
<p><em>Tabattul</em> artinya meninggalkan nikah dalam rangka zuhud dan ibadah, seperti para rahib dan pendeta. Dalam <em>Mu’jam Musthalahat Fiqhiyyah </em>disebutkan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">التبتل ‏هو ترك الزواج زهدا فيه‏</span></p>
<p>“<em>At tabattul</em> artinya meninggalkan nikah dalam rangka hidup zuhud.”</p>
<p><em>Tabattul</em> dilarang dalam Islam, baik dilakukan oleh laki-laki maupun wanita. Sebagaimana dalam hadis dari Sa’ad bin Abi Waqqash <em>Radhiallahu ’anhu</em>, ia berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">رَدَّ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ علَى عُثْمَانَ بنِ مَظْعُونٍ التَّبَتُّلَ، ولو أذِنَ له لَاخْتَصَيْنَا</span></p>
<p><em>“Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam melarang Utsman bin Mazh’un untuk melakukan tabattul. Andaikan tabattul dibolehkan, sungguh kami akan melakukan kebiri”</em> (HR. Bukhari no. 5073 dan Muslim no. 1402).</p>
<p>Dari Samurah bin Jundub <em>Radhiallahu ‘anhu</em>, ia berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أنَّ النَّبيَّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ نهَى عنِ التَّبتُّلِ</span></p>
<p><em>“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang tabattul”</em> (HR. Tirmidzi no. 1082, disahihkan Al Albani dalam <em>Shahih At Tirmidzi).</em></p>
<p>Shiddiq Hasan Khan <em>Rahimahullah </em>mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وكانت المانوية والمترهبة من النصارى يتقربون إلى الله بترك النكاح، وهذا باطل؛ لأن طريقة الأنبياء – عليهم السلام – التي ارتضاها الله تعالى للناس: هي إصلاح الطبيعة، ودفع اعوجاجها، لا سلخها عن مقتضياتها</span></p>
<p>“Orang-orang Manuwiyah (Manikheisme) dan para pendeta Nasrani, mereka beribadah kepada Allah dengan cara meninggalkan nikah. Ini adalah kebatilan. Karena jalannya para Nabi terdahulu <em>‘Alaihimus salam</em>, yang Allah ridai, adalah memperbaiki perangai manusia dan mencegah agar manusia tidak bengkok (menyelisihi fitrah yang lurus). Bukan malah menjauhkan manusia dari fitrahnya” (<em>Ad Durar Al Bahiyah</em>, 2: 136).</p>
<p> </p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/58298-ketika-wanita-muslimah-menikah-dengan-lelaki-non-muslim.html" data-darkreader-inline-color="">Ketika Wanita Muslimah Menikah dengan Lelaki Non Muslim</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Islam memerintahkan untuk menikah</strong></span></h2>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> memerintahkan kita untuk menikah dalam firnan-Nya,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ</span></p>
<p><em>“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”</em> (QS. An-Nur: 32).</p>
<p>Dalam ayat di atas menggunakan kata وَأَنْكِحُوا (nikahkanlah) yang merupakan <em>fi’il amr</em> (kata perintah).</p>
<p>Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam </em>juga memerintahkan kita untuk menikah. Beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ</span></p>
<p><em>“Wahai para pemuda, barangsiapa yang sudah sanggup menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu obat pengekang nafsunya”</em> (HR. Bukhari no. 5056 dan Muslim no. 1400).</p>
<p>Dalam hadis di atas juga digunakan <em>fi’il amr</em> فَلْيَتَزَوَّجْ (menikahlah). Bahkan Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> mencela orang-orang yang benci terhadap pernikahan dan meninggalkannya. Beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">النِّكَاحُ من سُنَّتِي فمَنْ لمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِي فَليسَ مِنِّي ، و تَزَوَّجُوا ؛ فإني مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ</span></p>
<p><em>“Menikah adalah sunnahku, barangsiapa yang tidak mengamalkan sunnahku, bukan bagian dariku. Maka menikahlah kalian, karena aku bangga dengan banyaknya umatku (di hari kiamat)”</em> (HR. Ibnu Majah no. 1846, disahihkan Al Albani dalam <em>Silsilah Ash Shahihah</em> no. 2383).</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong><em>Syubhat</em> dengan beralasan sebagian ulama tidak menikah</strong></span></h2>
