعُ سُجُودًا بَعْدَهُ</strong></span></p>
<p>“Jika Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengucapkan <em>“SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH”</em>, tidak ada seorang pun dari kami yang membungkukkan punggungnya sebelum Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> benar-benar (meletakkan kepalanya) bersimpuh dalam sujud, barulah setelah itu kami bersujud.” <strong>(HR. Bukhari no. 690 dan Muslim no. 474)</strong></p>
<p>Dulu, sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </em>mereka menunggu di belakang Nabi yang bertindak sebagai imam, dalam kondisi mereka tetap berdiri <em>(i’tidal).</em> Sampai Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>membungkukkan badan dan bertakbir, kemudian meletakkan dahinya di lantai (sudah benar-benar dalam posisi sujud), barulah mereka mengikuti Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>untuk turun sujud.</p>
<p>Terdapat riwayat dari Ibnu Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu, </em>beliau berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>لا وحدك صليت، ولا بإمامك اقتديت</strong></span></p>
<p>“Engkau tidak shalat sendirian, dan tidak pula menjadikan seseorang sebagai imam yang diikuti.”</p>
<p>Orang yang dinilai tidak shalat sendirian dan juga tidak shalat berjamaah, berarti shalatnya tidak sah.</p>
<p>Juga terdapat riwayat dari sahabat Ibnu ‘Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma, </em>beliau melihat seseorang yang mendahului imam dengan sengaja, kemudian berkata kepadanya,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>لا صليت وحدك، ولا صليت مع الإمام، ثم ضربه،</strong> <strong>وأمره أن يعيد الصلاة</strong></span></p>
<p>“Engkau tidak shalat sendirian, tidak pula shalat bersama imam. Kemudian Ibnu ‘Umar memukulnya dan memerintahkannya untuk mengulang shalat.”</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/46290-manakah-yang-lebih-utama-wanita-shalat-di-rumah-atau-di-masjid-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Manakah yang Lebih Utama, Wanita Shalat di Rumah atau di Masjid?</a></strong></p>
<p>Seandainya shalat orang itu sah, tentu sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar <em>radhiyallahu ‘anhu </em>tidak memerintahkannya untuk mengulang shalat.</p>
<p>Dari Hiththan bin ‘Abdullah bin Ar-Raqasyi dia berkata, “Saya shalat bersama Abu Musa Al-Asy’ari dengan sebuah shalat. Pada waktu duduk (tahiyat), seorang laki-laki dari kaum tersebut berkata, “Shalat diidentikkan dengan kebaikan dan mengeluarkan zakat.”</p>
<p>Ketika Abu Musa selesai melaksanakan shalat dan salam, dia berpaling seraya berkata, “Siapakah di antara kalian yang mengucapkan kalimat demikian dan demikian?”</p>
<p>Perawi berkata, “Lalu mereka diam kemudian dia bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang mengucapkan kalimat demikian dan demikian?” Mereka pun tetap diam.</p>
<p>Lalu dia bertanya lagi, “Boleh jadi kamu wahai Hiththan, yang telah mengucapkannya?”</p>
<p>Hiththan menjawab, “Aku tidak mengatakannya. Dan aku khawatir kamu menghardikku dengannya.”</p>
<p>Lalu seorang laki-laki dari kaum tersebut berkata, “Akulah yang mengatakannya dan tidaklah aku bermaksud mengatakannya melainkan suatu kebaikan.”</p>
<p>Lalu Abu Musa Al-Asy’ari berkata, “Tidakkah kalian mengetahui bagaimana kalian (seharusnya) mengucapkan (zikir) dalam shalat kalian? Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>memberi khutbah kepada kita, lalu menjelaskan kepada kita sunnah-sunnahnya, dan mengajarkan kepada kita tentang shalat kita. Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>إِذَا صَلَّيْتُمْ فَأَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ ثُمَّ لْيَؤُمَّكُمْ أَحَدُكُمْ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا، وَإِذْ قَالَ {غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} [الفاتحة: 7] ، فَقُولُوا: آمِينَ، يُجِبْكُمُ اللهُ فَإِذَا كَبَّرَ وَرَكَعَ فَكَبِّرُوا وَارْكَعُوا، فَإِنَّ الْإِمَامَ يَرْكَعُ قَبْلَكُمْ، وَيَرْفَعُ قَبْلَكُمْ</strong></span></p>
<p>“Apabila kalian shalat, luruskanlah shaf-shaf kalian, kemudian hendaklah salah seorang dari kalian mengimami kalian. Apabila dia bertakbir, maka bertakbirlah kalian. Dan apabila dia mengucapkan, <em>“Ghairil maghdhubi ‘alaihim wala adh-dhallin</em> (Bukan jalan orang yang dimurkai dan tidak pula jalan orang yang sesat)”, maka katakanlah, “Amin.” Niscaya Allah mencintai kalian. Apabila dia bertakbir dan rukuk, maka bertakbir dan rukuklah kalian, karena imam harus rukuk sebelum kalian dan mengangkat (kepala) dari rukuk sebelum kalian.”</p>
<p>Lalu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>فَتِلْكَ بِتِلْكَ وَإِذَا قَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ. فَقُولُوا: اللهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ يَسْمَعُ اللهُ لَكُمْ، فَإِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، قَالَ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ وَإِذَا كَبَّرَ وَسَجَدَ فَكَبِّرُوا وَاسْجُدُوا فَإِنَّ الْإِمَامَ يَسْجُدُ قَبْلَكُمْ وَيَرْفَعُ قَبْلَكُمْ</strong></span></p>
