
<p style="text-align: center;">Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin</p>
<h5><strong>Soal:</strong></h5>
<p>Manakah yang lebih utama, qiyamul lail ataukah belajar?</p>
<h5><strong>Jawab:</strong></h5>
<p>Belajar lebih utama dibandingkan qiyamul lail. Sebab, menuntut ilmu, sebagaimana ucapan Imam Ahmad, “Tidak ada satu pun yang mampu menandinginya bagi orang yang benar niatnya. Yakni ia bermaksud untuk menghilangkan kebodohon dari dirinya maupun orang lain”.</p>
<p>Apabila seseorang begadang di awal malam untuk menimba ilmu karena mengharap wajah Allah, baik dengan mengajar dan mendidik orang lain, maka itu lebih baik daripada qiyamul lail. Jika ia mampu untuk memadukan keduanya, maka tentu itu lebih sempurna. Namun, kalau keduanya berbenturan, maka menuntut ilmu lebih utama dan lebih unggul.</p>
<p>Oleh karenanya, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyuruh Abu Hurairah,</p>
<p style="text-align: right;">أن يوتر قبل أن ينام</p>
<p>“<em>Shalatlah witir sebelum tidur!</em>” (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Ulama menjelaskan bahwa sebab perintah Nabi tersebut adalah kebiasaan Abu Hurairah menghafal hadits-hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> di awal malam lalu tidur di akhir malam. Sehingga Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> membimbingnya agar shalat witir sebelum tidur.<br>
***<br>
Diterjemahkan dari <em>Kitabul ‘Ilmi</em> karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, penerbit Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Al-Khairiyah, cetakan kesembilan, tahun 1435 H, hal. 194.</p>
<p>Penerjemah: Ummu Fathimah</p>
<p>Artikel Muslimah.or.id</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 