<p>Sebagian orang yang mendukung paham <em>childfree</em> atau yang ingin melakukan <em>tabattul</em> ada yang beralasan bahwa beberapa ulama ada yang tidak menikah.</p>
<p>Memang benar sebagian ulama seperti Ibnu Jarir Ath Thabari, An Nawawi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>Rahimahumullah</em>, mereka wafat dalam keadaan belum menikah. Namun alasan ini tidak tepat karena beberapa alasan sebagai berikut:</p>
<p><strong><em>Pertama,</em></strong> mereka tidak menikah bukan karena berpemahaman <em>childfree</em> atau dalam rangka <em>tabattul</em>.</p>
<p><strong><em>Kedua,</em></strong> perbuatan ulama bukan dalil. Jangan sampai meninggalkan dalil Al Qur’an dan As Sunnah demi mengikuti perbuatan ulama.</p>
<p><strong><em>Ketiga,</em></strong> Allah <em>Ta’ala </em>dalam Al Qur’an memotivasi kita untuk menikah dan memiliki anak.</p>
<p><strong><em>Keempat,</em></strong> Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam </em>yang wajib untuk kita ikuti, beliau menikah dan mempunyai banyak anak.</p>
<p><strong><em>Kelima,</em></strong> para ulama yang tidak menikah mereka memiliki uzur, di antaranya karena mereka sangat-sangat sibuk membela agama dengan menuntut ilmu dan mendakwahkannya. Seperti misalnya:</p>
<p>– Ath-Thabari <em>Rahimahullah </em>menulis tafsir Ath Thabari sebesar 26 jilid (!!) itu pun beliau anggap belum selesai.</p>
<p>– An Nawawi <em>Rahimahullah </em>yang di siang hari beliau ikuti 12 majelis ilmu, dan di malam hari beliau mengulang pelajaran dan menulis ilmu.</p>
<p>– Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>Rahimahullah </em>yang ketika di kamar mandi saja meminta dibacakan kitab agar tetap bisa mendengar ilmu. Bagaimana lagi ketika sedang tidak di kamar mandi?!?</p>
<p>Terbayang bukan, bagaimana sibuknya mereka dan padatnya waktu mereka untuk ilmu dan untuk agama?!? Sangat-sangat bisa dipahami mengapa mereka tidak sempat untuk menikah.</p>
<p><strong><em>Keenam,</em></strong> para ulama yang tidak menikah, mereka sibuk berkhidmat untuk agama dan membela agama, mereka habiskan waktu mereka untuk itu. Adapun para penganut <em>childfree</em> dan pembelanya, bagaimana keadaan mereka terhadap agama? Ataukah mereka sibuk mengumpulkan pundi-pundi dunia?</p>
<p><strong><em>Ketujuh,</em></strong> sebagian ulama menjelaskan bahwa ada kemungkinan para ulama yang tidak menikah itu karena mereka tidak memiliki ketertarikan kepada wanita.</p>
<p><strong><em>Kedelapan,</em></strong> para ulama tersebut terus mendapatkan aliran pahala dari jasa-jasanya dalam mengajarkan dan mendakwahkan ilmu serta membela Islam.</p>
<p><strong><em>Kesembilan,</em></strong> para ulama tersebut mengharamkan <em>tahdidun nasl </em>(memutus keturunan) dengan cara apapun. Para ulama sepakat terlarangnya <em>tahdidun nasl </em>jika secara total. Hal yang dibolehkan sebagian ulama adalah <em>tanzhimun nasl </em>(mengatur kelahiran).</p>
<p><strong><em>Kesepuluh,</em></strong> kebanyakan ulama dari zaman dahulu sampai zaman sekarang mereka menikah dan berketurunan. Mereka yang tidak menikah sangat-sangat-sangat sedikit sekali.</p>
<p>Maka jelas sudah, tidak tepat penggunaan argumen “sebagian ulama tidak menikah” untuk mendukung pemikiran <em>childfree</em> atau melegalkan <em>tabattul</em> yang jelas-jelas bertentangan dengan fitrah manusia ini.</p>
<p><em>Wallahu a’lam</em>. Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/57936-masuk-islam-haruskah-mengulang-akad-nikah.html" data-darkreader-inline-color="">Masuk Islam, Haruskah Mengulang Akad Nikah?</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/57637-janji-allah-akan-menolong-orang-yang-menikah-untuk-menjaga-kehormatan.html" data-darkreader-inline-color="">Janji Allah Akan Menolong Orang yang Menikah Untuk Menjaga Kehormatan</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p>***</p>
<p><strong>Penulis: <a href="https://muslim.or.id/author/yulian-purnama-s-kom"><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color="">Yulian Purnama</span></a></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 