<p>“Lalu gerakan demikian diikuti dengan gerakan demikian. Apabila dia berkata, <em>“Sami’allahu liman hamidah</em> (Semoga Allah mendengar kepada orang yang memujinya)”, maka katakanlah, <em>‘Allahumma Rabbana laka al-hamdu’</em> (Ya Allah, Rabb kami, segala puji untuk-Mu), niscaya Allah akan mendengarkan kalian. Karena Allah berkata melalui lisan Nabi-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>“Sami’allahu liman hamidah.” </em>Dan apabila imam bertakbir dan sujud, maka bertakbir dan sujudlah kalian, karena imam sujud sebelum kalian, dan bangkit sebelum kalian.”</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/45998-shalat-malam-adalah-kebiasaan-orang-shalih.html" data-darkreader-inline-color="">Shalat Malam Adalah Kebiasaan Orang Shalih</a></strong></p>
<p>Lalu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda lagi,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>فَتِلْكَ بِتِلْكَ، وَإِذَا كَانَ عِنْدَ الْقَعْدَةِ فَلْيَكُنْ مِنْ أَوَّلِ قَوْلِ أَحَدِكُمْ: التَّحِيَّاتُ الطَّيِّبَاتُ الصَّلَوَاتُ لِلَّهِ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ</strong></span></p>
<p>“Lalu gerakan tersebut diikuti dengan gerakan tersebut. Dan apabila sedang duduk tahiyat, maka hendaklah doa pertama kalian adalah, <em>“At-tahiyyatut-thayyibaatus-shalawaatu lillahi</em> … (sampai akhir doa tasyahhud).” <strong>(HR. Muslim no. 404)</strong></p>
<p>Banyak orang awam salah dan keliru dalam memahami hadits ini. Sesaat ketika imam mulai bertakbir, mereka pun langsung ikut takbir, dan ini adalah suatu kesalahan. Tidak sepatutnya makmum bertakbir, sampai dia menunggu imam betul-betul selesai bertakbir dan diam. Inilah yang dimaksud dengan perkataan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا</strong></span></p>
<p>“Apabila dia (imam) bertakbir, maka bertakbirlah kalian.”</p>
<p>Imam itu tidak dikatakan bertakbir sampai mengatakan, “Allahu akbar.” Seandainya imam baru mengatakan, “Allah”, kemudian diam, itu belum dikatakan bertakbir, sampai imam mengatakan, “Allahu akbar.” Makmum baru bertakbir setelah imam mengatakan, “Allahu akbar.”</p>
<p>Ketika mereka takbir berbarengan dengan imam, mereka pun salah dan meninggalkan perkataan Nabi  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em>Seandanya Engkau mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>إذا صلى فلان فكلمه</strong></span></p>
<p>“Jika fulan (selesai) shalat, bicaralah dengannya.”</p>
<p>Maksudnya, Engkau harus menunggunya ketika shalat, dan jika dia selesai shalat, Engkau baru bisa bicara dengannya. Bukanlah maknanya, “Engkau berbicara dengannya ketika dia sedang shalat.”</p>
<p>Demikian pula makna sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا</strong></span></p>
<p>“Apabila dia (imam) bertakbir, maka bertakbirlah kalian.”</p>
<p>Terkadang, imam bertakbir agak lama karena ketidaktahuannya. Sedangkan makmum di belakangnya bertakbir secara singkat, sehingga dia (makmum) sudah selesai takbir, sebelum imam selesai takbir. Siapa saja yang bertakbir sebelum imam takbir, shalatnya tidak sah. Karena dia memulai shalat sebelum imam memulai shalat, dan bertakbir sebelum imam. Maka tidak sah shalatnya.</p>
<p>Ketahuilah bahwa mayoritas manusia pada hari ini, tidak sah salatnya karena mereka mendahului imam dengan sengaja, baik ketika rukuk dan sujud, baik ketika mengangkat ataupun membungkukkan badan. Seandainya aku shalat di seratus masjid, aku tidak melihat satu pun orang yang shalat di masjid itu mendirikan shalat sebagaimana contoh dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dan para sahabatnya, semoga Allah <em>Ta’ala</em> merahmati mereka semuanya. Maka bertakwalah kepada Allah <em>Ta’ala,</em> dan lihatlah shalat kalian dan shalat orang-orang yang shalat bersama kalian. <strong>[1] [2]</strong></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/45578-pelajari-tata-cara-shalat-dengan-benar.html" data-darkreader-inline-color="">Pelajari Tata Cara Shalat Dengan Benar</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/45496-hukum-membaca-doa-taawudz-ketika-shalat.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Membaca Doa Ta’awudz ketika Shalat</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>[Selesai]</strong></p>
<p><strong>***</strong></p>
<p>@Rumah Kasongan, 15 Rabi’ul awwal 1442/ 1 November 2020</p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></strong></p>
<p><strong> Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://Muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<p><strong>[1] </strong>Dikutip dari kitab <em>“Ash-Shalat” </em>karya Imam Ahmad <em>rahimahullah. </em>Terdapat dalam kitab <em>“Thabaqaat Al-Hanabilah”, </em>1: 353.</p>
<p><strong>[2] </strong>Disarikan dari kitab <strong><em>Ta’zhiim Ash-Shalaat </em></strong><em> </em>hal. 77-79, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr <em>hafidzahullahu Ta’ala, </em>cetakan pertama tahun 1434, penerbit Daar Al-Imam Muslim, Madinah KSA.</p>
 